The Story of Zara Ray

The Story of Zara Ray
Mimpi Itu



Sekarang telah menunjukkan pukul 7 malam, Zara sedang makan malam bersama orang tuanya. Setelah makan Zara dan orang tuanya berkumpul di ruang keluarga.


"Ayah" Panggil Zara kepada Ayahnya.


"Iya ada apa nak" Jawab Ayahnya Zara.


"Aku semalem beli sekolah Yah, sekarang sekolah yang aku tempati itu, udah jadi punya Zara" Ucap Zara.


"Wah bernarkah? anak ayah ini memang hebat, udah jadi CEO sekarang jadi pemilik sekolah ya" Puji Ayahnya sambil mengusap-usap kepala Zara.


"Iyadong, siapa dulu" Zara memeluk ayahnya.


"Iyadong, siapa dulu anaknya Mahendra" Ucap Ayahnya Zara sambil ber tos dengan Zara.


"Oh ceritanya Mama gk dianggap nih" Ucap Ibunya Zara pura-pura cemberut.


"Nggak dong, mama tetap yang terbaik" Zara lalu memeluk Ibunya.


"Oh ya, Zara gimana sekolahnya, baik-baik aja kan gk ada masalah?" Tanya Ibunya Zara.


"Gk ada Ma, teman-teman Zara semuanya baik, bahkan sangat-sangat baik, tapi Zara kesel masa mereka manggil Zara Baby Za sih, kan Zara bukan bayi" Kesal Zara sambil cemberut menceritakan sekolahnya.


"Tapikan anak Ayah kan emang masih kayak bayi, lihat nih muka Zara gemesein tau, Ayah aja gemes banget" Ucap Ayahnya sambil mencubit kedua pipi Zara.


"Iyah anak Mama yg cantik emang masih kayak bayi loh, cocok lah dipanggil Baby" Ucap Ibunya Zara menambahkan.


"Ih Ayah sama aja, Zara gk suka dipanggil Baby" Sungut Zara


"Ih bibirnya jangan gitu, Ayah jadi tambah gemes kan jadinya" Ucap Ayahnya sambil mengacak-acak rambutnya Zara.


"Ayah jangan diacakin rambut Zara, kan jadi berantakan tuh" Ucap Zara semakin cemberut dan wajahnya semakin imut dan lucu.


"Hahahahaha"


Mereka sekeluarga bercanda di ruang keluarga, sambil tertawa bersama (Sungguh keluarga yang harmonis).


...🔫🔫🔫...


'Abang Zala puna mainan balu tadi dibeliin ama ayah, main ama Zala yuk bang, atu pengen main ama abang'


'Ayuk Baby abang juga pengen main, kita main ditaman aja ya, ajak abang yang lain juga ya biar rame'


'Yeeyy, ayuk bang ita maen ini, Zara udah gasabal'


Lalu kedua anak itu memanggil dua abangnya yang lain, lalu mereka pergi ketaman untuk bermain bersama.


Sepulang dari taman bermain, mereka ber-4 mendengar suara keributan dari dalam mansion. Mereka masuk kedalam dengan takut-takut dan melihat dua pria saling bertengkar.


'Aku gamau menikah lagi pa, aku sudah punya istri dan anak pa, papa gausah gila menyuruh aku menikah lagi'


'Tapi dari awal papa tidak menyetujui pernikaham kamu dengan perempuan itu, jadi sekarang kamu harus menikah dengan anak sahabat papa, papa tidak mau tau kamu harus menikah dengannya'


'Tapi bagaimana dengan istri aku pa, aku tidak mau menduakannya, aku sudah terlalu menyayanginya pa, papa gausah egois dong'


'Nggak mau tau, kamu harus menikah dengannya, tinggalkan saja istri dan anakmu itu'


'Baiklah kalau begitu, mulai detik ini aku, istri dan anakku bukanlah lagi bagian dari keluarga ini. Aku memutuskan hubungan dengan keluarga ini.


'Baiklah kalau begitu, silahkan angkat kaki dari rumah ini, jangan pernah kau kembali lagi kesini, ingat itu'


'Dengan senang hati'


'Ayo Ma, nak kita pergi saja dari rumah ini, tidak penting kita berada disini, tenang saja Ayah punya rumah untuk kita tempati'


"Hosh…hosh…hosh…, mimpi itu lagi, kenapa mimpi itu selalu hadir didalam tidurku?" Zara tiba-tiba terbangun dari tidurnya karena mimpinya itu.


