Under Sun

Under Sun
17. He Told Me That He Loved Me



Sudah hampir seminggu lamanya semenjak kedatangan Jea di Pennsylvania, tepatnya di Washington DC. Jarak tempuh antara Toronto dan Pennsylvania memakan satu harian penuh. Setelah menggunakan kapal, ia dibawa dengan truk besar menuju pusat markas FBI seperti yang Jaehyun inginkan.


Tidak disangka-sangka, ternyata di dalam FBI Office, terdapat beberapa kamar isolasi di lantai tiga puluh empat yang salah satunya menjadi tempat tinggal sementara untuk Jea. Semuanya tersedia disana, mulai dari sarapan pagi hingga makan malam, pakaian ganti, juga pemandian air panas.


Jea sempat teramat takut sekali, karena baru kali ini ia bertatap muka dengan manusia sebanyak ini. Apalagi wajah mereka semua menyeramkan. Terkesan datar dan terlampau serius. Untung saja ada salah satu lelaki yang cukup ramah disana, namanya Mark.


"Hei, lagi ngapain?"


Meski sedikit terkejut karena kedatangan Mark yang tiba-tiba, Jea berusaha tersenyum, "Tidak ada."


Padahal jelas-jelas sebelumnya Mark memperhatikan jika Jea sudah termenung di depan jendela kamarnya selama hampir sejam. Entah lebih atau tidak, intinya Mark sudah memperhatikan perempuan itu termenung sejam lamanya.


"Kalau begitu, aku ada kabar baik untukmu."


Langsung saja Jea menoleh, "Apa itu?"


"Tau tentang The Big J? Mafia yang kini tengah menjadi pusat perhatian dunia? Katanya, wajahnya mirip dengan Jenderal Jaehyun."


Cepat-cepat Jea menetralkan wajah terkejutnya. Bagaimana tidak, ucapan Mark barusan terdengar sama sekali tidak lucu dan membuatnya hampir lepas jantung, "T-tau dari mana?"


"Salah satu intel kepercayaan petinggi."


Lalu Jea memangutkan kepalanya. Ia memilih untuk tidak banyak berbicara lagi, karena takut-takut, ia malah mengucapkan sesuatu yang tidak penting.


Suara buzzing noise yang disertai dengan beberapa patah kode yang terucap dari seorang perempuan menginterupsi perbincangan singkat mereka. Lantas Mark menatap Jea sekilas lalu menepuk pundaknya pelan, "Semangat. Jangan lupa makan dan tidur cukup. Mukamu kelihatan capek."


Jea membalas senyuman itu dengan sedikit grogi, "I-iya, terimakasih."


Pintu kamarnya kembali tertutup. Meninggalkan Jea dalam kesendirian yang kembali menghantarkannya pada mimpi-mimpi lama. Membuat gadis itu termenung, apakah Jeffrey baik-baik saja disana?


Sudah seminggu berlalu, dan ia belum melihat Jeffrey sekalipun.


Tunggu— bukankah ini bagus? Tapi mengapa Jea merasa begitu merindukan suara bisikan rendah itu? Mengapa rasanya ia ingin merasakan kembali sentuhan-sentuhan yang membuat kulitnya meremang geli?


Tampaknya, Jea sudah gila seperti Jeffrey.


【under sun】


Setiap pukul delapan malam, Jea terbangun secara tiba-tiba. Tidak, ini memang tidak direncanakan sama sekali. Jea sendiri juga tidak tahu mengapa. Matanya terasa cekung, pipinya juga terasa lebih tirus daripada yang sebelumnya.


Jea bangkit dari ranjang, berniat ingin membasuh tubuhnya yang panas. Langkah kakinya membawa Jea masuk ke dalam bilik kecil yang kebetulan sekali memang tersedia di dalam kamar. Ah, maklum saja, ini kan kamar isolasi.


Gadis itu menanggalkan gaun putihnya dengan lemas, mengambil sabun, dan mulai membasuh dirinya.


