Under Sun

Under Sun
10. Touch Her and You Will Die Soon



Tepukan ringan berkali-kali menyapa pipi kiri dan kanan Jea. Sepasang matanya memandang kosong pada plafon atap yang terlihat polos. Sudah tak terkira lagi bagaimana bosannya Jea. Tidak pernah sekalipun ia merasakan perasaan sekosong ini. Maksudnya, bosan. Karena dulu, Jea akan selalu dihantui dengan pikiran-pikiran buruk seputar kapan ia akan kembali dipukul atau semacamnya.


Mungkin sudah sepuluh jam? Atau lebih, Jaehyun meninggalkannya sendiri di motel ini. Yang Jea tahu, sekitar lima belas pria berseragam kepolisian beramai-ramai memberi hormat kepada Jaehyun saat mereka tengah sarapan di restaurant motel. Tentu Jea kaget. Ternyata mereka hendak menjemput atasannya untuk pergi ke lokasi yang mereka sebut sebagai tkp kejadian. Hanya sebatas itu saja yang Jea ketahui.


Tuannya tadi juga sempat mewanti-wanti agar Jea tidak kemana-mana, karena bahaya. Jadi sedari pagi sampai sekarang, Jea hanya menghabiskan waktunya dengan membaca majalah-majalah yang tersimpan di rak buku kecil. Baru kali ini ia melihat majalah yang berbau serba-serbi kewanitaan. Jea mengangguk berkali-kali karena ia merasa tengah mendapatkan informasi yang cukup berguna dan menarik.


"Jadi model pakaian yang seperti ini bagus.." Ucapnya disela-sela kegiatan mengobservasinya itu. Sepasang wanita tengah menggunakan wig ungu dan kuning cerah dengan pakaian yang berumbai-rumbai. Jangan lupakan juga celana jeans longgar dengan bagian betis yang melebar. Biasanya gaya berpakaian ini disebut disco fashion era.


Tiba-tiba, bayangan Jeffrey di malam itu kembali berhilir mudik di kepalanya. Kedua pipi itu bersemu merah. Kelakuan Jeffrey memang... sedikit aneh. Jea sendiri juga tidak tahu itu apa, namun ia tidak merasa kesakitan. Jeffrey tidak menyakitinya. Dan... entahlah, rasanya Jea tidak bisa menolak begitu saja atas segala sensasi yang Jeffrey berikan. Dirinya merasa jika Jeffrey tidak seburuk itu. Jeffrey tidak seburuk yang diberitakan di koran-koran atau jaringan media negara lainnya.


Tapi untung saja setelah cumbuan semalam, Jeffrey menghentikan aktivitasnya dan malah memilih untuk tidur di samping Jea.


Gadis itu berjalan turun dari ranjangnya. Sepasang kakinya bergerak menuju jendela besar yang menunjukan pemandangan malam kota Michigan. Ternyata, Michigan juga tak kalah cantik dari Toronto. Jea tersenyum saat ia bisa melihat interaksi para manusia di bawah sana. Jea tidak membenci kerumunan manusia, dirinya hanya merasa takut.


Sekarang sudah pukul delapan malam. Kali ini, Jea tidak akan lalai lagi seperti sebelumnya. Ia sudah mengunci pintu kamar motel sehingga Jeffrey tidak akan bisa masuk ke dalam. Jea yakin akan hal itu.


Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya Jaehyun memang sibuk sekali. Sampai-sampai harus kerja siang dan malam seperti itu.


Bunyi derap langkah kaki semakin mendekat. Jea sedikit memfokuskan pendengarannya saat hanya derap kaki itu saja yang menghiasi keheningan di lorong kamar motel lantai dua.


Semakin dekat dan berhenti.


Jea sendiri juga tidak tahu mengapa, tapi, jantungnya mulai berdebar-debar. Seketika ia mulai merasakan jika akan ada sesuatu yang tidak sesuai dengan rencananya.


Dan benar saja, Jea bisa mendengar dengan jelas jika knop pintu itu tengah diutak-atik oleh seseorang. Kemudian, daun pintu itu terbuka.


Padahal jelas-jelas seingatnya, pintu itu sudah terkunci rapi dari dalam.


Takut-takut Jea sedikit menoleh, menilik sesosok pria tinggi yang berdiri dengan jas hitam membalut tubuh tegapnya. Tatapannya tajam, dan menusuk. Langkah kaki itu masuk ke dalam, otomatis membuat Jea semakin mundur untuk menjauh dari jangkauan pria itu.


"Menghindariku?" Jeffrey tidak tersenyum. Wajahnya begitu datar sampai-sampai sepasang kaki kecil Jea terasa bergetar hebat.


