Under Sun

Under Sun
11. Take My Hand and I Will Give You The Night



Jeffrey masih terus-menerus mengelus puncak kepala Jea dengan lembut. Setelah mereka keluar dari tempat suram yang disebut sebagai basecamp the big J tadi, wajah gadis itu sudah pucat basi. Reaksi yang cukup normal, sebenarnya.


Setelah meninggalkan kekacuan yang cukup membuat suasana mencekam, Jeffrey memutuskan untuk segera membawa Jea pergi ke tempat yang lebih tenang, mengingat kondisi gadis itu tidak terlalu baik.


"Maaf. Aku buat kamu takut ya?"


Sebenarnya Jea ingin menggeleng. Rasanya jika ia mengiyakan ucapan Jeffrey, akan ada sesuatu yang berbahaya menyerangnya. Tapi tanpa sengaja, Jea mengangguk. Membuat perempuan itu harus memejam erat, takut-takut jika Jeffrey marah padanya.


Tetapi yang ia dapati hanyalah sebuah kecupan ringan di dahinya.


"Aku nggak bakal bawa kamu kesana lagi. Janji," Jeffrey tersenyum. Malam ini terasa dingin, tapi kenapa tiba-tiba tidak terasa sedingin tadi ya?


"I-iya, terimakasih."


"Bos."


Sesaat sebelum Jeffrey ingin kembali masuk ke mobilnya, seorang lelaki muda datang. Lantas Jeffrey mengernyit, bisa-bisanya ada yang berani menggangu waktu Jeffrey dengan gadisnya?


"Maaf Bos. Tapi saya mendapat laporan dari distrik lima, kalau beberapa kelompok bawah tanah tengah menjalani misi penyekapan. Dan target mereka adalah Bos," Paparnya dengan raut wajah yang cukup serius.


"Siapa?"


"Sebagian adalah golongan mafia dari Swiss. Sisanya masih belum dapat kami identifikasi namun pergerakan mereka cukup terbilang besar."


Jeffrey tidak lagi berbicara. Matanya yang gelap menatap datar pada wajah lelaki tadi. Tampaknya Jeffrey tengah memikirkan sesuatu.


"Bawa gadisku ke S11J18. Jangan sampai aku menemukan segaris luka di badannya. Komplotan itu, biar aku yang habisi."


Sehabis mendapat titah tersebut, lelaki itu langsung memperbaiki posisi berdirinya, "Siap laksanakan!"


Beberapa kali sepasang mata Jea mengerjap tidak mengerti. Ada apa ini? Situasi menyeramkan apalagi yang akan ia hadapi? Memang benar, bersama dengan Jeffrey tidak akan ada bahaya yang berhenti menyergapnya.


Tapi terlebih dari itu semua, Jea merasa khawatir. Bagaimanapun ia masih mengerti jika Jeffrey akan berhadapan dengan komplotan jahat di suatu tempat. Bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi dengan Jeffrey? Oh ayolah, Jea, kenapa harus peduli?


Jea menggeleng pelan. Entah kenapa ia merasa begitu takut berjauhan dengan sosok pria itu. Baik Jaehyun dan Jeffrey, sama-sama bisa memberikan sensasi aneh tersendiri baginya. Seperti sebuah ikatan yang sudah lama terjalin diantara mereka. Apa jangan-jangan dulu Jea pernah bersitatap dengan Jaehyun maupun Jeffrey di suatu tempat?


"T-Tuan—"


"Jeffrey, sayang."


Jea meneguk salivanya berat, "Maksudnya.. Jeffrey.."


Lantunan itu terasa begitu indah di telinga Jeffrey. Rasanya seperti meminum seribu liter air penambah energi saja bagi Jeffrey ketika namanya sukses keluar dari bibir ranum gadis itu. Jeffrey lagi-lagi tersenyum. Perasaannya membuncah.


"Kenapa sayang?" Tanya Jeffrey saat ia menyadari jika Jea menggengam ujung jas hitamnya dengan erat.


Ragu-ragu Jea akhirnya kembali melantunkan isi pikirannya, "Apa Jeffrey memang harus pergi..?"


