Under Sun

Under Sun
1. Dark Night In Minnesota



[ prologue ]


Masih awal tahun 1978 di Minnesota, tapi kehadiran Jeffrey disana tampaknya membuat negara kecil itu sempat gempar karena ulahnya. Bagaimana tidak? Kasus pembunuhan berantai terhadap 14 penduduk sipil asli kelahiran Minnesota ditemukan tewas dengan kondisi yang cukup— mengenaskan.


Usut punya usut, lelaki tanpa latar belakang yang tengah digandrungi oleh koran-koran dan radio setempat dengan cantuman inisial J di seluruh cetakan media negara itu yang melakukannya. Tindakan kriminal yang sangat diluar batas.


Jika bisa dibilang, mungkin tidak ada satupun korban yang utuh sedikitpun tubuhnya— jangan dibayangkan, akan sangat mengerikan.


Dan sialnya, Jea adalah salah satu gadis penduduk yang sempat bertatap mata dengan pria itu di tengah malam saat aksinya berlangsung.


Mata kelam yang hitam, melejit seperti kilat malam.


Mati-matian Jea berusaha lari, disaat manik matanya menangkap cipratan darah yang menghiasi seluruh pakaian pria itu hingga ke wajahnya.


Namun samar-samar... Jea tahu pasti, pria itu tersenyum padanya.


Tepat sebelum ia sempat berlari.


━━━━━━━━ • ━━━━━━━━



this storyline will include ;


A. sensual scene


B. killing people


C. mental illness


D. blood, yes.


━━━━━━━━ • ━━━━━━━━


1. Dark Night In Minnesota


Tepatnya dua minggu yang lalu Jea resmi berumur 19 tahun, bertepatan dengan era tahun 1978 yang mulai mencuat— menyapa seantero dunia. Tapi ini bukanlah harapan yang selalu ia lantunkan di setiap malam yang silih berganti. Jea hanya meminta untuk mati.


Hanya itu, tidak lebih.


"Anak sialan," Pria tua yang tadinya berjalan tergopoh-gopoh ke arah gadis itu langsung menarik keras helaian rambut yang kini sukses terbalut dengan kepalan tangannya yang kasar.


Jea meringis kuat, tangannya tak berhenti-henti berusaha melepaskan jambak itu namun— nihil. Pria tua yang berstatus sebagai kepala keluarga Collins tersebut tak menanggapi berontakan lemah yang tengah dilakukan gadis itu. Gadis yang tengah ia seret, entah kemana.


"A-Ayah.. Tolong jangan lagi—"


Belum selesai ia berucap, tamparan keras mendarat pada pipi kirinya yang sudah sangat merah. Mungkin sudah berkali-kali terkena tamparan yang sama sebelumnya? Tidak ada yang tahu.


"Siapa yang menyuruhmu bicara?"


Rasanya, kepalanya sudah kebas. Terlalu lama menahan sakit. Rambut-rambutnya mungkin sudah terlalu banyak yang lepas dari akarnya. Terlalu sulit dijabarkan sampai-sampai Jea tidak bisa lagi menangis meraung-raung, seperti dulu saat pertama kali ia mendapatkan perlakuan seperti ini.


"A-Ayah.." Jea mulai berusaha menahan tangan kotor itu yang tengah membuka paksa kancing pakaian lusuhnya. Tidak, Ayahnya kini sudah terlalu terlampau batas.


"Jangan melawan, sialan!" Baru saja Richard Collins ingin kembali melayangkan tamparannya sebelum ia mendengar ketukan di pintu yang terdengar sangat mendesak.


Richard menoleh pada pintu sesaat, lalu berdecak, "Ck!"


Entah harus mengucapkan apa kepada orang yang mengetuk pintunya itu, Jea benar-benar merasa teramat bersyukur. Setidaknya, ia masih bisa bernafas normal seperti manusia untuk beberapa detik ke depan, atau menit kalau beruntung.


"Jangan kemana-mana kamu. Anak haram harus tau posisinya dimana," Kalimat yang terasa menampar keras, meluruhlantakan segala jenis keinginan hidup di dalam diri Jea selama 19 tahun ia hidup. Dengan wajah yang tak berdosa, Richard membenarkan sedikit pakaiannya lalu berjalan ke arah pintu, meninggalkan Jea yang menatap kosong pada lantai kayu tempat ia terduduk saat ini.


Mungkin, hampir semua orang di Saint Paul tahu jika seorang Jea Cochava Collins adalah anak haram. Siapa lagi mulut-mulut yang berani membuka hal itu jika tak lain ialah keluarga Collins sendiri? Keluarga angkat layaknya iblis. Tidak, mungkin iblis tidak separah ini.


