Under Sun

Under Sun
35. Back To Now [ EPILOGUE ]



Namanya Jeanny. Salah satu gadis remaja yang hidup di abad dengan kecanggihan era modern masa kini. Hari ini, aktivitas berjalan seperti biasa. Setiap manusia turut sibuk akan rutinitas yang harus mereka kerjakan.


Sudah mendekati pukul enam sore. Jaemin sudah pulang setelah tadi membuat gadis itu kesal karena harus menunggu Jaemin untuk menjemputnya di depan kampus selama dua jam.


Hari ini berlalu sesuai dengan apa yang biasanya terjadi. Tiada hari tanpa percekcokan antara kedua anak manusia itu.


Untungnya Jaemin sudah pulang dari rumah Jeanny beberapa saat yang lalu, membuat keadaan kembali tenang.


Gadis itu melenguh seiring dengan tubuhnya yang terjatuh di atas kasur empuk. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tidur di atas ranjang seempuk ini.


Matanya menatap kosong ke atas. Hembusan nafas terdengar begitu pelan keluar dari bibir gadis itu. Jeanny kembali merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.


Bayang-bayang kilasan tidak menentu mulai menggangu benak perempuan itu. Jeanny merengut kesal.


Jadi selama ini yang telah ia lalui bersama pria tampan itu hanya— mimpi?


Tunggu, bukan. Itu bukan mimpi.


Awalnya, Jeanny yakin jika itu adalah mimpi. Namun segala kejadian yang terjadi sampai di penghujung cerita menggambarkan kenyataan yang sukar untuk disisihkan.


Dan setelah gadis itu mencari tahu lebih banyak, ternyata dirinya jatuh pada era 70-an. Benar, dia adalah seorang gadis yang entah bagaimana caranya menjadi manusia penjelajah waktu.


Terdengar tidak logis, memang. Namun sejak kapan kehidupan pernah logis padanya?


Saat Jeanny balik pada era silam tersebut, dirinya hidup di dalam tubuh seorang gadis yang memiliki nama sepertinya. Bedanya, gadis itu hanya menggunakan nama depannya saja.


Setelah kembali pada era kini, tidak banyak yang berubah. Dirinya masih berusia sembilan belas tahun dan baru saja masuk ke fakultas psikolog salah satu kampus yang cukup terkenal di kotanya— sesuai dengan ingatan terakhir Jeanny akan kehidupannya sebagai seorang remaja modern.


Keluarganya juga masih sama. Jaemin— teman masa kecilnya juga masih ada, dan bersikap seperti yang biasanya.


Mengartikan jika satu-satunya yang berubah adalah ingatan gadis itu. Jeanny jelas mengingat siapa dirinya dan memori kehidupan selama sembilan belas tahun hidup sebagai gadis kota bernama Jeanny. Namun ia juga mengingat memori kehidupannya sebagai Jea Cochava, perempuan yang selalu Jeffrey sayangi sampai di akhir hidupnya.


Jeanny menatap pada langit-langit atap untuk beberapa saat. Lalu ... apakah mungkin jika pria itu juga melalui hal yang sama sepertinya?


Maksudnya, Jeffrey.


Bagaimanapun, perasaannya untuk pria itu nyata. Jeanny memang merasa belum pernah bertemu langsung dengan pria itu. Kendati demikian, Jeanny merasa segala perasaannya teruntuk Jeffrey itu terasa sangat nyata.


Tentu saja. Yang ia lalui selama ini bukan sekedar mimpi, melainkan kenyataan yang terjadi pada era 70-an silam.


Lalu tubuh siapa yang ia masuki pada era itu? Entahlah, Jeanny tidak tahu dan tidak ingin memikirkannya lebih jauh.


Tak sengaja matanya melirik pada jam dinding di kamarnya. Astaga! Sudah jam enam lewat sepuluh menit!


Malam ini akan menjadi malam dimana Jeanny bertemu dengan pria kenalan orangtuanya. Raut gadis itu berubah sebal. Berkali-kali ia terus menolak permintaan orangtuanya untuk dijodohkan, namun apa? Tidak ada yang berubah.


Cepat-cepat Jeanny bangkit dari ranjangnya, dan bergerak untuk menyiapkan segala keperluan yang ia butuhkan.


Berdoa saja agar pria itu tidak setua bayangannya.


