Under Sun

Under Sun
26. Before The Winter



"Jadi ternyata memang seperti itu?"


Selang beberapa detik kemudian, wanita itu mengangguk. Penjelasan seseorang dari sebrang sana tampaknya sudah menjawab segala jenis pertanyaan yang masih mengambang di pikirannya.


"Baik. Terimakasih," Ana langsung memutuskan sambungan setelah ia mengembalikan rotary dial telephone yang digunakannya tadi ke tempat semula.


"Siapa?" Suara Jeffrey yang tengah berdiri di ambang pintu menginterupsi kegiatannya sesaat.


Ana lantas menoleh, "Dokter Jeremy. Dia memberitahuku tentang laporan penelitian kami saat aku berkunjung ke Afrika."


Jeffrey hanya terdiam beberapa saat, lalu tersenyum pelan, "Kamu udah makan?"


Wanita itu menggeleng, "Belum. Kalau gitu gimana kalau kita pergi piknik di luar? Sekalian refreshing. Kamu juga habis pulang dari kepenyidikan 'kan? Pasti capek."


Sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak. Jeffrey yang tengah bersender di dinding kamar sembari melipat kedua tangannya di depan dada tersenyum tipis, menyadari betapa cemerlangnya dua mata wanita itu.


"Ayo."


Mendapati persetujuan dari Jeffrey membuat Ana langsung mengangguk cepat. Dirinya langsung mendorong pelan tubuh Jeffrey ke dalam kamar mandi.


"Kalau gitu kamu mandi dulu sana! Biar aku yang beres-beres. Oh iya, sekalian ajak Jea nggak masalah kan?" Tanya Ana sekali lagi yang kini sukses membuat pria itu terdiam sejenak.


"Terserah kamu."


Senyuman itu kembali terpatri di wajah Ana, "Oke! Aku ke bawah dulu ya."


Tanpa berbasa-basi lagi, Ana langsung meninggalkan Jeffrey yang belum sepenuhnya masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu masih tak beranjak sama sekali dari tempat kakinya berpijak saat ini.


Perlahan, ia menghembuskan nafasnya sambil memijit pelipisnya pelan. Sungguh, Jeffrey harus bertahan dalam situasi seperti ini sampai dirinya yakin, keadaan sudah dimenangkan olehnya.


Seperti apa yang direncanakan Ana sebelumnya, Jea ikut membereskan beberapa makanan ke dalam keranjang rotan. Seperti beberapa sandwich isi daging juga kue maple. Beberapa jus apel juga ceri juga turut ia masukan ke dalam keranjang besar itu.


"Kamu udah masukin semuanya?" Tanya Ana yang tengah merapikan rambutnya dengan sisir.


Jea menoleh lalu mengangguk pelan, "Sudah Nyonya."


Sisir tadi ditaruhnya di atas meja kayu. Ana beralih menatap Jea dari ujung kakinya sampai ujung rambut gadis itu. Sepertinya ada sesuatu yang harus Ana rombak barang kali sedikit.


"Kamu—"


"Ya? Ada apa Nyonya?"


Ana sedikit menggeleng setelah menghela nafasnya pelan, "Ayo ikut saya."


【under sun】


Seperti tengah diburu seseorang, Jea menarik nafasnya dalam-dalam dengan cepat. Matanya sedikit menyipit, membuat tangannya refleks menutupi jarak pandangnya yang kini terhalau mentari sore.


Menurut kabar burung yang beredar, malam ini akan turun salju. Mengartikan jika sore ini akan menjadi sore terakhir di musim gugur.


Aroma dedaunan coklat kekuningan yang berjatuhan seperti memenuhi rongga penciumannya. Diiringi dengan wewangian kayu cendana yang ikut terasa tatkala Jea kembali menghirup udara di sekitarnya— meramaikan hari yang cukup sunyi di atas bukit.


"Hei."


Jea sedikit menoleh, membuat pandangannya langsung terjatuh pada retina seorang wanita di sampingnya, "Ada apa, Nyonya?"


"Saya dan Jaehyun sering kesini buat piknik. Gimana? Bagus 'kan?" Tanya Ana seraya tersenyum cukup lebar. Memperlihatkan wajahnya yang begitu cantik dan anggun. Sepertinya wanita ini terlihat sebahagia itu saat baru saja ia menyebutkan nama suaminya di dalam rentetan kata-kata tadi.


