
Semuanya jelas tercetak dalam wajah dan tubuh gadis itu. Bahkan orang bodoh sekalipun tahu; neraka. Jea baru saja keluar dari nerakanya. Atau mungkin belum. Tidak ada yang tahu.
"Nona Cochava," Panggil salah satu suster yang bertugas entah sudah yang ke berapa kali. Hasilnya? Tetap tidak dihiraukan barang sedikitpun. Jea masih duduk termenung. Tatapannya masih kosong seperti tiga hari yang lalu, saat ia baru dibawa oleh pihak kepolisian Minnesota ke rumah sakit kecil ini.
Sudah menjadi rahasia umum bagi sebagian orang mengenai seluk-beluk latar belakang keluarga Collins. Salah satunya termasuk kekerasan fisik dan mental yang sudah lama terjadi dalam keluarga berada itu. Sedari tadi, orang-orang yang berlalu-lalang hanya sibuk menatap iba pada Jea yang— entahlah. Kondisinya terlalu buruk untuk dideskripsikan.
"Nona, Anda harus makan," Kali ini salah satu suster lain meraih nampan yang tadi di pegang oleh suster Dhea, yang tadi sibuk mengajak bicara Jea yang tak pernah menoleh.
"Saya Jane, Anda bisa memanggil saya dengan panggilan apapun itu. Sehabis ini jika Anda mau, saya bisa membawa Anda berjalan-jalan di perkarangan rumah sakit sebentar."
Akhirnya, usaha itu membuahkan hasil. Jea menoleh meski tatapannya masih sayu dengan kedua kelopak matanya yang sembab. Awalnya, gadis itu masih terlihat ragu-ragu untuk berbicara. Semenjak ia menyandang nama keluarga Collins, bisa dihitung berapa banyak manusia luar yang sempat berkomunikasi dengannya. Ketimbang anak angkat, Jea lebih mirip dengan tahanan.
"A-apa.. b-boleh?" Tutur Jea berhati-hati dengan tatapannya yang bergerak gelisah. Membuat Jane tersenyum lebar.
Setelah meletakan nampan berisi semangkuk bubur kacang hijau itu di atas ranjang kecil putih, Jane menggengam tangan Jea berhati-hati. Mengingat beberapa luka yang masih membekas di tangannya yang kurus itu.
"Kenapa nggak? Kamu bisa kemana saja asal bersamaku," Lagi-lagi Jane menyunggingkan senyumnya, menghapus segala ragu yang sempat meninggalkan jejak di wajah lusuh Jea.
"T-terimakasih..."
Jane duduk di samping Jea, lalu kembali meraih mangkuk bubur kacang hijau rendah gula yang menjadi menu pasien hari ini, "Tapi makan dulu ya?"
Jea mengangguk patah-patah. Tangannya kini sibuk saling melilit satu sama lain, tanda ia benar-benar gugup. Ini pertama kalinya ia kembali berbicara dengan orang asing selain keluarga Collins dalam setahun terakhir. Tahun lalu ia hanya sempat berbicara dengan dua wanita paruh baya dan satu anak lelaki kecil, hanya karena mereka tamu yang berkunjung ke rumah.
Untung saja Jea tidak lupa bagaimana cara untuk berbicara dengan orang lain.
"Sini," Jea menatap sendok perak penuh dengan bubur itu mengarah padanya. Ia kembali ragu-ragu, namun Jea tetap membuka mulutnya sedikit saat Jane berusaha menyuapinya.
"Mungkin ganjaran keluarga Collins, sampai-sampai mereka bisa— ah maaf, apa topik ini sensitif bagimu?" Jane cepat-cepat mengigit kecil bibirnya, takut salah bicara.
Pelan namun pasti, Jea menggeleng. Jika dibilang sedih akan kematian keluarga angkatnya itu, tidak. Dia tidak merasa sedih sama sekali. Lalu senang? Entahlah. Jea tidak bisa benar-benar memastikannya. Semuanya terlalu begitu tiba-tiba dan menakutkan. Terasa kosong dan... tidak tahu.
"Aku pernah mendengar dari cerita orang lain kalau keluarga Collins itu gila. Ternyata benar," Perempuan berseragam putih dengan topi suster itu menggeleng-geleng sambil berdecak ketika matanya menjelajahi tubuh kecil Jea yang penuh dengan lebam juga bekas-bekas luka sayatan dan semacamnya.
"Dengar-dengar, pembunuh yang melakukannya pada keluarga itu sama seperti pembunuh yang terjerat kasus dengan sebelas orang lain beberapa hari yang lalu. Wah, ceritanya seperti pembunuhan berantai ya?" Lanjut Jane seraya menyisir surai-surai hitam panjang Jea.
"Kamu aman disini. Mungkin besok polisi akan melakukan investigasi lebih lanjut masalah keluargamu, jadi bersiap-siap ya?"
Tatapan Jane dari tadi begitu lembut. Jea sampai heran. Apa begini cara manusia normal menatap orang lain?
"I-iya.."
Dengan pelan Jane mengelus tangan Jea yang masih sedikit bergetar. Tubuh gadis ini begitu ringkih dan lemah. Kasihan. Apalagi saat Jane tahu jika pastinya besok bukan investigasi yang akan di lakukan. Dunia tidak sebaik itu.
Tahun 70-an bukan berarti era kemerdakaan hak asasi manusia berkibar.
Pemerintahan masih gila.
"Kamu mau mandi?"
"J-Jea sudah mandi semalam.."
Jane menahan senyumnya. Sedikit iba namun entah kenapa Jea malah terlihat lucu saat ini, "Nona, manusia normal biasanya akan mandi paling tidak dua kali sehari."
