Under Sun

Under Sun
32. Jeffrey’s



Jawaban yang di berikan oleh anak semata wayangnya itu mampu membuat Tuan Jung membulatkan keputusan yang cukup tidak masuk akal bagi sebagian besar manusia.


Namun untungnya, para bawahan yang bekerja dengan pria tua itu tampak sudah paham akan sikap dan prilaku tidak normal dari salah satu elite di hierarki politik Uni Soviet tersebut. Membuat seluruh mulut tertutup rapat saat mendengar keputusan yang dititahkan langsung oleh Tuan Jung.


Meskipun begitu, para pasukan maupun agent yang baru bekerja di Central Intelligence Agency merasa teramat kaget ketika mengetahui berita itu.


Jeffrey adalah tahanan VVIP mereka. Mungkin orang awam hanya menganggap Jeffrey tengah menjalani rehabilitasi medis untuk beberapa alasan, namun nyatanya sungguh tak seperti itu.


Sudah hampir tiga bulan Jeffrey berada di sel tahanan bawah tanah paling ujung di markas Central Intelligence Agency karena Tuan Jung tak lagi dapat menahan amarahnya ketika mengetahui eksistensi Jeffrey kembali menggantikan si karakter palsu bernama Jaehyun.


Sungguh, selama itu pula Tuan Jung masih bisa bersabar untuk menunggu keputusan Jeffrey berubah. Setidaknya, pria tua tersebut berharap Jeffrey akan kembali mempercayai delusinya dan hidup lagi sebagai Jaehyun.


Namun naasnya, Jeffrey tidak banyak berubah dari semenjak tiga bulan yang lalu. Dirinya masih sama, selalu berteriak lantang sembari menatap ayahnya bengis ketika Tuan Jung memasuki sel tahanannya.


"Kamu sudah tau 'kan Mark?"


Merasa namanya terpanggil, lelaki itu lantas menoleh ketika ia sedang sibuk merapikan tata letak rambutnya, "Tentang apa?"


Pria bertubuh menjulang yang tadi melontarkan pertanyaan itu mengernyit heran, "Kamu beneran nggak tau?"


Merasa pembicaraan tersebut sedikit bisa membuatnya merasa penasaran, Mark langsung melirik Lucas di sampingnya, "Iya. Masalah apa?"


Lucas awalnya hanya terdiam. Namun kemudian ia baru mengingat jika Mark adalah salah satu agent yang baru masuk bersama delapan orang lainnya minggu lalu.


Pantas saja Mark tidak tahu.


"Ah, sebenarnya ini rahasia umum tapi—"


Pria itu menggantungkan kalimatnya lalu beralih melirik ke sekitar, "— tau Jeffrey? Anak dari Tuan Jung, politikus Uni Soviet itu."


Mark yang memang sudah mengenal Jeffrey sebelumnya semakin memasang telinga, "Tau. Ada apa dengan Jeffrey?"


Seketika Lucas menggeleng pelan. Kepalanya ia majukan sedikit, mendekati telinga Mark dengan perlahan, "Jeffrey akan di suntik mati dalam 19 jam lagi."


【under sun】


Seberkas cahaya remang-remang rembulan mulai merembas masuk melalui ventilasi kecil dari atap. Sungguh, hanya itulah satu-satunya lubang yang ada di dalam ruangan tertutup nan suram itu.


Kali ini Jeffrey sedikit mendongakan sedikit kepalanya, melirik pada ventilasi di atas kepalanya.


Lagi-lagi malam kembali datang.


Jeffrey sendiri sudah tak lagi menghitung hari ketika dirinya sudah dua bulan setengah berada di dalam sel tahanan tersebut. Dan selama itu juga, Jeffrey hanya kerap menuliskan nama satu-satunya perempuan yang selalu berada di benaknya.


Netra hitam pucat Jeffrey melirik pada dinding di sekitarnya yang sudah penuh akan coret-coretannya sendiri. Di setiap kesempatan yang memungkinkan untuk menyakiti dirinya sendiri, Jeffrey akan langsung mengiris kulitnya hanya untuk mengeluarkan sepercik darah dari sana.


Jeffrey lantas tersenyum tatkala seluruh dinding ruang tahanan itu sudah dipenuhi oleh nama Jea yang ia tulis sendiri menggunakan tinta darahnya.


Tentu, hal itu bahkan mampu membuat seluruh penjaga yang sempat masuk ke dalam sel tahanan tersebut bergedik ngeri.


Manusia gila.


Siapa yang akan menganggap hal itu normal selain Jeffrey seorang?


"Selamat siang, Tuan Jeffrey," sambut seorang wanita paruh baya yang baru saja masuk ke dalam sel Jeffrey, tengah memegang senampan makanan yang masih hangat.


Jeffrey tidak menoleh. Matanya masih sibuk menghitung berapa banyak nama yang berhasil ia tulis sampai hari ini di dinding sekitarnya. Membuat wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum iba.


"Tuan, ini makananmu," Wanita tadi langsung meletakan nampan itu di lantai marmer dingin— tepat di samping tubuh Jeffrey.


