
Semenjak Jeffrey kembali datang, semuanya berubah. Benar-benar berubah.
Dimulai dari hal pertama yang mungkin akan mengejutkan semua orang; Jaehyun menghilang. Sosok Jaehyun benar-benar menghilang tanpa alasan. Entah karena apa lebih tepatnya, selama hampir tiga hari ini, Jeffrey memegang kekuasaan penuh atas tubuh itu.
Memang membuat Jea kebingungan, Jeffrey juga merasakan hal yang sama walaupun ia tidak pernah menunjukan ekspresi keterkejutannya setelah berhasil melihat matahari terbit dari ufuk timur.
Kedua, Jeffrey memutuskan untuk membawa Jea pergi menjauh dari kota itu, Toronto. Karena satu hal yang pasti ialah federasi sialan itu sudah melacak dimana letak rumah yang Jaehyun tinggali, maka tidak ada jalan lain selain meninggalkan rumah itu bersama kota yang menaunginya.
"Kamu ngapain disini?"
Hampir lima belas menit lamanya Jeffrey sibuk mencari-cari keberadaan gadisnya. Setelah ia terbangun dari tidur, rasanya sungguh aneh dan berbeda. Jeffrey memang selalu 'tertidur' saat Jaehyun mengambil alih tubuh mereka. Namun sepertinya merasakan 'tidur' yang sesungguhnya memang aneh.
Hal pertama yang Jeffrey cari saat tadi ia terbangun adalah Jea. Sontak pria itu cukup terkejut ketika Jea tidak ia temukan di sampingnya.
Padahal jelas-jelas saat ia tertidur, Jea berada di pelukannya.
"Maaf, tadi Jeffrey tidur jadi Jea nggak mau ganggu," Ujarnya setelah Jea menoleh dengan menggengam beberapa batang bunga di tangannya.
Kini, mereka berada di Santiago, daerah yang cukup jauh dan tidak sepadat Toronto. Untungnya Jeffrey memiliki koneksi yang cukup luas sampai-sampai di Santiago dirinya tak memiliki kesulitan untuk menemukan tempat persembunyian yang aman dan nyaman.
"Lebih bagus kamu bangunin aku daripada kamu keluar sendiri, sayang," Jeffrey ikut berjongkok di samping Jea, lalu meraih salah satu tangkai bunga itu dan menyelipkannya di telinga Jea.
Meski wajah gadis itu terlihat samar-samar, Jeffrey tahu betapa cantiknya wajah Jea di bawah temaram sinar rembulan. Apalagi ketika ia tersenyum, sedikit tertutup oleh beberapa helai rambutnya. Hampir saja Jeffrey kelepasan.
"Jangan senyum. Kamu minta dimakan?"
"Memangnya Jeffrey bisa makan Jea?"
Kemudian, Jeffrey tersenyum— setengah ingin tertawa mendengar jawaban Jea yang terdengar bodoh dan polos di waktu yang bersamaan.
Lalu pria itu bergeser semakin mendekat. Dalam gelap, Jeffrey sedikit berbisik dengan suaranya yang masih serak— habis terbangun dari tidurnya, "Kalau bisa, gimana?"
Entah mengapa tiba-tiba Jea bergedik ngeri, cepat-cepat ia menjauh, "Jeffrey kenapa sih."
Ya Tuhan, sungguh, Jeffrey tak bisa mengungkapkan bagaimana ekspresi gadisnya sekarang yang terlihat lebih menggemaskan dari apapun. Bisakah Jeffrey benar-benar melahapnya sekarang?
Baru ingin bergerak dari posisinya, guntur menggelegar. Membuat Jea langsung meringkuk takut. Dengan refleks Jeffrey memeluk tubuh Jea dari belakang. Bisa pria itu rasakan jika Jea terasa sedikit bergetar.
"Hei, hei, aku disini sayang."
Jea tahu, Jeffrey bersamanya. Tidak ada yang perlu ditakuti. Tapi tetap saja, bagaimanapun Jea masih merasa sedikit takut karena malam memang memiliki kisah menyeramkan tersendiri di dalam benaknya.
Rintik-rintik hujan turun membasahi setiap inci permukaan bumi yang dapat diraih. Termasuk Jeffrey dan Jea yang belum bergerak dari posisinya. Masih terduduk diam di tengah-tengah taman bunga yang terletak di depan rumah yang kini Jeffrey dan Jea tempati.
Tubuh keduanya semakin basah, seiring dengan derasnya hujan yang mengguyur di tengah malam.
Jeffrey tidak perduli jika tubuhnya basah. Namun ia cukup berusaha keras agar setidaknya Jea tidak basah. Meskipun gadis itu juga ikut basah pada akhirnya.
Jea dan Jeffrey masih terdiam. Bisu dalam suasana. Tidak ada yang ingin memulai percakapan entah karena hujan yang terlalu berisik atau— terlalu nyaman.
Hujan memang dingin tapi percayalah jika Jea tidak merasa dingin sedikitpun.