Berusaha untuk tidak mengecewakan si penanya sekaligus jujur, Jea mengangguk pelan lalu ikut mematri sebuah senyuman, "Benar, Nyonya."


Ana lantas menepuk pundak Jea beberapa kali, lalu beralih menatap Jeffrey, "Jae, kamu nggak makan? Kamu kan suka kue maple," Ucap wanita itu lagi seraya menyodorkan sepotong kue maple di tangannya.


Jeffrey melirik Ana sekilas, lalu membuka mulutnya, membuat wanita itu langsung menyuapi Jeffrey dengan kue maple tadi.


Saat Jea terdiam sembari sesekali mencuri pandang pada Jeffrey yang tak kunjung menolehnya, Jeffrey dan Ana tengah sibuk dengan topik pembahasan yang mereka gemari.


Entah mengapa, Jeffrey terlihat cukup nyaman saat dirinya berbincang ringan dengan Ana. Atau mungkin— hanya perasaan Jea saja.


Beberapa kali mereka tertawa. Disela-sela Ana yang tengah mengupaskan buah persik untuk suaminya itu. Yang bisa Jea lakukan sedari tadi hanyalah memandangi Jeffrey sedu, tanpa tahu kapan kegiatan itu akan berakhir.


"Kamu nggak ngerokok? Tumben?" Tanya Ana tiba-tiba, membuat Jeffrey sedikit terkejut.


"Ini, kamu bukannya nggak bisa kalau nggak merokok?" Lantas Ana menyodorkan sekotak rokok yang hanya Jeffrey tatapi beberapa detik.


Pria itu melirik Jea sekilas, kemudian mengambil kotak rokok itu dan memasukan sepuntung rokok di antara bibirnya.


Ana langsung mengambil alat pemantik, dan menghidupkan rokok yang berada di bibir Jeffrey.


Asap mengepul mulai keluar dari mulut pria itu. Diiringi dengan percakapan singkat yang terjadi di antara Jeffrey dan Ana, seperti yang sebelumnya.


Jea menunduk. Pelan-pelan tangannya meremas gaun bermotif floral coklat yang Ana pinjamkan untuknya. Sungguh, Jea benar-benar membenci asap rokok.


Dan seharusnya Jeffrey tahu itu.


Langit sudah mulai menggelap. Membuat Ana yang menyadari hal itu terlebih dahulu langsung mengusulkan untuk segera pulang.


Selama di perjalanan menuju ke rumah mereka kembali, suasana lebih sunyi dari pada yang biasanya. Hingga akhirnya Ana memutuskan untuk membuka topik pembicaraan terlebih dahulu ketika dirinya melihat tidak ada tanda-tanda obrolan yang akan Jeffrey maupun Jea ucapkan.


"Aduh, maaf ya Jea, saya tadi kelepasan ngobrol sama Jaehyun terus. Maaf kamu jadi ngerasa canggung tadi. Nggak pa-pa kan?" Ana yang duduk di samping Jeffrey menoleh ke belakang.


Kejadian saat piknik tadi masih membekas di benak Jea. Jujur saja, Jea tidak mempersiapkan diri sama sekali untuk menghadapi sikap Jeffrey yang berubah pesat seperti saat-saat tadi. Membuat gadis itu sedikit terkejut ketika Ana menginterupsi lamunan singkatnya.


"A-ah, tidak masalah Nyonya."


Lantas Ana mengangguk sembari kembali tersenyum. Ah— Jea kini mulai memikirkan sesuatu. Apa Jeffrey juga merasakan hal yang sama pada Ana sebagaimana yang Jaehyun rasakan? Bagaimanapun juga, mereka adalah orang yang sama.


Bukankah begitu?


Ana adalah sosok yang hangat dan baik. Penampilannya dewasa dan elegan, dengan rambut panjangnya yang lurus dan rapi. Kalangan wanita berada dengan eksistensi tinggi di lingkungan sosial kelas atas.


Siapa yang akan menolak?


Lagi-lagi Jea harus menggeleng. Menghapus segala pemikiran kacaunya yang mulai menghantui dirinya beberapa hari ini.


Jea harus membiasakan dirinya untuk menghadapi kepura-puraan Jeffrey. Dan sampai detik ini, gadis itu tetap tak kunjung bisa.


Setelah sadar dari lamunannya, ternyata mobil yang Jeffrey kendarai sudah berada di perkarangan rumah mereka. Dan tak lama kedua orang yang duduk di kursi depan keluar dari mobil, membuat Jea juga ikut keluar terburu-buru.


