
Malam ini adalah malam pertama untuk Diana menyandang status seorang istri. Sejak Kirana pulang dan Kanaya pergi ke pesta kampus, Diana kini berada di ruang tamu sendiri, dia masih ragu untuk naik ke atas ke kamar suaminya.
Sejak tadi Diana terlihat duduk gelisah di tempatnya, terkadang ia mengambil ponselnya dan memainkan beberapa permainan untuk menghilangkan bosan. Tetapi hal itu tidak berjalan lama, hanya beberapa menit saja. Setelah itu Diana tidak tau harus berbuat apa lagi.
Diana menghempas punggungnya ke sofa, mengambil pasokan oksigen sedalam mungkin. Diana hanya bisa berharap suaminya itu sudah tidur, maka Diana bisa masuk ke kamar itu.
Dengan mata terpejam Diana mencoba menenangkan pikirannya, ia tidak ingin berfikir yang tidak-tidak.
" Kau sudah tidur?, kenapa tidak ke kamar?" tanya Andra yang tiba -tiba muncul do depan Diana.
Tentu saja gadis itu seketika membuka mata dan duduk secara sempurna."Eh- itu, aku menunggu Kanaya" jawab Diana dengan gugup.
"Tidak usah di tunggu, Kanaya pasti akan pulang cukup larut. Tadi dia sudah mengabariku. Kalau kau mengantuk pergilah ke kamar, jangan tidur disini." ujar Andra
Diana menganggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya malu masuk ke kamar suaminya sendiri.
"Emm, boleh aku bertanya?"
"Hm, tanyakan saja."
"Kita ini kan sudah menikah, jadi tidak sopan kan jika aku memanggil suami dengan sebutan nama atau kau. Jadi, apa kau keberatan jika aku-, aku-
"Aku apa?" potong Andra
"Aku memanggil mu Mas." jawab Diana dengan nada pelan dan dengan kepala menunduk.
Andra menatap gadis yang kini sudah menjadi istrinya. Sebuah senyum tersungging di bibir Andra, menurutnya Diana itu sangat lucu.
"Kau yakin akan memanggil ku seperti itu?" tanya Andra dengan nada menggoda
Diana mengangkat kepalanya, melihat wajah Andra yang terlihat mengejeknya." Kenapa? kau keberatan?" tanya Diana dengan nada galak.
Diana benar-benar merasa kesal melihat wajah mengejek suaminya.
"Hey jangan kesal begitu, aku hanya bertanya."
"Ya, aku tau. Tapi wajahmu berkata lain."
"Ya sudah, jangan kesal. Kau itu benar, seorang istri harus menghormati suaminya, termasuk nama panggilan untuknya. Jadi panggilan Mas cukup cocok untuk ku."
"Jadi mulai sekarang aku memanggil mu Mas."
Andra mengangguk dan tersenyum, menurutnya kehidupannya begitu berubah dengan menikah dengan Diana. Dan keputusannya memilih Diana itu sangat benar.
"Baiklah, sekarang pergi ke kamar dan tidur " ucap Andra
"Em, la-lu Mas."
Andra tersenyum lagi mendengar Diana memanggilnya Mas dengan gugup dan malu.
"Tidurlah, aku akan membuat kopi. Banyak pekerjaan yang harus selesai malam ini." ujar Andra.
"Em, lebih baik Mas naik saja, biar aku yang membuatkan kopi. Di antar ke ruang kerja Mas kan." ujar Diana.
"Baiklah, aku juga ingin meminum kopi buatan istriku untuk yang pertama kalinya." ujar Andra sedikit menggoda.
Wajah Diana sedikit memerah mendengar ucapan Andra. Tanpa membalas ucapan Andra, Diana langsung pergi ke dapur untuk membuatkan suaminya Kopi. Dan Andra, pria itu pergi ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang harus selesai besok.
Di dapur Diana sedikit bingung. Ia tidak tau kopi kesukaan suaminya, tetapi akhirnya Diana memutuskan untuk membuat kopi yang juga dirinya suka. Semoga saja Sikap suaminya tidak seperti Novel yang kebanyakan dirinya baca. Saat seorang istri baru pertama membuatkan kopi, jika dia tidak suka kopi itu akan di lempar ke bawah.
Diana ngeri sendiri jika memikirkan hal seperti itu. Setelah kopinya siap, Diana bergegas ke ruang kerja suaminya. Kenapa Diana bisa tau ruang kerja suaminya? Ya itu karena Kanaya pernah memberitahu nya.
Tok
tok
Diana mengetuk pintu beberapa kali, sampai akhirnya suara Andra terdengar menyuruhnya masuk.
