Under Sun

Under Sun
5. When Night Comes



Wanita bersurai lurus dan panjang itu menatap Jea dengan sedikit bingung, lalu beralih kembali pada Jaehyun, "Ini siapa?"


Mendengar itu, Jaehyun ikut menatap Jea yang terlihat tidak tahu harus melakukan apa, "Dia salah satu perempuan yang dikirim ke Toronto sebagai budak. Kebetulan ada yang membawanya padaku. Jadi, boleh kan kalau dia juga tinggal disini Ana?"


Yang dipanggil sebagai Ana itu hanya menatapi Jea lamat-lamat, tak lama, ia merasa iba. Tubuh Jea terlihat tidak normal sama sekali, lalu Ana mengangguk, "Kenapa enggak?"


Ana lalu beralih berjalan mendekati Jea yang sedikit takut, apa perempuan cantik ini akan memukulnya? Batin Jea kalang kabut.


"Halo, siapa namamu? Aku Ana, istri Jaehyun," Wanita itu mengulurkan tangan pada Jea, tapi tak kurun dibalas. Tampaknya Jea masih bingung maksud dari uluran tangan itu.


Cepat tanggap dengan reaksi Jea, Ana langsung meraih tangan Jea yang membuat pemiliknya terkejut, "Siapa namamu?"


"J-Jea.." Jea merasa elusan lembut pada tangannya. Ah, membuat dirinya tidak lagi setakut tadi.


"Jea, nama yang bagus."


Kini pandangan keduanya terfokus pada Jaehyun yang berjalan mendekat pada Ana, "Kapan kamu ke Stockholm? Hari ini?"


"Iya, hari ini," Balas Ana lalu kembali tersenyum.


Jaehyun mulai mengelus surai panjang Ana pelan, "Hati-hati. Cepat pulang, I will miss you so bad too."


Setelah berpelukan, Ana kembali menorehkan senyum pada Jea lalu menepuk pundak gadis itu perlahan, "Santai saja disini, oke?"


Jea hanya dapat mengangguk ragu, lalu mulai menatapi kepergian Ana yang tengah membenarkan posisi tas di tangannya. Begitu pula dengan Jaehyun yang sedang menatap lurus pada Ana. Semakin lama, wanita itu semakin menjauh dari jarak pandang keduanya dan masuk ke dalam mobil putih pucat kemudian benar-benar menghilang.


"Dia istriku, Seana. Salah satu dokter di bawah naungan UNICEF," Jaehyun yang mendapati tatapan bingung Jea lantas menjelaskan.


Jea kembali mengangguk sedikit malu, saat ia tahu jika rasa penasarannya kentara terlihat, "B-begitu.."


"Stockholm baru-baru ini sedang ada masalah busung lapar, jadi Ana dikirim kesana sebagai salah satu perwakilan dari Toronto."


Lagi-lagi gadis itu mengangguk mengerti, "Kalau begitu.. Pasti Tuan merasa kesepian disini."


Jaehyun hanya tersenyum tipis, lalu berjalan ke arah dapur, "Kamu mandi aja dulu, peralatan mandi sudah ada di dalam kamar mandi."


"Terus—" Jaehyun menghentikan langkahnya sebentar.


"—Kamar mandi ada disana," Setelah menunjuk ke arah kamar mandi, pria itu kembali berlalu.


Ragu-ragu Jea bergerak menuju ruangan kecil seperti titah Jaehyun yang sebelumnya. Netra matanya menatap kagum pada kamar mandi itu. Baru kali ini ia bisa membasuh diri di dalam ruangan yang layak.


"Ini, pakai baju ini," Jea sedikit terperanjat saat mendengar suara Jaehyun di belakangnya secara tiba-tiba. Lantas gadis itu menoleh, dan pelan-pelan meraih pakaian yang disodorkan Jaehyun padanya.


"Terimakasih Tuan."


Jaehyun tidak membalas, lalu segera pergi dari hadapan Jea saat itu juga.


Jea beralih kembali masuk ke dalam lalu menutup pintu. Kemudian mulai menyelesaikan ritual membasuh dirinya dengan teramat senang.


Air yang mengenai kulit putihnya terasa menyelekit. Mungkin karena beberapa luka yang masih membekas disana. Jadi Jea memilih untuk mandi dengan sepelan mungkin, agar tidak sakit.


Hampir setengah jam berlalu, Jea akhirnya selesai. Setelah menggunakan baju yang tadi dipinjamkan Jaehyun, ia menatap pantulannya di cermin. Satu lagi, bahkan kamar mandi di rumah Jaehyun ada cerminnya! Membuat Jea kembali terkesima.


