
Malam ini hawa dingin benar-benar terasa menusuk ke dalam tulang. Angin malam berhembus kencang mengiringi gemuruh di langin yang saling bersautan. Entah Kenapa malam ini begitu berbeda, mungkin karena hati yang sedang patah dan pikiran yang begitu kacau.
Diana berjalan menyusuri jalan dengan wajah tertunduk. Diana terus berjalan tanpa memperdulikan apapun, bahkan petir mulai terdengar saling bersautan Diana tetap pada pikirannya sendiri.
Sampai tetes hujan mulai terasa di kulit Diana. rintik hujan semakin lama semakin deras. Diana tidak perduli, ia ingin membasuh semua luka yang ada di hatinya dengan air hujan.
Sesekali Diana memukul dadanya yang terasa sesak, rasanya Diana sudah tidak tahan lagi. Air mata yang ia tahan sejak tadi pun akhirnya tumpah membasahi wajah Diana, bercampur dengan air hujan yang sudah sejak tadi membasahi wajahnya.
"Aaaaaaaa." Diana berteriak sekencang mungkin, mengabaikan siapapun yang mungkin melihatnya.
Diana tidak perduli dengan apapun, ia hanya ingin menumpahkan semua rasa sakitnya hingga tidak tersisa. Diana yang begitu tersakiti memilih untuk menghilang.
"hiks, Diana rindu Ayah."
_-_-_-_-_
Entah apa yang terjadi, tetapi Diana sudah memutuskan, dan disini lah Diana sekarang. Di tempat dimana tidak ada orang yang akan menganggu nya, tidak ada satupun yang tau tempat ini. Tempat yang memiliki begitu banyak kenangan dalam hidup Diana.
Sebelum melangkah masuk Diana mencoba untuk mengambil nafas yang banyak dan membuangnya perlahan.
Tangan kecil yang dulu biasa mendorong Pintu kini lihat lah, ukurannya sudah sangat berubah. Pelan tapi pasti tangan itu kembali membuka pintu yang sudah cukup lama tidak pernah ia buka.
Dada Diana semakin sesak melihat ruangan yang dulu ia jadikan tempat bermain. Senyum di sertai air mata terlihat begitu rapuh.
Diana meraba, menelusuri setiap sudut rumah dengan langkah besar. Sekelebat bayangan indah saat bersama Ayahnya terlintas di pikiran Diana. Mata Diana tidak henti-hentinya melihat setiap inci ruangan yang sudah cukup lama ia tinggalkan.
"Yah, Diana pulang." ucap Diana dengan suara bergetar.
Perlahan Diana menaiki anak tangga naik ke lantai dua. Di atas adalah kamar Diana yang di khususkan untuk nya saat Diana masih kecil. Itu karena Diana yang sangat suka naik turun tangga, dan terkadang merengek saat Roy melarangnya karena takut Diana akan jatuh.
Sampai di lantai atas Diana terduduk di ujung anak tangga, bahunya terlihat bergetar. Diana menangis. Hatinya benar-benar sakit.
"Diana rindu Ayah, Hiks."
Cukup lama Diana menangis disana. Ia mengusap air matanya lalu menghela nafas sebelum akhirnya Diana masuk ke kamarnya.
Diana melihat tidak ada yang berubah dalam kamar itu. Masih sama seperti terakhir Diana meninggalkan rumah. Meski memang terlihat kotor karena mungkin tidak terurus cukup lama.
Diana memutar matanya kesana kemari, menelusuri letak barang yang ada di kamar itu. Diana berjalan mendekati lemari pakaian yang sudah terlihat usang. Perlahan Diana membuka lemari itu. Ada beberapa pakaian masa kecilnya, dan juga pakaian yang di tinggalkan oleh Ibu Diana.
Karena pakaian yang Diana kenakan basah, ia memutuska mengambil salah satu pakaian Ibunya dan mengganti pakaiannya dengan itu.
Setelah Diana mengganti pakaiannya, ia lalu berkutan dengan pekerjaan lain, yaitu membersihkan kamar itu agar bisa Diana tempati dengan nyaman.
