
Di suatu hari, pada tahun 1978, terdapat beberapa pesohor tertinggi yang cukup dikenal dimana-mana. Mulai dari penduduk kursi hierarki tertinggi, sampai kalangan penyanyi pop-rock yang tengah digandrungi massa. Namun mungkin satu-satunya pasangan yang banyak diperbincangkan selain presiden Jimmy Carter dan istrinya adalah Jeffrey dan Jea Cochava.
Hampir seluruh kalangan penghuni daratan eropa mengetahui keberadaan mereka. Jeffrey; si psikopat rupawan beserta gadis yang akan selalu ada di sampingnya, Jea Cochava.
Banyak sekali gadis diluar sana yang mengelu-elukan sosok rupawan Jeffrey, meskipun kebanyakan dari mereka tidak mengetahui wajah pria itu. Entahlah, mungkin membuat klub penggemar berdasar pada kerupawanan seseorang sedang berada pada masa-masa tertingginya.
"Pst."
Jea lantas mengalihkan tatapannya dari koran yang tengah ia pegang, melirik pada pria tegap di sampingnya.
Jeffrey mengernyit pelan ketika matanya membaca headline koran yang terpampang begitu jelas, "Christian democratic leader former prime minister of Italy killed."
Mendengar penuturan itu membuat Jea kembali memfokuskan diri pada koran di tangannya. Namun tak lama, karena suara tertawa Jeffrey mengganggu segalanya.
"Ada apa Jeff?"
Mata pria itu melirik pada gadisnya sekilas kemudian bergerak semakin menurunkan flat cap yang terpasang rapi di atas kepalanya, "Akhirnya mati juga."
Jea sedikit memiringkan kepalanya. Siapakah gerangan yang tengah Jeffrey perbincangkan? Tunggu— jangan bilang pria ini tengah membahas kematian Aldo Moro yang menjadi headline koran tadi?
Gadis itu melirik ke sekitar, toko kaset musik ini tengah sepi. Kemudian membuat Jea menggeserkan tubuhnya perlahan, mendekat ke arah Jeffrey, "Kamu tau?" Tanya Jea berhati-hati.
"Yang membunuh mereka itu kelompok Red Brigades, salah satu klienku."
Seharusnya Jea sudah mempersiapkan diri dan mulai belajar untuk memaklumi segala perkataan gila Jeffrey, namun sampai sekarang, gadis itu tidak bisa paham mengapa Jeffrey bisa segila ini.
Mereka kini tengah berada di Italia, setelah berpindah-pindah tempat tinggal selama beberapa lama; berusaha menghindari kejaran federasi itu. Jeffrey dan Jea baru sampai di Italia dua hari yang lalu, mungkin akan berpindah lokasi lagi dalam beberapa hari.
"Kalau yang ini? Kamu suka?"
Jea lalu menoleh pada piring kaset yang Jeffrey sodorkan. Matanya membaca setiap huruf yang tersusun dengan rapi pada sampul piringan itu, "The dark side of the moon, oh! Ini pasti lagu Pink Floyd!"
Jeffrey tersenyum. Gadisnya ini memang paling suka dengan grup musik tersebut, "Ayo."
Pria itu mengenggam tangan Jea dengan lembut, membuat langkah kaki gadis itu berjalan seiring dengan langkah Jeffrey bergerak menuju kasir pembayaran toko tersebut.
Sepertinya malam ini akan mereka habiskan berdua, sembari mendengar alunan piringan lagu dengan tenang.
【under sun】
"A-ahh!"
"Maaf, sakit?" Jeffrey sedikit menautkan sepasang alisnya sembari menatap Jea sedikit khawatir. Tangan kirinya tengah memegang lengan gadis itu dan yang sebelahnya sedang memegang sebuah gumpalan kapas dengan tetesan obat.
"Sedikit," Cicit Jea pelan, sejujurnya rasanya cukup sakit untuk ditahan, namun gadis itu lebih memilih untuk tidak semakin menyusahkan Jeffrey dengan meraung-raung lebih banyak.
Jeffrey menggeleng pelan, "Kamu ngapain tadi? Kenapa bisa jatuh?"
Jea mengigit bibirnya pelan, bingung akan jawaban apa yang pas untuk ia lontarkan— sebab, penyebab ia jatuh ialah karena memikirkan Jeffrey seharian.
"Jea jatuh."
"Iya, tapi kenapa?"
"J-jatuh ..."
Pria itu menghembuskan nafasnya pelan. Meski ia bertanya berkali-kalipun, Jea takan menjawabnya. Membuat Jeffrey harus menyerah tanpa protesan apapun lagi, "Oke. Lain kali hati-hati ya?"
Jea mengangguk pelan, pipinya sedikit memerah malu. Bagaimana dirinya bisa menjelaskan alasan memalukan itu? Oh tidak, Jea lebih memilih diam.
Setelah memasang plester pada luka gadisnya, Jeffrey lantas berdiri, "Kamu belum makan 'kan? Sebentar, jangan kemana-mana."
Gadis itu hanya termenung sembari menatap punggung Jeffrey yang semakin menjauh, ke ruangan yang berbeda dari tempatnya berada. Kedua netranya bergerak melirik telapak tangannya yang sudah terbalut plester. Tanpa Jea ketahui sebelumnya, Jeffrey cukup handal juga dalam hal seperti ini.
Hidungnya mencium sesuatu, aroma yang khas— masakan Jeffrey. Tunggu, sejak kapan Jeffrey memasak?
"Here you go, baby," Jeffrey tersenyum cukup tinggi, membuat kedua lesung pipinya terlihat begitu dalam.
