Under Sun

Under Sun
14. She Can Shot Your Head [1]



Sudah beberapa hari berlalu, namun sepertinya Jaehyun masih juga tak kunjung berhenti memikirkan kejadian demi kejadian yang sempat terasa ambigu.


Bagaimana ini? Jaehyun bukanlah seorang pria yang bodoh karena tidak menyadari hal-hal sensitif menyangkut perasaan. Jelas-jelas jika ia sempat berdebar karena gadis itu kan?


Tidak, Jaehyun tahu ini tidak benar.


Apalagi barusan, ia baru saja mendapat secarik surat dari Anna, istrinya.


Jaehyun lagi-lagi menghela nafas gusar. Bukan begini yang dia inginkan. Kemudian, pria itu kembali membaca ulang surat yang berisikan tentang runtaian rindu juga pesan untuk tak melupakan agar Jaehyun meminum obatnya.


Anna tidak tahu jika Jaehyun memilik gangguan mental kepribadian ganda, yang Anna tahu hanyalah sebatas Jaehyun yang memang suka sakit kepala saat menjelang malam hari.


Seharusnya dari awal Jaehyun tidak harus melewati batasnya. Anna adalah satu-satunya, dan akan selalu begitu.


"Anda tidak pulang, Jenderal?"


Jaehyun menoleh dan mendapati Jisung tengah membereskan beberapa berkas di lemari kayu. Tatapan pria itu sedari kosong, sedikit membuat Jisung bertanya-tanya ada apa gerangan.


Karena setahu pria itu, Jaehyun tidak pernah termenung sampai sebegininya. Jisung adalah satu-satunya partner yang paling lama bekerja dengan Jaehyun. Tentu ia menjadi yang paling loyal pula. Apalagi karena Jaehyun adalah satu-satunya pria Asia yang menjabat sebagai pihak kepolisian sekaligus mengambil peran penting dalam kemiliteran negara.


"Kamu bisa pulang duluan."


Jisung lalu mengangguk dan memberi hormat, "Yes, Sir!"


Dan benar saja, setelah Jaehyun mempersilahkan Jisung untuk pulang, lelaki kelahiran tahun 1958 itu langsung mengacir keluar ruangan.


Sepertinya Jaehyun tidak ingin berlama-lama di rumah, entah kenapa. Mungkin karena Jea sebagai dalang dibaliknya.


Jari-jemarinya memijit pelipis. Memang, Jaehyun membutuhkan penyegaran terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Rasa hatinya tidak akan tenang jika langsung bersitatap dengan gadis itu.


Bahkan Jaehyun rela berangkat kerja lebih cepat dua jam saat Jea masih terlelap semata-mata agar tidak bertemu dengannya.


Jaehyun lalu bangkit dari kursi kebesarannya. Mengambil parka kemiliteran, dan berjalan pergi.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk mengunjungi St. Lawrence Public Market, jika menggunakan mobil. Entah bagaimana Jaehyun bisa sampai berada disana, padahal awal tujuannya ingin sekedar mencari angin. Ditambah lagi Jaehyun bukanlah tipikal pria yang suka berbelanja dan berdesak-desakan. Biasanya, yang akan membeli belanja bulanan adalah Anna.


Kedua tangan itu ia masukan ke dalam kantung celana hijau army-nya. Jaehyun sedikit menggeserkan tubuh saat beberapa ibu-ibu yang tengah menenteng tas belanjaannya berlalu. Keadaan di St. Lawrence Public Market saat ini memang tidak dalam masa high season, tapi tetap saja menyesakan.


Lantas pria itu memilih untuk melihat-lihat counter yang paling dekat untuk bisa dikunjungi. Bibirnya harus terpaksa tersenyum tatkala seorang ibu paruh baya menarik tangannya dengan cepat.


"Anak muda, mau cari apa? Disini banyak barang-barang impor dari Italia. Apalagi barang-barang kosmetik perempuan," Setelah menuturkan rentetan kalimatnya, wanita paruh baya itu kembali tersenyum.


Jaehyun merasa sedikit kikuk, namun tetap mengikuti kemana ibu itu membawa dirinya. Matanya ikut menelusuri setiap barang yang ditunjukan padanya.


Memang benar, barang-barang kosmetik itu terlihat bagus dan mahal. Meski Jaehyun sendiri tidak tahu apa fungsinya. Yang ia tahu hanyalah bedak, dan lipstik. Ah, juga pewarna kelopak mata.


"Saya mau yang ini."


【under sun】


Bulan sabit sudah menampilkan wujudnya, bersinar sendiri di tengah langit yang gelap. Jea terlihat cukup pulas tidurnya selama tiga jam terakhir. Mungkin karena kecapekan sehabis membersihkan seisi rumah sendirian.


Baru terbangun, ia sudah dikejutkan dengan seisi rumah yang masih gelap gulita. Sepertinya Jaehyun belum pulang juga.


Jea bergerak mengikat rambutnya. Baru saja dia hendak pergi ke dapur, dirinya lagi-lagi terkejut dengan sekotak kecil barang asing di atas meja kayu ruang tamu.


Alisnya saling bertaut tatkala ia juga menemukan secarik kertas yang ditindih sang kotak. Dengan rasa penasaran, Jea membaca untaian kata demi kata yang Jea tahu betul siapa penulisnya.


"Untukmu?"


Kepalanya sedikit ia miringkan ke kiri. Tak ingin banyak bertanya, Jea langsung membuka kotak tersebut.


Matanya mulai berbinar ketika tak disangka-sangka Jea malah mendapati sebuah benda yang dulu hanya bisa ia lihat di poster atau di kamar Millie dan Layla.


Ya, sebuah lipstik merah!


Bibirnya tersungging senang. Cepat-cepat langkah kakinya kembali membawa gadis itu pada cermin di kamar. Dengan tangan yang sedikit gemetaran saking senangnya, Jea mulai memoleskan bibir merah mudanya dengan lipstik merah.


"Wah..." Jea mulai merasa takjub dengan tampilan yang dihasilkan. Wajahnya tampak lebih cerah dan... merona.


Pipinya bersemburat malu. Apakah Jaehyun sengaja membeli barang ini untuknya?


Jea kembali terkekeh senang. Namun tak lama. Karena sesudahnya, ia bisa mendengar jika deruman mobil terdengar diluar.


Buru-buru gadis itu keluar dari kamar dan membukakan pintu. Berharap untuk menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Jaehyun, tetapi—


"Hey, babe," Jeffrey yang masih belum mematikan mesin mobilnya langsung keluar dari mobil. Menampilkan dirinya yang terbalut dengan jaket kulit hitam juga celana denim jeans, lengkap dengan kacamata hitam yang sudah menangkring di wajah tampannya.


Awalnya Jea bingung, namun ketika ia menyadari hari sudah terlanjur malam, Jea tidak lagi mempermasalahkan tuntutan pertanyaan di kepalanya.


"Ayo."


Jeffrey menggengam tangan Jea cepat, setelah melepaskan kacamata hitamnya.


"Kemana?"


Jeffrey tidak menjawab. Tetapi sekilas, Jea bisa melihat jika Jeffrey menyeringai kecil disana.


"Have some fun, baby."