
"Jadi sudah selesai?"
Jaehyun sempat melirik sekilas, namun kendati ia tetap memperhatikan headline berita yang tercetak di kertas tipis, "Iya. Kasusnya sudah selesai. Kebetulan para komplotan itu ditemukan tewas di daerah tenggara."
Lantas Jea mengangguk, meskipun tidak terlalu mengerti dimana awalannya.
"Hari ini kita pulang."
"Kemana Tuan?"
Jaehyun mengalihkan pandangannya, "Ke Toronto, rumah kita."
Sedikit aneh di pendengaran Jea, tetapi gadis itu tetap mengiyakan. Sebenarnya, berada di Michigan bukanlah pilihan yang buruk. Kota ini begitu indah, dengan segala keunikannya. Meski hanya sebentar, Jea bisa merasakan dengan jelas jika Michigan adalah kota yang teramat tak layak untuk ditinggalkan. Bukan berarti Toronto adalah pilihan yang salah.
"Jenderal," Jisung yang sedari tadi berdiri di belakang Jaehyun kini bersua saat barusan salah satu Letnan menghampirinya dan menyampaikan beberapa informasi.
"Kenapa?"
"Mobil sudah siap. Anda bisa segera kembali ke Toronto sekarang."
Setelah mendengarnya, Jaehyun langsung berdiri dan menatap Jea yang juga ikut berdiri. Tangannya beralih meraih mantel hijau tua militer, lalu Jaehyun langsung berjalan keluar ruangan sehabis memastikan Jea sudah berjalan di depannya.
Karena Jaehyun tidak mau jika Jea hilang lagi seperti hari pertama mereka sampai di Michigan.
"Eh? Ada apa Tuan?" Jea kebingungan saat tangannya sudah di pegang Jaehyun.
Jaehyun awalnya terdiam. Berusaha mencari alasan yang tepat mengapa ia tiba-tiba melakukan hal itu. Benar, Jaehyun juga sedikit terkejut karena secara refleks ia memegang tangan gadis itu. Apa karena ia takut kesusahan jika Jea tersesat lagi?
"Kalau kamu hilang, saya yang susah."
Lalu Jea membulatkan mulutnya, sepasang mata yang lebar itu menatap Jaehyun dengan berbinar. Mungkin, Jea tengah memikirkan betapa baiknya seorang Jaehyun karena sudi memikirkan tentang dirinya.
Sebelum mereka benar-benar menginjakan kaki diluar motel, Jea terus-terusan melihat ke sekeliling. Berusaha melihat ke segala arah agar tidak ada satupun cuplikan pemandangan Michigan yang hilang dari benaknya.
Mobil yang berbeda dari semalam. Kini Jea berpikir-pikir, berapa banyak mobil yang Jaehyun punya?
"Tuan menyetir sendiri?" Tampaknya perempuan itu sedikit kebingungan karena bukan Jisung atau bawahan lain Jaehyun yang menyetir.
"Iya."
Jea lalu terdiam. Tidak tahu harus berbicara apalagi. Karena sesungguhnya, menerima fakta jikalau Jaehyun dan Jeffrey adalah dua sosok berbeda itu sangat sulit untuk dilakukan. Jea cukup sering terbingung-bingung dengan perubahan drastis yang Jaehyun dan Jeffrey perbuat. Seperti saat ini.
Akhirnya Jea memutuskan untuk menatap keluar jendela, "Tuan, saya boleh buka jendelanya?"
"Silahkan."
Lalu Jea langsung membuka jendela dengan semangat. Sungguh, tiada lagi hal yang lebih bermakna saat ini selain mendapati angin sepoi-sepoi menyapu kulit yang terasa panas.
Sepasang mata itu memejam, membuat bulu mata lentiknya terlihat lebih jelas. Jea seperti menghayati saat-saat seperti sekarang, hangatnya matahari juga hembusan angin yang tidak terlalu dingin.
Jaehyun beberapa kali melirik ke samping. Ternyata ia penasaran dengan apa yang Jea lakukan. Kemudian tanpa disangka-sangka, senyuman kecil terlukis diatas wajah datarnya.
Tak sengaja, Jaehyun mengingat sesuatu.
Ah, iya juga.
Perempuan ini kan memang tidak pernah disapa mentari selama hampir di setengah hidupnya.
