Under Sun

Under Sun
19. Good Boys Go To Heaven But Bad Boys Bring Heaven To You



"S-siapa d-disana?" Suaranya bergetar hebat. Jea merapalkan doa di dalam hati, mengharapkan kejadian demi kejadian yang berputar di dalam kepalanya tidak akan pernah terjadi. Jea memohon, jangan sampai ia terbunuh disini atau yang terparah— disetubuhi secara paksa.


Pikirannya mulai melayang kemana-mana, tidak menentu.


"T-tolong... j-jangan lakukan apapun," Kain yang terlilit menutupi matanya mulai basah saat air mata mengalir turun ketika Jea sama sekali tak bisa mendengar sepatahkatapun dari sang dalang.


Baru saja Jea ingin kembali bersua, namun ia urungkan karena tubuhnya teroleng ke depan, jatuh di dalam dekapan yang ia selalu dirindukan selama dua puluh malam lamanya.


Semerbak harum maskulin itu menyeruak memenuhi relung penciumannya. Jea merasa aman, entah untuk alasan apa. Dua lengan kekar yang begitu kokoh memeluk tubuhnya terasa begitu posesif dan mengekang. Seakan-akan Jea akan lari detik itu juga.


Tak bisa dipungkiri lagi, Jea tahu jelas siapa yang saat ini berada di hadapannya.


Tidak ada pelukan yang lebih hangat daripada pelukan pria itu, Jeffrey.


Bahunya mulai bergetar saat Jea menangis semakin kuat. Dirinya tak kuasa untuk menahan segala rindu yang tumpah ruah. Jea teramat merindukan Jeffrey.


"J-Jeffrey?"


Beberapa detik kemudian, hembusan nafas pelan menghangati telinga perempuan itu. Tangan besar Jeffrey bergerak mengelus rambut Jea yang masih belum dibasahi air, "Sekali lagi."


Mendengar penuturan rendah itu, Jea benar-benar bisa memastikan kalau Jeffrey memang sedang bersamanya. Pelan-pelan, Jea berusaha menenangkan gejolak yang sempat membuncah. Nafasnya yang tadi menggebu-gebu mulai tenang seiring dengan elusan pelan di punggungnya.


"Jeffrey."


Cukup lama sampai Jea bisa kembali merasakan pergerakan pria di depannya. Semenjak Jea melantunkan nama Jeffrey dari bibirnya, Jeffrey sama sekali tak menunjukan emosi atau pergerakan sedikitpun.


"Jea."


Jeffrey kini berbisik di telinga kanan Jea dengan suara yang teramat pelan. Jari-jemarinya bergerak mengelus bibir ranum itu. Bayangan-bayangan sensual sudah memenuhi pikiran Jeffrey sedari dua puluh hari yang lalu.


Rasanya seperti, Jeffrey rela menjadi budak untuk Jea jika ia benar-benar bisa bersama gadis itu dua puluh empat jam dalam sehari.


"Jea," Suara itu mulai terdengar sedikit keras dan penuh penekanan. Jeffrey menjilat daun telinga Jea yang terasa dingin akibat hembusan angin. Membuat sang empu sedikit bergedik.


"Dua puluh malam tanpa kamu, aku gila."


Baru hendak membalas ucapan Jeffrey barusan, tubuh Jea yang memang sudah tak mengenakan sehelai benangpun terangkat, membuat Jea nyaris terpekik kuat saat tiba-tiba saja tubuhnya berpindah tempat.


Jea saat ini duduk diatas batu yang cukup lembab, namun bisa ia rasakan bahwa genangan air hanya bisa menutupi bagian pinggul sampai tubuh bagian bawahnya saja.


Secara refleks, kedua tangan mungil itu bergerak mencari-cari dimana letak wajah pria yang sudah dengan seenaknya menggendongnya tadi. Cepat-cepat Jea menutupi kedua mata si pelaku, meski Jea tahu jika pria itu telah melihat tubuh telanjangnya.