Menyadari hal itu, Jeffrey sontak semakin berjalan mendekat. Hingga berdiri menjulang tepat di hadapan Jea yang sudah teramat ketakutan. Jeffrey tahu betul jika gadisnya itu memang takut padanya. Kadang pria itu bertanya-tanya, bagaimana caranya agar Jea tak lagi merasa takut saat bersamanya?


"Aku tidak marah. Jadi jangan takut sayang. Aku sudah bilang padamu takan ada satupun orang yang akan menyakitimu kan?" Jemari Jeffrey mulai mengelus pelan surai coklat Jea, elusan kedua, ia mulai menautkan jari-jarinya pada helaian lembut itu lalu turun ke bawah. Seperti melakukan pergerakan menyisir lembut helaian tersebut. Perlahan, jeffrey mengangkat ujung rambut Jea kemudian menciuminya.


"Ini, pakailah," Ujar Jeffrey pelan sembari menyerahkan sebuah mantel yang senada dengan warna rambut gadis itu. Jea menatap ragu-ragu pada mantel tersebut meskipun pada akhirnya ia tetap berusaha memakainya dengan tangan yang masih bergetar.


"Sini, aku bantu," Jeffrey mulai menggantikan Jea memegang mantel itu dan juga memakaikannya pada tubuh Jea yang jauh lebih kecil dari pada Jeffrey.


Dengan teliti, Jeffrey mengancingkan satu per satu kancing pada mantel yang ia berikan barusan. Setelah memastikan jika penampilan Jea sudah lebih layak di matanya, kali ini Jeffrey tersenyum. Sedikit membuat Jea terkejut karena senyuman itu terlihat tidak menyeramkan seperti yang biasanya.


"Boleh aku pegang tangan kamu?"


Lagi-lagi Jea kembali terkaget dibuatnya. Sejak kapan Jeffrey meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu? Sungguh diluar nalar.


Jea hanya mengangguk patah-patah.


Setelahnya, Jeffrey menautkan jari-jemarinya pada milik Jea. Ia kemudian berjalan membawa gadis itu keluar dari kamarnya hingga benar-benar keluar dari kawasan motel tersebut. Ternyata, sebuah mobil ford hitam pucat sudah menunggu di samping jalanan.


Jeffrey membuka salah satu pintu mobil itu lalu mempersilahkan Jea untuk masuk. Tangannya menempel di atas kepala Jea, berjaga-jaga agar kepala gadisnya tidak terhantuk pada besi atap mobil.


Setelah memastikan Jea duduk dengan aman, Jeffrey mengelilingi mobil dan ikut masuk ke dalamnya.


【under sun】


Tubuh gadis itu meremang saat ia mengetahui kemana Jeffrey membawanya. Sebuah bangunan besar yang suram. Bahkan cat pelapis fondasi tinggi itu saja sudah terlihat usang dan pudar. Benar-benar definisi yang pas untuk tempat kejadian pembunuhan.


"Mau aku gendong, atau jalan sendiri?"


Jea cepat-cepat ikut berjalan di samping Jeffrey saat ia baru saja menyadari jika dirinya hanya terbengong sedari tadi.


"Kamu takut?" Tanya Jeffrey lagi yang langsung diangguki oleh Jea. Perempuan ini lucu sekali, sangat jujur dan spontan, pikir Jeffrey.


Lantas pria itu menarik pinggang Jea agar menempel pada tubuhnya. Bisa Jeffrey rasakan, tubuh gadis di sampingnya sedikit menegang. Entah karena takut atau terkejut.


"Selamat datang kembali, bos!" Seru mereka serempak sembari memposisikan tangan pada pelipis mereka.


Jea merasa jika Jeffrey dan Jaehyun ini hampir sama secara kedudukan. Namun juga berbeda. Ah, susah untuk dijelaskan. Kendati, begitulah yang ia rasakan.


Jeffrey yang masih setia memeluk pinggang gadisnya itu segera meninggalkan anak buahnya di gerbang depan. Jeffrey kini bergerak masuk semakin dalam, melewati beberapa detector machine yang membuat Jea kebingungan karena ini kali pertama ia melihat benda seperti itu. Keduanya juga melewati beberapa pintu besar yang terbuat dari baja hingga ia dan Jea berhenti tepat di depan pintu gerbang besar.


"Buka."


Dan gerbang besar itu langsung terbuka. Menampilkan sebuah ruangan besar yang di dominasi dengan warna merah gelap. Jea semakin merasa ingin pulang saat ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri jikalau isi ruangan tersebut benar-benar diluar nalar.


Berpuluh-puluh manusia dengan tampilan yang tidak wajar tengah melakukan aktivitas gelap mereka disini.