"Kamu mau jalan-jalan sama saya?"
Jea langsung menoleh, "Ya Tuan?"
Jaehyun tidak membalas. Namun ia tampak serius dari raut wajahnya, membuat Jea memproses kembali kata demi kata yang baru saja terlontar.
"A-apa boleh, Tuan?"
"Kenapa enggak?"
Seketika senyuman lebar mengembang di wajah itu. Kentara sekali jika Jea senang. Sungguh, apa tidak bisa sekalipun Jea menyembunyikan suasana hatinya?
"Terimakasih!"
Hal kedua yang membingungkan Jaehyun hari ini; apa yang sebenarnya ia lakukan sekarang?
Diam-diam Jaehyun menolak mentah-mentah jika niatnya barusan dilandasi karena perempuan itu. Sama sekali tidak. Jea bukan alasannya. Ia memang hanya menginginkan udara segar, dan kebetulan Jea juga menginginkan hal yang sama. Begitu kan seharusnya?
Mobil silver itu melaju semakin pesat diatas jalanan abu-abu, membuat beberapa helai dedaunan di atas aspal melayang entah kemana. Suara deruman mobil terdengar di sepanjang perjalanan. Merasa membutuhkan sesuatu yang lebih pas di telinga, Jaehyun memilih memutar radio yang bertengger di atas dashboard mobil.
Alunan musik jazz berdentum halus, menemani keduanya di setiap menit yang berlalu.
Kini pukul dua siang, tepatnya di sekitar daerah pesisir timur Detroit. Dengan berbekalan dua sunday roast juga satu earl grey tea yang Jaehyun beli di Bennigan's tadi di sela-sela perjalanan mereka menuju destinasi yang Jaehyun rencanakan.
Sekitar sepuluh menit dengan tempuhan mobil dari Bennigan's, mobil itu berhenti tepat di atas hamparan rerumputan hijau yang sunyi.
Tunggu, dimana tempat ini? Apakah memang ada tempat seindah ini?
Mungkin, terlalu takjub.
"Sedang apa? Ayo keluar," Jaehyun meluruhkan segala lamunan yang sekilas sempat mencuat. Jea lantas menyengir pelan lalu mengikuti jejak tuannya yang sudah keluar dari mobil.
Matanya kini terpaku ke bawah, menatap sepasang kaki yang dibalut dengan sepasang sepatu coklat bertali. Sepertinya, gadis itu sedikit penasaran dengan bagaimana rasanya jika telapak kaki telanjangnya bertemu dengan rumput-rumput hijau kekuningan.
"Kenapa?" Jaehyun menoleh, kemudian sedikit mengerutkan kedua alisnya. Pria itu mengikuti arah pandangan Jea namun yang ia dapati malah— nihil. Tidak ada yang salah disana. Lalu mengapa Jea sampai sebegitunya memperhatikan kedua kakinya?
"Ah, tidak Tuan, saya hanya penasaran."
"Tentang?"
Jea mendongak, menampilkan netra coklat berbinar yang menggebu-gebu, "Bagaimana ya rasanya saat kaki menyentuh rerumputan liar, Tuan?"
Kini, bukannya menjawab, Jaehyun hanya terdiam. Sungguh, seberapa parah hari demi hari yang ia lalui sebelum bertemu dengan Jaehyun?
Langkah kaki pria itu membawa Jaehyun mendekat pada Jea. Berbeda dengan sang tuan yang harus sedikit merundukan pandangannya, Jea berusaha untuk semakin mendongak saat Jaehyun semakin mendekatinya.
"Biar saya tunjukan bagaimana rasanya."
Jaehyun segera menurunkan tubuhnya, membuat salah satu lututnya menjadi pusat tumpuan di tanah dengan sebelah lutut yang lain tetap tertekuk.
"T-Tuan?!" Jea memekik kaget saat tangan Jaehyun bergerak menyentuh kakinya.
Seumur hidupnya, tidak sekalipun ada seseorang yang sudi menyentuh kakinya. Tentu hal ini mengejutkan mengingat Jaehyun adalah sang tuan dan ia hanyalah sebatas budak kiriman.
"Tetap berdiri."
