True Love Of A Ceo

True Love Of A Ceo
Bab 14. Kumbang pengganggu



Hari ini setelah makan siang Diana membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat. Meski pagi tadi ia sudah Mandi, tetap saja Diana harus kembali mandi akibat aktifitasnya yang berkutat dengan tanah dan tanaman.


Selesai mandi Diana merasa segar, tetapi ia merasa sangat mengantuk. Diana pun naik ke atas untuk tidur sebentar. Tetapi sesampainya di atas, baru saja Diana merebahkan tubuhnya tiba-tiba bel rumah berbunyi.


Diana mendengus kesal, dengan malas Diana kembali berjalan turun.


"Siapa sih, tetangga sebelah kali ya." ujar Diana sambil berjalan ke arah pintu.


Diana membuka pintu itu dengan malas, saat membuka pintu hal pertama yang Diana lihat adalah sosok pria yang tiga hari lalu menghinanya.


"Kau, bagaimana kau bisa tau alamat ini?" tanya Diana dengan mulut menganga lebar.


Andra tidak menjawab pertanyaan Diana, ia seenaknya masuk ke dalam tanpa permisi.


"Hey, apa yang anda lakukan. Seenaknya saja masuk ke dalam rumah saya." ujar Diana dengan wajah kesal.


"Jangan berisik, saya ini tamu. Harusnya kamu menyambut tamu itu dengan baik. Setidaknya tawarkan minum dulu kan bisa." ujar Andra bersandar di sopa dengan satu kaki menopang kaki lainnya.


Diana tidak ingin berdebat, ia berjalan menuju dapur sambil menghentakan kaki pertanda protes.


Saat Diana masuk ke dalam, tiba-tiba Divo datang menggetkan Andra yang sedang duduk melihat ke arah dapur.


"Hayo, liat apa lo." ujar Divo sambil menepuk pundak Andra.


"Setan lo, gak usah pake ngagetin kan bisa." ujar Andra


"Yah, gitu aja kagetan. Tua lo." ledek Divo.


Diana menyeritkan dahinya dan menajamkan pendengaran. Apa dia salah dengar jika ada orang lain di ruang tamu selain Andra.


Setelah selesai membuat teh Diana kembali ke depan.


"Astaga, kenapa anda malah waba teman? gak bilang lagi. Kan saya cuma buat minum satu." ujar Diana sambil meletakan satu cangkir di depan dua pria di depannya.


"Gak masalah Nona, kami bisa minum ini berdua." Divo menyambar cangkir teh itu terlebih dulu lalu meminumnya.


"Astaga, gak sopan banget lo. Tau gini gue gak ngajak lo Somat." ujar Andra


Diana duduk di sofa tunggal dekat andra dengan wajah masam.


"Dasar Kumbang pengganggu." batin Diana.


"Sekarang kalian jujur, kesini mau apa?" tanya Diana tanpa basa-basi.


"Duh, Nona cantik. Wajahnya yang manis, jangan galak-galak napa, nanti cantiknya ilang lo." ujar Divo


Diana mengarahkan pandangan tajam ke arah Divo, pertanda dirinya tidak suka dengan candaan pria di depannya itu.


"Apa kau sakit?" tanya Andra.


Pria itu sejak tadi memperhatikan wajah Diana yang terlihat pucat. Entah perasaannya saja atau memang itu benar adanya.


"Jangan mengalihkan pertanyaan saya. Sebenarnya kalian kesini itu mau apa?" tanya Diana lagi.


"Saya hanya mengantar Andra saja." jawab Divo. Wajahnya terlihat serius saat ini.


Diana mengerutkan dahi mendengar jawaban Andra.


"Apa pria ini sudah gila?" batin Diana


"Aku tidak gila dan tidak bercanda." ujar Andra seolah ia bisa membaca pikiran Diana.


Diana mendengus kesal mendengar ucapan Andra. Ia merasa pria di depannya ini benar-benar sudah tidak waras.


"Maaf ya tuan, jika anda kesini hanya untuk bercanda dan membuang waktu saya, lebih baik anda segera pergi dari sini. Karena saya perlu istirahat." ujar Diana sambil berdiri.


Andra menggenggam tangan Diana lalu menariknya hingga gadis itu terduduk kembali.


"Anda ini-


"Diamlah, kau ini terlalu banyak bicara" ujar Andra menatap Diana tajam.


Bukannya takut Diana malah semakin kesal mendengar ucapan Andra. Diana bangun kembali menghentak kan kaki berlalu keluar. Awalnya Diana ingin istirahat tapi sekarang Diana lebih memilih kembali kepekerjaannya.


"Dra, lo keterlaluan kali. Noh, anak orang ngambek." ujar Divo pada Andra.


"Diem lo. Sekarang lo pulang aja, biar gue yang urus."


"Eh Mahmud, lo seriusan mau nginep disini? Jangan gila lo Bambang, gue gak mau lo kena masalah. Lo tau kan kalau peraturan di desa itu ketat, lo biasa di kawinin brow." ujar Divo


"Gue gak perduli, sekarang lo buruan pulang. Gue bakalan ke luar juga." ucap Andra.


Divo mendengus kesal sambil mengikuti langkah Andra keluar dari rumah Diana.


"Nona cantik, saya pamit pulang dulu ya. Kalau abang Mahmud macam-macam, ketok aja kepalanya pake pacul, biar sekalian End." ujar Divo pada Diana.


Diana menatap Divo dengan dahi berkerut." Mahmud ! " ujar Diana


Divo nyengir kuda sambil mengarahkan matanya ke arah Andra. Diana pun mengerti yang di maksudkan oleh Divo.


" Kenapa anda tidak bawa saja dia?" tanya Diana


"Kalau saya paksa, saya bisa di pecat." jawab Divo


"Tapi saya tidak mau dia disini. Mau bulang apa sama warga sini."


"Kamu tidak usah khawatir, saya yang akan mengurus semuanya." sela Andra.


Diana menatap Andra tidak suka, setelahnya kembali fokus pada tanaman di depannya.


Divo yang baru pertama melihat bos sekaligus sahabatnya itu tidak di perduli kan wanita lalu tertawa terbahak sambil berlalu menuju mobil.


Setelah kepergian Divo, Andra tidak lantas mengganggu Diana. Pria itu hanya duduk di kursi yang ada di depan teras sambil menatap punggung Diana yang bergerak kesana kemari menata bunga yang ia tanam.


.


.