
"Mama kok bisa ketemu orang kurang ajar itu?" Tanya Zara yang sudah berada di restoran bersama teman dan Mamanya.
Zara masih kesal atas kejadian tadi, karena Ibunya yang disayanginya dibentak oleh orang lain, jangankan membentak Ibunya, membuatnya nangis saja Zara tidak pernah dan seenak jidat orang itu membentak Ibunya, bagaimana mana dia tidak marah.
"Tadikan mama mau membeli dasi baru Ayahmu, orang itu yang tidak lihat-lihat jalannya dan dia dia yg menabrak Mama, pas kali Mama lagi megang minuman dan gk sengaja kecipratan bajunya" Mamanya menjelaskan kejadian tadi pada Zara dan Zara mengangguk tanda mengerti.
"Kurang ajar banget tuh orang Buk, udah dia yang salah malah dia yang marah-marah" Ucap Naser mengangkat pembicaraan.
"Iya baperan amat tuh orang" Sambung Hendri.
"Sudahlah yang terjadi biarlah terjadi, kita gaboleh dendam sama orang, lagian Zara sudah memeberikan dia pelajaran" Nasehat Ibunya Zara.
"Emang beneran lu bikin bangkrut tuh orang Ra?" Tanya Ibi penasaran.
"Ya nggak sepenuhnya bangkrut, palingan Ayahnya yang akan turun dari jabatannya karena ketahuan korupsi dan perusahaan keluarga mereka yang sedikit terguncang" Jelas Zara santai.
"Kenapa gk lu bikin bamgkrut sepenuhnya?" Tanya Ibi lagi.
"Ya aku kan masih punya hati nurani, cukup itu saja sama kubuat malu dia, mungkin itu cukup menjadi pelajaran baginnya, agar tidak mengulangi perbuatannya itu" Ucap Zara lalu menyeruput minuman yang ada didepannya.
"Ini baru anak Mama" Mamanya menepuk pundak Zara bangga.
Percakapan mereka terhenti ketika makanan mereka datang ke meja dan mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
Tanpa mereka sadari Aezar dkk sedari tadi mendengar percakapan mereka yang kebetulan ada di restoran itu juga dan tidak jauh dari Zara dkk.
'Sungguh anak yang bijak" Batin Aezar dkk.
...🔫🔫🔫...
"Mahen-Mahendra?" Teriak seseorang memanggil Memanggil Mahendra(Ayahnya Zara).
Ayah Zara yang merasa dipanggill membeku seketika ditempatnya. Ia merasa sangat familiar dengan suara itu. Ayah Zara kemudian berbalik badan dan benar saja dengan apa yg dirasakannya.
Brugh
"Mahendra ini kamu nak, ini beneran kamu, Papa rindu" Lirih Orang itu yang menyebut dirinya Papa.
"P-Papa?" Ucap Ayah Zara pelan.
"Kamu tahu? bertahun-tahun Papa mencari keberadaan kalian, Papa minta maaf karena Papa egois hari itu" Lirih papanya sambil menangis memeluk anaknya.
Ya dia adalah Papanya Mahendra(Ayahnya Zara) karena keegoisanya lah Mahendra dan keluarganya Mahendra membawa keluarga kecilnya meninggalkan keluarga besarnya.
Ayah Zara yang dipeluk Papanya hanya diam saja tak bisa berkutik, dia lagi mencerna apa yang terjadi.
"Pulang ya kerumah besar kita, bawa anak dan istrimu, kami semua merindukanmu" Pintanya pada Mahendra.
"Gk…gk mau, kan hari itu Papa yang tidak mau kami berada disana, Papa mengusirku karena tidak mau menuruti permintaan papa" Ayah Zara mendorong Papanya agar melepaskan pelukannya.
"Tapi kami semua merindukan kalian, Papa mohon pulanglah nak" Pinta Papanya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Gk mau, kami tidak akan kembali kerumah itu, karena kalian tidak menerima kehadiran istriku dan anakku" Ucap Ayah Zara emosi.
"Kamu salah nak, kami menginginkan kalian semua kembali, terutama anakmu, cucu-cucuku sangat menantikan dia, mereka semua menjadi pribadi yang dingin dan tidak berprasaan semenjak kalian pergi dari rumah" Ucap Papanya Mahendra menjelaskan keadaan yang terjadi dirumah keluarga besar itu.
"Biarlah aku tidak peduli" Ucap Ayah Zara lalu meninggalkan Papanya di trotoar.
"MAHENDRA!" Teriaknya namun Ayah Zara tidak menggubrisnya.
"Papa mohon kembalilah" Lirihnya yang menatap punggung anaknya.
Orang-orang yang melihat kejadian itu penasaran lalubberkumpul didekat Papa Mahendra dan mulai berbisik-bisik.
"Itu bukannya pemilik perusahaan NDA CORP ya"
"Perusahaan terbesar ke-3 se-Asia itukan?"
"Kenapa beliau menangisi kepergian orang tadi?"
"Apa itu anaknya?"
Begitulah bisik-bisik orang-orang yang melihat kejadian itu.
(Wah neraka jalur VVIP Om Hendra, bapakmu itu Om gaboleh gitu).
...🔫🔫🔫...
"Assalamu'alaikum" Ucap Ayah Zara saat memasuki Rumah.
"Waa'alaikumsalam" Jawab Ibu Zara.
Zara dan Ibunya sudah sampai kerumah sejak sore, setelah sampai dirumah Ibunya Zara langsung memasak makanan untuk makan malam.
"Ayah bersih-bersih dulu, abis itu kita makan malam bersama" Ucap Ibunya Zara.
Ibunya Zara mengernyitkan keningnya heran, mengapa suaminya bersikap seperti itu? biasanya tidak pernah seperti itu. Begitu juga dengan Zara, Ayahnya kelihatan sedang tidak baik.