Setelah masuk ke dalam rumah, Jea menyadari jika tubuhnya lelah. Matanya tidak menemukan keberadaan Jeffrey dan Ana. Mungkin keduanya sudah masuk ke dalam kamar. Entahlah.


Satu hal lagi yang perlu gadis itu sadari;


hatinya juga lelah.


Jea beralih mengikat rambutnya. Gadis itu lebih memilih untuk membersihkan rumah dan segala perabotan yang ada. Sudah lama ia tak melakukan hal itu, dan juga Jea ingin melarikan diri dari segala pikiran yang semakin membuat hatinya sakit.


Mulai dari ruang tamu, ruang tengah, kamar kosong, sampai ruang penyimpanan sudah ia sentuh sendirian.


Berkali-kali Jea mengusap keningnya yang mulai berpeluh. Dengan sedikit gerakan, ia merenggangkan tubuhnya yang terasa semakin lelah. Tapi itu tidak masalah, karena setelah melakukan semua pekerjaan rumah, perasaan Jea terasa lebih ringan.


Sepasang matanya melirik pada jendela, bulir-bulir putih sudah mulai turun— menapaki tanah kosong di atas bumi. Ternyata kabar burung itu benar, malam ini salju pertama turun.


Entah mengapa, senyuman terukir kembali di wajahnya yang jelas penat. Salju yang turun seperti mengingatkannya pada seseorang.


Jeffrey.


Sepertinya, tidak masalah bukan, jika dirinya bertemu Jeffrey untuk sesaat saja?


Sungguh, dirinya tak lagi mampu berbohong jikalau Jea benar-benar merindukan sosok itu. Sosok yang selalu memeluknya dikala malam menyapa.


Pria yang mengatakan jika malam tidak semenyeramkan itu.


Pria itu, yang memeluknya erat sampai pagi kembali berganti.


Pria yang ada disana, meraih tangannya saat yang ia lakukan hanyalah meringkuk di ujung gelap.


Pria yang dulu sempat membelikannya seluruh panorama malam di atas awan.


Genggaman tangan perempuan itu semakin mengerat ketika Jea mulai memutuskan untuk menemui Jeffrey saat ini juga.


Langkah kakinya bergerak, semakin cepat seiring dengan detak jantungnya yang berdentum tak beraturan.


Tangan Jea berhenti tepat di atas gagang pintu. Sedikit gugup saat ia harus membuka pintu kamar itu. Apakah Jeffrey masih terjaga? Atau malah Ana yang masih belum terlelap?


Seperti sebuah teka-teki yang harus ia atasi sendiri, Jea akhirnya mulai membuka pintu perlahan, saat beberapa ketukan yang ia labuhkan di pintu itu tak membuahkan hasil.


Malam semakin dingin, seiring dengan hembusan salju yang semakin kuat di luar sana. Dan Jea sama sekali belum mengganti pakaiannya, atau setidaknya meliliti lehernya dengan sebuah syal hangat.


Tidak ada rasa dingin yang kini perempuan itu rasakan. Sepertinya Jeffrey lagi-lagi memenangi sebuah posisi penting di dalam benaknya.


Samar-samar suara angin yang membawa salju bergerak dengan cukup cepat terdengar; jatuh pada tumpukan salju yang mulai meninggi di tanah. Beriringan dengan retina gadis itu yang menatap kedua manusia disana.


Di bawah selimut putih tebal, berdua.


Pandangan Jea berhenti tepat pada dua sosok yang tengah tertidur dengan pulasnya. Tidak— mungkin gadis itu melirik tepat pada Ana yang tertidur di dalam pelukan Jeffrey, dengan nyamannya.


Tangan besar pria itu terlihat melingkar di tubuh Ana, memeluknya erat. Sedangkan wanita itu hanya berbaring di atas lengan Jeffrey yang melentang— menjadi sandaran untuknya.


Sekelebatan pertanyaan mulai berlabuh di angannya; apakah rasanya hangat berada di dalam dekapan pria itu saat salju pertama turun?


Apakah rasanya begitu nyaman tertidur di ranjang yang sama— seperti apa yang ia dan Jeffrey lakukan bersama dulu?


Tidak. Seharusnya yang ia pikiran saat ini ialah— apakah dirinya masih diizinkan untuk menyimpan rasa pada Jeffrey, meski dari jarak yang terlampau jauh seperti ini?