The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 8: Diikuti Mobil Asing



Kesepakatan yang ditawarkan oleh Mawar adalah Joshua bertarung dengannya. Apabila Joshua kalah maka Joshua harus bergabung dengan Majapahit. Namun, apabila Mawar yang kalah maka Mawar berjanji tidak akan mengusik Joshua lagi.


Josua menolak. Ia tidak ingin bertarung dengan Mawar karena Mawar adalah perempuan. Mawar memutar kedua bola matanya. “Ayolah… aku bukan gadis biasa.”


“Aku tidak mau," tegas Joshua.


“Baiklah. Bagaimana jika kau melawan beberapa petarung Majapahit?” Mawar masih berusaha melakukan negosiasi dengan Joshua.


“Beberapa yang kau maksud adalah berapa orang?” tanya Joshua karena kata beberapa tidak mendefinisikan berapa jumlah pastinya orang yang harus ia lawan.


“Lima orang?” Mawar mengangkat satu alisnya.


Joshua terlihat sedang berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Menurutnya, melawan 5 orang pria lebih baik dari pada melawan seorang gadis. Karena Joshua bukan pria yang memukul seorang gadis.


“Sepakat,” ujar Mawar sambil tersenyum puas.


Mobil yang Mawar kemudikan berhenti saat palang pembatas antara jalanan dan jalur kereta tertutup perlahan seiring dengan lampu peringatan berwarna merah yang menyala. Pertanda sebentar lagi kereta akan melewati jalur tersebut.


“Ngomong-ngomong.” Mawar menyerongkan tubuhnya dan menoleh ke rah jok belakang mobil. Membuat sabuk pengamannya tertarik. Satu tangannya berusaha menggapai sesuatu di jok bagian belakang. Ia kemudian melemparkan sebuah tas ke pangkuan Joshua.


Joshua menatap tas yang ada di pangkuannya. Ini adalah tasnya! “Bagaimana bisa tasku berada padamu?”


“Membawamu saja bukan sebuah masalah. Apalagi hanya mencuri tasmu,” komentar Mawar sambil menatap ke arah depan. Ke arah kereta api yang baru saja melintas di depan mereka. Saat tubuh kereta api sudah benar-benar hilang dari pandangan mereka, dan palang pembatas jalanan terbuka perlahan, Mawar segera kembali melajukan mobilnya.


Mawar menaikkan kecepatan laju mobilnya saat mereka baru saja memasuki jalan raya. Bus-bus besar melintasi jalanan dan Mawar dengan berani menyalip dari sisi sebelah kanan deretan bus. Mengabil jalur kendaraan yang berlawanan arah. Sementara dari depan mereka nampak melaju sebuah truk bermuatan besar.


Mawar semakin melajukan mobilnya. Membuat Joshua menahan napasnya saat mereka nyaris saja bertabrakan dengan truk bermuatan besar jika mawar tidak segera membanting setir ke sebelah kiri dan mengambil jalan di depan deretan bus yang baru saja mereka lewati.


“Kau gila?” seru Joshua kesal.


“Tidak sama sekali,” jawab Mawar santai.


Sementara mobilnya masih melaju di atas rata-rata. Mawar sesekali melirik ke arah sepion mobil. Wajahnya tenang tapi Joshua pikir ada sesuatu.


Saat lampu lalu lintas berubah berwarna merah, Mawar malah menerobosnya dan mengakibatkan beberapa mobil hampir menabrak mereka jika saja mobil-mobil tersebut tidak menghentikan laju mereka secara mendadak.


“Ada apa sebenarnya? Kau hampir membunuh kita berdua.”


Mata Mawar fokus ke depan. Ia tidak menoleh ke arah Joshua yang sedang diliputii rasa bingung sekarang. Mawar sama sekali tidak menurunkan kecepatannya. “Ada yang mengikuti kita sejak tadi,” terang Mawar singkat.


Joshua menoleh ke arah belakang. “Catat plat nomornya,” perintah Mawar kepada Joshua.


“Mobil yang mana? Banyak mobil di belakang kita.” Ya. Joshua benar. Ada tiga mobil di belakang mereka. Joshua tidak tahu mobil mana yang di maksud Mawar mengikuti mereka. Karena ia memang tak memperhatikankendaraan di sekitarnya terutama di belakang mereka.


“Mobil berwarna hitam dengan kaca mobil berwarna gelap.”