Pikirannya masih terngiang-ngiang akan surat Jaehyun beberapa hari yang lalu. Disitu, Jaehyun berkata jika Jeffrey tidak akan mencarinya. Jadi Jea bisa tenang selama berada di markas pusat FBI.


Tentu, Jea juga tahu kalau Jeffrey tidak akan datang untuknya. Jeffrey tidak sebodoh itu untuk ditangkap secara mentah-mentah dan mungkin saja dieksekusi di tempat. Apalagi hanya untuk seorang budak sepertinya.


Jeffrey gila, tapi tidak bodoh.


Setelah melihat pantulan tubuh polosnya melalui cermin, Jea menyadari jika bekas-bekas yang Jeffrey tinggalkan masih berada disana.


Tangannya perlahan menyentuh bibirnya, mengingat semua hal yang pernah Jeffrey lakukan disana. Kecupan hangat yang terasa begitu sensual.


Jea melilit tubuhnya dengan handuk lalu keluar dari kamar mandi itu. Langkah kakinya membawa Jea mendekat pada lemari kayu lusuh di samping ranjang, ingin memilih pakaian yang terlihat hampir sama semua.


Baru saja gadis itu ingin melepaskan handuknya, sebuah deritan cukup keras mengagetkannya. Cepat-cepat Jea mengeratkan handuknya lalu menoleh takut-takut ke arah sumber suara, jendela.


Baru saja Jea ingin berteriak kencang karena melihat sesosok pria tegap serba hitam memasuki jendelanya, pria itu langsung meletakan jari telunjuknya di depan mulut sambil melepaskan topi yang samar-samar tadi menutupi setengah wajahnya.


Sontak, Jea membelalakan matanya tidak percaya. Tubuhnya terasa seperti patung batu yang baru seumur jagung. Jantungnya berdebar hebat. Gadis itu tampak tak ingin mempercayai sosok di depannya saat ini. Jeffrey.


Pria itu tampak sedikit berantakan. Tidak, memang sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan, begitu pula dengan pakaiannya yang penuh akan cipratan darah segar. Sepertinya Jeffrey sempat membantai beberapa orang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar Jea melalui balkon kamarnya.


Tunggu, bagaimana bisa pria ini masuk melalui balkon? Padahal kamarnya terletak di lantai tiga puluh empat.


"J-Jeffrey? Is that you?"


Kakinya melangkah lebar. Detik berikutnya, Jea sudah berada di dalam rengkuhan hangatnya. Jeffrey merasa teramat pening saking sibuknya menghirup aroma rambut Jea yang selalu menjadi candunya. Dia gila. Selama hampir seminggu ini, Jeffrey merasa gila.


Hampir setiap hari ia berusaha mati-matian menuju Pennsylvania namun saat ia kembali terbangun di malam yang sama, tubuhnya selalu kembali berada di Toronto.


Bahkan ia sempat membunuh orang-orang yang tidak bersalah, karena amarahnya yang membuncah tak dapat terbendung sedikitpun.


Semuanya bersujud di depan pria itu saat tatapan nyalangnya dapat membasmi semua manusia di sekitarnya.


"Do you miss me, baby?"Jeffrey menciumi dahi Jea cukup lama. Hingga rasanya, Jea benar-benar takut jikalau jantungnya akan benar-benar meledak saat itu juga.


"I-I miss you too, Jeffrey."


Kini, pria itu bergerak mengecup bibir merah muda yang sudah membuatnya gila selama beberapa hari ini. Pelan-pelan, Jeffrey menghisap lembut bibir itu, menyesapnya hingga menimbulkan bercakan rendah.


Jeffrey menciumi gadisnya, kali ini tidak dengan nafsu dan hasrat. Jeffrey hanya sekedar menyalurkan segala bentuk rasa rindunya yang tertahan begitu lama.


"I want to kiss you gently, and i want to hold you forever like this," Pelukan itu terasa mengerat. Mengartikan jika Jeffrey benar-benar tak ingin kehilangan Jea untuk yang keduakalinya. Jeffrey rela memberikan apapun asal Jea akan tetap berada di sampingnya.