Boom! Rasanya seperti menerima puluhan ribu boomerang di jantungnya. Jika saja mereka tengah berada di ranjang, Jeffrey akan menghabisi Jea saat ini juga. Bagaimana bisa Jea bisa menjadi gadis paling menggemaskan di waktu yang tidak tepat seperti sekarang?


Jeffrey memejamkan matanya erat. Lalu menghembuskan nafasnya pelan. Berusaha menetralkan rasa yang kembali meletup tidak beraturan karena ia merasa jika Jea baru saja mengkhawatirkan dirinya.


Setelahnya, Jeffrey mendekatkan wajahnya pada Jea. Membuat dua pasang mata itu saling membalas tatapan satu sama lain di gelapnya malam, "Aku hanya akan pergi sebentar. Tapi nanti aku akan kembali lagi padamu. Itu mutlak. Tidak apa kan?"


Jea mengangguk susah. Memang sepertinya Jeffrey harus pergi untuk menanggani orang-orang tersebut. Satu hal yang pasti, Jea mempercayai Jeffrey. Ia tahu pria itu akan kembali lagi.


"Janji?"


"Janji," Jeffrey mengecup pipi Jea sekilas. Awalnya ia ingin menambahkan sebuah gigitan di pipi Jea karena gemas, namun ia urungkan karena pasti akan terkesan aneh.


Dalam diam. Keduanya kembali bersitatap. Meski terhalau oleh gelapnya malam, Jea tahu pasti, Jeffrey tengah memberinya sebuah isyarat mata jika semuanya akan baik-baik saja.


【under sun】


Berkali-kali Jungwoo bisa melihat dari kaca spion mobil, betapa gelisahnya Jea. Jungwoo juga sudah sedari tadi menenangkan gadis milik bosnya itu dan berkata kalau Jeffrey pasti akan kembali dengan selamat. Mengingat betapa bringasnya seorang Jeffrey.


"Tapi bukannya tetap saja, Tuan Jeffrey sendirian?"


Begitulah perkataan Jea yang membalas telak Jungwoo tadi. Yah, memang benar jika Jeffrey akan menghadapi komplotan itu sendirian, toh anak buahnya memang tidak diperlukan. Tetapi naasnya, Jungwoo tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Jea yang sudah terlalu kalang kabut.


Jadi, Jungwoo memutuskan untuk diam. Toh kata orang-orang, diam itu emas.


"Psst! Jadi ini gadis Bos J?"


Salah satu kawanannya langsung menyerbu Jungwoo dengan bisikan yang terdengar jelas setelah Jungwoo keluar dari mobil. Lelaki itu langsung membukakan pintu di belakang, tempat Jea berada.


"Pelankan suaramu, dan jangan sentuh Nona kalau tidak mau besok tinggal nama," Balas Jungwoo yang langsung membuat kawanan yang menjaga pintu masuk sebuah gedung besar di tengah-tengah tanah kosong itu terdiam seribu bahasa.


Menurut penyimpulan mereka.m, sudah pasti, gadis ringkih itu adalah gadis yang sama seperti rumor yang tengah panas-panasnya saat ini.


Seorang Jeffrey yang terkenal tidak tahu ampun dan tidak mempunyai sisi kemanusiaan itu mempunyai seorang gadis pendamping? Mustahil! Tapi sekarang kawanan itu bisa membuktikannya sendiri dengan mata kepala mereka yang masih utuh.


Jangan tanya sudah berapa banyak gadis diluar sana yang tewas karena berani menggoda Jeffrey secara terang-terangan.


Untungnya, Jeffrey tidak membunuh anak kecil.


Jadi bagi bawahannya yang tahu bagaimana seluk-beluk Jeffrey yang sebenarnya, Jeffrey bukanlah pria seburuk itu.


"Ini.. apa?"


Jungwoo menoleh pada Jea yang terbingung-bingung melihat bangunan sebesar tadi, kentara sekali dari raut wajahnya, "Ini salah satu unit kepunyaan Bos Jeffrey. Tempatnya melakukan transaksi gelap dengan investor dari black market. Kode S11J18 yang tadi Bos sebutkan adalah gedung ini, Nona."