Joshua segera mencatat plat nomor mobil tersebut ke dalam ponselnya. Belum selesai Joshua mengetik di ponselnya, Mawar membuat ponsel di tangannya hampir terjatuh karena gadis tersebut tiba-tiba membanting setir ke arah kiri saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah dan terdapat rambu peringatan untuk mengikuti rambu lalu lintas jika ingin berbelok kiri.


Joshua menoleh ke beakang. Saat mereka baru saja memasuki tikungan, mobil hitam yang mengikuti mereka tidak terlihat sejenak. Mawar secara tiba-tiba langsung memutar balik mobilnya dengan cepat sebelum mobil yang mengikuti mereka terlihat di belakang mereka. Menciptakan sedikit kekacauan di jalanan. Dan dengan lincah mobil yang dikemudikan Mawar segera berjalan di sebelah kiri sebuah truk bermuatan besar.


Mobil yang dilajukan Mawar bergerak perlahan mengikuti kecepatan laju truk di sampingnya. Joshua masih menoleh ke arah beakang. Walaupun beberapa kendaraan menutupi pandangannya, namun samar ia dapat melihat mobil yang tadi mengikuti mereka berjalan lurus berlawanan dengan arah yang mereka ambil sekarang.


Saat mobil yang mengikuti mereka tadi sudah tak lagi terlihat, dan mereka sudah memasuki jalanan yang lebih tenang, Mawar menghembuskan napas lega. Ia segera mencari jalan untuk mengantarkan Joshua hingga sampai ke kostnya.


“Bagaimana kau mengetahui alamatku?” tanya Joshua heran saat mereka sudah sampai di kost tempat Joshua selama ini tinggal.


Mawar menatap Joshua dari atas ke bawah. “Mengetahui warna dalamanmu saja aku bisa.”


“Jangan bercanda!”


Mawar terkekeh pelan. “Kau menggunakan dalaman berwarna hitam, bukan?’ tanya Mawar sambil menatap ke area bawah pinggang Joshua.


Wajah Joshua memerah. “Bagaimana kau tahu? Kau benar-benar mengintipnya saat membuatku tak sadarkan diri?” tanya Joshua dengan raut wajah tak percayanya. Merah di wajahnya dengan cepat menjalar ke telinga dan leher pria itu.


Tawa Mawar mengudara seketika. “Kau pikir aku gadis apa? Aku hanya menebak dan tidak kusangka ternyata benar,” katanya di sela-sela tawanya.


“Tidak lucu,” geram Joshua sambil menahan malu. Bagaimana bisa ia membongkar warna dalaman miliknya sendiri kepada gadis yang baru ia temui.


Joshua membuka sabuk pengamannya dan hendak beranjak turun dari mobil Mawar. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu mobil, Mawar menahan lengannya.


“Tunggu,” cegah Mawar.


“Apa lagi?” tanya Joshua tanpa menoleh.


“Nomor platnya.”


“Ah… ya.” Joshua segera memberi tahukan kepada Mawar nomor plat mobil yang tadi mengikuti mereka.


“Siapa yang mengikuti kita tadi?” tanya Joshua penasaran. Ia tidak jadi turun dari mobil Mawar.


Mawar mengangkat kedua bahunya dan tampak terlihat sibuk dengan posnelnya. “Tidak tahu. Aku akan mencari tahu sekarang. Kau tak perlu khawatir. Mereka mengincarku bukan dirimu.”


“Bagaimana kau bisa seyakin itu?”


“Yeah… kau belum bergabung dengan kami. Kau masihlah orang biasa jadi tak ada alasan mereka mengejarmu,” terang Mawar sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Ia melirik ke arah Joshua. “Kau pergi saja. Aku akan segera pulang. Aku sudah menyimpan nomor ponselku di ponselmu, dan aku akan menghubungimu saat pertandingan yang kita sepakati sudah siap.”


Joshua menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari mobil Mawar. Langkahnya sempat terhenti sejenak. Ia menolehkan kepalanya ke arah mobil Mawar yang belum juga beranjak dari tempatnya. Apa meninggalkan seorang gadis untuk pulang sendirian saat ia sedang dikejar oleh orang asing adalah pilihan yang bijak?


Joshua menggelengkan kepalanya. Ia harusnya tidak perlu peduli. Mawar hanyalah orang asing. Mereka baru bertemu. Itu bukan urusannya.