"Mungkin Ayah lagi banyak masalah" Ucap Zara mencoba berpikir positif.
"Iya mungkin" Sahut Ibunya.
Tak lama setelah itu Ayah Zara berjalan menuju ruang makan, sudah ada Zara dan Ibunya Zara menunggunya untuk melakukan makan malam bersama. Di meja makan hanya keheningan terjadi, biasanya memang seperti itu, tapi kali ini berbeda seperti ada hawa yang tidak mengenakkan
Setelah selesai makan bersama mereka menuju ruang keluarga untuk sekedar menonton tv ataupun mengeratkan tali kekeluargaan.
"Ayah kenapa?" Tanya Zara yang sedari tadi heran memperhatikan raut wajah Ayahnya yang tidak seperti biasanya.
"Ayah gk papa Zara, cuman kecapean aja" Ucap Ayahnya berbohong.
Zara langsung bisa menangkap kebohongan Ayahnya dengan hanya melihat matanya Zara sudah tau kalau Ayahnya berbohonh.
"Nggak! Ayah bohong, pasti ada yang Ayah sembunyiin kan dari Zara, Ayah gabisa bohongin Zara" Ucap Zara dengan menatap Ayahnya intens.
Ayahnya menghela nafas, dia lupa kalau tidak bisa membohongi Putrinya itu, dari Zara kecil kalau salah salah satu dari mereka berbohong (dia dan istrinya) Zara langsung mengetahuinya.
"Zara tahu tidak? kalau kita masih mempunyai keluarga lain" Lirih Ayahnya dengan mata sendu.
"Keluarga? bukannya keluarga Zara cuman Ayah sama Mama, keluarga yang mana lagi" Ucap Zara dengan terkejut.
"Ya keluarga, mungkin kamu tidak ingat karena waktu itu kamu masih terlalu kecil saat kita meninggalkan mereka" Jelas Ayahnya.
"Kamu masih punya kakek dan Nenek, Abang-abang sepupumu, Paman dan Bibimu" Ucap Ayahnya memberitahu.
"Apa kamu bertemu dengan mereka tadi Mas?" Ucap Ibu Zara
"Aku tadi bertemu dengan Ayah Ma" Kata Ayah Zara.
"Jadi gini…" Ayahnya Zara menjelaskan panjang lebar pertemuan dia dengan Ayahnya, semua diceritakannya.
"Jadi gitu…"Lirihnya.
"Kenapa kita bisa meninggalkan mereka Ayah?" Tanya Zara yang masih mencerna apa yang terjadi.
Ayahnya menghela nafas kemudian menceritakan apa yang terjadi bartahun-tahun silam, kenapa mereka bisa meninggalkan rumah itu.
Flashback on.
"Mahendra keruangan Papa sekarang, Papa mau ngomong sama kamu" Perintah Papa Mahendra.
Mahendra memasuki ruangan Papanya kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Ada apa Pa?" Tanya Mahendra.
"Papa langsung saja ke intinya, Papa mau kamu menikah lagi dengan anak sahabat Papa, tinggalkan saja istrimu itu dia tidak cocok denganmu karena asal usulnya tidak jelas" Ucap Papa Mahendra dengan Serius.
"Aku gamau menikah lagi pa, aku sudah punya istri dan anak pa, papa gausah gila menyuruh aku menikah lagi!" Marah mahendra tidak terima.
Tapi dari awal Papa tidak menyetujui pernikaham kamu dengan perempuan itu, jadi sekarang kamu harus menikah dengan anak sahabat Papa, Papa tidak mau tau kamu harus menikah dengannya" Ucap Papa Mahendra tetap bersikukuh.
"Tapi bagaimana dengan istri aku Pa, aku tidak mau menduakannya, aku sudah terlalu menyayanginya Pa, Papa gausah egois dong" Ucap Mahendra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Nggak mau tau, kamu harus menikah dengannya, tinggalkan saja istri dan anakmu itu" Ucap Papa Mahendra egois.
"Baiklah kalau begitu, mulai detik ini aku, istri dan anakku bukanlah lagi bagian dari keluarga ini. Aku memutuskan hubungan dengan keluarga ini!" Marah Mahendra lalu ingin meninggalkan ruangan Papanya.
"Baiklah kalau begitu, silahkan angkat kaki dari rumah ini, jangan pernah kau kembali lagi kesini, ingat itu" Ucap Papa Mahendra.
"Dengan senang hati"
"Ayo Ma, nak kita pergi saja dari rumah ini, tidak penting kita berada disini, tenang saja Ayah punya rumah untuk kita tempati" Mahendra lalu pergi menggendong Zara yang masih kecil dan Menggandeng tangan istrinya untuk pergi, sebelum itu mereka mengemas barang-barang mereka dahulu.
Untungnya Mahendra punya rumah yang dibelinya walaupun tidak terlalu besar untuk keluarga kecilnya tempati.
Flashback off.
"Jadi gitu…"
"Yaudah Ayah, lebih baik kita tidak usah kembali ketempat itu, Zara saja sudah cukup untuk membahagiakan Ayah dan Mama, Zara hanya ingin kalian berdua" Ucap Zara sambil memeluk kedua orang tuanya.
"Iya nak, Ayah akan melakukan apapun agar putri Ayah ini bahagia" Ucap Ayahnya tersenyum.
Lalu mereka pun menonton tv bersama setelah melakukan adegan peluk-pelukan itu.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang dari balik jendela memperhatikan mereka sedari tadi seperti mengintai, lalu orang itu tersenyum devil dan meninggalkan tempat itu.
//////////////////////////////////////
...Dukung aku dengan cara like, vote, and komen ya....