Sontak Jea hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Yah, sudahlah. Ia tidak bisa terkejut lagi karena Jeffrey memang terlihat seperti pria dengan seribu satu kejutan.


Kemudian, Jea tidak banyak bicara dan hanya mengikuti Jungwoo yang terus berjalan semakin dalam. Gedung ini terlihat hampir sama dengan yang sebelumnya. Hanya saja, gedung ini terlihat lebih terang dan lebih terlihat modern dengan dinding-dinding kaca yang menyekat ruangan satu dengan yang lainnya.


Beberapa pria besar dengan seragam serba hitam tampak menunjukan hormat saat Jea berjalan melewati mereka. Tetapi, hal yang lebih bisa mengalihkan perhatian Jea adalah lift!


"Tuan.. ini apa?"


Jungwoo berdehem sekilas, "Panggil saya Jungwoo saja, Nona. Jika Bos tahu Anda memanggil saya dengan sebutan tadi, besok saya sudah ada di pemakaman umum."


Mendengarnya, Jea hanya sedikit meringis. Apakah memang harus sampai sebegitunya? Kendati, gadis itu tetap mengangguk, "Maaf.."


"Tidak apa-apa, Nona. Dan ruangan ini, namanya lift. Tidak cukup banyak tersedia di dunia. Hanya beberapa, dan salah satu pemiliknya adalah Bos Jeffrey."


Jea menatap antusias pada Jungwoo, "Apakah aku bisa ke masa depan dengan ruangan ini?"


"Tidak."


"Ah."


Sekarang, setidaknya Jungwoo sedikit tahu alasan dibalik terobsesinya Jeffrey pada gadis ini.


"Silahkan Nona," Jungwoo yang sudah berada di lift, langsung mempersilahkan Jea untuk masuk.


Sebenarnya, menaiki sebuah lift memang tidak sespesial itu. Tapi Jea beberapa kali merasa terkejut karena kepalanya terasa berputar setelah menaiki ruangan berjalan tadi. Ia juga terkejut karena saat pintu kembali terbuka, sebuah pemandangan baru menyapa dirinya.


"Wah!" Jea tidak pernah tahu jika ketinggian tidak selalu menyeramkan.


"Ini kita ada dimana?" Tanya gadis itu lagi yang masih tersenyum lebar sembari berlari-lari kecil menuju ujung tembok pembatas.


"Hati-hati Nona. Dan ini di atap teratas S11J18."


Ah, dugaan Jea benar. Mereka tengah berada di atap. Tetapi, senyuman itu tiba-tiba saja luntur. Ia masih mengingat jika Jeffrey tidak ada di sampingnya. Jea sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana jika kondisi Jeffrey tidak sesuai dengan ekspetasinya selama ini.


Hembusan angin terasa semakin dingin. Helai demi helai kecoklatan itu saling membelenggu satu sama lain. Kedua telapak tangannya ia gosokan, berusaha mencari secercah kehangatan disana. Namun nihil. Ternyata, memang tidak ada hal lain yang lebih hangat ketimbang pelukan pria menyeramkan itu.


Lantas apa yang harus Jea lakukan jika hati dan pikiran tidak lagi sejalan? Tidak. Jea bukannya menyukai Jeffrey atau semacamnya. Yang Jea tahu, ia benar-benar tidak mau jika Jeffrey tidak lagi ada di muka bumi ini.


Bahkan, pemandangan malam tidak lagi secantik yang seharusnya.


"Nona."


Lamunan sekilas itu segera terhempas begitu saja. Belum sempat Jea menoleh pada Jungwoo yang tadi baru menyebut namanya, hembusan angin terasa semakin kencang. Seakan-akan Jea bisa saja melayang saat ini.


Cepat-cepat Jea menahan gaun tipisnya agar tidak terangkat saat suara kencang yang menemani hembusan kuat terdengar memekakan telinga. Kedua matanya menyipit, berusaha menemukan hal apa yang tengah terjadi saat ini.


Sebuah helikopter terlihat semakin mendekat, membuat Jea melangkah mundur secara refleks.


