Under Sun

Under Sun
3. Meet Him, The General



Toronto, 1978


Dugaan Lisa saat itu benar. Tepat tiga hari kemudian, kapal yang mengangkut mereka itu berlabuh di salah satu dermaga Toronto. Selama tiga hari mendekap di perut kapal yang kumuh dan kotor, membuat Jea hampir tidak bisa bernafas dengan semestinya.


Para wanita yang bersamanya saat ini serempak menoleh pada pintu yang terbuka kuat, menampilkan sesosok lelaki muda dengan tubuh tinggi menatap mereka dengan tajam. Tanpa ampun, lelaki tadi bersama beberapa kawanan berseragam itu mulai menarik perempuan-perempuan itu dengan kasar.


Ada beberapa yang menjerit meminta dilepaskan, namun sebagian besar hanya diam. Tahu, jika percuma.


Mata Jea menyipit, saat akhirnya ia melihat terangnya langit ketika sudah berhari-hari terjebak dalam ruangan kapal yang gelap.


Langit biru yang cerah menyapa mereka yang sudah terlihat sangat kotor. Seolah-olah berusaha mengatakan kepada mereka; selamat datang di hidup yang sesungguhnya. Membuat mereka semakin terdiam. Bukan menangis, tapi memikirkan bagaimana cara terbaik untuk segera mati.


Hal pertama yang Jea lihat saat ia menjadi salah satu perempuan yang diseret keluar dari kapal adalah jembatan panjang menuju daratan. Suara kicauan burung di atas sana tak luput menjadi perhatian Jea yang sama sekali tak terbiasa dengan semua kericuhan yang ada.


Di sepanjang dermaga, banyak sekali manusia yang bertebaran. Sebagian sibuk berjualan, dan yang lain berlalu-lalang. Ada juga yang membeli, namun tak banyak. Beberapa lagi tengah mengangkut barang muatan dari kapal-kapal hasil nelayan. Drum-drum kayu yang menguarkan bau amis tersusun di samping-samping jembatan. Tali tambang yang menjadi penghubung diantara semua drum itu.


Sama halnya dengan sepasang tangan Jea yang juga ikut terhubung dengan tangan-tangan perempuan lain, melalui sebuah tali tambang tebal.


Mereka terus diteriaki untuk segera berjalan, mengikuti segala jenis perintah yang dilontarkan dengan lantang.


"Cepat! Cepat! Hei yang di belakang! Cepat sebelum aku memukulmu!"


Beberapa pukulan nyaring terdengar lepas. Membuat Jea terkejut. Namun ia tak berani menoleh, terlalu menakutkan. Diam-diam Jea begitu takut dengan suara pukulan.


"Hei sebentar," Lelaki dengan rambut hitam pekatnya berjalan cepat ke arah salah satu rekannya, lalu berbisik-bisik.


Setelah terdiam sejenak, pria yang satunya lagi langsung mengangguk, "Ikuti arahanku! Kalian akan mandi terlebih dulu sebelum dikirimkan pada majikan kalian yang baru!"


Tidak dapat berbuat apa-apa, Jea beserta barisan wanita itu hanya ikut menurut. Bahkan gadis kecil yang mungkin berusia sekitar sembilan tahun di depan Jea hanya sibuk menangis, setelah tadi di pukul kencang oleh salah satu petugas pemerintahan itu.


Ingin sekali Jea mengucapkan beberapa patah kata, namun sayang, hanya sekedar bersua pun Jea sudah tidak sanggup. Tenggorokannya terlalu kering dan sakit.


Barisan perempuan itu berjalan semakin menjauh dari dermaga. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya dapat menunduk. Tidak tahu harus bagaimana setelah mendapati kenyataan jika mereka menjadi bahan tontonan warga yang melintas di sekitar.


Tidak jauh dari posisi Jea saat ini, sebuah gubuk kecil tampak berdiri sendiri di antara rerumputan dan ilalang. Jea semakin kebingungan saat beberapa petugas mulai berdiri di sekitar gubuk itu.


"Berhenti."


Para perempuan itu lantas berhenti.


"Lepas baju kalian. Tempatnya kecil dan akan lama jika menunggu kalian mandi satu per satu. Lebih bagus kalau kalian langsung mandi di sekitaran ilalang, daripada di dalam gubuk itu. Akan kami siapkan air jadi cepat laksanakan."


Sontak pernyataan itu membuat para perempuan membelalakan matanya. Apa mereka tidak salah dengar? Jelas-jelas tadi petugas itu menyuruh mereka untuk telanjang di depan para pria yang tak segan-segan menatapi tubuh mereka kan? Sial. Apa tidak kelewatan?


"T-tidak! Kami bukan ****** yang bisa— AKH!"


Pukulan mendarat tepat di kepala salah satu perempuan berusia awal tiga puluh tahunan itu, setelah menyerukan penolakan keras.


"Kamu nggak punya hak buat menolak. Sekalipun mati."


Beberapa wanita yang tadi tampak berusaha tegar, lantas menangis dalam diam. Tapi memang sudah di ujung tanduk. Tidak ada pilihan selain menjadi tontonan pria berhidung belang yang bersembunyi di balik seragam pemerintah itu.


Satu per satu para perempuan tersebut mulai menanggalkan pakaian di tubuh mereka, lalu menunduk sambil berusaha menutupi daerah sensitif mereka.


Tidak ada hal yang lebih buruk lagi daripada ini.


"Tunggu," Sebuah tangan menahan pergerakan tangan Jea yang tadi ingin ikut melepaskan pakaiannya. Membuat Jea kembali terkejut.