Saat di dalam, Diana meletakan secangkir kopi di atas meja tempat Andra bekerja.
"Maaf, aku tidak tau kopi kesukaan Mas Andra apa, jadi aku buat kopi yang aku bisa saja." ucap Diana
Andra memandang istrinya lalu tersenyum ke arahnya."Tidak masalah, aku suka kopi apapun." ujar Andra.
Diana mengangguk sambil sesekali melihat ruang kemeja suaminya. saat mata Diana menuju ke arah jendela Diana melihat sebuah sketsa di dekat meja kecil di sudut ruangan itu. Penasaran, itulah yang ada dalam hati Diana.
" Mas." panggil Diana dengan tatapan mata masih setia pada sketsa itu.
"Hm, ada apa?" tanya Andra tanpa menatap Diana yang masih di depannya.
"Sketsa wajah siapa itu?" tanya Diana tanpa melepas pandangannya
Andra mengangkat kepalanya, melihat ke arah pandangan Diana. Saat Andra tau sketsa siapa yang Diana tanya, wajah Andra langsung berubah. Pria itu seperti menjadi sosok yang berbeda.
"Keluarlah Diana, ini sudah malam. Pergilah tidur." ujar Andra dengan nada dingin.
Diana yang sejak tadi fokus dengan sketsa wajah itu sedikit terkejut dengan nada bicara Andra. Diana yakin jika Sketsa wajah itu adalah orang yang penting dalam hidup pria itu.
Tanpa mengatakan apapun Diana meninggalkan ruangan Suaminya, Pergi ke kamar dan segera tidur. Meski terasa Aneh karena Diana tidak terbiasa tidur di kamar orang lain, Diana mencoba menyamankan dirinya. Ia harus sada jika saat ini ia sudah menjadi seorang istri.
-------------
Pagi menjelang, Diana bangun karena sinar mentari yang masuk di sela-sela jendela membuat matanya silau. Diana melihat jam yang ada di atas nakas.
"Oh astaga, sudah jam 7. Kenapa tidak ada yang membangunkan aku." ucap Diana
Gadis itu langsung berlari ke kamar mandi untuk membersikan dirinya. Setelah selesai mandi Diana langsung turun ke bawah, rasanya tidak enak jika seorang istri bangun kesiangan seperti ini.
"Pagi bik."sapa Diana saat ia sampai di dapur
"Pagi non. Gimana tidurnya? nyenyak?"
"Nyenyak Bik. Oh ya Bik, Mas Andra udah berangkat kerja ya?"
"Udah Non." jawab Bik asih.
"Tapi Non, tumben banget den Andra pergi pagi-pagi banget, gaj kayak biasanya." ucap Bik asih
"Gap apa-apa lagi non. Kan non baru disini mah, apalagi pengantin baru pasti bangunnya siang non." ucap Bik asih dengan nada menggoda.
"Ih Bik asih, apaan sih."
"Oh ya Bik,masak sarapan apa ? terus Diana bisa bantu apa?" tanya Diana.
"Gak usah Non, ini bahan masakan buat nanti siang. Sarapannya udah selesai di atas meja. Mending non sarapan dulu, terus Non bisa bantu bangunin Non Kanaya kan."
"Oh, Kanaya belum bangun juga Bik?"
" Belum Non"
"Yaudah deh, Diana ke atas dulu bangunin Kanaya."
Diana berjalan menuju kamar Kanaya. Tapi sebelum naik ke atas Diana melihat kamar mertuanya, Diana pun akhirnya mengurungkan niat ke atas dan lebih memilih menyambangi kamar mertuanya.
tok
tok
Diana mengetuk pintu Sandra, dan tak lama Diana mendengar suara ibu mertuanya itu menyuruhnya masuk.
"Pagi mah." sapa Diana saat ia membuka pintu dan melihat Sandra sedang menyisir rambutnya. Diana yakin jika ibu mertuanya itu baru saja selesai mandi.
"Mama cantik banget, mau kemana mah?" tanya Dian duduk di tempat tidur Sandra
"Diana, kamu udah bangun nak. Ini, mama kan hari ini cek up rutin."
"Oh, hari ini ya mah. Diana temenin mama boleh kan ma."
"Boleh dong, kalau kamu gak keberatan."
"Gak dong ma,kan kewajiban Diana sebagai menantu mama."
Sandra tersenyum senang mendengar ucapan Diana. Menurutnya Diana ini sangat baik, dan Andra tidak salah memilihnya sebagai istri.