Setelah kedua orangtua nya tewas dalam gerakan pembantaian Uni Soviet, Jea yang masih berumur 11 tahun harus merasakan penderitaan yang sungguh diluar nalar manusia sejak ia mulai diadopsi sebagai anak angkat di keluarga Collins, salah satu keluarga yang cukup berada saat itu.


Awalnya terasa baik-baik saja, sebelum Jea menyadari jika semua manusia berstatus Collins di rumah itu adalah neraka yang sesungguhnya.


Mulai dari Richard Collins, kepala keluarga yang sangat ringan tangan dan— berkali-kali sempat melakukan percobaan pelecehan seksual pada anak angkatnya sendiri. Namun anehnya, selalu berhasil digagalkan dalam keadaan yang tidak terduga.


Selanjutnya Millie Collins, istri sah dari Richard Collins yang diam-diam selalu melacur dimanapun. Entah sudah berapa kali Jea harus menginap di dalam sumur karena ia tak sengaja melihat adegan menjijikannya bersama suami orang lain. Hingga berkali-kali Jea harus berada dalam kondisi diambang mati.


Ketiga adalah Layla Collins, anak tunggal dari keluarga sialan ini. Sepertinya memang sudah keturunan melakukan kekerasan yang keji, Layla tak luput dari hal itu. Hampir setiap hari, lebam-lebam di tubuh Jea adalah karya kotor tangannya. Tidak ada alasan khusus, hanya hobi baginya. Apalagi jika ada pria lain yang lebih memilih untuk menatap Jea daripada dirinya. Besok, wajah Jea akan bengkak karena ulah Layla.


Tidak masuk akal. Apa-apaan ini semua. Mungkin itu adalah hal pertama yang akan menjadi interpretasi orang-orang yang melihat segala jenis lebam yang terlihat mendarah daging di tubuh kurus Jea. Kasihan, tapi apa boleh buat?


Lagi-lagi ingat, keluarga Collins itu terpandang. Siapa yang bisa melarang?


Lamunan singkat Jea langsung berhamburan lari saat pintu rumahnya ditutup keras, lebih tepatnya dibanting.


"Sayang, aku bisa jelasin," Pujuk Millie yang tengah berjalan cepat mengejar Richard yang menaiki tangga.


"Ayah! Aku mau celana baru! Di Herphan Square udah banyak keluaran terbaru," Pekik Layla yang berjalan turun dari tangga terburu-buru namun segera berhenti saat melihat ekspresi kedua orangtua yang tampak sedang tidak baik-baik saja.


"Jangan sekarang. Masuk ke kamarmu," Balas Richard tak menoleh. Pria tua itu kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai dua yang diikuti oleh Millie, masih dalam konteks niat seperti tadi.


Layla mendecak sebal. Matanya kini melirik Jea yang masih tak bergerak dari tempatnya. Terduduk di atas lantai kayu dingin di ambang perbatasan antara dapur dan ruang tengah. Tatapannya kosong, lengkap dengan ujung bibirnya yang berdarah dan kulit di sekitar tulang pipinya yang sudah membiru.


Tangan Jea bergetar, meski tidak sedang bergerak atau melakukan aktivitas apapun. Kepalanya masih pusing, bahkan semua saraf di tubuh kering itu terasa sudah mau putus semua. Jemarinya bergerak mengusap hidung yang bisa ia rasakan mengeluarkan gumpalan cairan kental, dan merah.


Karena dasarnya Layla tidak memiliki jiwa kemanusiaan, ia tak peduli. Malah, Layla berjalan cepat ke arah Jea lalu menendang tulang kering gadis itu beberapa kali. Masih enggan peduli pada Jea yang tampak seperti mau mati menahan sakit.


"Loh? Kenapa sama ekspresimu itu? Aku jijik," Ujar Layla yang dibarengi dengan lepehan ludah— mengarah tepat pada tubuh Jea yang tak berkutik.


Gadis itu malam ini mungkin akan benar-benar mati di tempat.


Pelan-pelan, kesadarannya hampir diambang batas sebelum listrik tiba-tiba padam. Sontak membuat Layla yang masih berada di dekatnya berteriak lantang. Dapat dimaklumi, karena tidak pernah sekalipun sejarahnya rumah kediaman Collins padam listrik. Mungkin lumrah untuk rumah-rumah kecil di pinggiran kota Saint Paul, tapi tidak disini.


"Ayaaaah!" Layla cepat-cepat setengah berlari ke arah tangga, sambil tangannya ia ulurkan untuk meraba ke depan. Takut salah langkah.


Suara nyaring barang yang terjatuh memasuki indra pendengaran Jea. Asalnya dari lantai dua. Tak lama, kalimat sumpah serapah muncul keluar dari mulut kedua insani yang memang tadi tengah beradu mulut di lantai atas.


"Keparat! Kenapa bisa mati listrik?! Mereka mau main-main denganku?!" Maki Richard sambil berjalan entah kemana. Mencari penerangan, mungkin?