"Kamu bisa mandi di bilik gubuk itu. Jangan lama."


Tunggu. Apa maksudnya? Bukankah yang lain mandi di tempat terbuka disini?


Pertanyaan-pertanyaan yang menggulir di dalam otaknya lantas membuat Jea bingung. Namun ia tak menolak, meski ada perasaan tidak nyaman yang membuncah saat mendapati pandangan dari para perempuan yang sudah telanjang itu—hanya bermodalkan ilalang tipis yang menutupi tubuh mereka samar-samar.


"Hei, kenapa dia—"


"Permintaan dari Jenderal."


"Tunggu, jadi perempuan itu budak dari Jenderal?"


Beberapa percakapan yang sempat Jea dengar sebelum ia benar-benar masuk ke dalam bilik gubuk.


【under sun】


Jea masih tidak berani untuk membuka mulut. Ia hanya menerima segala jenis perlakuan dan perintah yang diajukan oleh para petugas pemerintahan yang benar-benar terlihat seperti tentara itu.


Dengan gugup dan canggung dicampur dengan rasa takut yang membuncah, Jea duduk di kursi belakang sampai van itu bergerak meninggalkan lokasi awal.


"Wah, beruntung ya kamu, bisa jadi budak Jenderal. Sedangkan yang lain mungkin dikirim untuk memuaskan nafsu pria hidung belang," Ujar pria yang duduk di sampingnya, membuat Jea menoleh dengan takut.


Jea sama sekali tak tahu dimana letak keisitimewaan menjadi budak dari seorang Jenderal. Apa bagusnya?


"Hei, dari mana Jenderal bisa tau tentang dia?"


Lelaki yang tengah menyupir hanya mengendikan bahu, "Memangnya aku tangan kanan Jenderal? Jangan tanya aku."


Entahlah, Jea sendiri tak tahu sudah berapa lama waktu yang ia habiskan hanya duduk terdiam di dalam transportasi itu. Bahkan gadis itu sendiri tak tahu kemana dirinya akan dibawa.


"Bisu ya? Kenapa nggak ngomong daritadi?" Lagi-lagi pria di sebelahnya itu mengusik lamunan singkat Jea.


"E-enggak.."


"Oh. Ku kira bisu."


Jea kembali terdiam. Demi apapun, dia takut. Bibirnya tampak semakin merah karena menjadi korban gigitan gugup gadis itu.


Sampai akhirnya, van tersebut berhenti tepat di depan sebuah tempat yang jelas sekali merupakan pusat markas militer Toronto. Membuat Jea semakin berdebar-debar, tangannya bergetar. Apa ia akan di pancung disini?


"Turun."


Gadis itu hanya pasrah mengikuti titah pria di sampingnya lalu langsung turun dari van dengan langkah yang lemas.


Memangnya Jea bisa apalagi selain berjalan mengekori kedua pria yang tadi membawanya kesini?


Matanya menatap cemas pada pria-pria bertubuh besar lain yang sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing di dalam bangunan itu. Ada yang tengah bercakap-cakap, ada yang berolahraga ringan, dan ada juga yang menyusun senjata-senjata tajam di atas meja.


Kakinya semakin terasa berat setelah ia beberapa kali melihat tahanan yang tengah di pukuli secara.. lumayan brutal. Tapi tidak ada satupun yang mempermasalahkannya.


Langkah ketiga orang itu lantas berhenti di depan sebuah pintu besar. Membuat Jea menautkan alis, kenapa berhenti?


Salah satu pria itu memberi aba-aba kepada yang satunya. Lalu ia masuk.


"Salam hormat! Kami dari pasukan pemerintahan Minnesota telah sampai, Jenderal."


Suara keras yang terdengar sampai keluar, membuat Jea menatap penasaran pada manusia yang berada di balik pintu besar coklat itu. Setelah salah satu pria yang membawanya tadi masuk ke dalam, pintu itu langsung kembali tertutup.


Setelahnya, tidak ada lagi percakapan yang bisa ia dengar. Mungkin hampir lima menit lamanya, tiba-tiba saja pintu itu kembali terbuka.


"Masuk. Jenderal menunggumu."


Awalnya Jea sangat ragu untuk masuk. Bagaimana jika manusia di balik pintu itu adalah sosok yang sama seperti Richard Collins? Atau yang seperti Billy Johnson yang sempat melecehkan tubuhnya beberapa kali dulu?


"Jangan sampai ku ulangi sekali lagi," Ujar pria tadi yang mulai tak senang. Membuat Jea cepat-cepat menunduk dan melangkah masuk.


Pintu tertutup.


Menyisakan keheningan diantara Jea dan... apa kita bisa memanggilnya si majikan?


Helaan nafas berat membuat bulu kuduk Jea meremang. Ia masih menunduk, tidak berani barang sejengkal pun menatap sosok di hadapannya.


"Lihat saya."


Ucapan berat itu lantas memberi serangan telak pada jantung Jea. Tidak ingin mencari masalah, pelan-pelan Jea menaikan kembali kepalanya, menatap pria yang tengah duduk di kursi dengan meja panjang di hadapannya.


Sontak Jea melotot.


"T-Tuan! Tuan pembunuh!" Pekik Jea tak sadar. Buru-buru ia menutup bibirnya dengan telapak tangan yang bergetar hebat.


Dia pria malam itu. Jeffrey.


Sampai kapanpun, Jea takan melupakan bisikan nama yang selalu terngiang di dalam kepalanya.


Terasa menyeramkan, namun membuai disaat yang bersamaan.