
Bab 48
"Itu...sebenarnya sewaktu kecil setiap kali aku bertemu dengan Ria dia selalu mengambil barang-barang yang aku miliki sambil berkata itu miliknya karena kalau dia minta pasti mama akan kasih. Juga mengatakan papa dan mama tidak sayang padaku karena selalu meninggalkanku di rumah kakek" jelas Leana dengan nada ragu-ragu.
Mimi, David, Alex, Luke dan Elise yang mendengar perkataan Leana menjadi sangat marah. Yang lainnya juga marah tapi karena tidak tahu masalah dengan mendetail mereka hanya bisa diam dan mendengar cerita keseluruhan.
"Ria mengambil barangmu dari kecil? Kenapa tidak mengatakan kepada mama? Dan juga dia berkata seperti itu kepadamu kenapa kamu tidak bilang apa-apa sama mama? Atau Leana kamu juga berpikir begitu mama dan papa tidak sayang padamu?" Tanya Mimi dengan emosi.
"Aku tidak bilang karena menurutku itu tidak penting karena barang yang dia ambil aku punya banyak dan aku juga bisa minta beli lagi sama papa, sedangkan yang dia katakan aku juga tidak percaya kok karena aku tahu papa sama mama bekerja keras agar bisa membuatku bahagia. Mama dan papa bekerja agar bisa membiayai sekolahku juga untuk berbakti sama kakek" jawab Leana dengan nada tegas.
Keluarga yang mendengarnya juga merasa terharu karena Leana yang masih kecil bisa berpikir seperti itu merupakan hal yang tidak mudah. Tapi keluarga juga tahu Leana sewaktu kecil emosinya memang jauh lebih stabil dibandingkan anak-anak lainnya.
Di saat anak-anak lain cuma tahu bermain Leana sendiri berinisiatif untuk membantu orang tuanya serta kakek neneknya.
Leana tahu orang tuanya sibuk dan tidak bisa merawatnya setiap waktu jadi dia selalu belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya sendiri.
Dia melakukan semuanya sendiri agar tidak mengganggu orang tuanya. Karena Leana tidak mau merepotkan orang tuanya yang telah capek dan lelah bekerja seharian di luar.
Mimi yang mendengar jawaban Leana juga merasa terharu tetapi bercampur dengan kesedihan karena putrinya mengalami ini tapi tidak mengatakan padanya.
Semua ini bisa terjadi karena dia telah sibuk bekerja dan tidak memperhatikan anaknya. Sebagai ibu dia telah lalai karena dia hanya tahu memberikan uang jajan tapi tidak dengan perhatiannya. Mimi merasa dirinya gagal sebagai seorang ibu.
Leana yang melihat ibunya diam dan menundukkan kepala membuat Leana khawatir ibunya akan menyalahkan dirinya sendiri.
Leana memeluk ibunya lalu berkata, "Ma...bagiku mama adalah mama terbaik sedunia. Meskipun mama tidak selalu menemaniku karena sibuk bekerja tapi aku tahu mama sangat menyayangiku dan juga mencintaiku. Aku juga bangga dengan pekerjaan mama yang selalu merawat orang sakit. Aku tidak pernah menyalahkan mama ataupun papa karena selalu sibuk bekerja dan tidak menemaniku. Karena aku tahu pekerjaan kalian sangat mulia."
David dan Mimi yang mendengarnya juga terharu sampai meneteskan air mata. Karena bagi mereka kata-kata Leana merupakan penghargaan tertinggi yang pernah mereka dapat atas profesi yang pernah mereka tekuni.
"Meskipun begitu mama seharusnya lebih memperhatikan dirimu nak..." ujar Mimi dengan nada sedih.
"Siapa bilang mama tidak memperhatikanku? Mama lupa sewaktu aku berumur 7 tahun aku tidak sengaja terluka waktu olahraga. Kakiku patah dan harus di gips selama seminggu. Mama minta cuti agar bisa merawatku di rumahkan. Selama waktu itu mama juga selalu menggendongku kemana-mana tidak izinkan aku berjalan sendiri karena takut aku terluka lagi. Mama juga yang memasak dan memandikanku. Aku masih ingat ini semua." Hibur Leana agar mamanya tidak merasa sedih lagi.
Alex yang mendengar istrinya pernah mengalami patah tulang kaki menjadi terkejut lalu Alex diam-diam memperhatikan kaki Leana.
Sedangkan Mimi yang berhasil dihibur oleh Leana menjadi tersenyum lalu berkata pada anaknya "kamu masih ingat waktu itu? mama pikir kamu tidak akan mau ingat lagi karena pada saat itu pertama kalinya kamu sangat kesakitan dan juga di kurung dalam rumah. Mama ingat kamu juga pernah berkata mau melupakannya karena tidak mau ingat rasa sakit yang pertama kali kamu rasakan."
"Iya, awalnya aku berkata seperti itu karena sangat kesakitan dan tidak boleh kemana-mana. Tapi pada saat dirawat oleh mama aku berubah pikiran karena bagiku itu adalah momen paling bahagia dalam hidupku karena ditemani oleh mama 24 jam selama seminggu." Leana menjawab dengan nada manja.