"Argghhh, sudahlah aku bisa gila jika terus mengingatnya, mending mandi saja" Lalu Zara beranjak dari kasurnya dan memasuki kamar mandinnya.


Skip.


"Waduh ma Zara sudah mau terlambat nih, Zara berangkat ya Ma, Assalamualaikum" Ucap Zara sambil memakak sepotong roti dan berangkat terburu-buru.


"Iya nak Waalaikumsalam" Jawab Ibunya.


Ditengah perjalanan Zara dihadang oleh 2 mobil, dan keluarlah orang yang berada didalam mobil itu, jumblahnya ada 10 orang. Mereka menggedor pintu mobil Zara.


"Woi keluar lo" Teriak Orang 1.


"Apa-apaan kalian?" Tanya Zara dingin.


"Hei anak kecil ikut kami, atau kami bawa dengan cara paksa" Ucap orang 2.


"Cih basi, kenapa saya harus ikut kalian" Tanya Zara dengan datar.


"Kamu dan temanmu yg sudah mengacaukan semua rencana kami, kalian harus diberi pelajaran, kami adalah anggota Red Tiger" Ucap Orang 3.


Ternyata mereka adalah Red Tiger, mereka mengambil kesempatan untuk menangkap Zara ketika dia sedang sendiri. Mereka selalu menguntit Zara dan teman-temannya.


"Oh jadi kalian penguntit itu, cih dasar banci" Hina Zara sambil meludah didepan mereka.


"Sudah gausah banyak cincong, cepat teman-teman tangkap saja anak tengik ini" Ucap Orang 1.


Perkelahian pun tak bisa dihindari, dengan 10 lelaki dewasa berbadan kekar, melawan 1 orang anak perempuan, sangat tidak seimbang.


Bukan Zara namanya kalau dia takut, dia dengan lihai menghindar, menyerang, melompat, menendang, memukul para anggota Red Tiger yang tidak seberapa itu.


Kali ini Zara membawa double knife kesayangannya, dia menyayat'nyayat satu demi satu orang-orang itu.


Sudah terlihat banyak yang tumbang dari mereka, dan hanya tersisa 3 orang lagi yang masih sanggup berdiri.


DOORRR.


Zara menembakkan pistolnya keudara, ya dia membawa pistol desert eagle nya, salah satu senjata yg dia sukai juga.


"Pergi kalian atau saya tembak" Ancam Zara dan mengarahnkan pistolnya kearah 3 orang itu.


Tanpa babibu 3 orang itu langsung lari kocar kacir dan mereka tidak perduli dengan 7 orang temannya yang sudah tidak berdaya.


"Arrgghh sial, tanganku berdarah, dan ini pasti sudah sangat terlambat, haduh pasti kena hukum nih" Ucap Zara.


Lalu Zara menuju mobilnya dan menjalankan mobil itu dengan kecepatan diatas rata-rata, dia tidak perduli dengan tangannya yang masih mengeluarkan banyak darah, agar sampai dengat cepat kesekolah, karena dia sudah terlambat sekitar 20 menit.


"Maaf bu saya terlambat" Ucap Zara dengan nafas tersengal-sengal, menghampiri guru BK.


"Kenapa kamu bisa terlambat?" Tanya guru itu.


"Maaf bu tadi dijalan ada masalah" Ucap Zara.


"Yaampun itu tangan kamu kenapa, banyak sekali darahnya, sana cepat obatin dulu tanganmu, kali ini kamu saya maafkan tapi tidak lain kali" Ucap guru itu tidak jadi menghukum Zara karena melihat tangan Zara yang berdarah.


"Terima kasih bu, yaudah saya permisi dulu mau ngobatin ini" Pamit Zara.


"Yasudah cepat sana obatin, nanti infeksi"


Zara hanya mengangguk saja, lalu bergegas menuju ke UKS untuk mengobati lukannya.


///////////////////////////////////


...Pencet like nya ya reader, karena like itu gratis. Klik favorit agar kalian tidak ketinggalan info update dari aku. Oke sampai jumpa di episode selanjutnya....