Gadis itu tidak lagi merasa takut, apa mungkin karena punggungnya yang hangat karena pelukan Jeffrey?
"Jeff, kamu basah."
Bukannya segera menjawab, Jeffrey malah menenggelamkan wajahnya di seluk leher Jea, "Kamu juga—"
Entah hanya perasaan Jea saja atau bagaimana, suara pria itu terdengar sedikit berbau sensual. Ah— apa sekarang Jea sudah terkontaminasi oleh kenakalan Jeffrey?
Jea ingin berdiri dari posisinya karena ia menyadari tubuh mereka berdua benar-benar basah kuyup. Namun karena licin, bukannya malah sukses berdiri, gadis itu malah sedikit bergerak mundur dari duduknya.
"Shhh... don't move," Jeffrey sedikit menggigit daun telinga Jea karena posisi meraka yang kini sungguh berdekatan. Benar-benar tiada jarak. Apalagi saat tubuh belakang Jea berhasil menyentuh milik Jeffrey yang memang sudah tercetak jelas karena celana yang ia gunakan basah.
"Ah, maaf," Jea sedikit menunduk saat ia juga bisa merasakan apa yang terasa keras di belakang tubuhnya.
Tiba-tiba Jea mengingat kejadian malam itu.
Cepat-cepat Jea menggeleng. Tuhan, maafkan Jea.
"Ayo masuk," Tanpa aba-aba Jeffrey berdiri dengan menggendong tubuh Jea di kedua lengannya.
Kakinya melangkah lebar, masuk kembali ke dalam rumah.
Jeffrey beringsut menurunkan tubuh Jea yang basah di atas sofa panjang di dekat samping jendela. Jea sedikit bergerak mundur sehingga punggungnya menyentuh kepala ranjang ketika Jeffrey berdiri di ujung ranjang, menatapinya lapar.
"J-Jeff?"
"Yes baby?"
Jeffrey kemudian menyeringai di temaramnya malam. Tubuhnya yang atletis itu semakin terlihat menggoda karena kemeja hitam yang ia kenakan benar-benar basah, mencetak tubuhnya dengan jelas tanpa cela. Celananya juga demikian, menunjukan sesuatu yang sedikit tabu.
"Jeffrey mau apa?" Tanya Jea was-was. Tolong, gadis itu masih merasa teramat malu dengan kejadian dua malam yang lalu. Ia masih tidak sanggup jika harus— oh sepertinya tidak perlu dijabarkan lebih lanjut.
"What else? Eat you up."
Perkataan Jeffrey barusan memang membuat bulu kuduk Jea meremang. Di tambah lagi Jeffrey yang tanpa melepaskan pakaiannya malah duduk diatas ranjang, tepat berada di ujung ranjang.
"Come here," Ujar Jeffrey yang sudah menatap Jea lamat-lamat.
Sungguh, Jea tidak memiliki pilihan lain kecuali menuruti perkataan Jeffrey. Sedikit demi sedikit, Jea bergerak mendekati pria itu yang kini tersenyum.
"Lepaskan bajuku."
Awalnya Jea melotot ketika Jeffrey mengeluarkan titahnya. Hampir saja Jea menolak, namun tangan Jeffrey yang bergerak mengelus pipinya begitu pelan membuat Jea harus kembali mengalah.
Pelan-pelan, gadis itu duduk di samping Jeffrey, begitu dekat sehingga nafas hangat pria itu bisa terasa di wajahnya.
Tangan Jea bergerak melepaskan kancing kemeja Jeffrey satu demi satu. Jantungnya berdetak tidak waras. Semakin lama, semakin terasa ingin meledak.
Jea bisa melihat dengan jelas betapa indahnya pahatan tubuh pria itu ketika semua kancing berhasil ia loloskan. Sungguh mahakarya yang sempurna. Otot-otot yang membina keseluruhan tubuh itu juga beberapa luka yang menoreh tubuhnya membuat tubuh Jeffrey terlihat lebih gagah.
"Now, i will touch you," Jeffrey berbisik dengan begitu pelan. Suaranya serak.
Perlahan, Jeffrey melepaskan pakaian gadisnya hingga menyisakan pakaian dalam juga mini skirt yang masih melekat. Tangan Jeffrey menuntun tubuh Jea agar duduk diantara kedua kakinya.
Kemudian tangan itu pelan-pelan masuk ke dalam rok gadisnya, menelusuri kulit dingin yang lembab. Saat Jeffrey berhasil menemukan celana dalam Jea yang basah, jemarinya mulai mengelus-elus permukaan kewanitaan gadis itu.
Begitu intens, hingga jari-jari panjang itu saling bergesekan di bawah sana, membuat Jea harus menggigit bibirnya untuk menahan sesuatu yang tak bisa dirangkai dalam kata-kata.
Jeffrey mengecup tengkuk gadis itu kemudian berucap pelan, "You love it, hm? I know you can't deny it."