
Tubuh perempuan itu semakin meringkuk saat ia baru menyadari hari kini telah berganti malam. Mungkin sudah menjadi sebuah kebiasaan, bila malam datang, maka neraka juga akan menantang. Dulu, saat ia masih berada di bawah naungan keluarga Collins, Jea akan selalu dipukuli saat malam menyapa. Karenanya, gadis itu membenci kehadiran malam.
Bahkan dirinya sudah tak mempedulikan lagi kehadiran Jeffrey yang membuat dirinya ketakutan.
"Kamu kenapa sayang?" Jeffrey tampak berjalan mendekati Jea setelah tadi mengganti pakaiannya. Tangan kekar itu beralih memeluk tubuh lemah Jea dari belakang, kemudian ia menyadari jika ada sesuatu yang tidak benar dengan gadis ini.
"Apa yang menggangumu?" Tanya Jeffrey lagi saat tubuh Jea semakin bergetar.
Jea tidak mengerti lagi. Ia takut dengan malam, dan dirinya juga takut dengan Jeffrey. Kini dua hal itu sama-sama menyapa dirinya beruntutan seperti sekarang. Jea harus apa?
Entahlah, otaknya sudah tak lagi mampu menerjemahkan segala kejadian yang berlalu-lalang saat ini. Setidaknya, pelukan Jeffrey tidak terasa seburuk itu.
"Malam.."
Jeffrey tidak menjawab atau bertanya, ia malah membawa tubuh kecil Jea pada ranjang putih di sebelah jendela. Meski sudah memindahkan tubuh gadis itu, Jeffrey masih tetap tidak melepaskan pelukannya dari Jea barang sedikitpun.
"Kenapa dengan malam?" Tangan Jeffrey mulai beralih mengelus-elus rambut Jea teramat pelan, mungkin berusaha menetralisir rasa takut yang mendera gadis itu.
"Jea takut malam.."
Kini Jeffrey teringat akan sebuah fakta; keluarga Collins brengsek. Rasanya Jeffrey mulai menyesal telah membunuh mereka dalam waktu yang singkat. Meskipun ia sudah menggorok leher semua anggota keluarga itu saat kondisi mereka masih setengah hidup semua. Memotong-motong bagian tubuh mereka juga masih terasa kurang.
Keluarga sialan itu perlu untuk disiksa lebih lama, dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.
Gara-gara para iblis itu, gadisnya harus meringkuk seperti ini setiap malam.
Jeffrey mendaratkan sebuah kecupan singkat pada puncak kepala gadis itu. Merasa bahwa tidak ada orang yang akan menyakitinya, Jea mulai membalas pelukan Jeffrey. Dia tampak tak peduli lagi dengan identitas Jeffrey sekarang. Yang ia tahu, pertama, ia butuh seseorang untuk mengusir segala takutnya akan malam. Kedua, sepertinya Jeffrey juga tidak akan menyakitinya.
"Aku disini. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu."
Selang beberapa detik setelah Jeffrey mengutarakan rentetan katanya, diluar sana tengah diguyur hujan. Suara gemericik air terdengar semakin deras diikuti dengan beberapa kilat yang menyambar. Untung saja keadaan jendela sudah tetutup tirai, meski cahaya kilat masih bisa menembus tirai biru muda itu.
Jea memberanikan diri untuk sedikit meremas kaos tipis yang Jeffrey gunakan saat bunyi guntur mengagetkannya. Entah ini hanya perasaan Jea saja atau bagaimana, pelukan Jeffrey semakin lama semakin terasa hangat dan nyaman.
Bahkan Jea bisa mendengar dentuman jantung Jeffrey yang teratur.
Tapi lagi-lagi Jea harus menampar keras dirinya dengan realita bahwa pria yang kini tengah memeluknya adalah si pembunuh berantai yang sudah membantai empat belas orang sebelumnya. Atau mungkin lebih?
Jea juga kembali teringat jika empat belas itu adalah kumpulan orang-orang yang juga berkaitan dengannya.