Takut. Tentu Jea takut. Ia takut gelap lebih dari apapun. Tapi memangnya dia bisa apa? Bergerak saja sudah tak mampu. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya bersender lemah di dinding kayu diiringi dengan lantunan malam yang selalu Jea ucapkan, tanpa pernah absen sekalipun.


Untungnya masih ada cahaya bulan yang masuk melalui celah sempit beberapa jendela yang terpasang di sekitar rumah. Membuat fokus Jea teralih pada bunyi deritan pintu.


Siapa itu? Seluruh keluarga Collins sudah lengkap di dalam sini. Tamu? Tidak mungkin, pasti Richard akan turun ke bawah karena setiap tamu yang berkunjung saat malam akan ditunggui nya di ruang tengah. Petugas yang akan memperbaiki arus listrik rumah ini? Tidak mungkin tak mengetuk pintu terlebih dahulu kan?


Lalu... apa pencuri?


Samar-samar tapi pasti, manik mata coklat Jea menangkap sesosok gelap nan jangkung yang tengah berjalan pelan memasuki rumah.


Sial. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar cepat. Jea kembali merasa takut yang luar biasa. Memang, setiap malam harapan gadis itu hanya mati, tapi jika dalam keadaan seperti ini... siapa yang tidak akan bergetar ketakutan?


Sosok jangkung itu semakin mendekat, dan mendekat. Membuat jantung Jea seperti mau lepas. Namun tiba-tiba saja pria itu berhenti saat jarak keduanya berjarak sekitar sepuluh meter. Entah apa penyebabnya. Langkah pria itu beralih menuju tangga, menaikinya dengan tenang.


Jea tidak dapat bersua. Bahkan otaknya sudah tak mampu berkata apa-apa lagi saat suara teriakan melengking dari atas sana. Satu per satu bunyi gebukan keras terdengar menusuk telinga gadis itu.


Satu.. dua..


Tiga.. empat..


Berapa detik sudah berlalu? Jea hanya bisa menghitungnya dalam diam. Nafasnya mendadak berat saat tidak ada lagi suara yang menyapa kedua telinga Jea.


Matanya yang sayu terbelalak saat pria tadi dengan entengnya menarik dua manusia dengan rambut panjang di tangan kirinya. Lalu tangan kanan itu juga bertugas menarik sosok pria tua dengan cara menjambak rambut hitam pendek itu.


Tubuh ketiga manusia yang ia seret tadi lantas ia lempar turun. Langsung mengenai lantai kayu keras di lantai bawah. Membuat genangan darah mengalir, menghampiri kaki Jea yang penuh luka lebam keunguan.


Baru saja pria itu turun, ia langsung menjambak salah satu manusia yang ternyata masih setengah hidup. Layla.


Dalam kondisi remang, Jea bisa mendapati sebuah senyuman terukir di wajah pria muda yang baru saja melakukan tindakan kriminal itu. Atau... sedang melakukannya?


Tidak. Jea cepat-cepat menutup matanya saat sebuah belati kecil mulai terarah pada leher Layla yang masih hidup itu. Apa pria ini berniat menggorok lehernya hidup-hidup?


Tolong, siapapun tolong. Jea hanya ingin lari saat ini. Lari sekuat tenaga dan kabur dari segala kekacauan yang bahkan lebih buruk daripada mimpi terburuk sekalipun.


Sebelum Jea menutup matanya tadi, hal terakhir yang ia lihat ialah tatapan pria itu yang terlihat begitu kelam dan... dalam.


Menatapinya penuh dengan emosi yang membuncah. Entah apa maksudnya.


Jea mengernyit saat ia merasa mual dengan bau anyir yang terlalu kentara. Baru saja ia ingin membuka matanya lagi, sebuah telapak tangan menutupi jarak pandangnya.


Membuat Jea mengigit bibirnya kuat-kuat. Apa sekarang gilirannya?


Tak sadar, bulir-bulir air mata bergulir turun membasahi pipi merah itu. Takut setengah mati. Jadi beginikah rasanya berada diambang hidup dan mati yang sesungguhnya?


Lima detik berlalu. Tidak ada pergerakan apapun atau rasa sakit yang mendera tubuhnya. Membuat Jea sedikit heran dalam tangis diamnya.


Lagi-lagi, pria itu sukses membuatnya terkejut setengah mati saat lengan kiri yang terasa kekar itu membaluti pinggangnya. Tangan kanan pria tadi masih menutupi mata Jea yang basah.


Pelan-pelan, Jea masih bisa mendengar bisikan yang terdengar mengerikan. Tapi gilanya, bisa membuat Jea merasa sedikit lega dari yang sebelumnya.


"Aku datang sayang... aku akan membunuh semua yang menyakitimu—"


“—Dan aku Jeffrey.”


— to be continued —