Titah Jaehyun barusan terdengar jelas dan tegas. Jea tidak ingin mengecewakan tuannya, apalagi membantah. Jadi, gadis itu memutuskan untuk tetap berdiri canggung sambil tangannya meremas gaun yang ia kenakan.
Diam-diam, Jea ikut memperhatikan di bawah sana, bagaimana Jaehyun melepaskan tali sepatunya dengan perlahan. Jari-jari tuannya itu terlihat panjang dan besar. Jea semakin tertegun saat salah satu tangan itu memegang betisnya dengan lembut.
"Angkat kakimu."
Jea mengangguk patah-patah. Dengan bantuan tangan Jaehyun, Jea mengangkat kakinya. Segera Jaehyun memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik sepatunya hingga terlepas.
Menampilkan kaki putih dengan rona merah di setiap ujung-ujung jemarinya.
Tangan Jaehyun yang tadinya berada di betis perempuan itu, ia tarik ke bawah hingga menyentuh telapak kaki Jea yang telanjang.
Tangan itu terasa hangat, Jea mengakuinya.
"Kamu siap?" Jaehyun kini mendongak, menatap Jea yang sepertinya terlampau gugup karena sedari tadi kakinya tak kunjung di lepas.
"I-iya, Tuan."
Mendengarnya lantas membuat Jaehyun sedikit demi sedikit melepaskan pegangannya pada telapak kaki Jea. Sontak saja kaki itu luruh ke bawah dengan teramat pelan, meresapi seluk-beluk perasaan baru yang saat ini tengah dirasakan.
Rerumputan itu semakin mengelus kakinya dalam saat kaki itu sukses benar-benar menapak pada tanah.
"Rasanya.. geli."
Entah mengapa, sepertinya senyuman gadis itu lagi-lagi menular. Jaehyun ikut tersenyum saat Jea menatapnya dengan sepasang mata mengkilat. Bibir gadis itu tak henti-hentinya tertarik ke atas.
Penasaran, Jea segera menginjakan sebelah kakinya yang lain pada tapak yang lebih maju. Begitu seterusnya, hingga sadar tak sadar, Jea sudah setengah berlari di tengah-tengah ilalang yang bergoyang pelan.
Menyadari tidak ada yang lain disana, tawaan dilepaskan. Jea terasa begitu bebas.
Berlari di tengah-tengah ilalang sampai gaun krimnya berkibar di sepanjang jalan setapak. Surai coklat itu ikut menari bersama angin-angin yang menghembus pelan. Menemani siang yang terasa tak lagi begitu terik.
Sungguh, tidak ada lagi hal yang lebih indah bagi Jaehyun selain saat ini.
Diam-diam, Jaehyun mengeluarkan secarik kanvas dengan papan kayunya dari dalam mobil. Kemudian mengambil palette dan juga kuasnya. Demi apapun, Jaehyun merasa tidak ingin melewatkan sekuntum momenpun saat ia bersama gadis itu.
Senyumannya, seterang matahari, seberbinar bintang.
Bagaimana bisa Jaehyun melewatkan hal itu?
Jea menghembuskan nafasnya berkali-kali, masih dengan senyuman yang terpatri. Tubuhnya jatuh ke tanah, menjadikan rerumputan sebagai alasnya. Sepasang lengan itu terbentang lurus. Juga, kaki-kaki telanjangnya yang masih terasa geli, disapu ilalang.
Nafasnya mulai teratur, dikala matanya memejam erat. Tiba-tiba Jea mengantuk setelah menghabiskan waktunya untuk berlarian tadi. Hembusan angin seperti mendukung keras untuk segera terlelap di tengah-tengah padang ilalang rendah itu.
Sepasang netra Jaehyun menatap Jea lamat-lamat. Tak dilepaskannya barang sedetikpun. Pertanyaan mengenai ada apa dengan dirinya saat ini pun tak lagi ia hiraukan.
Tangannya sudah bergerak di atas kanvas putih saat Jea sudah terbaring di atas rerumputan dengan gaun krimnya yang sedikit tersingkap hingga atas lutut.
Jaehyun kini mencetak portrait agung yang tertangkap mata.
Dirinya memandang gadis tertidur itu dengan terlalu lama, hingga tangannya terasa bisa bergerak dengan sendirinya tanpa perlu harus ia perhatikan.
Jaehyun, merasa berdesir hebat, dalam artian yang sesungguhnya.