Under Sun

Under Sun
16. My Current Location Is Not Toronto



"B-benar! Aku tidak berbohong!" Suaranya terdengar menggelegar. Bergetar, diiringi isak tangis yang tak sudah-sudah. Namanya Emier Abbasy, pria timur tengah yang tengah berkelana bersama rekan-rekannya di perairan Arctic ocean, bagian utara Kanada, melakukan persinggah sejenak selama tiga bulan di Toronto untuk mengumpulkan bahan-bahan makanan.


Namun, berdasarkan penuturan gagap yang pria itu katakan tadi, ada sekelompotan underground group yang melakukan kegiatan bisnis gelap juga pembunuhan bayaran. Diketuai oleh seorang pria yang kerap dipanggil The Big J.


Benar, Emier adalah salah satu dari ketigabelas tahanan yang semalam.


Mati-matian Emier berusaha meyakinkan dua penyidik yang tengah berada di ruangan penyelidikan bersamanya. Jaehyun jelas-jelas mendengar itu semua, karena ia bersama bawahannya yang lain tengah mendengarkan dari balik ruangan yang hanya dilapisi satu kaca hitam.


Jaehyun tahu, pasti Jeffrey. Tentu, Jaehyun juga sudah menyelidiki apa saja yang sudah Jeffrey perbuat, meski rasanya susah sekali mendapatkan secuil informasi pun.


"Jenderal, dia belum tentu bisa dipercayai. Latar belakangnya adalah seorang buronan dari negara asalnya karena sudah melakukan pemerkosaan juga human trafficking di sekitar daratan Eropa."


Kemudian Jaehyun mengangguk, "Langsung masukan dia ke dalam sel tahanan. Seminggu lagi, baru kita lakukan penyelidikan kasus ini secara lebih terperinci."


Ketiga bawahannya yang sudah berdiri tegap itu memberi hormat, "Siap laksanakan, Jenderal!"


Hal satu-satunya yang Jaehyun pikirkan kini ialah, bagaimana caranya agar Jea bisa terbebas dari kukungan Jeffrey. Sebagai wali Jea, Jaehyun tentu harus memikirkan hal ini.


Karena mau bagaimanapun caranya, Jeffrey selalu bisa menemukan Jea.


Kapanpun, dan dimanapun gadis itu berada.


"Sialan."


Seiring detik yang berdenting, Jaehyun menyadari satu hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Tunggu, ini terlalu beresiko. Tapi, kali ini ia tak mau lagi kalah oleh Jeffrey.


Jaehyun harus berada satu langkah di depannya.


Meski ia harus mempertaruhkan jabatan juga nyawanya sekalipun.


Sudah pukul lima sore, Jaehyun harus segera pulang dan menemui perempuan itu. Ia harus cepat-cepat membawa Jea ke tempat yang aman.


Tanpa berbasa-basi lagi, Jaehyun segera keluar dari kantor kepolisian Toronto, meninggalkan baret juga mantel kepolisiannya.


Mobilnya berderum kencang seiring dengan laju pedal gas yang Jaehyun lancarkan. Terlalu kencang, mobilnya saat ini melaju terlalu kencang. Hingga ia hampir menabrak beberapa pejalan kaki tadi.


Pikiran Jaehyun berantakan. Jika boleh jujur, ia merasa tidak rela harus berpisah dari perempuan itu. Silahkan mengatainya ********, karena ia akan menerima ungkapan itu dengan lapang dada.


Tapi memang tidak ada cara lain lagi, ia harus membawa gadis itu sejauh mungkin.


Akhirnya dirinya sampai di depan rumah. Gerakannya terkesan tidak teratur dan terburu-buru, mematikan mesin mobil lalu masuk dengan sepatu.


"Selamat datang—"


"Cepat bereskan baju-baju kamu, kita pergi."


Jea yang masih tidak tahu apa-apa hanya termenung, "Maksudnya Tuan?"


"Cepat," Jaehyun menatap Jea serius yang sontak membuat sang gadis sigap masuk ke dalam kamarnya. Mengambil tas kulit cokelat yang sempat Jaehyun berikan padanya dan memasukan semua baju yang ia punya secara sembarangan.