Perjudian, pengonsumsian obat-obatan, sampai kegiatan penyiksaan juga ada di dalam ruangan itu.


Jea semakin merapatkan tubuhnya pada Jeffrey, merasa tidak ada lagi pilihan yang lebih baik ketimbang hal ini, "Ini.. ini apa, T-Tuan?"


Jeffrey hanya tersenyum pelan, tangannya mulai mengelus pipi gadis itu, "Ini dunia, sayang."


Tangan perempuan tersebut meremas pelan mantel coklatnya. Sungguh pemandangan yang tidak ia sukai. Buru-buru Jea memalingkan wajahnya, dirinya terpaksa harus menjadikan tubuh Jeffrey sebagai tameng agar tidak ada lagi hal-hal seperti itu menyapa penglihatannya. Jea merasa mual.


"Kamu nggak suka, hm?"


Jea langsung menangguk. Membuat Jeffrey segera mengeluarkan pistolnya. Setelah ia meluncurkan peluru ke atas, sontak hal itu langsung mendapatkan segala atensi dari manusia-manusia tersebut.


"Berhenti, gadisku tidak suka."


Setelah mendengar hal itu, Jea sedikit mengintip lagi ke arah para manusia itu yang anehnya dengan segera menghentikan kegiatan mereka.


Jeffrey mendecak kesal saat ia bisa melihat adegan penyiksaan yang dilakukan oleh dua pria tua di ujung ruangan. Tiga orang gadis belia sebagai korbannya. Tubuh ketiganya terlihat suram, penuh akan luka bekas cambuk yang masih mengalirkan merahnya darah. Bahkan salah satu dari gadis itu terlihat seperti sudah berada diambang kematiannya. Jeffrey langsung berjalan mendekat, kemudian, tangan kirinya ia arahkan untuk menutup sepasang mata Jea.


"Sebentar ya sayang. Kamu jangan lihat."


Pria itu mulai menyeringai saat ia mengarahkan pistol di tangannya pada kedua pria tua tadi yang sudah bersujud ketakutan di hadapannya.


"A-ampuni kami B-Bos! Kami sungguh-sungguh tidak tau jika Bos akan ke-kesini!"


Awalnya Jeffrey terdiam. Matanya menatap nyalang pada dua pria tua itu yang salah satunya sudah membasahi celananya saking terlalu takut. Setahu mereka, bos besar mereka memang sangat jarang datang ke basecamp ini. Sekali lagi ingat, Jeffrey adalah bos besar mafia yang bahkan tidak bisa sekalipun dapat terdektesi dimana keberadaannya oleh anggota FBI.


Malam kemarin, Jeffrey memang sempat mengumumkan untuk tidak melakukan kegiatan penyiksaan lagi di basecamp mereka. Namun, tentu ada beberapa anggota yang 'nakal' karena tidak mengetahui kedatangan bos besarnya malam ini.


"B-Bos, kami mohon ampun!!"


Seisi ruangan itu bergedik ngeri. Bahkan ada beberapa yang menahan nafas mereka karena tahu betapa kejinya jika itu semua menyangkut Jeffrey.


The big J.


Begitulah semua orang memanggil bos besar mereka itu. Keji, tidak kenal ampun. Siapapun tahu jika tidak ada satupun yang pernah lolos kalau sudah mendapat kartu merah dari seorang Jeffrey.


"Berisik, brengsek."


Jea meringis kecil saat ia dikagetkan dengan suara rintihan pria tua juga pekikan beberapa manusia lain. Hal yang lebih mengejutkannya tentu suara ledakan bertubi-tubi saat ini.


Jeffrey tampak tidak puas dengan hanya menembakan dua puluh amunisi panas tepat pada kepala kedua manusia itu. Bahkan, meskipun ia sudah mengetahui tidak ada lagi pergerakan yang dilakukan oleh bawahan sialannya tadi, Jeffrey tetap menembakan semua pelurunya dengan ganas pada tubuh yang mulai digenangi dengan pekatnya darah.


Setelah seluruh pelurunya habis, Jeffrey langsung melemparkan pistol itu asal. Tubuhnya kini berjalan mendekat pada meja panjang yang menempel di dinding sebelah kiri ruangan. Menampilkan jejeran senjata-senjata berbahaya disana.


Mulai dari berbagai jenis pisau, pistol, juga senapan panjang.


Pria itu mengambil salah satu senjata tersebut dengan asal, lalu dimasukannya pada saku jas hitam yang ia kenakan.


Jeffrey menyeringai. Seharusnya dengan begini semua orang yang masih bernafas disana tahu, jika hanya dengan menginjak bayangan gadis Jeffrey, nyawa tidak lagi menjadi hal yang penting.


Bukankah begitu?