
"Benar, kami sudah mengobservasi background semua tahanan disini. Dan mereka memang benar-benar memiliki catatan kriminal sebagai pemerkosa dan human trafficking, Bos."
Langkah kaki yang teramat pelan itu terdengar memenuhi seluruh penjuru ruangan. Membuat seluruh pasang kaki bergetar hebat disana. Tatapan pria itu terasa mengintimidasi, membunuh secara perlahan. Tidak ada satupun tahanan disana yang berani membalas tatapannya.
"Satu, dua, tiga," Jeffrey menghitung disela-sela langkah kakinya yang ikut berdentum di lantai marmer keras.
Hitungan yang seluruh manusia itu kenal sebagai hitungan maut.
"Cuma tiga belas orang?"
Jungwoo mengangguk, "Benar, Bos."
Jeffrey tidak berbicara lagi setelahnya. Pria itu bergerak ke ujung ruangan. Terdengar bunyi kode brankas yang menyeru nyaring, membuat seisi ruangan tahu jika Jeffrey akan kembali menjadi iblis untuk malam ini.
Dengan hati-hati, Jeffrey menggunakan sarung tangan hitam kulit yang baru saja ia ambil dari brankas tadi untuk membalut tangannya.
Pria itu tidak mau tangannya dipenuhi bercak darah saat Jea tengah ada bersamanya.
"Sayang, kemari," Jeffrey menggerakan tangannya, mengisyaratkan Jea agar mendekat padanya tatkala gadis itu tampak begitu ketakutan karena lagi-lagi Jeffrey membawanya ke tempat yang cukup menyeramkan.
Sebuah ruangan isolasi yang hanya di penuhi bau amis.
Tak ingin mencari perkara, Jea langsung menurut. Langkah kakinya membawanya mendekat pada Jeffrey yang langsung mengecup pipinya lembut. Seolah-olah tiada orang selain mereka berdua di ruangan tersebut.
"Aku akan mengajarimu cara menggunakan pistol."
Jea lantas menoleh. Kenapa tiba-tiba Jeffrey mengutarakan hal itu disini?
"B-bagaimana?"
Kemudian Jeffrey tersenyum. Matanya beralih menatap Jungwoo yang langsung mengangguk mengerti.
Dalam sekejap, Jungwoo sudah sukses meletakan sebuah botol kaca tepat di atas kepala tiga belas orang yang menjadi tahanan hari itu. Salah satunya sudah ada yang terkencing-kencing, saking takutnya. Mereka semua tahu hal apa yang Jeffrey akan perbuat.
"Jangan bergerak kalau tidak mau mati," Peringatan pertama dari Jeffrey. Ia kembali berjalan memutari orang-orang dengan tangan terborgol itu.
Lalu, Jeffrey tersenyum.
"Pegang ini sayang," Jeffrey menyerah sebuah pistol pada Jea yang masih terlihat bingung.
Namun daripada bertanya, Jea langsung memenuhi perintah Jeffrey barusan.
Kini, Jeffrey sudah berada di belakang tubuh Jea, sepasang tangannya menuntun tangan gadisnya agar bisa memegang pistol dengan benar.
"Letakan tanganmu seperti ini. Dan jari telunjuk berada di area pelatuk," Jeffrey menjelaskan sambil sesekali mencuri-curi untuk menghirup aroma manis Jea dalam-dalam.
"Benar. Coba tembak botol kaca itu," Kali ini Jeffrey menunjuk pada sebuah botol kaca yang berada di atas kepala salah satu tahanan yang sudah menangis meraung-raung.
Jea menatap iba pada tahanan itu. Kemudian ia menoleh pada Jeffrey dengan ragu-ragu. Jea tidak tahu apakah ia benar-benar harus menuruti titah Jeffrey atau tidak.
"Ayo, lakukan, sayang."
Sepertinya tiada pilihan lain lagi. Jea harus melakukannya. Tenang Jea, tenang. Berkali-kali Jea berusaha menetralkan nafasnya yang mulai tidak teratur.
Setelah memastikan jika segala hal yang perlu dilakukan hanyalah menarik pelatuk, Jea menghembuskan nafasnya.
Dor!
"ARGH!" Lelaki yang menjadi topangan sasaran itu memekik kuat saat timah panas berhasil mengoyak sedikit telinganya.
Jea sukses ikut memekik terkejut. Tangannya bergetar dan tubuhnya hampir saja terjatuh jika Jeffrey tak cepat-cepat menahan tubuhnya.
"That's okay, baby. Cuma luka kecil," Jeffrey mengelus-elus pelan rambut Jea yang sudah gemetaran takut.
Baru saja Jea melukai seseorang karena dirinya dengan tidak sengaja telah mengarahkan titik sasaran yang salah. Gadis itu mulai menangis merasa bersalah.
"M-maaf... J-Jea tidak sengaja..."
Tepukan tangan yang lumayan nyaring mengalihkan seluruh pusat perhatian seluruh manusia disana. Baru saja, seorang pria paruh baya yang sedari tadi hanya menyaksikan di ujung ruangan mulai tertawa sambil berjalan berjalan mendekati Jeffrey.
"Tidak buruk juga. Gadismu menarik."
Pria itu adalah salah satu eksekutif tertinggi Badan Intelijen Negara yang membelot. Sudah cukup lama bekerja sama dengan Jeffrey dalam urusan bisnis pengedaran narkoba.
Jeffrey mengernyit tak suka dikala pria itu mulai menyalakan pematiknya pada rokok yang sudah berada di celah bibir.
Disini ada gadisnya. Berani sekali pria itu berlaku seperti bangunan itu adalah miliknya.