Matanya kemudian sebisa mungkin membelalak, mengekspresikan betapa kagetnya ia saat ini. Bagaimana bisa ada helikopter disini?


Hal selanjutnya yang semakin membuat Jea tidak habis pikir adalah; Jeffrey berdiri di ambang pintu helikopter yang terbuka, masih dengan kondisi helikopter yang belum mendarat.


"T-Tuan! Maksudnya, Jeffrey! H-hati-hati!" Pekik Jea lumayan nyaring, meski hanya terdengar samar-samar karena tertutup oleh suara baling-baling.


Helikopter itu tidak mendarat. Namun hanya sedikit mendekat pada dinding pembatas atap bangunan tinggi itu. Jeffrey sedikit melangkah maju, hingga tubuhnya benar-benar diambang batas pintu helikopter. Rambut gelapnya sukses diacak-acak oleh riuhnya angin. Jasnya? Entahlah kemana. Kini yang bisa Jea lihat hanyalah kemeja putih yang dikibarkan angin.


"Kemarilah," Jeffrey sedikit melantangkan suaranya.


Jea lantas mengangguk dan melangkah semakin maju, mengabaikan fakta jika baling-baling itu membuat angin menggila. Dengan langkah yang berat, Jea semakin berjalan mendekat pada Jeffrey.


"Take my hand," Seru Jeffrey kemudian yang langsung Jea patuhi.


Jeffrey memindahkan kaki kanannya pada tembok pembatas sedangkan kaki kirinya masih bertengger di helikopter, sedikit membuat Jea panik jikalau Jeffrey tidak segera memegang pegangan besi pada pintu helikopter.


Walaupun takut-takut, gadis itu tetap memilih untuk menaiki tembok pembatas yang hanya sebatas pinggangnya. Hingga akhirnya ia berdiri di atas tembok itu; masih tidak menghiraukan angin yang tak memberi sedikitpun toleransi.


Dengan gesit dan hati-hati, Jeffrey memeluk pinggang Jea lalu menariknya hingga gadis itu berhasil masuk ke dalam.


Hembusan nafas Jea terasa hangat, menerpa wajah Jeffrey yang hanya berjarak setengah jengkal darinya. Jeffrey lantas tersenyum, "Benarkan? Aku kembali lagi padamu."


Jea tidak pernah tahu sebelumnya jika senyuman Jeffrey bisa semenular ini.


"Terimakasih."


"Untuk?"


Jea sedikit mengeratkan pegangannya pada kemeja Jeffrey. Keduanya masih diambang pintu helikopter. Belum bergerak sama sekali semenjak Jea berhasil masuk ke dalam.


Gadis itu sedikit mengalihkan pandangannya saat tiba-tiba saja ia merasa malu karena Jeffrey menatapnya terlalu lamat-lamat, "Karena.. sudah selamat."


Kemudian, tidak disangka-sangka, Jeffrey malah tertawa, "Kalau begitu, terimakasih juga karena sudah mau menungguku, dan—"


Pada akhirnya, Jeffrey menarik tubuh Jea pelan untuk duduk. Setelah ia memasangkan safety belt, helikopter itu langsung kembali melaju membelah langit.


Dari atas sini, tentu Jea bisa melihat betapa indahnya Michigan di malam hari. Lampu-lampu bangunan terlihat seperti bintang-bintang temaram yang berserakan.


Jeffrey menunjukan padanya, jika malam tidak seburuk itu.


Pelan-pelan, jemari Jeffrey menyelipkan helaian coklat yang mulai berantakan pada belakang telinga Jea. Jeffrey semakin mendekat, dan pria itu berbisik, "Aku akan memberimu apapun, termasuk malamku, jadi jangan tinggalkan aku."


Malamnya. Yang Jea tahu, segala sesuatu yang Jeffrey punya hanyalah malam.


Jeffrey hanya punya malam.


Dan Jeffrey akan memberi semua malam yang ia punya, asalkan gadis itu tidak pergi.


Sepertinya malam itu, adalah salah satu malam yang tidak akan pernah Jea lupakan.


Karena malam itu, Jeffrey membeli seluruh panorama malam di atas langit, untuknya.