Dimulai dari Billy Johnson, lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya yang menjaga toko kaset dvd di depan rumah keluarga Collins. Pernah beberapa kali meremas bokongnya dengan sengaja, maupun menyentuh pinggangnya sembarangan. Seminggu setelah melakukan hal itu, Jea mendengar kabar bahwa Billy dibunuh.
Korban kedua sampai keempat adalah Miller bersaudara. Pernah beberapa kali menumpahkan kuah kari pada bajunya lalu pergi begitu saja sambil tertawa. Tak lama, juga tewas terbunuh.
Kelima adalah Robin, sepupu Layla yang sempat berkunjung sekali ke kediaman Collins. Saat itu jugalah ia sempat mencuri pakaian dalam Jea, lalu besoknya ditemukan telah termutilasi di dalam kamarnya.
Keenam dan ketujuh adalah Sera dan Cole, keduanya pernah memanggil Jea sebagai anak haram. Lalu kedelapan sampai kesepuluh juga melakukan hal yang hampir sama.
Kesebelas itu Jonath, pernah mencium pipi Jea secara paksa, lalu tewas. Sayangnya, sampai saat ini potongan jasadnya hanya bisa terkumpul seperempat.
Tiga yang lainnya adalah keluarga Collins.
Kini Jea semakin yakin jika semua pembunuhan itu ada hubungannya dengan dirinya sendiri. Jea ingin bertanya, namun apalah daya, dia masih takut.
"Katakanlah."
"Y-ya?"
Jeffrey terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menunduk, membuat netra hitamnya itu berbentrokan dengan iris coklat Jea. Di dalam gelapnya malam, mata itu tampak lebih gelap daripada hitam. Terasa mengintimidasi.
"Aku tau kamu mau bertanya sesuatu."
Jeffrey semakin tampak menyeramkan saat pria ini berlaku seolah-olah bisa membaca pikiran.
"I-itu.. kenapa.. kenapa Tuan membunuh empat belas orang itu..?" Mati-matian Jea berusaha menelan salivanya saat ia selesai berbicara.
Tatapan pria itu masih jelas melekat pada Jea, membuat gadis itu termakan oleh kegugupan yang tak juga berhenti, "Karena mereka berbuat jahat padamu. Bukannya sudah jelas?"
Apa ada sesuatu yang aneh pada dirinya? Jea masih menebak-nebak.
Pergerakan tiba-tiba yang dilakukan Jeffrey pada Jea sedikit membuat gadis itu terperanjat. Jeffrey mengarahkan tangannya ke dagu Jea, menariknya pelan agar perempuan itu membalas tatapannya, "Jangan pernah pergi jauh dariku. Dan jangan berdekatan dengan pria lain selain aku. Mengerti?"
Apa lagi memang yang bisa Jea lakukan selain mengangguk patuh di hadapan Jeffrey? Tidak ada. Jadi Jea hanya sebatas melakukan hal itu, takut-takut jika menolak malah berdampak buruk pada dirinya sendiri.
"Jangan takut padaku, aku tidak akan menyakitimu seperti yang lainnya."
Jea terdiam sejenak. Entah mengapa masih ada keraguan dimatanya mau berapa kalipun Jeffrey berusaha bersikap lembut dan meyakinkannya, "Tapi Tuan.. Pembunuh."
Sebuah senyuman tipis terpatri di wajahnya. Atau mungkin seringai?
"Aku membunuh untukmu, sayang."
Jea kembali meremas kuat pakaian Jeffrey saat petir kembali menyambar. Bahkan ia sampai kelepasan dengan memeluk erat tubuh tegap Jeffrey. Membuat Jea semakin bisa merasakan degupan jantung pria ini yang mulai.. sedikit tidak karuan. Apa karenanya?
"Kamu selalu bisa membuatku gila, sayangku," Kali ini Jeffrey mulai menurunkan kepalanya, menunduk lalu mengecup pipi kiri Jea cukup lama. Membuat pemiliknya semakin salah tingkah dan tak tahu harus bertindak bagaimana.
"Tuan.."
"Hm?"
"Tuan ini siapa.."
Bisa Jea dengar gelak tawa yang berderai dari bibir pria itu. Lagi-lagi tatapan gelapnya mulai menjurus pada Jea yang masih berada dalam rengkuhannya, "Aku Jeffrey. Bukan Jaehyun."
