
Ugghh
"Aww kepalaku sakit sekali" Zara meringgis karena kepalanya merasa pusing sekali ketika bangun, ia ingin memegang kepalanya yang sakit tapi tangan kananya tidak bisa digerakkan.
"Apa apaan ini, kenapa tangan aku diborgol" Zara menoleh kesamping ternyata tangannya terborgol yang menyambung dengan kepala ranjang, Zara membulatkan matanya.
"I-ini dimana?" Zara lalu sadar dia berada di kamar yang luas dengan interior yang mewah, sepertinya dia berada di rumah orang kaya.
Zara lalu ingat kejadian beberapa jam yang lalu, dia dihadang orang 10 orang berbaju hitam, ketika hendak melawannya dia seketika tidak sadar karena sesuatu menancap dilehernya.
Flashback on
Setelah Ibi pergi meninggalkan mereka, Zara merasa ingin buang air kecil, lalu dia ijin ke temennya untuk ke toilet sebentar.
"We aku ke toilet bentar ya, bilang sama Ibi kalau dia udah balik." Ucap Zara lalu meninggalkan kantin.
"Iya Ra" Ucap teman-temannya.
Zara pergi menuju toilet, Zara merasa seperti ada yang mengintainya sedari tadi tapi dihiraukannya. Setelah sampai toilet yang kebetulan sepi Zara memasuki bilik yang kosong.
Setelah selesai buang air kecil Zara ke wastafel untuk mencuci tangannya lalu setelah selesai dia keluar dari toilet, tetapi langkahnya terhenti karena ada 10 orang berbaju serba hitam menghadangnya.
Zara mengedarkan pandangannya tetapi tidak ada orang lain di sana, Zara mulai merasa was-was dan ketika dia hendak melawan tiba-tiba lehernya merasa sakit karena tertancap sesuatu.
Setelah itu pandanganya langsung mengabur, dan di sisa-sisa kesadarannya Zara merasa tubuhnya terangkat dan dia mendengar bisikan "Cepat bawa anak ini, jika tidak kita akan dimarahin nyonya nantinya dan bisa-bisa kepala kita taruhannya." Begitulah kira-kira yang Zara dengar.
Setelah itu Zara tidak sadarkan diri.
Flashback off
"Sial bagaimana ini, pasti mereka cemas karena aku hilang" Ucap Zara cemas.
"Bisa-bisanya semudah itu aku pingsan, dan apatadi? Nyonya? bukankah yang mengincar kami itu laki-laki?" Zara berpikir sejenak merasa bingung.
"Sebenarnya dia siapa? apa musuh om Lucas yang lainnya? Hah itu membuatku bingung saja" Zara mendesah kesal dengan kejadian yang menimpannya.
"Jam dan hpku pun tidak ada, apa penculik-penculik itu sudah tau disana ada alat pelacak ya…" Lirih Zara menatap miris keadannya sekarang, bagaimana temannya bisa menemukannya kalau begini.
Ceklek.
Zara kaget karena tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar itu, dan muncullah seorang wanita paruh baya yang memakai topeng setengah wajah menghampiri Zara dengan membawa nampan makanan.
"Halo anak kecil, sudah bangun dari tadi ya" Ucapnya lalu duduk disamping Zara, Zara menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
"Siapa anda?" Tanya Zara datar.
"Tidak perlu tau siapa saya, kalau kau mau pulang kerumahmu dengan selamat kau harus menuruti semua perkataan saya" Ucapnya enteng membuat Zara mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Zara heran.
"Sudah jangan banyak tanya, sekarang kamu makan ini, kan belum makan malam" Ucapnya menyodorkan piring berisi makanan.
"Gak" Ketus Zara.
"Kalau begitu sini saya suapin" Ucap wanita itu dan menyendokkan makanan menyodorkannya ke mulut Zara.
"Saya bilang enggak ya enggak" Ucap Zara bersikeras.
"Makan atau kamu tidak saya pulangkan kerumahmu" Ancam wanita itu.
"Gak mau, pasti ada racunnya" Ucap Zara sambil menggelengkan kepalanya.
"Keras kepala ya kamu." Ucap wanita itu geram lalu mengambil sesuatu dari laci meja nakasnya dan ternyata itu adalah pistol.