Apa? Jea membelalakan matanya. Bagaimana mungkin? Sedangkan baginya, mandi dua hari sekali saja merupakan keajaiban yang diberikan oleh keluarga Collins padanya.
"Kalau.. kalau begitu, apa Jea.. Jea boleh mandi..?"
Takut-takut Jea menatap wajah Jane yang masih hangat seperti sebelumnya. Sungguh, ia sangat amat tak terbiasa dengan perlakuan seperti ini. Apa ini semua normal? Apa tidak merasakan sakit itu normal?
Jea terbiasa untuk tidak meminta. Terakhir kali saat dua tahun yang lalu, ia meminta untuk mencicipi sedikit kue wortel yang baru dibeli oleh Millie saat baru pulang dari darmawisatanya, Jea malah berakhir dikurung dalam gudang selama dua hari penuh tanpa makan atau air.
"Kenapa nggak? Ayo!" Jane cepat membantu Jea untuk berdiri. Namun semua pergerakannya sia-sia saat pintu kamar rumah sakit itu terdobrak begitu saja. Hanya dengan sekali dorongan, pintu itu hampir ambruk. Apa karena rumah sakit kecil ini yang sudah terlalu tua dan usang?
"Apa-apaan ini! Bukannya kita sudah sepakat untuk melakukan investigasinya besok?!"
"Ini perintah langsung dari pemerintahan," Salah seorang pria maju sambil menunjukan sebuah surat dengan stampel negara resmi di kertas itu.
"Tolong serahkan perempuan itu," Pria tadi dengan cepat mendorong tubuh Jane, membuat Jane oleng hingga hampir terjatuh. Buru-buru ia menggengam lengan pria bertubuh besar itu.
"J-jangan! Ku mohon jangan! Sudah ku bilang kondisi mentalnya belum stabil! Tolong hargai dia seperti manusia!!!"
Awalnya, pria itu terdiam sejenak. Lalu menghembuskan nafasnya tak beraturan, "Sejak kapan kamu hidup diantara para manusia, suster?"
Jane membeku. Kata-kata pria itu menohok keras dirinya, membuat Jane kewalahan hanya untuk sekedar membantah tanggapannya.
"Tapi tolong! Nona ini masih lemah! Lihat tubuhnya!"
Pria tadi tak menggubris ucapan Jane dan langsung menarik paksa tangan Jea. Membuat pemiliknya meringis saat merasakan luka di tangannya yang belum sepenuhnya sembuh itu kembali berdenyut.
"J-jangan!!" Jane kembali berusaha menahan para aparat yang segera pergi setelah membawa Jea bersama mereka. Namun naas, Jane tidak berdaya.
Apalagi saat salah satu pria tegap itu menondongkan sebuah pistol, tepat pada dagunya.
【under sun】
"Masuk! Cepat!"
Tubuh Jea dengan kasar di dorong masuk ke dalam sebuah ruangan kumuh. Nafasnya terasa sesak, semakin menjadi-jadi saat matanya menangkap betapa ramainya kondisi di dalam kapal ini.
Malam itu, mungkin akan menjadi malam yang bersejarah nantinya. Malam dimana para perempuan dari kalangan usia delapan tahunan sampai empat puluh akan segera diberangkatkan ke suatu tempat— untuk dijual.
Kumpulan perempuan yang malang. Diambil untuk dijual karena tidak lagi memiliki rumah, atau keluarga. Ada juga beberapa yang tidak membayar pajak negara.
Apa semiskin itu negara ini sampai-sampai harus menjual warga sipilnya sendiri pada daerah lain?
Jea dengan ketakutan hanya bisa meringkuk di dekat dinding kayu kapal itu, menatap para perempuan yang bernasib sama dengan dirinya. Tidak ada satupun yang terlihat hidup— begitu kentara dari tatapan mata mereka.
Dingin. Tidak tahu tepatnya ini sudah jam berapa. Yang Jea tahu, sekarang sudah malam. Dan kapal kayu berukuran kecil itu mulai bergerak, membawa seluruh manusia di dalamnya menuju neraka selanjutnya.
Apa hidup memang selalu seperti ini?
Jea menggosok-gosokan telapak tangannya. Bahkan ia sudah tak bisa lagi merasakan sakit yang mendera dari luka-luka tubuhnya yang belum sembuh. Hatinya remuk. Jea sendiri tidak tahu mengapa. Bukankah ia memang tak pernah mendapatkan hak asasi manusianya sedari awal? Lalu kenapa saat ini perasaan itu terombang-ambing? Bahkan terasa hancur.
Matanya menatap sesosok perempuan di hadapannya yang penuh keringat. Mungkin karena kandungannya yang sudah sangat besar itu. Jea mulai menebak-nebak. Apa perempuan itu akan melahirkan sebentar lagi atau..
"Jangan melihatnya."
Buru-buru Jea menoleh pada asal suara. Seorang gadis yang mungkin seusianya dengan rambut blonde terang tampak sedang mengunyah sesuatu.
"M-maaf.."
"Sebentar lagi bayinya akan mati. Kalau ibunya selamat, hanya sekedar beruntung."
Meski sedikit tidak mengerti dengan ucapan barusan, Jea hanya mengangguk pelan.
Mati. Mendengar kata itu, membuat pikirannya lantas terjatuh pada kejadian itu.
Dan juga pria misterius yang sudah membantai keluarga Collins tepat di depan matanya.
"Tidur saja. Kapal ini akan sampai di Toronto tiga hari lagi. Selama itu belum tentu kita diberi makan atau minum. Kamu harus banyak-banyak tidur, supaya hidup," Papar gadis tadi lagi, dan kali ini ia menoleh.
"Dan.. persiapkan mentalmu. Sampai di Toronto, kalau beruntung, mungkin kamu cuman sekedar dijadikan sebagai *******."