【under sun】


Tangan gadis itu terus bergelung pada kain gaun merah mudanya. Terlihat gelisah. Bahkan berkali-kali ia tampak meneguk saliva berat sembari melirik pada pintu transparan di ujung barat ruangan.


Kini Jeanny tengah berada di salah satu restaurant terkemuka nan elite di kotanya. Di tambah lagi keluarganya memesan sebuah ruangan khusus untuk perjamuan makan malam ini.


Kepala gadis itu seperti berputar-putar.


Jantungnya berdebar tak karuan. Pikirannya menjalar kemana-mana. Pria seperti apa itu kira-kira? Jangan bilang sudah berkepala empat atau lebih?


Telapak tangannya tampak sedikit basah oleh peluh. Terlalu banyak berpikir yang macam-macam.


Tiba-tiba sebuah tangan lembut menggengam tangan perempuan itu yang sedari tadi bergerak gelisah. Lantas membuat Jeanny melirik pada sang mama yang duduk di sampingnya, "Kamu gugup banget ya? Nih mama kasih tau, orangnya nggak jelek sama sekali kok!"


Kemudian— tak lama setelah itu, sebuah pintu transparan yang tadi menjadi objek pandang Jeanny terbuka. Menampilkan sesosok pria paruh baya, mungkin seusia papanya, tengah tersenyum pada seluruh manusia yang berada di ruangan itu.


"Wah udah lama ya! Gimana kabarmu?" Ujar pria tua itu sembari memeluk tubuh papa Jeanny dengan erat.


"Baik. Ayo duduk dulu," Balas sang papa kemudian. Membuat kedua manusia yang baru saja masuk langsung berjalan mendekati meja makan.


Kedua mata Jeanny membulat dengan sempurna ketika netranya terjatuh pada seorang pria muda bersurai hitam pekat dengan tinggi yang cukup mencolok itu.


Tunggu, bukankah dia adalah—


"Anny! Tutup mulutnya!" Tegur sang mama pelan sembari menyenggol tubuh anak perempuannya, membuat Jeanny lantas gelagapan dan menunduk malu.


Pikirannya semakin berisik ketika Jeanny tahu jelas siapa pria yang tengah mengambil posisi duduk berhadapan dengannya. Pria itu adalah pria yang telah memporak-porandakan hatinya!


Bagaimana bisa?


Apa jangan-jangan pria itu juga penjelejah waktu seperti dirinya?


Pelan-pelan, Jeanny kembali mengangkat kepalanya, melirik pria rupawan yang duduk tepat di depan gadis itu.


"Jadi ini anak tunggal saya," Perkataan pria tua tadi lantas membuat lamunan Jeanny buyar seketika. Perempuan tersebut beralih berdehem pelan, merasa tertangkap basah telah menelanjangi pria rupawan di hadapannya dengan tatapan gadis itu.


"Jung Jaehyun," Ujarnya setelah tersenyum tipis, membuat Jeanny lagi-lagi membelalakan matanya tanpa menggubris senggolan dari mamanya lagi.


Ternyata benar! Sesuai dugaannya!


Pria itu—


"Jea."


Suara Jaehyun terdengar begitu rendah, hampir seperti berbisik padanya. Jarak di antara mereka memang cukup dekat, sehingga Jeanny tentu bisa mendengar suara pelan itu dengan jelas.


Jantung gadis itu kembali berdetak dengan tak karuan ketika nama yang telah ia tinggalkan terlontar dengan begitu lembut dari bibir pria itu.


"J-Jeffrey?"


Entahlah, dari segala perkataan yang bisa Jeanny katakan, hanya satu nama itu yang bisa ia panggil dan disebutkan dari mulutnya yang terasa kelu.


Jeanny masih tidak percaya.


Jaehyun tersenyum padanya, membuat kedua lesung pipi yang teramat gadis itu rindukan mencuat menyapanya.


Entah untuk alasan apa, Jeanny ingin menangis sekarang juga.


Waktu terasa berhenti tepat di antara keduanya. Keadaan terasa menghening. Tidak— alam semesta terasa tidak lagi berputar seperti yang seharusnya.


Semua ini ulah pria itu.


"I already told you, when the time is right, you will find me again—"


Pria itu menatapnya begitu lamat, membuat Jeanny merasa kehabisan nafasnya saat itu juga, "And now, i found you, baby."


— fin —


sheacountry present,


under sun.


[ you can find the other stories


on ******* : @SHEACOUNTRY ]