
Nyatanya, Greater Sudbury adalah kota yang menyenangkan. Atmosfer yang diberikan mampu membuat Jea— setidaknya sedikit merasa lebih nyaman, meskipun benaknya tidak mampu menghalau sosok pria itu untuk berhenti menemani setiap malam yang ia miliki.
Untuk yang pertama kalinya, Jea belajar untuk berkomunikasi dengan manusia-manusia asing yang ia temui di sekitar lingkungan tempat tinggalnya kini. Berkat bantuan Jisung, Jea bisa menyewa salah satu rumah kecil di pinggir kota yang tidak terlalu padat dan juga bisa mendapati pekerjaan di salah satu toko bunga kenalan temannya Jisung.
Perempuan itu benar-benar menghadapi semuanya sendirian. Bersosialisasi, mengatasi mimpi buruknya tatkala malam kembali berganti, juga pikiran kelabu akan Jeffrey.
Sudah hampir tiga bulan semenjak dirinya meninggalkan Toronto beserta seluruh kenangan yang ada. Jea tidak lagi tahu atau sekedar mencari sedikit informasi akan bagaimana kabar Jeffrey saat ini.
Dirinya lebih memilih untuk tidak perlu peduli dan tidak perlu mengurusi kehidupan pria itu lagi.
Meski hampir setiap pagi sampai sekarang, Jea selalu terbangun dengan bekas air mata yang sudah mengering di pipinya.
"Jea?"
Gadis yang kini tengah menyirami pot bunga sembari setengah melamun lantas tersandar dan menoleh pada asal suara yang baru saja memanggil namanya.
Keningnya berkerut tatkala Jea mendapati sesosok pria muda yang tengah tersenyum lebar padanya, "Mark?"
"Sudah lama nggak ketemu. Apa kabarmu?" Mark berjalan pelan menuju perkarangan rumah gadis itu, lalu terkesiap ketika memandangi bunga-bunga yang berjejer rapi menghiasi perkarangan rumah tersebut.
"Baik, Mark sendiri gimana?" Jea ikut tersenyum ketika sesosok lelaki yang dulu sempat menjadi teman berbincangnya kembali hadir dan menyapanya.
"I'm good. Kamu sendiri kenapa bisa ada disini? Bukannya rumahmu di Toronto?" Tanya Mark sedikit heran, membuat Jea seketika menghentikan siramannya.
"Ah, Jea udah pindah kesini. Mark juga kenapa bisa ada di Sudbury?"
Mark mengendikan bahunya singkat, "Yah, aku sudah resign dari jabatan agen federal dan pindah ke Virginia. Tapi aku mampir dulu kesini, mau menjenguk pacarku," Mark tampak sedikit terkekeh ketika menyebutkan kata terakhirnya.
Jea mengangguk paham, "Mau masuk dulu?"
Tanpa berbasa-basi lagi Mark mengiyakan ajakan itu dengan sebuah anggukan dan cengiran lebar. Lantas Jea berjalan kembali masuk ke dalam rumahnya, diiringi dengan langkah Mark yang mengekor di belakangnya.
Pandangan Mark mengedar ke seluruh penjuru. Menatap kagum pada rumah perempuan itu. Meskipun kecil, setiap isi dari ruangan yang ada di dalamnya terlihat begitu rapi dan tertata begitu simetris; sehingga membuat seluruh mata merasa enak memandangnya.
"Mark mau minum apa?" Tanya Jea yang tengah beralih mengikat rambutny tinggi, mengekspos lehernya yang terlihat kurus dan pucat.
Entah hanya perasaan lelaki itu saja atau bagaimana, semenjak pertemuan terakhir mereka, Jea terlihat semakin kurus dan tidak sesehat yang dulu. Ah, entahlah.
"Terserah kamu aja."
Jea mengangguk lalu beranjak dari tempatnya. Sedangkan Mark memilih untuk duduk di salah satu kursi kayu ruang tamu.
Setidaknya, Jea tinggal di tempat yang nyaman. Begitu pikir lelaki itu.
Hanya dalam kurun waktu lima menit, Jea kembali dari belakang, dan meletakan segelas jus apel dingin di atas meja.
"Thanks. Dan, oh iya, Jea."
