
Sejak kemaren Naser, Ibi, dan Hendri tidak bisa tidur karena mereka belum menemukan tanda-tanda keberadaanya. Ibi merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga Zara. Sekarang mereka lagi berada di markas The Blue Diamond untuk meminta tolong kepada mereka.
"Om Lucas, apakah sudah menemukan tanda-tanda keberadaan Zara?" Tanya Naser dengan gurat penuh kekhawatiran.
"Belum sama sekali, para anggota kita juga semua berusaha melacak keberadaanya, tapi sampai sekarang belum menemukan apapun." Jawab Lucas dengan frustasi.
"Baru kali ini kami tidak bisa menemukan keberadaan seseorang." Ucap Lucas lagi.
"Apa om tidak ingat punya musuh lain? sebenarnya siapa orang ini, dia bermain dengan sangat bersih dan sangat cepat." Ucap Hendri lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Sepertinya mereka bukan mafia, hanya saja tuan mereka yang sangat pintar." Ucap Ibi ber argumen.
"Kenapa kau bilang begitu?" Tanya Naser heran.
"Iya, coba kau pikir mafia seperti seperti apa yang sepintar mereka kecuali mafia terkuat no 1 didunia itu, sedangkan om Lucas dan mafia terkuat itu tidak bermusuhan." Ucap Ibi dan mereka mulai berfikir.
"Hm iya juga, buat apa mereka menculik Zara, apa untungnya bagi mereka." Ucap Hendri menimpali.
"Coba kita ke lokasi terakhir kali Zara hilang, manatau kita menemukan sesuatu untuk petunjuk." Ucap Naser.
"Yaudah, Zara terakhir kali hilang di toilet lantai dasar, ayo kita kesana." Ajak Ibi lalu mereka mengangguk.
"Yaudah kalian selidiki daerah situ, mana tau kalian menemukan sesuatu." Ucap Lucas.
Naser dkk mengangguk lalu mengambil kunci mobil masing-masing, mereka melajukan kendaraan mereka untuk sampai kesekolah. Kebetulan hari ini adalah tanggal merah, murid-murid tidak ada yg kesekolah.
...🔫🔫🔫...
"Kau berhasil menangkap anak itu?" Ucap seorang pria tua kepada seorang wanita.
"Iya, dan dia sangat imut sekali Ayah, aku tidak bisa menahan senyumku ketika melihatnya." Ucap wanita itu ketika sudah duduk di sofa.
"Benarkah? Ayah jadi ingin melihatnya, kau tidak menyakitinya kan? jangan sakiti anak itu, kita hanya ingin memastikan sesuatu." Ucap pria tua itu mengingatkan.
"Bagaimana aku bisa menyakiti anak se-imut itu. Dan ya, dia sangat keras kepala." Ucap Wanita itu.
"Ayo, Ayah ingin melihat anak keras kepala itu. Dia belum bangun kan?" Tanyanya.
"Ayo"
Mereka berdua menuju ke ruangan seorang gadis kecil yang mereka bicarakan tadi, sesampai disana para bodyguard yang menjaga didepan pintu kamar langsung membukakan pintu kamar. terlihatlah seorang gadis kecil yang tertidur lelap dengan tangan kanannya yang di borgol.
Zara, ya anak yang sedari tadi mereka bicarakan adalah Zara. Gadis kecil yang sangat imut dan menggemaskan itu tapi sikapnya dingin, setiap orang tidak akan bisa menolak pesona seorang Zara Ray.
"Wah anak ini benar-benar seperti bayi." ucap pria tua itu.
"Ya, sangat menggemaskan. Tapi kalau dia sudah bangun, beda lagi ceritanya." Ucap wanita itu sambil merengut.
Dia mengingat bagaimana dingin dan datarnya sikap Zara sekaligus imut dan menggemaskan secara bersamaan, dan juga sangat keras kepala itu membuatnya kesal.
"Haha, yasuda kita keluar, pasti sebentar lagi dia akan bangun." Pria tua itu menarik tangan wanita itu agar keluar dari ruangan.
"Kalian semua, jaga anak ini jangan sampai dia kabur dari mansion ini, jika dia kabur kalian semua dapat hukuman." Ucap Wanita itu sambil menatap tajam bodyguardnya.
"Siap nyonya!"
"Bagus" Ucap wanita itu lalu pergi menjauh dari ruangan itu.
Di belahan bumi lainnya.
Prankk
"Sialan, sebenarnya siapa orang yang sudah mendahului ku itu, padahal aku sudah menyusun rencanaku sangat matang, cepat sekali mereka." Ucap seorang pria yang melempar gelas yang tadi dipegangnya hingga pecah.
"Coba lacak orang ini, kenapa dia sangat cerdik, siapa sebenarnya dia." Perintahnya kepada anak buahnya.
"Baik bos."
"Argghh, bisa gila memikirkannya." Ucap pria itu lalu meneguk lagi alkohol.
...🔫🔫🔫...
"Gimana we? nemu sesuatu gk?" Tanya Ibi kepada 2 temannya.
Sudah sejam mereka berusaha menemukan satu petunjuk, tapi sampai sekarang mereka belum menemukan apa-apa.
Tiba-tiba Hendri melihat sesuatu yang berkilau karena terkena cahaya matahari, benda itu seperti sebuah lencana.
"We lihat ini!" Ucap Hendri sedikit berteriak.
"Ada apa Hen?"