"Tanpa baju, kamu lebih cantik."


Sontak pipinya bersemu merah. Jea mengalihkan pandangannya, meskipun ia tidak bisa melihat apapun sekarang.


Jeffrey mengangkat salah satu kaki Jea dari dalam kolam, memegangnya secara hati-hati. Kedua netra gelap itu menjelajahi seluruh tubuh Jea yang benar-benar terlihat indah di matanya.


Nafasnya terasa semakin memberat saat Jeffrey sadar, Jea begitu cantik untuk dilewati.


Kaki pucat itu Jeffrey elus perlahan. Jea mati-matian menahan desiran hebat jantungnya saat Jeffrey bergerak menciumi punggung kaki gadis itu hingga mulai naik merambati betisnya. Bibir hangat itu terasa menyentuh lutut Jea, hingga naik ke bagian paha.


Jeffrey merasa tidak tahan lagi saat bibirnya bergesekan dengan permukaan kulit paha Jea yang terasa begitu lembut dan kenyal. Perlahan, ia menghisap bagian paha itu dengan nafsunya yang mulai mencapai ke atas.


Tangan kanan pria itu bergerak mengelus punggung Jea, kemudian bergulir menyentuh pinggangnya dengan lembut.


Bibir Jeffrey kini naik menciumi permukaan perut Jea, membuat gadis itu sedikit bergerak kegelian. Matanya yang terpejam membuat Jea semakin merasa berdebar-debar. Pikirannya tak kunjung menyudahi mengenai betapa ia tidak ingin menghentikan aksi Jeffrey itu.


Mata Jeffrey bergerak melihat kedua buah dada yang terlihat sintal. Sial. Tak pernah sekalipun sebelumnya Jeffrey merasa sekacau ini. Tangannya terasa begitu gatal untuk menyentuh kedua gundukan itu.


"J-Jeff... A-ah," Tak sengaja Jea mendesah kecil saat Jeffrey meremas kedua gundukan dadanya dengan begitu lembut.


Mendengar hal itu, Jeffrey merasa semakin panas. Jeffrey mulai menjilati buah dada Jea rakus, mengulumnya serta meninggalkan beberapa ruam keunguan disana.


Jeffrey benar-benar merasa hilang akal.


"Sayang, aku mau tubuhmu. Aku mau menyentuhmu. Jadi, boleh aku jadi yang pertama buat kamu?" Nafasnya sudah terdengar berat, menahan hasrat yang begitu membuncah. Tatapannya sudah terlihat begitu pudar, berkabut akan bayang-bayang sensual yang tak berkesudahan.


Merasa mendapati persetujuan yang tak lagi bisa diganggu gugat, Jeffrey bergerak melepaskan celananya kasar. Kemejanya yang memang sudah terlanjur basah tadi, dengan cepat terlepas, menampilkan tubuh atletisnya yang dipenuhi memar-memar yang entah ia dapatkan dari mana.


"Panggil namaku sayang," Jeffrey mengecup pipi Jea dalam-dalam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menciumi bibir merah muda menggoda itu.


"J-Jeffrey..."


Kepalanya seperti dihantam bongkahan batu besar. Terasa begitu pusing dan mabuk karena nafsu yang tak dapat dibendung, Jeffrey bergerak ******* bibir itu sedikit kasar dan tak berirama. Terlalu sibuk menumpahkan segala bentuk kerinduan yang terpendam cukup lama.


Matanya yang masih tertutup kini semakin gelisah saat Jea sendiri bisa merasakan sesuatu yang keras tengah menyentuh liang kewanitaannya disana.


"Shh, Jea, i really really craving for you," Tangan pria itu meremas pelan rambut panjang Jea yang terurai berantakan. Sedangkan kedua tangan gadis itu sudah Jeffrey tuntun untuk memeluk lehernya.


Kedua kaki Jea mulai bergerak melebar saat Jeffrey berbisik dan menyuruh Jea untuk melakukan hal tersebut.