Demi apapun, Jeffrey sangat jatuh cinta pada gadis ini.


Pria itu tersenyum senang. Sungguh, tidak ada lagi hal yang lebih membahagiakan baginya selain bisa kembali merasakan sekujur tubuhnya yang bisa menyentuh kulit halus gadis itu.


Dalam sepuluh menit lagi, Jeffrey tahu, jika para agen FBI akan datang ke kamar ini dan menangkapnya. Mungkin, bisa saja ia ditembak mati disini juga. Karena tadi Jeffrey sempat membunuh beberapa pasukan khusus FBI yang menjaga pintu gerbang utama juga yang tadi sempat menghadangnya.


"Ayo, kita pergi sayang. Tidak ada waktu lagi."


Mendengar hal itu, Jea langsung melepaskan pelukannya. Bukan, bukannya Jea tidak ingin ikut pergi juga bersama Jeffrey. Hanya saja, gadis itu tiba-tiba teringat akan isi surat yang Jaehyun berikan padanya.


Disitu tertulis, kalau Jeffrey akan mati jika Jea terus bersamanya.


Tentu Jea tidak menginginkan hal itu. Jea mungkin akan menjadi satu-satunya manusia yang tidak menginginkan Jeffrey untuk disapa kematian secepat itu.


"Sayang? Kamu nunggu apa lagi?"


Mata Jea berkelebat bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya, tak sengaja Jea melirik pada sebuah ukiran luka di sekitar perut pria itu. Ya, luka. Terlihat seperti sayatan.


Bertuliskan Cochava means star.


Cochava adalah nama akhir Jea. Dan saat itu juga, Jea baru tahu kalau arti dibalik namanya adalah bintang. Namun yang lebih membuat Jea terkejut adalah, kenapa Jeffrey harus menyayat tubuhnya sendiri untuk mengukir tattoo itu?


"Jeffrey—"


Bunyi derap kaki yang terdengar gaduh memenuhi lorong kamar Jea. Membuat keduanya lantas menoleh pada daun pintu yang dengan cepat terhempas begitu saja.


Sial. Komplotan agen FBI sudah berhasil menyusulnya.


"ANGKAT TANGANMU!" Ucap salah satu pria berkulit hitam dengan senapan panjang di tangannya. Terdengar begitu menggelegar. Membuat bulu kuduk Jea meremang seketika.


Jeffrey hanya menatap datar pada pasukan yang sudah mengepungnya dengan laser merah dari senapan api masing-masing.


Dengan terburu-buru, para agen yang lain langsung menjalankan operasi khusus penangkapan Jeffrey. Lima orang sudah menahan tubuh pria itu hingga Jeffrey hanya bisa membiarkan tangannya diborgol oleh besi tebal.


Dan satu-satunya hal yang membuat Jeffrey membiarkan tubuhnya ditahan ialah;


pria itu tahu bahwa Jea akan terbebas dari sini jika dirinya sudah berhasil ditangkap.


Entah mengapa, Jea ingin menangis saat itu juga. Tidak, lebih tepatnya— ia sudah menangis. Pelan-pelan Jea berjalan mendekati Jeffrey meski sudah ditahan oleh salah satu agen yang tengah menjalankan misi saat ini.


Jea terlihat tidak gentar sama sekali saat ia memutuskan untuk berjalan mendekati Jeffrey. Karena gadis itu bisa merasakan, tatapan Jeffrey yang mengisyaratkan Jea untuk mendekat padanya.


Saat Jea sudah berdiri tepat di hadapan Jeffrey, pria itu kembali tersenyum. Dengan sekali pergerakan, Jeffrey mengecup lembut bibir yang terasa basah akan air mata.


"You should know that, you will forever be my always," Ucap Jeffrey terakhir kali sebelum para pasukan itu menusuk lehernya dengan sebuah suntikan.