"Lihat ini, bukankah ini seperti lencana?" Ucap Hendri menunjukkan sesuatu.
"Ini seperti tidak asing, tapi apa ya, apa orang-orang yang menculik Zara ada kaitannya dengan ini?" Ucap Naser.
Pasalnya lencana itu ada ukiran harimau yang seperti lagi menerkam, dan ditengah-tengahnya ada inisial NA.
"Aku juga nemu ini we." Ucap Ibi sambil menunjukkan seperti berbentuk suntikan, dan ada jarum.
"Ini seperti peluru untuk membius orang kan? apa Zara mudah dibawa karna ini?" Tanya Naser memastikan.
"Iya pasti, kalau tidak mana mungkin dia secepat itu menghilang, bahkan belum sampai 5 menit Zara meninggalkan kantin hari itu." Ucap Ibi menerawang insiden yang terjadi semalam.
"Dah yuk cabut."
Lalu mereka semua meninggalkan sekolah, waktu juga menunjukkan sudah hampir memasuki waktu Zhuhur.
Dilain tempat.
"Ugghh"
"Aish ini dimana lagi?" Ucap Zara sambil memegang kepalanya, pasalnya semalam dia tidak di tempatkan di kamar ini, dan kamar ini lebih besar dari kamar yang semalam dia tempati.
"Uh, sebenarnya siapa orang gila itu." Ucap Zara kesal, dan kepalanya masih terasa sakit.
Ceklek.
"Siapa yang kau sebut orang gila anak kecil." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba masuk kekamar yang Zara tempati dengan menggunakan topeng setengah wajah lagi.
"Kau lah, siapa lagi." Ucap Zara datar.
Orang itu terkekeh kecil "Aku tidak gila anak kecil, dan kenapa kau sangat menggemaskan seperti ini" Ucap wanita itu sambil mencubit pipi Zara.
"Gausah pegang-pegang." Ucap Zara dingin
"Dan ya aku bukan anak kecil." Sambung Zara lagi.
"Umurmu masih 12 tahun, ya masih kecil lah, badanmu aja sekecil ini, dan apa ini wajahmu seperti seorang bayi yang sangat imut." Ucap orang itu.
"Sebenarnya apa maumu?" Tanya Zara yang modnya sudah memburuk.
"Sebenarnya tujuanku sudah tercapai, tapi saya belum mau melepaskanmu." Ucap orang itu santai.
"Biarkan saya pergi" Ucap Zara.
"Nanti saya akan memulangkanmu, tenang saja dan sekarang kamu makan dulu." Ucap orang itu meletakkan piring berisi makanan kehadapan Zara.
"Gak mau, semalam saya langsung tertidur setelah memakan makanan pemberianmu." Ucap Zara sedikit berteriak.
"Makan!" Titahnya.
"Saya suapi lagi," Ucapnya sambil menyodorkan sendok berisi makanan kerah Zara.
"Enggak!" Ucap Zara bersikeras.
"Makan" Ucap orang itu mulai dingin.
"Mau saya tembak kamu?" Ucapnya mengancam.
"Tembak aja coba, saya gk peduli." Ucap Zara acuh.
Wanita itu mulai jengah, lalu bangkit dari duduknya. Dia bingung bagaimana caranya agar Zara yang keras kepala itu mau makan.
"Kalian semua masuk!" Titahnya kepada bodyguarnya yang ada di luar.
"Makan atau mereka yang saya tembak." Ucap wanita itu kembali mengancam Zara.
Zara mengernyitkan keningnya, apakah orang ini hanya mengancam agar Zara menurut padanya.
"Coba saja." Ucap Zara.
"Oh kau menantangku?" Ucap wanita itu sambil tersenyum miring.
DOORR
Satu peluru berhasil ditembakkanya dan itu langsung mengenaik kepala salah satu bodyguard itu, dan langsung mati ditempat.
Zara membulatkan matanya karena kaget, tidak menyangka wanita yang dihadapannya ini benar-benar melakukannya.
Wanita itu mengangkat pistolnya lagi dan mengarahkannya kepada yang lain, dan itu sukses membuat Zara takut.
"CUKUP! CUKUP! A-aku akan makan, j-jangan lagi…" Ucap Zara yang sudah ketakutan dan berucap lirih diakhir kalimatnya.
"Bagus, kalau daritadi begini, tidak akan ada korban." Ucalnya sambil mengelus rambut Zara.
Mau tak mau Zara menghabiskan makanan itu sebelum ada korban jiwa lagi, Zara juga manusia, dia punya rasa kemanusiaan, Zara tidak bisa melihat orang lain terluka karenanya.
Saat ini Zara merasa sangat bersalah kepada bodyguard tadi, karenanya dia jadi kehilangan nyawa.
"Kau jahat! hiks kenapa kau membunuhnya, kalau mau bunuh saja aku jangan orang lain hiks." Zara menangis.
"Mangkanya menurut, jika tidak mau ada korban jiwa." Ucap wanita itu enteng.
"Hiks Sebenarnya apa hiks salahku? apa maumu? kenapa kau hiks menculikku dan membawaku kesini…" Ucap Zara sudah nangis tersedu-sedu.
Biar bagaimanapun Zara masihlah anak-anak yang polos, walaupun dia dingin tapi disaat-saat tertentu dia mengeluarkan sifat anak-anaknya.
Wanita itu hanya diam, dia merasa bersalah karena membuat Zara menangis seperti ini.
//////////////////////////////////////////////
...TBC....