Jea juga tahu akan hal itu. Tak bisakah Jeffrey menjelaskan secara lebih detail pada dirinya yang masih tidak mengerti apa-apa?
"Maksudnya—"
"Jeffrey, babe. And i was born to be yours."
Perempuan itu sedikit terperangah. Bagaimana mungkin Jea memiliki sesuatu terlebih itu adalah manusia seperti Jeffrey? Tidak masuk akal. Namun kendati, Jea tidak membantahnya. Lagipula ia tak tau harus berkata apa lagi. Jeffrey terlalu gampang memainkan dunianya sampai-sampai Jea tidak lagi bisa melangkah untuk mencari runtaian kata.
Jeffrey ini terlalu agresif untuk ditangani oleh seseorang yang masih tabu akan segala hal seperti Jea. Lihatlah sekarang, bahkan tangan Jeffrey sudah masuk ke dalam gaun tidur krimnya lalu mengelus-elus permukaan punggung gadis itu. Membuat Jea sedikit tidak nyaman.
"Tuan.. tanganmu.."
"Kenapa? Kamu mau lebih?"
Jea cepat-cepat menggeleng. Bagaimana bisa pria ini mengatakan hal seperti segampang membalikan telapak tangan?
Jeffrey kali ini kembali mengendus-endus aroma Jea yang menguar. Gerakannya terlalu agresif sampai-sampai tubuh Jea terpaksa harus tergeletak di atas ranjang. Mata coklat itu jelas menatap sosok rupawan yang tengah menopang tubuhnya sendiri di atas tubuh Jea. Remang-remang namun pasti, sebuah seringai melengkapi pernyaaan betapa seramnya malam ini teruntuk gadis itu.
"Aku ingin terus menyentuhmu," Jeffrey mulai membuktikan perkataannya dengan mulai mengelus permukaan kulit bahu Jea sampai ke punggung tangannya dengan begitu perlahan, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Jea terlihat pasrah, tidak tahu harus bagaimana. Ingin menolak namun ia terlalu takut melakukan hal itu, ingin menerima namun tidak mungkin karena bertentangan dengan kata-kata hatinya. Satu hal yang bisa perempuan itu lakukan hanyalah menatap Jeffrey dengan pandangan yang meminta iba, agar setidaknya Jeffrey berhenti.
Tapi seperti apa yang melekat pada image seorang Jeffrey, dia tak mempedulikan tatapan itu. Malah sedikit membuatnya lebih bersemangat.
Tangan berurat itu mulai berpindah mengelus pipi Jea, sampai ke bagian leher dan pinggangnya. Gadis itu sedikit terkejut mendapati jika Jeffrey melewati bagian area dadanya begitu saja. Apa Jeffrey masih tahu batas?
"Tuan.. Jangan.."
"Jangan berhenti?"
Jeffrey menyeringai lebar saat mendapati Jea lagi-lagi tidak bisa berkata-kata. Wajah gadis itu terlalu lucu, bahkan pipinya merona. Kentara sekali jika gadis itu memang terlalu tabu dengan hal-hal seperti ini.
"Aku menyukaimu, aku mau menyentuhmu, aku mau kamu ada di dalam pelukanku, aku mau mendengar namaku keluar dari bibirmu, aku mau kamu..." Entah hanya perasaan Jea saja, tapi suara pria ini terdengar sedikit lebih serak daripada sebelumnya. Tatapannya bahkan menjadi sayu.
Pelan-pelan Jeffrey mengecup dahi Jea, beralih ke pipi, hidung, lalu... ia terdiam sejenak saat wajah mereka sangat berdekatan. Bahkan hidung itu sudah saling bersentuhan. Membuat jantung Jea berdesir hebat. Sedari tadi Jea hanya bisa menerima segala jenis perlakuan baru yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Sentuhan yang sangat lembut dan menggoda.
"Dan aku tak mau ada lelaki lain yang menyentuhmu seperti ini selain aku, termasuk Jaehyun."
Akhirnya, kecupan itu sukses mendarat di atas bibir merah muda Jea.