The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 31: Membawa Kabur Berlian [1]



DOR!


DOR!


Pria Inggris mengambil koper yang berisi berlian saat semua orang sedang merunduk ketakutan.


Dari bawah meja Joshua membidik kaki pria itu dan menembaknya tepat ke arah paha.


DOR!


Pria tersebut merintih kesakitan. Tapi, satu tembakkan di kaki tidak cukup melumpuhkannya. Ia mengedarkan pandangannya. Mencari sumber tembakkan. Hingga matanya tertuju ke arah Joshua yang masih bersembunyi di bawah meja.


Pria tersebut berjalan mendekat ke arah Joshua dan menodongkan pistolnya. Jari telunjuknya menyentuh pelatuk.


DOR!


Seseorang menembak tangan Si Pria Inggris hingga pistolnya terjatuh dan Joshua meraihnya. Tadi hanyalah jebakkan untuk pria itu.


Mawar masih menodongkan pistol ke arah pria yang sekarang sudah tak lagi bersenjata. Begitu pun Joshua, ia menodongkan dua pistolnya ke arah pria Inggris tersebut.


Pria yang sudah tak memiliki persenjataan itu tak dapat melawan lagi karena ada tiga pistol yang di arahkan ke kepalanya. Ditambah tangan dan kakinya terluka. Walaupun luka tersebut tak melumpuhkannya.


DOR!


DOR!


Mawar menembakkan peluru di pistolnya ke arah paha Si Pria Inggris yang masih belum terluka. Ia lalu mengambil koper berisi berlian di tangan pria itu.


Joshua dan Mawar berjalan menjauh dari Si Pria Inggris dan berjalan menuju pintu keluar. Orang-orang masih merunduk dan Joshua masih menodongkan dua pistol di tangannya ke arah sekitar, sebagai sebuah ancaman kalau-kalau ada yang mencoba melawan.


BOOM!


Sebuah ledakkan menghancurkan pintu di pintu masuk. Si Pria Inggris tersenyum menyeringai ke arah sekelompok pria yang baru saja masuk. Sepertinya mereka adalah rekan-rekan Si Pria Inggris.


Mendengar suara ledakan, orang-orang yang berada di dalam ruangan kembali berteriak hiteris. Terjadi keributan, namun Joshua dan Mawar tidak memiliki waktu untuk menghiraukan keributan di sekitarnya.


"Lewat pintu lain! Pergilah ke pintu sebelah utara! Di sana ada pintu darurat yang terletak di belakang panggung." Arkan memberi intruksi kepada Joshua dan Mawar melalui ear peace.


DOR!


Sebuah tembakkan dilayangkan ke arah Joshua. Beruntung ia sempat menghindar. Joshua melindungi dirinya dari balik meja. Kumpulan pria Inggris berjalan memasuki ruangan.


Joshua keluar dari persembunyiannya dan menembakkan peluru bertubi-tubi ke arah mereka. Hingga membuat dua di antara mereka terluka.


Saat atensi kelompok pria tersebut teralihkan akibat serangan mendadak dari Joshua, Joshua dan Mawar menggunakan sedikit waktu tersebut untuk berlari ke arah utara seperti yang di perintahkan oleh Arkan.


Kelompok pria itu segera sadar saat Joshua dan Mawar hendak melarikan diri dari mereka. Jadi, mereka segera mengejar Joshua dan Mawar sembari menembakkan amunisi pistol mereka.


Joshua sadar, dalam posisi seperti ini ia tidak akan bisa menembakki para pria tersebut satu persatu. Karena ia kalah jumlah. Jadi, untuk memperlambat para pria itu mengerjar mereka berdua, Joshua mengarahkan pistolnya ke lampu gantung raksasa yang terletak di tengah ruangan.


DOR!


DOR!


PRANG!


Lampu gantung jatuh menghentikan pergerakkan para pria yang mengejar Joshua dan Mawar. Seorang dari mereka bahkan tertimpa lampu gantung raksasa tersebut.


Besi dari lampu gantung raksasa itu menembus perutnya hingga menyebabkan cairan merah merembes dari pakaiannya dan mengalir mengenai lantai. Seketika pria itu kehilangan kesadarannya dengan mata yang masih terbuka.


