
Jika diibaratkan, malam adalah kanvas hitam besar yang sengaja membiarkan tubuhnya tersiram tinta gelap agar bulan bisa terlihat di dalam temaram. Katanya pula, malam memang sengaja hadir karena siang lebih menyukai matahari.
Lalu muncul bintang di antaranya, mati lalu tumbuh kembali.
Memberitahu bulan jika tiada yang perlu disesali.
Perempuan itu menutup bukunya ketika lembaran terakhir sudah tersapu habis. Buku yang menarik, pikirnya lagi.
Di balik selimut tebal yang tengah menutupi setengah tubuhnya, Jea sibuk membaca buku-buku yang selalu ia beli setiap minggu. Semuanya bertopik astronomi. Namun akhir-akhir ini ia mulai tertarik untuk membaca buku fiksi dan puisi.
Malam akhir Januari memang dingin. Salju yang sudah hampir mengering tak membuat udara di sekitar menjadi lebih hangat dari pada yang sebelumnya.
Jea meraih segelas coklat panas yang mengepul-epulkan uapnya di atas nakas seiring dengan pergerakan perempuan itu yang baru saja melepaskan kacamatanya.
Lagi-lagi malam lain yang tidak bisa terkendali.
Dirinya tak mampu terlelap, lagi.
"Apa aku harus beli beberapa obat tidur ya?" Ucapnya setelah ia menghembuskan nafas pelan. Sungguh, tubuhnya lelah. Namun kendati demikian, matanya tidak ingin kunjung tertutup juga.
Cangkir itu kembali ia letakan di tempat semula, Jea melirik kosong pada segala arah.
Jea lantas membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah berjam-jam hanya bersender di kepala ranjang. Matanya melirik pada langit-langit atap. Kosong dan gelap.
Tiba-tiba, sebuah nama kembali melintas di dalam benaknya. Tidak peduli mau seberapa susahnya Jea melepaskan bayang-bayang itu, ia kerap datang— menemani mimpi-mimpi dalam malamnya.
Jeffrey sedang apa ya, kira-kira?
Sudah dua tahun berlalu, dan perempuan itu masih belum bisa untuk melepaskannya.
"Pasti Jeffrey lagi senang-senang sama perempuan baru. Huh," Jea memanyunkan sedikit bibirnya ketika ia bisa memastikan kesenangan yang menghampiri Jeffrey tanpa adanya kehadiran Jea.
If you can't fall asleep, listen this.
Jea mengernyit ketika kalimat random itu yang malah mengusiknya.
Apakah sekarang saat yang tepat untuk mendengar rekaman itu?
Sejujurnya, Jea sama sekali belum siap untuk mendengarnya. Sudah dua tahun kaset rekaman tersebut mengendap di dalam laci nakas kamar perempuan itu tanpa pernah disentuh sekalipun.
Jea belum siap.
Kendati begitu, akhir-akhir ini Jea tidak bisa kunjung terlelap. Dan satu-satunya kalimat yang paling sering bergulir di dalam otaknya hanyalah bujukan untuk mendengar rekaman terakhir yang pria itu tinggalkan.
Tubuhnya lantas bergerak perlahan. Melepaskan selimut tebal yang menghangatkan dirinya lalu menarik laci nakas tersebut.
Menampilkan sebuah kaset rekaman yang terlihat sedikit berdebu kini. Tangannya langsung meraih benda itu pelan-pelan. Jantungnya mulai berdebar tak karuan.
Meski tangannya sedikit bergetar, Jea sungguh memberanikan diri untuk segera memutar kaset rekaman itu ketika tangannya meraih cassette player di atas nakas.
Mata gadis itu berkedip beberapa kali saat ia telah memasukan kaset itu ke dalam mesin pemutar. Entah mengapa, Jea mulai merasa takut.
Dirinya takut jika dinding yang ia bangun selama dua tahun ini untuk membatasi dirinya dengan seluruh kenangan akan Jeffrey akan langsung hancur begitu saja setelah Jea mendengar rekaman tersebut.
Jari Jea mulai menekan tombol untuk memulai. Suara gaduh yang tak terlalu mengusik keheningan mulai terdengar keluar dari mesin pemutarnya. Melantunkan suara pria yang teramat ia rindukan.
"Satu, dua— oh bisa," Ucap seseorang dari dalam rekaman itu, membuat Jea menggigit bibirnya kuat. Karena ia tahu jelas bahwa suara tadi adalah suara Jeffrey.
"Kamu nggak bisa tidur ya?" Jeffrey kini tertawa ringan setelah melontarkan pertanyaannya itu, "Pasti nggak bisa tidur, makanya kamu dengar rekaman ini 'kan?"
Jea menggengam erat cassette player di tangannya. Malam itu begitu dingin, namun mengapa suara pria itu terlantun hangat?