"Sudah?"


"Sudah, Tuan."


Jaehyun mengangguk. Saat Jea sudah berjalan mendekatinya sambil menenteng sebuah tas berukuran lumayan besar, Jaehyun tersenyum sambil menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga Jea.


"Maaf, tapi untuk sementara kamu harus pergi dari sini," Jaehyun membetulkan letak mantel krim yang Jea gunakan. Di tangan pria itu sudah ada syal putih yang dulu pernah ia beli bersama Jea.


Dililitkannya syal itu dengan perlahan pada leher si gadis. Selama Jea mengemasi barang-barangnya, Jaehyun sudah menghubungi salah satu kopral yang akan bertugas mengantar Jea sampai ke pelabuhan kapal minyak hingga nanti di penghujung tujuan Jaehyun, tempat teraman untuk Jea.


Jea tidak memiliki kartu identitas, akan bahaya jika ikut dalam kapal umum menuju daerah yang Jaehyun maksud.


Jaehyun menatap lekat-lekat gadis itu. Sama sekali tidak rela jika ia benar-benar harus meninggalkan gadis itu sendiri nanti. Tapi Jaehyun tahu, jika tempat yang akan ia kirimkan, adalah tempat teraman dari Jeffrey.


"Hati-hati. Saya akan rindu sama kamu."


【under sun】


Silih bergantinya gradien langit membuat rembulan mencuat keluar, menggantikan mentari yang sudah bekerja keras hari ini.


Jaehyun meletakan kuas tintanya kembali. Dirinya menatapi hasil lembaran yang ternodai tinta basah. Bibirnya tersenyum. Sebenarnya, Jaehyun sempat begitu marah pada Jeffrey karena dengan seenaknya meninggalkan tanda-tanda di tubuhnya.


Namun jika tidak begitu, bukan Jeffrey namanya.


Kepala Jaehyun mulai merasa pening, berdenyut-denyut dan semakin kuat. Matanya berkunang-kunang, seperti akan terjatuh saat itu juga. Hingga akhirnya, matanya tertutup erat.


Tidak begitu lama sampai akhirnya kedua kelopak mata itu kembali terbuka, menampilkan langit-langit kamar yang gelap. Sepertinya Jaehyun tadi memang sengaja tak menghidupkan lampu.


Jeffrey menghela nafasnya kasar. Harus berapa lama lagi ia merasa pusing saat terbangun seperti saat ini?


Tangannya bergerak naik, menyisir rambutnya ke belakang. Panas sekali.


Pria itu melirik ke sekitar. Lagi-lagi ia terbangun di atas kursi kerja Jaehyun. Dasar maniak kerja.


Matanya tiba-tiba teralih pada secarik kertas yang masih terlihat sedikit basah akibat tinta yang belum mengering sepenuhnya. Sepertinya baru Jaehyun tulis beberapa menit yang lalu.


Jeffrey mengambil surat itu, membaca satu per satu kata yang tersusun rapi disana.


Diam-diam, sunyinya bulan menjadi saksi bisu akan senyuman kotor yang Jeffrey torehkan teruntuk Jaehyun. Dengan penuh emosi, tangannya yang bergetar meremas kuat kertas kekuningan itu hingga tak berbentuk sama sekali


"KEPARAT!"


Jeffrey melemparkan seluruh barang-barang yang ada di atas meja. Ia berteriak, memaki, menghancurkan segala barang-barang yang berada di dalam kamar Jaehyun hingga tidak layak untuk dipandang lagi saat Jeffrey mengetahui, jika malam ini ia tidak bisa menyentuh gadis itu seperti yang seharusnya.


Jea pergi karena ulah Jaehyun.


Dan jika Jeffrey nekat menjemputnya, maka ia gila. Karena tempat itu, adalah neraka yang menunggunya.


1978, Toronto


Merasa dirimu bisa melakukan segala hal? Kalau begitu, coba jemput gadis itu di Pennsylvenia, markas utama Federal Bureau of Investigation, FBI.