"Andra udah berangkat kerja sayang?" tanya Sandra
"Udah Ma, tapi Diana gak liat. soalnya Diana bangun kesiangan, tadi bibik yang bilang." jawab Diana.
"Yaudah, gak apa-apa. Mama maklum kok. Sekarang kamu siap-siap ya. Mama tunggu di meja makan." Diana mengangguk, gadis itu bergegas ke atas untuk bersiap.
"Heeee, bos apa anda sedang ada masalah,kenapa kau sangat Snsitif pagi ini,Apa semalam Malam pertama mu kacau Bos",Ledek Divo lagi
Plakkkkk
Andra melempar Bulpoin yang ada di tangan nya ke arah Divo
"Hahahahaha,Apa ucapan ku benar.Sudah lah Masih da hari lain kan",Ucap Divo sambil tertawa lucu."Tapi lbih baik kau tidak terlalu memikir kan itu,Karna Ada masalah yang akan membuat kau tidak akan bisa menikmati Malam pertama mu beberapa hari ini",Ucap Divo lagi
Andra menyeritkan dahi nya mendengar ucapan Divo.
"Apa yang kau katakan,berbicara yang Jelas",ucap Andra cepat.
"Kau ini slalu tidak sabar", kata Divo.",Baik lah akan aku katakan."kabar yang pertama,Perusahaan qta yang berada di kota xxx sedang mengalami masalah,saham qta menurun dengan drastis.aku sudah mencoba untuk mencari tau penyebabnya tapi belum ad hasil."ucap Divo seriuss."kabar ke dua,Divo menggantungkan ucapan nya.
"Kabar ke dua apa?"tanya Andra tak sabar.
"Hmmmmm Divo menghela nafasnya yang terasa berat."Jesika ada di sini."ucap Divo pelan,Tapi masih bisa di dengar oleh Andra
"Apaaaaa",triak Andra Saat mendengar ucapan Divo
Divo mengangguk membenarkan ucapan nya tadi.
"Lalu apa kabar baik nya?"tanya Andra lagi,sambil menetralkan hati nya.
"Kabar baik nya adalah,nanti sore lo ada jadwal pergi ke anak prusaahaan yang sedang ad masalah itu".ucap Divo enteng
Andra yang mendengar kabar baik dari Divo langsung melempar file yang ada di tangan nya ke arah Divo
"Lo itu gk ngebantu gue,apa itu kabar baik hahhhhhhhh",ucap Andra kesal
"Santai dong bos,Lo itu odong banget sih bos.gini ya,kalo sekarang Lo ke anak perusahaan qta Lo jadi bisa menghindar dari jesika,betul gk".kata Divo cepat.
"Iya juga sihhh",ucap Andra sambil menimbang bimbang perkataan Divo.
"Lo kenapa,gk tega ninggalin Diana,kalo lo gk tega mending lo ajak aja,anggap aja lo lagi bulan madu khan",Goda Divo
Andra yang mendengar nama Diana kembali kesal."Males banget gue bulan madu,lo khan tau gue nikahin dia karna apa",ucap Andra cepat
"Ya elahhh,ntar bener jatuh cinta baru tau rasa looo",Ledek Divo
"Tidak Akan",ucap Andra cepat
"Terserah,trus gimana Lo mau berangkat Atau tidak?"Tanya Divo lagi
"Ok gue mau,dari pada gue ketemu sama Jesika",ucap Andra
"Ohhhh ya Bos,kalo Jesika ke rumah lo gimana?"Tanya Divo lagi
"Nanti gue pikirin,mana berkas yang harus gue tanda tangani",ucap Andra cepat
Divo pun memberikan berkas yang ia pegang sejak tadi."Makan siang lo mau makan dimana?Tanya Divo
"Gue mau langsung pulang,gue harus bersiap siap untuk keberangkatan Sore Nanti,lo udah siapin semuanya kan?", Tanya Andra
"Sip, sudah siap bos,kalo gitu gue balik ke ruangan gue,Ahhhh ya bos,apa lo bener bener gk punya rasa sma Diana?"Tanya Divo dengan mimik wajah serius
Andra menatap horor ke arah Divo,dia tidak suka dengan pertanyaan itu.Divo yang mendapatkan tatapan horor dari bos nya langsung lari keluar dari ruangan itu.
Setelah Divo pergi,Andra kembali melanjutkan pekerjaan nya,Sesekali Andra berfikir Tentang pertanyaan Divo tadi."Apa benar aku tidak menyukainya,tapi kenapa aku kesal melihat dia bersama laki laki itu,Batin Andra
Andra mengerang frustasi sambil mengacak acak rambut nya.