Mimi yang mendengarnya merasa tersentuh lalu dia mengelus rambut putrinya dengan kasih sayang sama seperti yang dilakukannya sewaktu putrinya patah tulang dan di rawat oleh dirinya sendiri.
Leana yang merasa ibunya sudah tidak menyalahkan diri sendiri. Juga merasa tenang kembali karena Leana tidak suka orang tuanya menjadi sedih karena dirinya. Leana ingin orang tuanya selalu merasa bahagia.
Meski Mimi sudah tidak menyalahkan dirinya tapi dia tetap mengingatkan putrinya, "Leana kedepannya kalau menemui masalah seperti ini kamu harus mengatakan pada keluarga mengerti!"
"Baiklah aku mengerti jadi sekarang kita lupakan saja kenangan yang tidak mengenakkan ini."
"Sebentar lagi sudah jam makan siang kalian mau makan apa?" Tanya kakek yang merupakan juru masak dalam keluarga.
"Terserah kakek saja" jawab Leana karena baginya semua yang di masak oleh kakeknya selalu enak.
Alex lalu melihat ke arah jalan di luar jendela yang di mana-mana ada zombie. Alex juga ingin mengejar agar bisa cepat sampai di hutan sehingga dia memutuskan untuk tetap lanjut jalan saja tidak berhenti.
"Kakek kalau mobilnya tetap berjalan apakah kakek akan kesulitan untuk masak?" Tanya Alex pada kakeknya.
Tapi sebelum kakek menjawab Leana duluan berbicara, "sebaiknya kakek tidak masak kita makan saja makanan yang telah kakek masak sebelumnya."
Keluarga yang mendengarnya juga tidak merasa keberatan karena memang dalam kondisi mobil berjalan akan sangat menyusahkan kalau harus memasak.
Karena keluarga juga setuju Leana lalu siap-siap untuk mengeluarkan makanan tapi sebelumnya dia bertanya dulu keluarga ingin makan apa.
"Aku mau makan steak barbeque dengan nasi" ucap Gery langsung.
"Nenek mau makan nasi dengan sup rumput laut" ujar Elise.
"Kakek mau makan nasi dengan soto ayam" ucap Luke.
"Yang lainnya bagaimana? Kalian mau makan apa?" Tanya Leana kembali.
Semua saling memandang lalu David menjawab, "keluarkan saja apa yang kamu punya! Kami akan makan apapun yang kamu keluarkan. Kami tidak pilih-pilih makanan."
Karena mendengar ayahnya berkata seperti itu, pertama-tama Leana mengeluarkan makanan yang di inginkan oleh Gery serta kakek dan neneknya.
Setelahnya Leana mengeluarkan satu baskom nasi putih, satu mangkuk sup telur, satu piring udang masak sambal, satu piring ayam goreng mentega.
Leana juga mengeluarkan alat makan untuk masing-masing orang juga air minum.
Tidak lupa juga Leana menyiapkan 2 mangkuk untuk tempat makan dan minum anak anjingnya yang ibunya beri nama White.
Melihat makanan enak yang di keluarkan oleh Leana membuat Joe, Tee, Top dan Hyu langsung merasa kelaparan dan ingin secepatnya untuk makan. Tapi mereka harus menunggu karena ibunya Leana sedang menyiapkan makanan untuk White.
Setelah Mimi kembali dia langsung meletakkan makanan di depan White lalu dia kembali duduk di sofa. Segera mereka semua mulai makan.
Pada saat orang Joe makan mereka merasa makanannya masih panas. Ini membuat mereka terkejut dan tanpa sadar langsung melihat ke arah Alex.
Alex yang merasa orang Joe melihatnya langsung balas menatap mereka. Lalu Alex bertanya kepada Joe, "ada apa? Kenapa menatapku?"
Joe yang ditanya oleh Alex juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan Alex tanpa ada salah paham. Di tengah kebingungan Joe akhirnya Top yang penasaran tidak bisa menahan diri lagi bertanya kepada Alex secara langsung.
"Kak...bagaimana makanan ini masih bisa tetap panas?" Alex yang tahu alasan orang Joe menatapnya langsung menjawab pertanyaan Top, "karena ruang Leana sangat unik. Ruang Leana tidak terbatas, juga memiliki fungsi menjaga kesegaran makanan, juga bisa menampung makhluk hidup tetapi ini terbatas terhadap hewan saja."
Joe, Tee, Top dan Hyu yang mendengar penjelasan Alex langsung merasa khawatir. Karena dengan sifat ruang kakak ipar ini hanya akan membuat orang-orang menjadi serakah. Keamanan kakak ipar untuk ke depannya bisa sangat terancam.
Oleh karena itu mereka membuat keputusan untuk melindungi kakak iparnya dengan sebaik mungkin apapun yang terjadi mereka harus mendahulukan keselamatan Kak Alex dan Kakak ipar itu tekad mereka.
"Kak Alex jangan khawatir kami berjanji akan menyimpan rahasia kakak ipar seumur hidup kami. Juga, kami berjanji akan selalu menjaga keamanan kakak ipar bersama dengan Kak Alex." Ucap Joe dengan tegas.