Jea melirik pada sup ayam yang mengepul-epulkan uap. Lantas membuat gadis itu segera menoleh, melirik Jeffrey, "Jeff? Kenapa supnya Jeffrey pegang?"
Tidak menjawab, pria itu beralih untuk duduk di atas sofa— bersampingan dengan gadisnya, "Kalau ditaruh di atas meja nanti kamu susah makannya, harus bungkuk."
Bukannya waspada akan kondisi tangannya, Jeffrey malah terkekeh, "Nggak masalah, yang penting kamu makan dulu."
"Jeff—"
"Makan, sayang. Aku suapin ya?"
Bukan Jeffrey namanya jika tidak keras kepala. Jea hanya bisa menghela nafasnya gusar, kemudian beralih untuk menerima suapan demi suapan yang Jeffrey sodorkan.
Sup itu cukup memenuhi mangkuk yang Jeffrey pegang. Jea cukup was-was, melihat tangan Jeffrey yang terus berada di bawah mangkuk tersebut— menahannya agar mangkuk itu bisa berada dekat dengan mulut Jea.
Kali ini akan menjadi suapan yang terakhir. Jea cepat-cepat melahapnya dan menatap Jeffrey dengan mata bulatnya, "Cepat taruh mangkuknya di atas meja!" Kelu Jea buru-buru.
Jeffrey hanya tersenyum pelan lalu segera menuruti kata Jea. Mangkuk biru tua itu diletakannya di atas meja, menampilkan telapak tangan kiri Jeffrey yang sudah memerah padam dan melepuh.
"Jeff!"
"Hm?"
Jea menatap Jeffrey tidak mengerti. Bagaimana bisa Jeffrey tidak mengeluh sedikitpun dan masih bisa tersenyum padanya?
"Tangan Jeffrey!"
Jeffrey melirik pada tangannya dengan tatapan yang acuh tak acuh, seolah itu adalah hal yang sepele untuknya, "Tanganku kenapa?"
Ingin sekali Jea memukuli Jeffrey karena pria itu membuatnya begitu kesal saat ini, namun yang terpenting bagi perempuan itu ialah meringankan luka di tangan Jeffrey sekarang juga.
"Tunggu, biar Jea ambil—"
Dengan cepat Jeffrey menahan pergelangan gadis itu dengan tangan kanannya, "Mau kemana? Tangan kamu lagi luka."
"Tangan Jeffrey 'kan juga!"
Jeffrey tersenyum lebar. Ternyata gadisnya tengah mengkhawatirkan dirinya saat ini. Gemas sekali.
"Obatnya ada disini."
Jea mengernyit tak mengerti, "Dimana?"
"Kamu obatnya," Jeffrey bergerak menarik Jea, mendekapnya cukup erat. Menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher gadis itu, menghirup segala aroma citrus yang menguar dari balik surai hitam tersebut.
"Aku cuman butuh kamu, jadi jangan pergi ya?" Ucap pria itu samar-samar. Jea terdiam dalam beberapa saat, menikmati elusan lembut yang membelai kepalanya, begitu tenang dan aman.
Wangi maskulin Jeffrey seperti menutupi segala hawa gelap yang ada di dalam ruangan, seperti menyebar melingkari cakrawala, menghidupi segala kegelapan. Membuat Jea merasa nyaman, dan ingin terlelap.
Pundak pria itu terasa lebar, seolah-olah berkata jika tidak masalah jika Jea ingin menyandarkan kepalanya disana selama apapun. Lengan kokohnya memeluk tubuh Jea begitu erat, tidak membiarkan sedikitpun celah rasa dingin untuk masuk bersama.
Detik semakin berdenting, meninggalkan kedua insani pada dunianya sendiri. Begitu juga dengan Jeffrey yang sibuk dengan dunianya yang terpusat pada Jea seorang. Seperti bulan yang akan terus mengitari bumi.
Jeffrey tidak ingin melepaskan tubuh kecil gadisnya. Tidak ingin melepaskan elusan lembut yang ia labuhkan pada surai halus Jea. Tidak juga ingin beranjak dan menutup mata— membuat dirinya tak lagi bisa melihat sosok yang teramat berharga untuknya.
"Jea."
"Ya Jeffrey?"
Hembusan hangat nafas pria itu membelai lembut permukaan kulit lehernya, membuat Jea sedikit bergedik geli. Matanya mulai tertutup seiring dengan elusan yang Jeffrey berikan padanya.
"Kamu wangi."
Mendengar hal itu membuat Jea tertawa pelan, tangannya memukul bahu Jeffrey, "Ya, Jea tau."
Keduanya kemudian saling tersenyum, menghangati malam yang terasa tak lagi dingin ketika hal yang mereka pikirkan hanyalah satu sama lain. Seperti— jika bintang-bintang berjatuhan pun, mereka akan tetap ada disana, menyaksikannya dengan posisi yang tak berbeda.
Jea semakin menenggelamkan kepalanya pada bahu pria itu. Menikmati sunyinya rembulan berdua. Jea tahu bagaimana Jeffrey mencintainya, dan Jeffrey juga mengetahui hal yang sama.
Tiada hal lain yang lebih menyenangkan bagi Jeffrey selain merasakan kulit gadis itu yang terasa memanasi kulit tubuhnya, mencium aroma manis dan citrus yang menguar dari surai kelamnya, atau sekedar terbangun di tengah malam, membenarkan letak selimut gadisnya lalu menyisir pelan rambut hitam Jea; mengetahui jika gadis itu akan selalu menjadi miliknya.
Mungkin, Jea memiliki segala ruang di hatinya yang takan pernah tersentuh oleh siapapun— dalam segala kemungkinan.