Mata wanita itu melirik ke sekitar. Sampai saat ini masih tidak paham mengapa Tuan Jung begitu tega hingga dapat memasukan anaknya sendiri di dalam ruangan kosong tanpa apapun. Bahkan selama ini, Jeffrey kerap tertidur di lantai marmer dingin tanpa alas.


"Tuan."


Liana masih berdiri di samping Jeffrey, berharap pria itu kali ini menggubrisnya dan segera memakan makanan yang akan menjadi santapan terakhir pria itu dalam masa hidupnya.


"Terima kasih," Jeffrey tersenyum pelan, kemudian melirik Liana yang terbelalak kaget. Karena sesungguhnya, Jeffrey belum pernah berbicara dengannya selama pria itu berada disini.


"My pleasure," Ucap Liana sembari ikut mengulas senyum. Sungguh, penampilan Jeffrey saat ini membuat dirinya hampir tak bisa menahan air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya.


Mungkin, bagi orang lain, jawaban Jeffrey untuk tetap menjadi dirinya sendiri adalah suatu kebodohan yang nyata. Namun, Liana begitu paham mengapa pria itu memilih untuk mati ketimbang hidup di dalam genggaman ayahnya.


"Kalau begitu, saya keluar dulu, Tuan."


Pintu sel besi nan berat kembali tertutup seiring dengan wanita paruh baya yang keluar dari sana, meninggalkan Jeffrey kembali dengan keheningan yang memekakan telinga.


Jeffrey menatap nampan berisi sup ayam dengan dua buah roti juga teh hangat di sampingnya. Jeffrey lantas tersenyum saat ia menyadari jikalau roti yang berada di nampan itu merupakan roti kesukaan Jea.


Tujuh jam lagi Jeffrey akan mati, dan pria itu hanya ingin menghabiskan masa-masa terakhirnya dengan mengingat segala hal yang sudah dirinya dan Jea lalui sampai detik ini.


Kepalanya ia senderkan pada dinding dingin di belakangnya. Pandangan lelaki itu kosong. Tubuhnya terasa mati rasa.


Kilasan-kilasan itu kembali melewati benaknya. Disaat ia harus melepaskan perempuan itu dan membiar Jea hidup dalam gelap, sendirian.


Jeffrey menutup matanya. Memaki dirinya sendiri disaat ia menyadari jikalau dirinya masih tidak bisa menghilangkan rasa trauma yang begitu mendalam pada ayahnya sendiri.


Dan ketika pria tua itu memberikan dua pilihan; tetap bersama Jea dan gadis tersebut akan mati di tangan sang ayah, atau meninggalkan perempuan itu— lalu Tuan Jung takan menyentuh barang sehelaipun rambut gadisnya, maka Jeffrey hanya ingin bermain aman.


Baginya, keputusan untuk meninggalkan Jea adalah keputusan yang paling benar di sepanjang hidup Jeffrey.


Benar, jika Jea bersamanya, cepat atau lambat perempuan itu akan berada dalam bahaya. Mau seberapa kuat usaha Jeffrey melindungi gadisnya, jika Tuan Jung yang sudah turun tangan, maka semuanya akan sia-sia.


Jeffrey memang bisa melakukan apa saja, tapi tidak dengan masalah yang berpautan dengan ayahnya.


Saat sepasang mata tersebut kembali terbuka, satu-satunya yang menghinggap di dalam benak Jeffrey hanyalah nama gadis itu.


Perempuan yang ia akui sebagai bintangnya di malam hari yang gelap.


Di setiap malam, Jeffrey hanya mampu menangis disaat dirinya benar-benar merindukan gadisnya sampai ia tidak lagi bisa merasakan kematian yang lebih menyakitkan dari ini.


Jeffrey merindukan suara lembut Jea, Jeffrey merindukan kulit lembut yang selalu membuat dirinya gila, Jeffrey merindukan elusan lembut yang jatuh pada rambutnya saat pria itu tengah berada diambang batas kehidupan.


Jeffrey begitu mencintai Jea— dan ia rela melakukan apapun teruntuk gadis itu.


Sungguh, Jeffrey tidak takut mati, pria itu lebih takut tidak bisa melihat wajah Jea untuk yang terakhir kali di dalam hidupnya.


Setiap berganti hari, tiada hal lain yang mampu ia lontarkan di dalam kepalanya selain sebuah pertanyaan klise yang terus berulang;


apa sekarang gadisnya bahagia?


Karena satu-satunya yang Jeffrey harapkan sebagai bayaran atas nyawanya ialah kebahagian gadis itu.


Jeffrey hanya ingin mati untuk Jea.


Tangannya mengepal erat. Malam semakin terasa dingin, begitu pula dengan keadaan yang terlalu menghening. Seakan-akan alam sedang mempersiapkan diri untuk berduka hari ini.


Jeffrey kembali tersenyum, lebih pahit dari pada yang biasanya— disaat ia kembali menyadari, ia akan mati tanpa bisa melihat rupa perempuan itu sekalipun.