Jeffrey menyeringai seperti iblis.
Karena posisinya yang masih berada di belakang tubuh Jea, Jeffrey langsung mengarahkan tangan gadisnya itu agar menempatkan ujung pistol tepat pada kening pria tua tadi.
"Be careful. She hates cigarettes and now my baby can shot your head."
【under sun】
Entah mengapa, kali ini Jea merasa teramat kaku hanya karena duduk bersebelahan dengan Jeffrey di dalam mobil yang kini melaju cepat. Apa karena sebelumnya, Jeffrey memang hampir selalu melewati batas? Apalagi tingkah Jeffrey saat mereka masih berada di ruang isolasi tadi, kembali membuat bulu kuduk Jea meremang ketika mengingat hal itu.
Tampaknya Jea hampir lupa jika Jeffrey adalah sosok pembunuh yang arogan.
Jea berkali-kali mengipas-kipaskan wajahnya yang memang terasa hangat. Padahal jelas-jelas malam itu teramat dingin.
Jeffrey sekilas melihat Jea yang kentara sekali canggungnya, membuat Jeffrey semakin ingin melakukan hal yang tidak-tidak pada gadis itu.
"Hey, i wanna kiss you."
Sontak saja Jea membelalak kaget. Memang benar jika Jeffrey selalu melakukan hal-hal diluar nalar, tapi ayolah— bisakah Jeffrey berhenti membuat Jea pusing kepalang seperti saat ini?
"M-maksudnya—"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan Jeffrey langsung melintang menghalangi tubuh Jea agar tidak mencondong ke depan karena Jeffrey baru saja memberhentikan mobil tepat di tengah-tengah jalanan dengan mendadak.
Jea hampir menjerit. Untung saja kondisi jalanan sangat sepi. Bahkan disisi kiri dan kanan jalanan hanya terdapat pepohonan rindang yang gelap.
Gadis itu langsung menoleh takut, "K-kenapa berhenti?" Sepertinya Jea memang terlihat lebih was-was karena ia tidak ingin kejadian yang sebelumnya terulang lagi.
Dirinya sendiri juga tidak tahu mengapa beberapa malam yang lalu ia sempat terbawa suasana.
Kendati menjawab, Jeffrey malah beralih menatap gadis itu lama.
"Aku sudah bilang, aku mau menciummu."
Tampaknya pria itu memang tidak main-main dengan ucapannya. Jemari Jeffrey mulai mengelus pelan bibir merah yang masih terpoles lipstik tadi.
Pelan-pelan, Jeffrey mulai mencondongkan tubuhnya meski cepat-cepat Jea menahan kedua bahu Jeffrey.
"Kenapa?" Suara pria itu mulai terdengar serak.
"J-jangan..."
Dengan lembut, Jeffrey menyentuh kedua tangan Jea yang jauh lebih kecil daripada miliknya. Sebelum Jeffrey menggengam erat dua tangan itu dengan tangan kirinya, ia menyempatkan untuk mengecupnya pelan, "I know you want me too."
Bulu kuduk Jea meremang. Entah karena takut, atau disebabkan faktor yang lainnya.
Tidak ada yang tahu.
Jeffrey sedikit menaikan sebelah ujung bibirnya ketika ia bisa melihat betapa sayunya tatapan Jea. Kepalanya semakin pening karena hasrat yang mulai membuncah. Apalagi jika ia sadar bahwa tatapan gadis itu benar-benar membuat dirinya lemah.
Ia bergerak menarik kedua tangan Jea yang berada di genggamannya. Jari-jari itu begitu kecil, terlihat lucu dan menggemaskan.
Kemudian, Jeffrey beralih sedikit memiringkan kepalanya dan kembali mendekati wajah gadis itu. Saat bibir miliknya hampir menyentuh bibir merah gadisnya, ia berhenti tepat setengah inci sebelum Jeffrey sukses menyatukan kedua bibir tersebut.
Sepertinya Jeffrey tahu cara yang lebih menyenangkan untuk menggoda gadisnya.
"I wanna lick your lips so badly," Perlahan, Jeffrey mulai menjilati bibir merah itu dengan gerakan yang begitu sensual. Membuat Jea membeku di tempat.
"Jeff..."
Sial! Jeffrey tak pernah menyangka jika suara rendah Jea akan bisa semenggoda ini. Bahkan rasanya, sekujur tubuh Jeffrey sudah panas. Dirinya benar-benar ingin menyentuh Jea di seluruh tempat.
Jeffrey ingin menyentuh segala inci kulit tanpa noda gadis itu, menjilatnya, mengecupnya, dan memberikan tandanya disana.
"I can taste your lipstick, baby," Untuk yang kedua kalinya, Jeffrey kembali menjilati bibir itu lebih dalam.
Merasa Jea sedikit membuka bibirnya, Jeffrey tentu tak mau melewatkan kesempatan itu. Dengan sedikit dorongan, lidahnya mulai menelusup masuk ke dalam relung mulut Jea.
Gadis itu membelalak kaget, namun ia tak bisa memberontak sedikitpun karena kedua tangannya sudah dikunci di dalam genggaman besar Jeffrey.
Tangan kanan pria itu meraih tengkuk Jea. Decakan-decakan panas memenuhi seisi mobil. Ditambah lagi dengan Jeffrey yang seperti menggila— menciumi bibir Jea dengan cepat dan bringas. Seperti tiada hari esok untuk melakukan hal itu.
Jeffrey tidak bisa berhenti. Bibir gadis ini terlalu manis untuk dilewatkan.
Sial.