
Back to that day, one week after she left.
"Bukannya ini agak kelewatan?"
Gelas kaca berisikan teh hangat yang mengepul-epul terangkat dari atas meja. Seorang perempuan bersarung tangan hitam itu menyeruput teh hitamnya perlahan, "Kelewatan?"
Lelaki yang sedari tadi duduk di hadapannya mulai jengah. Tatapan serius yang telah ia kerahkan teruntuk wanita itu nyatanya tak mempan sama sekali, "Kamu itu nggak punya hati, atau gimana?"
Kacamata hitam yang tadinya bertengger di atas tulang hidung wanita itu lantas terlepas begitu saja ketika ia memutuskan untuk melepaskan kacamatanya seiring dengan gelas kaca antik yang kembali bertemu dengan permukaan piring di atas meja bundar.
"Ini perintah. Memangnya kita bekerja untuk siapa? Jeffrey? No, we're not. Kita bekerja buat Tuan Jung, Jisung."
Mendengar penuturan tegas itu tak lantas membuat Jisung mengendurkan pernyataannya, "Kita memang bekerja untuk ayahnya Jeffrey. Tapi—"
"Stop it. Jeffrey itu gila, begitu juga dengan ayahnya. Kalau dari awal kamu tau mereka berdua itu gila, kamu juga harusnya siap dengan konsekuensi seperti sekarang."
Jisung terdiam kemudian. Penuturan Ana barusan memang masuk akal. Lelaki muda itu menghela nafasnya pelan, "Tapi gadis itu tidak ada salah sama sekali."
"Aku nggak peduli. Dia cuman perempuan malang yang nggak sengaja harus bertemu dengan Jeffrey."
Pikiran Jisung kembali melayang pada beberapa saat yang lalu, tepatnya seminggu sebelum hari ini ketika ia mengantarkan gadis itu ke stasiun kota untuk segera meninggalkan Toronto.
"Tapi kenapa Jeffrey bisa seobsesi itu dengan Jea?" Tanya Jisung lagi, kali ini sedikit lebih berani. Bagaimanapun juga, Ana adalah psikiater yang Tuan Jung kerahkan untuk merawat Jeffrey. Jadi sudah seharusnya Ana tahu mengenai seluk-beluk sikap abnormal Jeffrey selama ini.
Wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah jendela. Menampilkan jalanan di kota Virginia yang tidak sepadat Toronto, "Kamu tau kan kalau Jeffrey bukan mengidap DID? Dia itu pasien pengidap skizofrenia. Dan Jeffrey juga mengidap PTSD yang mempengaruhi mental illness-nya yang lain. Dulu, ibunya hanya satu-satunya yang memperlakukan Jeffrey sebagai manusia. Tapi kamu tau apa kejadian selanjutnya?"
Alis Jisung bertaut ketika mendapati perkataan menggantung dari lawan bicaranya. Lantas lelaki itu kembali bertanya, "Apa?"
Ana tersenyum kemudian, "Ibunya mati. Dan itu karena ulah ayah Jeffrey sendiri. Mungkin karena Jea adalah perempuan yang juga disiksa habis-habisan oleh keluarga silamnya, secara naluriah Jeffrey merasa harus menyelamatkan gadis itu."
Ana lalu sedikit membenarkan posisi duduknya ketika ia ingin melanjutkan perkataannya yang masih terasa menjanggal, "Makanya Jeffrey benar-benar membenci Tuan Jung semenjak itu. Dan karena tragedi kematian Nyonya Jung, Jeffrey membentuk karakter baru di otaknya sendiri—"
"— dan itu Jaehyun."
Kemudian Jisung mengangguk-angguk pelan, "Awalnya ku pikir dia mengidap kepribadian ganda," Tambah lelaki itu lagi.
Ana mengendikan bahunya, "Awalnya aku juga mengira begitu. Tapi ternyata dia mengidap skizofrenia, mengakibatkan dia mendapati gejala-gejala halusinasi dan delusi. Dia selalu berhalusinasi tentang ibunya yang mati karena pasien skizofrenia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Sedangkan untuk delusi, Jeffrey berdelusi kalau dirinya adalah pria baik-baik. Dan ia namakan itu dengan Jaehyun. Tentu hal itu mirip seperti kepribadian ganda, tapi bukan."