"Makan atau kamu saya tembak" Ucapnya sambil menodongkan pistol di hadapan Zara.
Zara menelan salivanya susah payah 'Gila ya nih orang, ini pertama kalinya aku takut sama seseorang' Batin Zara.
Mau tidak mau Zara menerima suapan dari tangan orang itu, dia adalah orang ketiga yang menyuapi Zara makan setelah Ibu dan Ayahnya. Sedikit demi sedikit makanan dipiring itu habis.
"Minum ini." Ucapnya dan Zara hanya mengangguk saja dan meminum air pemberian wanita itu tanpa pikir panjang.
Setelah meminum itu Zara seketika merasa mengantuk dan matanya sangat berat, sebelum dia menutup matanya dengan sempurna dia mendengar wanita itu berbicara "Tenanglah saya akan memulangkanmu dengan selamat" lalu dia merasa keningnya dicium setelah itu Zara tertidur.
"Kamu memang anak yang sangat imut." Sambungnya lagi sambil mengelus kepala Zara dan tersenyum.
Di tempat berbeda.
"Gimana Ser, udah dapat info tentang Zara." Tanya Hendri cemas.
"Ini salahku tadi yang meninggalkan Zara tadi, maaf om, buk" Ucap Ibi merasa bersalah.
Ya Naser dkk berada dirumah Zara karena menghilangnya Zara siang tadi disekolah, sampai saat ini mereka belum menemukan informasi apapun.
"Sudah jangan salahkan dirimu nak, mungkin memang lagi nahas, kita berdoa saja Zara bisa ditemukan" Ucap Ayah Zara meyakinkan dan Ibi hanya bisa menunduk lesu.
"Gimana bisa ngelacak Zara, jam tangan sama hpnya saja kita temukan di toilet tadi." Ucap Naser frustasi.
"Hack CCTV sekitar emang gak bisa? setidaknya kita mengetahui rute arah Zara dibawa pergi kemana" Ucap Hendri.
"Tadi aku udah tes ngehacknya, tapi detik-detik Zara hilang, semua CCTV mati akupun gatau kenapa." Ucap Naser dengan lesu.
"Pasti ini sudah direncanakan dengan matang oleh mereka." Ucap Ibi.
"Iya mereka sudah bisa memprediksinya, mereka tahu kalau hari ini kepala sekolah bakalan memanggil kita kekantornya dan mereka tinggal mengalihkan perhatian Ibi saja tadi." Ucap Hendri yang sudah menyadari rencana penculik itu.
Drrrt…drrt…drrt.
📱
^^^"Halo" Ucap Naser.^^^
"Kalian kehilangan teman kalian kan? benar kan yang saya bilang" Ucap si penelpon.
^^^"Kemana kau menyembunyikan Zara! Katakan!" Bentak Naser.^^^
"Woo santai nak, saya tidak menculik temanmu, tetapi orang lain yang meculiknya" Ucap penelpon.
^^^"Apa maksudmu?!" Tanya Naser.^^^
"Ya, orang lain sudah mendahului saya untuk menculik temanmu itu, dia sangat pintar hahaha, jadi carilah temanmu itu" Ucapnya sambil tertawa.
^^^"Ap-"^^^
Tuut…tuut.
"Sial" Ucap Naser hampir membanting hpnya kelantai.
"Ada apa Ser?" Tanya Ibi.
"Orang itu yg menelpon kita semalam, dan dia bilang Zara hilang bukan karena dia tapi orang lain." Ucap Naser lalu mengusap wajahnya kasar.
"Jadi kalau bukan dia, lalu siapa?" Tanya Hendri terkejut.
"Apakah mereka Red Tiger." Tebak Ibi.
"Tidak mungkin Red Tiger, Zara bukan orang selemah itu hingga kelompok pengecut itu mampu menangkapnya." Sela Naser.
"Lalu kalau bukan mereka lalu siapa?" Ucap Hendri mulai frustasi.
"Entahlah, yang pasti orang itu pasti bukan orang sembarangan." Ucap Naser lesu lalu dia duduk ke sofa dengan kaki yang sudah lemas.
///////////////////////////////////////////
...Hai hai aku update nih, maaf kalau lama karna aku writer'sblock kemaren, gak bisa memikirkan jalan cerita, mikir satu jam gk jugak ngetik. Like ya gan, Terima Kasih....