Jari-jemari Jeffrey bergerak mengelus bibir kewanitaan Jea. Dengan sekali pergerakan, jarinya yang panjang masuk ke dalam, bergerak keluar masuk dengan tempo cepat sampai ia bisa merasakan liang kewanitaan itu basah akibat ulahnya.


"H-hng, J-Jeff..." Tangan Jea meremas pelan bahu Jeffrey yang juga sudah mulai basah.


Kini, pria itu mulai mengarahkan kejantanannya yang sudah terasa sakit dan keras itu pada liang basah Jea.


"Tahan sedikit ya sayang, It will gonna be so good," Jeffrey mengecup pelan kening Jea yang mulai basah akibat peluh. Dengan begitu pelan, Jeffrey sedikit mendorong kejantanannya masuk ke dalam. Membuat raut Jea mulai berubah, kesakitan.


"A-ah! J-Jeff! Sakit..."


"Iya sayang, maaf ya? Tahan sebentar lagi ya sayang," Jeffrey mulai ******* kembali bibir itu agar setidaknya Jea bisa teralihkan sedikit dari rasa sakitnya.


Dengan sekali hentakan, Jeffrey memasukan seluruh kejantanannya yang besar itu ke dalam rahim Jea, membuat gadis itu sedikit memekik kesakitan. Bahkan tak sengaja, ia mencakar punggung Jeffrey yang sudah dipenuhi lebam.


"Shh, hurt me more baby if that can make you feel satisfied," Ucap Jeffrey seraya mengelus surai Jea dengan begitu lembut.


"M-maaf," Jea kini sedikit menunduk, membuat Jeffrey merasa begitu gila karena dimatanya, perempuan itu terlihat begitu menggemaskan.


Wajah Jeffrey menyuratkan berbagai ekspresi yang tak bisa dijabarkan. Pria itu merasakan surga yang sesungguhnya saat Jeffrey menyadari kalau dirinya sudah menjadi pria pertama bagi Jea saat ini.


Jeffrey merasa teramat nikmat saat *********** diapit begitu kuat oleh dinding rahim gadisnya. Dengan irama yang mulai teratur, pria itu menggoyangkan pinggulnya.


Bunyi decakan dan desahan yang samar-samar memenuhi seisi kolam dan sekitarnya.


"Ah, ah, Jeff, ahh," Jea meremas kuat rambut Jeffrey yang sudah berantakan akibat ulahnya sendiri.


Kini Jeffrey tidak bisa lagi berpikir jernih. Tubuhnya terus memompa liang kewanitaan Jea dengan begitu cepat sampai-sampai ia melenguh panjang ketika pencapaiannya hampir sampai.


"Shit, shit, baby, call out my name."


"Ahh, Jeffrey."


"Now say if you love me like i love you, baby."


"I-I love you so bad, Jeffrey."


Disela-sela kenikmatannya, Jeffrey menyeringai.


Sial.


Dirinya sudah sepenuhnya dikuasai oleh bayangan gadis itu. Jeffrey sudah gila.


Nyatanya, ucapan Jeffrey tadi memang tidak salah. Jeffrey memang menggila.


Selama dua puluh malam yang ia habiskan di pusat markas FBI, ia terus-menerus berusaha lepas dari jeratan para pasukan khusus yang menjaganya. Jeffrey sampai diletakan di dalam sel tahanan terberat yang letaknya berada di lantai dasar bawah tanah markas.


Namun rupanya hal itu tak juga mempan pada sosok Jeffrey ini. Ia mungkin sudah membunuh hampir beberapa puluh pasukan khusus yang berniat menahannya. Sampai-sampai Jeffrey juga harus rela membiarkan tubuhnya dipenuhi memar karena pasukan khusus FBI itu tak lagi perlu diragukan kualitas tempurnya.


Nyatanya, Jeffrey, menggilai perempuan itu dengan sepenuh hatinya.