Entah bagaimana caranya menjabarkan betapa senangnya Jea sekarang. Pakaian ini adalah satu-satunya pakaian layak yang pernah ia gunakan seumur hidup. Bayangkan saja bagaimana rasanya.


Setelah puas membanggakan pakaian itu pada dirinya sendiri, Jea keluar dari kamar mandi.


Ia memalingkan wajahnya ke kiri dan kanan, Jaehyun tidak ada.


"Tuan??" Kini Jea bergerak menjelajahi hampir semua ruangan di rumah itu.


Mulai dari ruang tamu sampai gudang, ia datangi semua. Kemudian ia berhenti mencari dimana keberadaan Jaehyun saat ia masuk ke dalam kamar kosong. Langkah kakinya berjalan mendekati ranjang putih di samping jendela.


Tangan kecil itu meraba-raba permukaan ranjang, lalu dengan ragu ia duduk di atasnya. Empuk.


Senyuman lebar menghiasi wajah itu, Jea tertawa kecil sambil beberapa kali menaik-turunkan tubuhnya pada ranjang. Benar-benar empuk dan menyenangkan.


Lalu Jea memutuskan untuk merebahkan tubuhnya yang terasa remuk di atas kasur putih itu.


Cukup lama, sampai dirinya sendiri tak menyadari jika sudah tenggelam dalam derasnya aliran mimpi.


【under sun】


"Hahhh!" Jea memekik pelan saat ia membuka mata. Refleks sepertinya. Buru-buru ia terbangun dari tidurnya, lalu menoleh ke semua arah.


Bagaimana ini, pasti dirinya akan dihukum, batinnya berkali-kali. Jea mengigit-gigit ibu jarinya takut.


Pasti akan begitu, kan?


Gadis itu mulai bangkit berdiri lalu berjalan ke arah pintu, berniat keluar.


Baru saja perasaannya tadi dipenuhi dengan ketakutan, kini tertutupi dengan gejolak perutnya yang tak bisa lagi diajak kompromi saat hidungnya mencium aroma yang mungkin akan menggoda seluruh insani. Pensaran, Jea berjalan mendekati asal aroma itu sampai-sampai pandangannya menuju pada Jaehyun yang tengah meletakan dua buah piring beserta makanan diatasnya tepat di meja.


"Sudah bangun?" Tanya Jaehyun saat ia menyadari kehadiran Jea.


Jea mengangguk takut-takut dan tidak melangkah mendekat. Ia hanya berdiri di ambang lobang dinding tanpa pintu sambil silih berganti melihat takut ke arah Jaehyun dan ke arah makanan itu.


"Sini, ayo makan."


Pandangan gadis itu jadi berbinar-binar. Sepertinya Jaehyun memang memilik seribu satu cara untuk membuat dirinya terperangah.


"Kamu lapar kan?" Tanya Jaehyun yang menyadari jika Jea belum juga berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya.."


Akhirnya gadis itu benar-benar berjalan ke arah meja makan, lalu duduk mengikuti Jaehyun yang sudah berada di posisi itu sedari tadi.


Jaehyun mulai menyuapkan suapan pertama berlanjut pada suapan-suapan berikutnya, namun ia mengerutkan alisnya saat mendapati Jea yang bergeming di tempat.


"Kenapa nggak makan?" Tanya Jaehyun heran.


Jea lebih heran, "Apa.. makanan ini untuk Jea?"


Hampir saja Jaehyun tertawa dengan pertanyaan Jea barusan. Bagaimana bisa ada perempuan sepolos dirinya?


"Kalau bukan buat kamu, jadi buat siapa?"


Jea tiba-tiba merasa malu lagi, apa pertanyaannya terkesan bodoh? Entahlah. Dia cuman bingung kenapa bisa ada orang yang menyodorkan makanan secara percuma.


"Terimakasih—"


"Jangan terlalu banyak bilang terimakasih. Itu nggak normal."


Setelah terdiam beberapa saat, Jea mengangguk lalu mengambil sendok logam di atas meja dan mulai makan.


Tatapannya semakin berbinar. Kentara sekali perasaan senangnya. Jaehyun tersenyum tipis, apa perempuan ini memang semudah itu untuk terbaca? Namun ia merasa kasihan di waktu yang bersamaan. Pasti keluarga Collins dulu sering menyiksa gadis ini sampai-sampai Jea sendiri tak bisa membedakan mana hal yang normal atau yang tidak bagi manusia.


