Under Sun

Under Sun
21. You’ll Never Know How Much I Need You



Aroma gugurnya daun samar-samar tercium tatkala angin berhembus masuk melalui celah-celah kecil, sedikit mengusik ketenangan di sore hari ini. Cicitan burung yang hilir mampir di atas pepohonan taman rumah ikut meramaikan suasana.


Jea melenguh sedikit, terbangun dari tidurnya.


Perlahan, matanya terbuka namun kemudian menyipit ketika sinar keemasan mentari sedikit menusuk matanya melalui jendela di samping kamar yang hanya ditutupi tirai putih nan tipis.


"Udah bangun, hm?"


Lantas pandangannya bergerak pada Jeffrey yang tengah membaringkan tubuh tepat di sampingnya. Pria itu tersenyum, begitu lembut— sampai Jea refleks terbuai akan senyuman berlesung itu.


"Iya. Jeffrey nggak tidur?" Ujar Jea kemudian.


Jeffrey terdiam. Mungkin karena tubuh besar pria itu yang membelakangi jendela, wajahnya yang terlihat remang-remang kembali mengurai senyum, "Ada kamu di samping, gimana bisa tidur?"


Malu-malu gadis itu tersenyum mendengar penuturan sedikit tak masuk akal Jeffrey. Jea hanya bisa membalasnya dengan kembali tersenyum lebih lebar. Membuat kedua matanya benar-benar melengkung bak bulan sabit.


Keadaan mulai menghening, hanya diiringi gemerisik daun yang bertabrakan juga angin yang sedikit lebih dingin daripada yang sebelumnya.


Keduanya saling melihat satu sama lain. Melalui mata, namun yang pasti mereka merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam ketimbang sekedar pandangan netra.


Detik demi detik berlalu, seirama dengan rambut Jeffrey yang mulai berantakan karena hembusan angin melalui jendela yang sedikit memberi celah.


Tubuh keduanya masih tak beralas apapun. Sehelai benang tak lagi terlihat diantara permukaan kulit mereka. Gadis itu merasa sedikit tergelitik geli ketika dengan begitu pelan-pelan jemari Jeffrey mengelus kulit lengannya.


"Kamu suka kalau aku begini?"


Ragu-ragu Jea mengangguk malu. Dirinya tak bisa berbohong ketika Jeffrey menatapnya begitu lamat-lamat.


Kemudian Jeffrey bergerak lebih mendekat. Dikecupnya ujung hidung gadis itu yang terlihat sungguh menggemaskan. Lalu ia kembali berucap, "Kamu suka... kalau aku begini juga?"


Siapapun yang melihatnya pasti akan tahu jikalau perlakuan Jeffrey pada gadisnya begitu lembut dan tidak tergesa-gesa. Sampai-sampai Jea sendiri tidak lagi bisa menjawab, terlalu terpaku dengan kenyataan bahwa Jeffrey terpahat begitu sempurna.


Jeffrey sadar jika prilakunya membuat Jea kehabisan seribu kata. Pria itu lantas beralih memeluk Jea erat, "Jangan pergi ya?"


"Pergi?" Jea tertawa. Bagaimana mungkin ia bisa pergi jika bukan Jeffrey yang membawanya? Dengan siapa lagi ia akan bermuara kalau bukan pria itu yang bersedia menampung dirinya?


Tidak ada jawaban dari Jeffrey. Wajahnya terdiam, bibirnya terkatup rapat. Jika ia harus menjawab kemana Jea akan pergi, satu hal yang pasti; ia bukan Tuhan.


Lengan-lengan besarnya semakin merenguh tubuh yang jauh lebih kecil daripada miliknya. Jeffrey merasa begitu tentram. Memeluk Jea adalah obatnya.


"Just, don't go."


Jeffrey takut. Jeffrey takut menghadapi kenyataan yang tak disangka-sangka akan mencuat ke permukaan. Bagaimana kalau gadisnya akan benar-benar pergi suatu saat?


Dan bagaimana kalau itu karena ulahnya sendiri?


Maka Jeffrey akan memilih untuk mati.


【under sun】


"Semuanya tau kalau Bos bisa kembali," Lanjut salah satu pria yang berkumis tipis dengan topi cokelat andalannya. Setelah itu, seisi manusia yang sedang berada di taman depan rumah menggelegar tertawa.


