
Virginia, America.
05.23 pm, Central Intelligence Agency.
Di sepanjang lorong panjang itu, bunyi derap sepatu yang mengetuk marmer di bawahnya terdengar membunuh keheningan dengan cepat. Para pasukan yang bertugas untuk menjaga setiap pintu sel dengan senjata yang berada di setiap tangan manusia-manusia itu tampak menundukan sedikit kepala mereka menghormati sosok agung yang tengah berjalan angkuh melewati pintu demi pintu besi.
Beberapa orang terlihat mengikuti jejak pria tua itu, menyusuri lorong yang hening dan suram. Tepatnya di hadapan sel terakhir— tepatnya sel paling ujung, semua langkah kaki itu terdiam.
"Buka," Ucap pria tua itu pelan, membuat salah satu penjaga yang menjaga sel tersebut segera menuruti perintah dan membuka pintu besi berat itu.
Setelah pintu terbuka, keadaan tetap sama; menjadikan hening sebagai pemeran utama.
Tuan Jung lantas masuk setelah ia berdehem sekilas. Matanya melirik pada seorang pria yang tengah terduduk di ujung ruangan— menundukan kepalanya dengan tubuh yang terkulai.
Mata pria tua itu melirik pada seorang perempuan di belakangnya. Lantas membuat perempuan tersebut segera memerintahkan para pasukan yang ada untuk bersiap siaga.
Setelah berdiam diri untuk beberapa detik, Tuan Jung beralih untuk bergerak mendekat pada tubuh yang hampir mati di ujung ruangan sana.
Pria tua itu sedikit berjongkok, berusaha menyetarakan tinggi tubuhnya pada sang calon lawan bicara, "Jaehyun— kemana Jaehyun?"
Kendati demikian, Jeffrey masih bergeming. Tidak ada rasa keinginan untuk menjawab pertanyaan itu. Entahlah, pikirannya terasa kosong. Pandangannya buram. Sekujur tubuhnya mati rasa.
Bahkan untuk mendengarkan sepatahkatapun dari pria tua yang berkedok sebagai ayahnya saja tak lagi mampu ia lakukan.
Tuan Jung bangkit dari posisinya sembari tersenyum remeh, "Apa yang saya harapkan dari manusia yang hampir mati sepertimu?"
Beberapa detik kembali terlewatkan tanpa seruntai kalimatpun. Kini mampu membuat pria tua itu sedikit marah.
"Kamu tuli?" Ucapnya lantang, memenuhi seisi ruangan, diiringi dengan tendangan yang cukup menohok perut tanpa alas Jeffrey.
Bibir kering nan pucat itu akhirnya mengeluarkan sepatah erangan kasar. Sepasang matanya kini bergerak melirik pada sosok yang berdiri menjulang di depannya.
Netra Jeffrey membelalak ketika ia baru menyadari siapa sosok di hadapannya. Sontak membuat pria itu mengeluarkan sisa tenaganya yang sudah terkuras habis untuk berteriak lantang— memaki nama sang elite politik Uni Soviet tanpa ragu.
"SIALAN! PERGI!"
Jeffrey hampir mengamuk kembali, sebelum pada akhirnya para pasukan yang diperintahkan oleh Tuan Jung langsung menahan tubuh pria itu. Seorang suster yang terlihat buru-buru memasuki sel seketika menyuntikan obat penenang pada Jeffrey.
"Sinting. Anak iblis mana kamu? Sudah tidak makan selama lima hari, dan kamu masih bisa mengamuk?" Tutur Tuan Jung penuh sarkas. Lantas pria tua itu memilih untuk duduk di kursi besi yang hanya berjarak sekitar delapan meter dari Jeffrey.
Tangan pria itu sudah terbogrol, semenjak dirinya terus-menerus menyakiti tubuhnya sendiri saat terakhir kali ia dibawa kesini. Dan itu sudah sebulan yang lalu, tepatnya setelah kepergian perempuan bernama Cochava.
Menurut penjelasan dari salah satu bawahannya, Jeffrey kerap menyakiti tubuhnya dengan benda-benda tajam. Bahkan dirinya pernah menusukan pecahan kaca pada perutnya sendiri. Dan itu adalah hal normal mengingat Jeffrey harus dipaksa untuk menyakiti satu-satunya manusia yang menjadi obsesinya.
