True Love Of A Ceo

True Love Of A Ceo
CEMBURU



Diana menatap kaget melihat siapa dokter yang ada di depan nya."Fiko",suara diana Terdengar lirih.


Sedangkan Kanaya dan Kirana hanya saling pangdang,menyatakan kebingungan pada diri mereka.


Fiko sangat senang bisa melihat teman masa kecil yang ia cari slama ini.tangan Fiko mulai tergerak mengusap wajah gadis yang slama ini ia rindukan,tanpa aba aba,Fiko langsung memeluk tubuh mungil Diana,tanpa terasa Fiko meneteskan air mata nya,memeluk Diana erat seakan kerinduan yang ia rasakan tak terbendung lagi.


"FiKo",ucap Diana Cepat.


Fiko melepaskan pelukan nya,mengusap sisa air mata yang keluar dari pelupuk mata.ia menatap wajah Diana yang masih pucat."Anya aku Tidak pernah menyangka akan Bertemu dengan mudi sini",Ucap Fiko senang.


"kamu masih mengenali aku?",Tanya Diana


"tenTtu saja,tidak mungkin aku melupakan teman masa kecil ku,Kau juga masih mengenali aku bukan",ucap fiko cepat.fiko masih terus menatap Diana,membelai lembut kepala Diana


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang masuk ke ruangan itu,dan langsung menarik tangan Fiko dengan kasar,menjauhkan nya dari wanita yang tengah duduk lemah di atas brankar


*flasback on*


Andra berjalan menuju ke arah kamar rawat Diana dengan senyum di wajah nya,memegang buket bunga yang sengaja ia beli.Sesampainya di depan kamar Diana,Andra langsung membuka pintu ruangan itu,Andra menatap tajam ke arah Diana yang tengah di peluk oleh seorang laki laki dengan menggunakan jas dokternya.seketika Amarah Andra kembali melanda diri nya.


Dengan Andra langsung berjalan menuju ke arah ranjang Diana dan Andra dengan kasar menarik tangan pria yang sedang membelai kepala sang istri.dengan muka yang memera Andra menatap tajam ke arah sang dokter.


flashback off


"Tugas anda memeriksa istri saya,bukan memeluk dan membelai rambutnya drumah ngan lancang",ucap Andra dengan nada yang ditinggikan .


Diana menatap Andra yang datang dengan wajang yang marah.ia tak mau ke jadian di mall itu kembali terulang,Dngan cepat Diana lngsung memegang tangan Andra.


Fiko menatap ke arah Diana,meminta penjelasan pada Diana.


"Ma'af Fiko,lebih baik kamu pergi dari sini,Aku akan menjelaskan ini semua Nanti",ucap Diana Saat melihat tatapan dari fiko.


Kirana menatap takut ke arah Andra,begitu pun dngan Kanaya,ia tau jika abangnya sudah marah,maka tidak ada yang berani melawan nya.


"Bang",.panggil Kanaya takut takut.


Andra menatap tajam ke arah sang adik."lebih baik kalian pulang",ucap Andra dingin


"Baik bang,Di qta pamit pulang".ucap Kanaya dan langsung menarik tangan kirana untuk mengajak nya pergi dari ruangan itu.


Setelah adiknya pergi Andra masih diam,tidak ada yang berbicara,hingga Diana mencoba untuk mencairka suasana.


"kak,apa kakak marah?"Tanya Diana pelan.


Andra menatap ke arah Diana."Ma'af", ucap Andra pelan


"Kenapa kakak minta maaf,harusnya Diana yang minta maaf,Diana belum bisa jadi istri yang baik,walau kakak menikah dengan Diana karna terpaksa,tapi harusnya Diana tidak membuat kakak marah",ucap Diana Sambil menundukkan kepalanya


Andra mendekatkan wajahnya ke arah Diana,memegang dagu gadis yang ada di hadapan nya saat ini,ntah apa yang Andra pikirkan


Cuppp."Andra menempelkan bibirnya ke bibir milik Diana,Andra merasakan aliran listrik yang menjalar ke dalam tubuh nya,jantung Andra berdetang dengan cepat.Begitu pun dengan diana,Ia sampai melotokan mata nya karna mendapat serangan mendadak dari pria yang sudah sah menjadi suaminya itu


Tak lama Andra pun melepaskan ciumannya,"Maaf",ucap Andra gugup.


Diana hanya menundukkan kepala nya menahan malu,wajah nya kini seudah berubah menjadi merah.Diana mencoba menghilangkan rasa gugup nya."Ehmmmmm apa kakak tidak membawa makanan?"Tanya Diana cepat


"Kenapa,Apa kau lapar?",Tanya Andra cepat.


Diana Hanya menganggukan kepalanya.


"Tunggu lah sebentar,aku akan membelikan makan untuk mu di kantin",Ucap Andra cepat.Andra pun keluar menuju ke arah kantin rumah sakit,ia membeli makan untuk Diana dan dengan cepat kembali ke ruangan Diana,Andra tidak ingin berlama lama meninggalkan Diana sendiri.