_-_-_-_-_
Sementara di tempat lain, Kanaya sedang duduk menunggu Mamanya bangun. Sambil Sesekali Kanaya mencoba menghubungin Diana, tapi sayang nya ponsel Diana tidak aktif. Perasaan Kanaya kali ini benar-benar dobel Khawatir.
Sampai akhirnya Kanaya memutuskan untuk menghubungi Kirana.
"halo Kay, ada apa?" suara kirana yang serak khas orang bangun tidur
" Sory Ki, gue ganggu lo tidur." Kanaya cepat
"Iya gak apa-apa Nay, lagian gue sebenarnya udah bangun, cuma males aja bangun dari tempat tidur. Omong- omong lo ada apa Nelpun gue?" Kirana
"Gini Ki, gue mau nanya, Diana ada ngubungin lo gak, soalnya gue telpon dari tadi malam gak aktif ponselnya. Gue hawatir banget sama Diana Ki."
"Emang ada apa Kay, bukannya semalam lo baru nganterin dia pulang. Masih tidur Kali." ujar Kirana
"Nyokap lo, terus Tante sandra kenapa?"
"Gak apa-apa kok, udah di tanganin dokter juga. Ki, kalau lo di kabarin Diana lo langsung kasi tau gue ya."
"Ehh, iya Diana. Emang kenapa sih Kay? katanya Diana ikut lo ke rumah sakit, nah kenapa lo jadi khawatir gitu?"
Kanaya menghela nafas berat, sebelum Akhirnya Kanaya menceritakan kejadian yang terjadi tadi malam.
"Hah, seriusan Nay? wah kakak lo keterlaluan Banget sih Nay. Diana pasti sakit hati banget tuh. Gue jadi sedih mikirin Diana, gimana ya dia sekarang."
"Itu juga yang gue pikirin Ki."
"Ya udah Nay, entar gue coba cari Diana di rumahnya. Gue mau siap-siap dulu deh." ujar Kirana.
Kanaya mengiyakan lalu memutuskan panggilan telpon itu. Saat Kanaya berbalik ternyata mamanya sudah bangun.
"Nay, ada apa? kenapa dengan Diana?" tanya Sandra.
Sandra sempat mendengar percakapan putrinya dengan Kirana.
"Mm, gak apa-apa kok Ma, Diana cuma susah di hubungin aja. Kanaya jadi khawatir, soalnya kemarin malam Diana pulang sendiri dari sini." jawab Kanaya
"Kok pulang sendiri, kenapa di biarin Nay. Kenapa gak kamu suruh kakak kamu aja." ujar Sandra
"Mm, itu mah."
"Kenapa Naya, bilang sama Mama. Apa ada masalah?" tanya Sandra dengan tatapan curiga
"Begini mah."
Kanaya menceritakan apa yang sudab terjadi tadi malam hingga membuat Diana pergi dari rumah sakit sendiri.
"Mama tau, Diana itu anak yatim piatu, dia gk punya siapa-siapa mah. Kanaya tau bagaiaman Diana harus menghidupi dirinya sendiri. Dan Diana juga temenan sama kanaya bukan Karena kanaya kaya. Diana itu orangnya tulus." ujar kanaya sambil menangis di pangkuan Sandra.
"Kanaya takut terjadi sesuatu sama Diana Ma, gimana kalai dia di culik orang. Kalau dia di mutilasi terus organnya di juak gimana."
"Hus, kamu itu. Berpikir yang baik-baik aja dong sayang. Jangan berpikir buruk kayak gitu."
"Masalah Kakak kamu, kamu gak usah khawatir sayang, biar nanti Mama yang marain dia."
"Iya ma, tapi Mama jangan bilang ke Abang kalau naya yang cerita."
"Iya sayang, kamu gak usah takut. Sekarang kamu pulang, bersihkan badan kamu."
" Tapi Mama?"
"Gak usah mikirin Mama, mama udah mendingan kok. Sebentar juga kakak kamu datang. Jadi kamu pulang aja dulu."
Kanaya mengangguk, ia lalu memutuskan untuk pulang, membersihkan badannya yang terasa begitu gerah dan lengket. Karena sejak semalam Kanaya belum mengganti pakaiannya.
.
.
.