Wajah Jeffrey semakin tirus, mungkin karena ia selalu menolak untuk makan, sebelum pada akhirnya para petugas harus menyuntikan obat penenang padanya.
"Kenapa kamu harus menghilangan Jaehyun? Apa karena perempuan itu?"
Lagi-lagi, pertanyaan itu sama sekali tak digubris oleh Jeffrey. Dirinya kembali menatap lantai marmer di bawahnya dengan pandangan kosong.
Tuan Jung mengernyit tak suka. Demi apapun, ia sungguh berkeinginan untuk membunuh Jeffrey sekarang, "Saya nggak pernah mau punya anak seperti kamu. Dan seharusnya kamu harus tetap memainkan peranmu sebagai Jaehyun, selamanya. Saya yakin kamu sendiri juga tau, eksistensimu sebagai Jeffrey itu sampah. Benarkan?"
Berpasang-pasang bibir manusia di sekitar kedua pria itu hanya bisa terdiam. Tidak berani untuk berkata apapun selain mendengarkan deraian kata demi kata yang hanya dimainkan oleh Tuan Jung sendiri.
Sejujurnya, pria tua itu tidak menyangka jika Jeffrey akan kembali berulah. Yang dirinya kira, perkembangan karakter Jaehyun di dalam pemikiran pria itu sudah berjalan bagus.
Sejak awal, anak tunggalnya itu memang Jeffrey, dan anaknya itu memang bengis. Perwujudan dari iblis yang sesungguhnya.
Menghilangkan nyawa banyak orang adalah hobinya untuk bersenang-senang. Namun semenjak tragedi beberapa tahun yang silam, Jeffrey mulai mengidap gangguan mental dimana dirinya percaya jika dirinya adalah pria baik-baik.
Oleh karena itu, Jaehyun ada.
Saat Tuan Jung sudah berkeinginan untuk membuang anaknya itu, Jaehyun muncul di antara kericuhan yang sudah Jeffrey perbuat. Membuat pria tua itu cukup senang dan menyewa beberapa psikiater sekaligus untuk merawat anaknya.
Ralat, pria tua itu tidak ingin merawat Jeffrey, melainkan membunuh eksistensi Jeffrey dan menggantikannya dengan Jaehyun.
"Kamu harus menjadi Jaehyun. Dan itu mutlak. Pilihan kamu ada dua; menjadi Jaehyun dan kembali hidup normal, atau tetap menjadi Jeffrey dan mati," Ucap Tuan Jung yang langsung bangkit dari duduknya. Tampak sudah muak ketika perkataannya sama sekali tidak ada yang digubris oleh Jeffrey.
Tuan Jung bergerak menuju pintu besi sel tahanan itu. Diikuti oleh beberapa pasukan yang sedari tadi memang sudah menemaninya.
Kini di ruangan suram itu hanya meninggalkan kesunyian di antara Jeffrey dan seorang perempuan yang belum juga meninggalkan ruangan tersebut.
Perempuan itu berjalan mendekati Jeffrey. Menatapnya sedikit iba lalu mengelus rambut Jeffrey pelan, "Kamu tau 'kan akhirnya akan begini? Sejak awal kamu tau 'kan kalau menjalani hidup bersama perempuan itu akan membunuhmu?"
Jeffrey tidak menjawab. Namun pelan-pelan kepalanya terangkat, menampilkan sepasang bola mata hitam yang terlihat redup.
"Maaf Jeff. Aku terpaksa melakukan ini," Tambah perempuan itu lagi, kini menatap Jeffrey sedu. Sungguh, jika ia tidak berstatus sebagai salah satu bawahan Tuan Jung, mungkin dirinya takan memaksa Jeffrey untuk melakukan skenario palsu di depan Jea dan membuat hubungan keduanya menjadi hancur tanpa ujung seperti yang telah terjadi sampai kini.
Yang Ana tahu, Jeffrey memang gila. Pria itu bisa membunuh siapa saja, pergi kemana saja, dan juga melakukan apa saja seperti apa yang dirinya inginkan.
Tapi satu hal yang harus disadarinya; bayang-bayang pria tua itu takan pernah melepaskan Jeffrey.
Karena sesungguhnya, kehidupan Jeffrey berada di telapak tangan ayahnya sendiri.