"How's life, Jea? Is that good?" Jeffrey terbatuk kemudian, "Kamu jangan sampai sakit ya? Kamu nggak ngelewatin waktu makan 'kan?"
Kini Jea tersenyum pelan ketika ia benar-benar merasakan kehadiran Jeffrey disini. Matanya mulai berkaca-kaca ketika perempuan itu tahu, Jeffrey tengah mengatur nafasnya yang mulai berat.
Sepertinya, Jea tahu kapan Jeffrey melakukan rekaman itu.
"Maaf ya, aku belum ngelakuin banyak hal sama kamu. Maaf."
"Aku nggak pernah nyesal ketemu sama kamu, Jea. Aku merasa hidup, karena kamu."
"Lain kali, jangan cari seseorang yang seperti ini," Suara itu terhenti sebentar, untuk beberapa detik lamanya, "I hope you are loved in the way you deserve."
Tangisan Jea semakin terasa lepas ketika perempuan itu merutuki bagaimana ucapan Jeffrey menyesakan seluruh relung hatinya. Bagaimana bisa pria itu mengharapkan sesuatu yang seharusnya ia dapatkan?
"I am sorry for abandoned you when you needed me the most and it has made you believe that love is an awful thing that hurts," Suara pria itu terdengar semakin rendah di setiap katanya. Nafasnya berhembus cukup pelan, seiring dengan senyuman yang mengembang, Jea tahu itu.
"Soon, you will get better, baby. I promise. Time can healing everything," Bisik Jeffrey lagi. Membuat Jea lantas menenggelamkan wajahnya pada selimut putih yang terasa dingin.
Jea ingin memeluk Jeffrey saat ini.
"Jangan takut, aku selalu ada di pikiran kamu. Aku nggak pernah kemana-mana. Oke?" Jeffrey kembali terkekeh, entah untuk alasan apa.
"Banyak hal yang aku nggak tau. Tapi, aku tau rasanya rindu ke kamu itu— nggak enak. Tapi selama hidup tanpa kamu, yang aku tau cuma rindu," Ucapnya lagi, kali ini semakin terdengar samar-samar.
"Mereka bilang, aku ini sampah. Tapi kenapa aku merasa menjadi manusia saat ada kamu? Maybe i needed to be with you in order to learn that i deserve more," Jeffrey kembali terbatuk-batuk ketika Jea sudah tidak bisa lagi merasakan air mata yang turun membasahi pipinya.
Semua terasa abu-abu, dan gelap.
"Kamu tau? Aku sayang sama kamu."
Suara langkah kaki yang berlalu-lalang samar-samar terdengar di dalam rekaman. Bahkan suara seorang wanita yang memperingatkan Jeffrey akan sisa waktunya bisa Jea dengar dengan jelas.
Ternyata, obat bius juga racun untuk suntik mati itu baru saja disuntikan pada Jeffrey. Kini Jea tahu mengapa suara Jeffrey semakin terdengar samar-samar.
Jea semakin tidak lagi bisa mendengar suara Jeffrey ketika suara tangisnya terdengar lebih keras.
"I'm okay, baby. I'm okay—"
"—Maybe when the time is right, you will find me again. And i think i'll miss you forever."
Suara terputus bersamaan dengan rekaman yang selesai. Meninggalkan Jea dalam tangisan yang sama sekali tak mereda.
Sungguh, pria mana lagi yang bisa lebih jahat ketimbang Jeffrey yang menyuruhnya untuk mendengarkan rekaman ini ketika yang Jea butuhkan kini hanya terlelap dengan tenang?
【under sun】
"—Jea."
"Jea."
"Jeanny!"
Sontak perempuan itu membuka matanya ketika tubuhnya hampir terjatuh dari kasur. Cepat-cepat ia melirik pada sekitarnya lalu menemukan sesosok asing yang tengah berkacak pinggang, melihatnya tak senang.
Tunggu, dia ada dimana? Lalu— lelaki muda di hadapannya kini itu siapa?
Ragu-ragu Jea mengernyitkan wajahnya, "S-siapa?"
Lelaki itu membulat tak percaya, "Hah? Siapa kata lo?"
Kemudian lelaki tersebut mendecak-decak, "Sana cuci muka! Masih di alam mimpi kayaknya lo!"
Jea yang tak mengerti lantas memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa begitu ngilu dan sakit, membuat lelaki tadi lantas panik dan memegang kedua bahu Jea.
"Loh, loh, Jeanny! kenapa?!"
Suasana tiba-tiba menghening ketika tiada satupun yang memulai percakapan lagi. Lelaki tadi hanya terdiam, masih panik— namun tidak lagi berbicara ketika perempuan di hadapannya berhenti mengaduh sembari memegang kepalanya.
"... Jeanny?"
"... An, lo kenapa?"
Dan kemudian,
perempuan itu mengingat siapa dirinya yang sesungguhnya.