
Sinar mentari akan selalu terlihat indah jika sinarnya selalu menerangi peradaban setiap saat , tanpa harus adanya mendung yang membuat cahaya itu redup.
Hari ini Diana kembali ke kota bersama dengan Andra. Keputusan yang di ambil Diana sudah bulat setelah berfikir semalaman.
Mata indah milik Diana tidak pernah lepas dari jalan raya yang begitu bising dalam perkotaan. Pandangan Diana selalu ia arahkan ke luar jendela sejak mobil yang di kendarai Andra keluar dari Desa.
"Kamu lelah, istirahat saja. Perjalanan kita masih jauh." ujar Andra.
Diana menoleh, lalu menyandarkan punggungnya menghela nafas seperti sangat lelah." Boleh aku minta sesuatu?" tanya Diana
Andra menoleh sekilas, terlihat wajah Diana yang seperti banyak beban."Hmm, katakan."
Diana menatap lurus ke depan, hatinya ragu tetapi Diana ingin sekali mengetahui sesuatu sebelum ia melangkah maju ke depan.
"Bisakah kau membatuku menyelidiki keluarga ayahku?"
"Keluarga Ayahmu?, Kenapa?" tanya Andra
"Kakek pernah mengatakan jika umurku sudah menginjak 21 Tahun, maka aku akan menemukan sesuatu saat kembali ke Desa. Tetapi sudah dua kali aku kesana, tapi aku tidak menemukan apapun." ujar Diana
Andra Kembali melihat Diana sekilas, ia semakin penasaran dengan gadis di sebelahnya ini. Karena Andra sangat yakin jika dia pernah mendengar nama Ayah Diana. Menurut Andra Ayahnya itu pasti bukan orang sembarangan.
"Baiklah, aku berjanji. Tetapi setelah pernikahan kita di langsungkan." ujar Andra
Diana mengangguk setuju, ia berharap dirinya bisa menemukan sesuatu.
Sesuai kesepakatan pernikahan Andra dan Diana di langsungkan saat Mama Andra dan adik nya kembali. Tepat satu bulan setelah keputusan Diana menerima Andra keduanya pun melangsungkan pernikahan. Pernikahan itu tidak di langsungkan meriah, hanya pernikahan biasa saja. Dan untuk wali Diana di wakilkan oleh penghulu karena Diana sudah tidak memiliki apapun.
"Di, selamat ya. Akhirnya lo jadi kakak ipar gue juga. Gue seneng." ujar Kanaya sambil memeluk manja sahabat sekaligus kakak iparnya sekarang
"Gue juga seneng Di, sekarang udah ada yang jagain lo. Semoga pernikahan lo langgeng ya say." imbuh Kirana.
"Thanks ya buat kalian, Semoga kalian bisa nyusul gue. Hehehe." Canda Diana.
"Hmm, ya kali. Ehh, omong-omong nanti malam kan, ehemm. Malam pertama lo ya kan." goda Kirana sambil menyenggol lengan Diana.
"Diam. Kau itu." Diana pura-pura kesal
"Hahaha, lo jangan pura-pura deh." Kirana semakin menggodanya.
"Diamlah Kirana, jangan menggoda kakak iparku." bela Kanaya
"Yah, sok adik ipar lo." ujar Kirana.
"Udah deh, tidak usah bertengkar. Gue udah gerah nih, gue mandi dulu ya." pamit Diana
Diana pergi ke kamar tamu untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Kanaya dan Kirana membantu membersihkan rumah setelah para tamu sudah pulang.
Sementara itu di tempat lain Andra sedang berada di dakamarnya. Memeriksa semua berkas yang terlantar selama dua hari ini. Andra memang seorang CEO, tetapi tugasnya tidak bisa ia alihkan. Meski itu kepada Divo sekalipun. Sebagai seorang atasan Andra tidak bisa membebankan semua pekerjaan pada pekerjanya.
Tok
tok
Sandra tersenyum saat Andra menatapnya.
"Ma, kenapa mama kesini. Mama kan masih sakit, Andra bisa ke kamar Mama jika Mama memanggil Andra kan." ujar Andra mendekati Sandra mengajak wanita paruh baya itu duduk di atas tempat tidurnya.