Gadis itu sedikit menaikan kedua alisnya, mengisyaratkan sebuah pertanyaan mengapa Mark memanggil namanya.
Matanya kembali bertemu pada milik Jea ketika Mark memutuskan untuk kembali membuka suaranya, "Omong-omong, kamu tau kabar Jaehyun? Ah, maksudnya— Jeffrey?"
Jika saat ini Jea tengah memegang sebuah cangkir atau— apapun itu, sudah pasti barang itu akan terjatuh dari tangannya. Jea terlampau terkejut sampai-sampai ia tak mampu mengontrol ekspresinya kembali.
Mendengar nama yang sudah cukup lama tidak terlantun masuk di dalam indra pendengarannya membuat Jea kembali mengingat sosok itu dengan jelas.
"Maaf, kamu kaget ya?" Tanya Mark kembali, kali ini sedikit lebih berhati-hati.
Seulas senyum paksa mencuat pada wajah perempuan itu. Sebisa mungkin dirinya menggeleng, "Tidak masalah."
Mark hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan ketika ia menyadari betapa hancurnya gadis itu akan sesosok Jeffrey. Tidak dapat dipungkiri lagi, mengingat Mark bisa membaca makna dari raut seseorang begitu gampangnya.
"Kamu tau kan kalau Jeffrey sekarang nggak di Toronto lagi?"
Entah sudah pertanyaan ke berapa yang Mark lontarkan pada Jea. Namun kendati, gadis itu tetap berusaha tersenyum menanggapinya, "Jea nggak tau sama sekali."
Lelaki muda itu beralih mengambil gelas jus yang terpampang di hadapannya, kemudian menyeruputnya sedikit demi sedikit, "Dia dipindahkan ke Virginia."
Dipindahkan? Seketika Jea kembali menautkan alisnya bingung. Apakah maksud dari kata itu berhubungan dengan tugas Jeffrey di pusat kepolisian? Karena setahunya, sangat wajar bagi petugas militer untuk berpindah-pindah dari daerah satu ke daerah lainnya.
"Bukan, bukan karena tugas kepolisian," Tambah Mark lagi, seolah-olah bisa membaca isi hati gadis di hadapannya.
"Lalu?"
"Jeffrey sedang direhabilitasi medis oleh Badan Intelijen Pusat di Virginia. Tapi, sebenarnya dari pada menyebutnya sebagai rehabilitasi, dirinya lebih cocok disebut sebagai tahanan. Itu semua perbuatan ayahnya. Kamu sendiri tau 'kan, kalau ayah Jeffrey itu salah satu elite politik Uni Soviet?" Jelas Mark lagi yang baru saja meletakan jusnya kembali.
Seperti tertohok batu yang besar, Jea tak mampu menutupi rasa keterkejutannya— entah untuk yang keberapakalinya hari ini.
"... Apa maksudmu? Tunggu," Jea mengusap wajahnya perlahan, berusaha mencerna segala perkataan yang baru saja keluar dari mulut lelaki itu.
Bagaimana bisa ini nyata? Sampai saat ini, Jea baru mengetahui jika ayah Jeffrey adalah salah satu elite politik dari Uni Soviet. Jika perlu digarisbawahi, itu adalah Uni Soviet, salah satu negara superpower yang memegang kedaulatan tinggi tingkat dunia.
"Aku tau kamu pasti kaget, but i think you should know this fact."
Jea mendongakan kepalanya, kembali menghubungkan kontak matanya dengan Mark yang hanya bisa menatapnya tidak karuan, "Kenapa Jeffrey bisa direhabilitasi? Apa karena penyakit kepribadian gandanya?"
Tentu perempuan itu kaget, bagaimanapun mengetahui fakta jika penyakit mental kepribadian ganda Jeffrey yang bisa terkuak bahkan sampai ke telinga ayahnya sendiri membuat Jea tak bisa berkata-kata.
Yang perempuan itu inginkan kini hanyalah bertemu dengan Jeffrey. Dirinya benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan Jeffrey saat ini.
Namun perkataan selanjutnya yang Mark lontarkan mampu membuat Jea hampir kehilangan akal sehatnya saat itu juga.
"Kepribadian ganda?" Mark tersenyum miring— tidak percaya.
"Jadi kamu salah satu korban skenario palsu Jeffrey tentang kepribadian gandanya?"