
Diana menghela nafas saat ia melihat papan besar di hadapannya yang bertuliskan Pemakaman Umum Desa Bukit, tempatnya tidak jauh dengan desa Sunyi, hanya beberapa km saja. Dada Diana terasa sesak, entah kenapa hatinya bergemuruh. Rasa rindunya kepada ayah dan Ibunya sangat besar, mata Diana memanas seiring langkah nya yang terasa sangat berat. Dari jarak lima meter Diana bisa melihat nisan yang bertuliskan nama orang tuanya.
Tepat di hadapannya dua makan orang tuanya berada. Diana berdiri dan terlihat sangat rapuh. Diana tidak pernah terlihat begitu menyedihkan seperti saat ini, ia begitu merindukan orang tuanya.
"A-yah. I-Ibu. Diana datang." ucap Diana dengan bibir bergetar. Dadanya semakin sesak saat memanggil dua nama yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Bagai-mana ka-bar kalian?" Diana menjeda ucapannya seiring air mata yang mulai mengalir." Maafkan Diana Yah, Diana tidak mengunjungi Ayah dan Ibu cukup lama. Hiks." ucap Diana sambil menangis di depan batu nisan ayah dan ibunya.
Gadis yang terlihat begitu rapuh itu kini bersimpuh tanpa memikirkan pakaiannya yang mungkin akan kotor terkena tanah kuburan. Kepalanya tertunduk dalam, meresapi semua yang sudah ia lewati.
Tubuh Diana terlihat bergetar, rasa sesak menyeruak semakin dalam. Tangan gadis yang biasanya kuat kini terlihat begitu rapuh, terkepal tanpa tenaga, Diana sudah sangat lama menyimpan kesedihan hidupnya sendiri. Dan saat ini Diana akan mengeluarkan semuanya di hadapan orang tuanya, meski mereka tidak melihatnya secara langsung.
Diana menarik nafas dalam lalu membuangnya pelan.
"A-yah tau, Diana sekarang sudah berumur 21 Tahun. hiks, Banyak hal yang Diana lalui sendiri tanpa kalian, Diana menjadi wanita yang kuat seperti yang Ayah mau. Meski berat, tetapi Diana tidak pernah menyerah, Diana ingin seperti Ayah dan Ibu. Diana ingin seperti kalian yang bisa melalui semua sekuat tenaga meski banyak rintangan. Ayah Lihat kan yah,Putri Ayah ini sudah besar kan, hiks." sesekali Diana membersihkan makam Ayah dan ibunya sambil menyeka air mata yang mengalir tanpa henti.
"Ayah, Ibu. Kalian tau kenapa Diana menemui kalian. Diana ingin meminta Izin kalian untuk meneruskan hidup Diana ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin kalian sudah tau jika ada seorang pria yang melamar Diana, dan Diana menerimanya."
Diana menatap langit, mengingat sosok Andra yang hadir di hidupnya secara mendadak.
"Pria itu sangat konyol Ayah, Ibu. Diana tidak mengerti kenapa Diana menerimanya, tetapi selama Diana mengenalnya, dia pria yang baik. Meski terkadang dia membuat Diana kesal. Keluarganya juga sangat baik, dan adik pria itu adalah sahabat Diana, namanya Kanaya. Kapan-kapan Diana akan membawanya kesini dan akan mengenalkannya kepada kalian."
Diana mengusap sisa air matanya yang sudah mengering. Gadis itu sekarang terlihat lebih tegar
" Ayah, Ibu. Diana akan ke rumah kita yang dulu, Diana akan mengambil beberapa barang untuk di bawa ke rumah kakek. Doakan Diana dari surga dan berikan restu kalian." Diana mencium pusaran Ayah dan Ibunya dan berpamitan.
"Diana pamit pulang Ayah, Ibu. Maaf jika Diana hanya bisa membawakan kalian Bunga." Diana meletakan dua bunga yang ia beli sebelum ke makam.
_-_-_-_-_-_
Diana berjalan lemas menuju rumahnya, entah kenapa tidak ada ojek satupun menuju rumahnya hari ini. Terpaksa lah Diana berjalan kaki dari perbatasan Desa.
Diana mengerutkan dahinya saat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Saat mulai mendekat,Diana melihat Andra duduk dengan wajah yang sulit di artikan.
Sementara itu Andra yang melihat Diana tidak jauh dari pagar rumah segera menghampiri calon istrinya itu.
"Jelaskan darimana saja kamu?" tanya Andra dengan nada cukup tegas.
"Boleh aku masuk dulu, aku sangat lelah." ujar Diana dengan nafas ngap.
Diana mengambil kunci rumahnya lalu membuka pintu rumah. Setelah masuk ke dalam Diana langsung menghempas tubuhnya di sofa.
"Hahh, aku lelah." ujar Diana.
Andra duduk di depan Diana, memperhatikan gadis di depannya yang terlihat begitu lelah. Dengan tidak sabar Andra kembali bertanyabertanya
"Sebenarnya kau itu darimana? kenapa terlihat lelah begitu?" tanya Andra menatap Diana tajam
Diana membuka matanya, membalas tatapan Andra untuknya.
"Hahh. Aku dari makam Ayah dan Ibu." jawab Diana
"Kenapa tidak memberitahu dulu?"
" Sudah lama aku tidak berkunjung, jadi aku ingin membicarakan banyak hal dengan mereka. Lagi pula untuk apa aku mengajakmu!" ujar Diana
" Kau bilang untuk apa! aku ini calon suami mu, tentu saja aku punya hak untuk tau makam calon mertuaku. Lagi pula aku butuh izin mereka juga untuk menikah denganmu kan." ujar Andra
Diana menghela nafasnya lagi, dia tidak menyangka jika pria di depannya ini akan sangat menyebalkan. Diana mengira seorang CEO itu akan selalu identik dengan wajah angkuh, sombong dan dingin. Dan apa ini? calon suaminya bahkan sangat jauh dari tiga kriteria itu.
"Lain kali akan aku ajak kesana." ucap Diana.
"Aku akan mengambil beberapa barang untuk di bawa. Bisakah malam ini kita menginap disini? atau kau bisa kembali lebih dulu."
"Tidak perlu, aku akan menunggu. Kita kembali bersama saja." ujar Andra.
Diana mengangguk, ia malas harus berdebat dengan Andra. Karena saat ini Diana ingin fokus dengan tujuannya. Memikirkan kembali keputusannya meski sebenarnya ini sudah final.
.
.