"Dimana Diana?" tanya Sandra
"Dia sedang bersama Kanaya dan Kirana Ma." jawab Andra
Andra menggenggam tangan Sandra, tersenyum ke arah orang tua satu-satunya yang dia miliki." Mama percaya kan dengan Andra. Putra Mama ini tidak akan pernah memperlakukan wanita manapun dengan buruk, karena Andra tidak ingin Mama maupun Kanaya mendapat karma dari yang Andra perbuat." ucap Andra
Sandra sangat lega mendengar ucapan putranya. Ia sungguh sangat bangga memiliki putra seperti Andra, Ia selalu percaya jika putranya akan selalu membuat bangga dirinya.
"Mama percaya sama kamu Dra, kalau begitu mama ke bawah. Mama bosen di kamar terus, kamu lanjutin pekerjaan kamu." ujar Sandra.
Andra mengangguk, Sandra lalu meninggalkan putranya untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Sementara di bawah Diana baru saja keluar dari kamarnya untuk menemui kedua sahabatnya kembali, tidak sengaja Sandra melihat menantunya itu keluar dari kamar tamu.
"Loh sayang, kamu kenapa mandi di kamar tamu." ucap Sandra
"Eh Ma, maaf. Diana udah terlanjur naruh koper Diana di kamar tamu. Jadi sekalian Diana mandi disana aja." kilah Diana. Padahal Diana hanya tidak terbiasa berbagi kamar dengan orang lain, meski Andra saat ini sudah sah menjadi suaminya.
"Yaudah, biar nanti Bibik pindahin koper kamu." Diana mengangguk patuh, ia tidak mungkin membantah ucapan mertuanya.
"Lo Ma, kok Mama turun sih?" tanya Kanaya yang sedang duduk bersama Kirana di ruang tamu.
"Mama cuma bosen di atas Nay, jadi Mama turun aja ke bawah." jawab Sandra
"Nay, gimana kalau kamar Mama di pindahin ke bawah aja, biar Mama gak kecapean naik turun tangga." usul Diana
Kanaya menyipitkan matanya seperti sedang berfikir." Hmm, cie yang udah manggil Mama." goda Kanaya
"Apaan sih Nay." ucap Diana malu
"Gak usah godain menantu Mama kalau gak mau uang jajan kamu di potong." ancam Sandra
"Yah Mama, apaan sih. Gitu doang."
"Ya, ya. Mama becanda doang."
Kirana dan Diana tertawa melihat wajah kesal Kanaya.
"Ehh, gimana Nay usul aku tadi. Mama juga setuju gak?" tanya Diana
"Aku sih setuju aja, lagian dokter juga nyaranin buat Mama gak kecapean."
"Yaudah, Mama mau kok. Lagian di atas juga kasian kalian yang ngerawat Mama." ujar Sandra.
"Lo gak gitu Ma, kita pasti siap jagain Mama, kan cuma Mama yang Naya punya."
"Diana juga Ma, selama ini Diana gak pernah ngerasain punya Mama. Dan sekarang tuhan memberi Diana kesempatan ngerasain punya Mama. jadi Diana akan jaga Mama sebaik mungkin."
Sandra memeluk putri dan menantunya itu, ia sangat beruntung memiliki keduanya." Mama juga akan selalu menyayangi kalian. Dan kamu Diana, Mama akan memberikan kasih sayang Mama seutuhnya buat kamu. Selalu bahagia untuk kalian yah."
"Oh. so swit banget sih, gue jadi mau." ucap Kirana yang sejak tadi hanya mendengarkan keharuan di rumah sahabatnya itu.
"Duh cacian, sini peluk juga." ajak Kanaya
Dan mereka semua berpelukan bersama.
-
Kebersamaan, kasih sayang, kepedulian dan juga ketulusan akan membuat keharmonisan di dalam sebuah keluarga, karena itu adalah dasar pondasi yang kuat. Meski terkadang di dalam keluarga itu sendiri pasti akan ada masalah yang menerpa. Tetapi jika dalam keluarga kepercayaan selalu kuat, maka badai apapun tidak akan bisa menghancurkan keluarga itu. Karena dasar dari keluarga utuh itu adalah pondasi yang kuat.
.
.