Jaehyun sedikit kaget ketika melihat jam dinding yang sudah terpatri pada pukul delapan kurang lima belas menit. Sial, untung saja dirinya segera melihat jam.


Kemudian pria itu bangkit dari duduknya, meninggalkan makanan yang masih tersisa cukup banyak, "Saya harus pergi. Sebelum jam delapan, kamu kembali ke kamarmu yang tadi ya? Kunci pintunya. Kalau ada yang mengetuk, jangan dibuka."


Jaehyun benar-benar langsung pergi begitu saja, mengabaikan ekspresi keheranan Jea. Yah, namun Jea tetap takan bertanya lebih lanjut. Gadis itu hanya mengikuti tutur kata Jaehyun dan segera menyelesaikan makannya.


Lima menit sebelum pukul delapan malam. Jea sudah menyuci piring bekas makanan dirinya dan Jaehyun tadi lalu beranjak kembali ke dalam kamar tadi.


Tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk bahagia, Jea hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya lalu meloncat-loncat setelah masuk ke dalam kamar. Bagaimana ini, tampaknya Jea teramat senang bukan kepayang karena bisa memiliki ranjang empuk untuk dirinya sendiri.


Ah, hampir saja dirinya lupa, harus mengunci pintu!


Cepat-cepat Jea mengunci pintu lalu segera duduk di ranjang. Sepertinya, menggerakan tubuhnya ke atas dan ke bawah pada ranjang akan menjadi hobi baru Jea.


Kamar ini terlihat sangat minimalis, dengan cat putih pudar yang menghiasi juga satu ranjang yang menemani. Ditambah dengan satu meja rias sepaket dengan kursi kecilnya. Hanya itu. Tapi bagi Jea, tidak ada hal yang lebih indah yang pernah diberikan orang lain padanya selain kamar ini.


Apa sekarang ia harus bersyukur bisa bertemu dengan Jaehyun?


Sebuah ketukan berat terdengar dari pintu. Jea menoleh cepat. Baru saja ia ingin melangkah mendekat, pikirannya mencegah. Ingat perkataan Jaehyun tadi tentang larangan membuka pintu untuk sebuah ketukan, bukan?


"Jea..."


Ketukan itu kembali terdengar.


Tunggu, itu suara tuannya. Apa ia harus membuka pintu?


Lagi-lagi ketukan kembali menghiasi suara di sekitar, membuat Jea semakin goyah untuk membukakan pintu kamarnya.


"Sayang... Ini aku..."


Sayang? Sebentar, barusan itu Jaehyun memanggilnya sayang? Apa jangan-jangan tuannya yang satu itu tengah mengiggau?


Samar-samar Jea bisa merasakan perasaan khawatir dibalut dengan penasaran yang melanda. Meski belum sehari mereka bertemu, Jea bisa tahu jelas jika itu memang suara Jaehyun.


Langkahnya memang ragu-ragu, namun dengan pasti Jea mulai mendekati pintu itu. Pelan-pelan ia membuka kuncinya dan memutar knop.


Seorang pria yang ia kenali menyapa netra coklatnya. Penampilan Jaehyun sedikit.. berbeda. Rambutnya terlihat acak-acakan, dua kancing teratas kemejanya terbuka, menampilkan kalung perak yang melilit di leher putih itu.


"Sayang..."


Jea sedikit bergedik ngeri saat tangan Jaehyun mengelus kulit pipinya pelan. Langkah Jea semakin terdorong ke belakang saat Jaehyun menatapnya lapar sambil berjalan mendekat.


Ada apa ini? Mengapa Jaehyun terlihat seperti sosok yang berbeda?


Kali ini Jea kembali terperanjat saat mendapati tubuhnya sudah berada di dalam rengkuhan Jaehyun. Pelukan yang sangat erat.


"T-Tuan Jaehyun..?"


Pria itu belum menjawab. Ia hanya sibuk menghirup rakus aroma lily dari rambut Jea yang terurai lepas. Wajahnya kini mulai mendarat pada cekungan leher Jea, sedikit membuat gadis itu geli.


"Aku Jeffrey, kenapa bisa lupa?"


Deg. Jantungnya terasa berhenti. Apa maksudnya? Apa Jaehyun sedang mengerjainya atau...


Pria ini memang benar-benar pria yang sama dengan malam itu?


Jea merasa sedikit sesak saat merasakan jika pelukan itu semakin erat, "Akhirnya aku mendapatkanmu, sayang."