"Ah— dan juga, asal kamu tau aja, Jeffrey bisa mengidap skizofrenia karena ayahnya membunuh ibunya sendiri di depan matanya. Karena Jeffrey merasa gagal menyelamatkan nyawa ibunya, dia berpikir kalau dirinya benar-benar manusia yang tidak layak hidup. Pikiran itu terlalu membebaninya, sehingga memunculkan gejala delusi berupa Jaehyun."
Jisung kembali mengangguk. Sejujurnya ia sendiri juga sudah tahu jika Jaehyun adalah karakter palsu yang Jeffrey buat. Karena tugasnya ialah menjadi intelijen rahasia yang harus melaporkan segala hal yang Jaehyun perbuat saat pria itu berada di pusat kepolisian Toronto.
Jeffrey percaya, Jaehyun ada.
Ditambah lagi, ayah Jeffrey sendiri yang mengetahui fakta itu langsung mengirim Ana sebagai psikiater rahasia untuk Jeffrey. Untungnya, Jeffrey yang saat itu baru membentuk karakternya sebagai Jaehyun langsung mempercayai Ana yang mengaku sebagai istrinya. Karena secara tak sadar, Jeffrey hanya mempercayai kepalsuan yang dirinya dan orang lain buat, karena pria itu percaya dia adalah manusia baik-baik.
"Tapi kalau di pikir-pikir, Tuan Jung benar-benar kelewatan juga. Masa ada ayah yang ingin anaknya sendiri hilang?" Papar Jisung lagi masih tak memahami jalur pemikiran Tuan Jung.
Sedangkan Ana hanya mengendikan bahunya acuh tak acuh, "Itu normal. Kalau aku yang ada di posisi Tuan Jung, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Jaehyun itu adalah sosok manusia normal. Tuan Jung pasti lebih menginginkan sosok Jaehyun karena dia kewalahan menghadapi sikap Jeffrey yang memang sudah brutal sejak dulu. Jeffrey memang sudah suka membunuh sejak usianya tiga belas tahun. Kamu bayangin sendiri, siapa yang mau punya anak seperti itu?"
Masih tak habis pikir, Jisung beralih menyeruput segelas air dingin di atas meja. Kemudian memalingkan kepalanya pada panorama jalanan di sekitar. Sungguh, cerita yang tragis.
"Aku dengar saat Jaehyun masih ada, dia suka sakit kepala saat jam delapan malam. Kadang aku kesusahan sendiri karena harus mengantar obat-obatannya terus," Papar Jisung lagi masih dengan pandangannya yang belum terlepas dari jalanan Virginia.
"Sudah aku bilang, itu halusinasi dan delusinya. Dia percaya kalau dirinya ada pria baik-baik yang mengidap kepribadian ganda. Dan tugasku itu membuatnya percaya sepenuhnya dan menghilangkan eksistensi Jeffrey. Jadi saat Jaehyun ingin berganti kepribadian menjadi Jeffrey, dia percaya jika seharusnya kepalanya sakit. Padahal tidak. Itu hanya halusinasinya."
Kemudian Jisung tertawa. Cerita macam apa ini. Meskipun sudah tiga tahun dirinya bekerja di bawah naungan Tuan Jung, dirinya sendiri tidak mengetahui cerita di dalam keluarga besar itu sampai sedalam ini.
Memang benar, keluarga Jung itu gila.
━━━━━━━━ • ━━━━━━━━
note :
skizofrenia
(n) tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan.
halusinasi
(n) mengarah pada masalah dengan reseptor sensoris (indra) sehingga mengakibatkan pasien bisa mencium / melihat / merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.
delusi
(n) memiliki keyakinan yang tidak didasarkan pada kenyataan.
walau sudah terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya.
mengapa bisa disimpulkan jika Jeffrey bukan mengidap DID? karena jika dia mengidap DID, dia sama sekali tak bisa mengendalikan karakter lain di tubuhnya. Sedangkan dalam kasus Jeffrey, dialah yang mengendalikan Jaehyun sesuai keyakinan yang dirinya tetapkan sendiri.