Jeffrey hanya tersenyum tipis menanggapinya. Hari ini, seperempat dari bawahan underground group-nya datang berkunjung ke Santiago, berniat untuk merayakan kedatangan The Big J kembali.


Suasana sore yang awalnya tentram dan hening, kini mulai diricuhkan karena taman rumah mereka didatangi secara berbondong-bondong. Memang tidak banyak, namun sepertinya mampu membuat kepala Jeffrey sedikit pusing.


Dimulai dari pejabat-pejabat pembelot sampai rekan bisnis pasar gelap Jeffrey datang, ikut memeriahkan pesta dadakan yang tentu mengejutkan Jeffrey.


"Nona tadi pergi ke dapur, Bos."


Langsung saja Jeffrey bergerak pergi dari perkarangan rumahnya, kembali masuk ke dalam. Meninggalkan kebisingan yang tiba-tiba menyeruak ketenangannya bersama Jea.


Pandangannya menyapu ke sekitar, Jeffrey melirik pada ruang tamu juga kamar mereka yang sempat pria itu lalui barusan.


Netranya berhenti disatu titik. Tepat pada punggung Jea yang membelakanginya. Entah sedang melakukan apa.


"Hei," Jeffrey merengkuh tubuh Jea dari posisi belakang, sedikit mengejutkan gadis itu karena sedari tadi ia tak mendengar derap kaki apapun.


"Jeffrey? Kenapa disini?"


Bukannya menjawab, Jeffrey hanya mengelus-elus pipinya pada pipi Jea, "Nggak mau jauh."


Lalu gadis itu tersenyum geli, "Jangan usil, Jeffrey."


"I'm not," Balas Jeffrey yang kini tengah meletakan dagunya diatas bahu Jea.


Merasa jika Jeffrey semakin manja dengannya, Jea lalu tertawa, "Oke, oke, Jea percaya."


"Hey."


"Iya?"


Selama beberapa detik, tidak ada yang memulai kembali percakapan ketika Jeffrey tidak menjabarkan maksud dari panggilannya barusan.


Entah kenapa, Jeffrey merasa begitu nyaman. Bersama Jea memang begitu nyaman sampai-sampai ia masih tak percaya jika Jeffrey bisa memiliki dua puluh empat jam bersama Jea, selamanya.


Tak disangka-sangka, Jeffrey malah bergerak menjauh, melepaskan pelukannya. Jea tentu saja langsung menoleh ke arah mana Jeffrey berjalan. Dahi gadis itu mengernyit ketika Jeffrey sedang meletakan piringan hitam di atas mesin pemutar lagu. Lalu, ia langsung menghidupkan mesin itu, sehingga kaset piringan hitam berputar.


Jea masih tidak mengerti saat Jeffrey menoleh padanya, dan tersenyum.


Pria itu kembali berjalan mendekat, ia meraih tangan kanan Jea lalu mengecup punggung tangan itu cukup lama.


Mata Jeffrey masih tak ingin lepas dari sosok gadis dihadapannya. Mungkin di waktu yang bersamaan, ia sedikit disibukan akan pernyataan betapa cantiknya Jea hari ini.


Jeffrey membungkukan tubuhnya sedikit, diiringi dengan pergerakan tangannya di depan perut. Berusaha memberikan penghormatannya pada Jea ketika ia ingin mengajukan sebuah permintaan untuk berdansa pada gadis itu.


"Can i be your partner for this song, my lady?"


Gadis itu benar-benar tak bisa membendung rasa bahagianya saat Jeffrey seolah-olah memperlakukannya sebagai wanita yang paling istimewa sejagad raya.


"Sure," Jea ikut berjalan mendekat ketika tangannya sudah berada di genggaman pria itu.


Beriringan dengan lagu, perlahan Jeffrey menuntun gadisnya itu untuk melangkah diatas lantai dapur. Dengan begitu penuh sayang, Jeffrey memeluk pinggang Jea begitu erat.


Benar-benar erat, sehingga dengan jelas tubuh keduanya saling menempel satu sama lain. Membuncahkan detakan jantung yang mulai menggila.


Bibir Jeffrey yang lembab menempel pada pipi gadis itu ketika lantunan merdu semakin membawa mereka mengalun bersama, terbawa dalam suasana temaram.


"I've never prayed once before i met you."


Di sela-sela dansa mereka, Jea kemudian menatap Jeffrey heran, "Lalu berarti Jeffrey berdoa setelah bertemu dengan Jea?"


Jeffrey tersenyum, "Yes baby, i prayed for us."