Orang-orang di dalam ruangan semakin ketakutan. Teriakan histeris tidak lagi dapat dibendung. Sementara itu, para pria Inggris yang masih tersisa tidak dapat menghiraukan temannya yang sekarang kehilangan nyawa. Mereka harus segera mengejar Joshua dan Mawar yang sekarang sudah menghilang di balik pintu.


"Tunggu sebentar!" Mawar menahan tangan Joshua.


Joshua menghentikan larinya dan menatap ke arah Mawar penuh tanya. "Ada apa, Mawar? Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus segera pergi dari sini, sebelum mereka menemukan kita!"


"Ikut aku sebentar, aku hanya perlu memotong ini," terang Mawar sambil berlari ke arah dapur.


Di sana, orang-orang yang mulanya sedang sibuk memasak, menghentikan aktifitasnya seketika saat Mawar menodongkan pistol ke arah mereka.


"Berikan gunting atau pisau padaku!" perintah Mawar kepada mereka dengan menggunakan bahasa kanton.


Joshua yang baru memasuki ruangan, menyusul Mawar, ikut menodongkan pistolnya. Membuat orang-orang yang berada di dalam dapur semakin memucat.


Salah seorang pria yang terlihat seperti koki kepala, berjalan ke arah Mawar dengan membawa gunting besar dengan tangan yang bergetar ketakutan. "I-ini," katanya hati-hati.


Mawar segera mengambil gunting tersebut. Sementara Joshua masih menodongkan dua pistolnya agara tak ada satu pun dari mereka yang berani melapor dan menghubungi bagian keamanan hotel.


Mawar meletakkan koper berlian dan pistol di tangannya ke lantai, dan segera mulai menggunting gaunnya menjadi pendek di atas lututnya.


"Gaun ini benar-benar menganggu. Aku kesulitan berlari karena ini. Aku seharusnya memilih gaun yang lebih pendek!" gerutu Mawar sambil membuang kain yang ia potong secara asal di lantai.


Joshua masih belum menurunkan kedua pistolnya. "Jadi, kau kesini hanya untuk menggunting gaunmu? Kau lupa kalau kau menyimpan pisau lipat di dadamu?"


Mawar menepuk dahinya. Merutuki kebodohannya. "Astaga! Aku lupa kalau aku menyimpan pisau lipat di gaunku!"


"Kalau kau sudah selesai, ayo kita segera pergi sebelum mereka menemukan kita," Joshua mengingatkan.


"Kalian masih di dalam gedung? Cepatlah keluar. Aku sudah mempersiapkan mobil lengkap dengan persenjataan di dalamnya." Arkan kembali memberi intruksi kepada keduanya.


Mawar membuang gunting di tangannya dan mengambil kembali pistol dan koper yang tadi ia letakkan di lantai. Orang-orang di dalam ruangan masih belum bersuara. Mereka masih ketakutan karena pistol yang Joshua dan Mawar bawa.


Joshua berjalan ke mendekat ke arah pintu keluar dapur, dan dengan tanpa ragu segera membuka pintu tersebut lebar-lebar untuk ia dan Mawar lewati.


Namun, matanya membulat saat tatapannya bertubrukan dengan beberapa pria yang tadi mengejar mereka baru saja muncul dari balik lorong.


Mawar dan Joshua kembali masuk ke dalam dapur dan mengunci pintu dapur tersebut. Kuncinya masih tergantung di gagang pintu. Sehingga mereka tidak perlu kesulitan untuk menguncinya.


Walaupun mereka berdua sama-sama tahu, bahwa ini tidak akan bertahan lama. Para pria yang mengejar mereka akan bisa segera membobol pintu yang terkunci tersebut.


Suara gedoran pintu yang nyaring, terdengar. Dari suaranya itu terdengar tidak hanya berasal dari pukulan, tapi juga tendangan secara bertubi-tubi.


"Bagaimana ini? Kita terjebak! Kau punya solusi?" tanya Mawar kepada Joshua sambil melirik ke arah pintu yang terlihat semakin rapuh akibat tekanan dari luar yang terjadi secara berulang.


DOR!


DOR!


DOR!


Terdengar suara tembakkan disusul dengan gagang pintu yang rusak seketika. Lalu....


BRAK!


Pintu terbanting terbuka. Membuat para pria yang mengejar Joshua serta Mawar menampakkan diri mereka sambil tersenyum menyeringai.


Pria bule berkepala botak yang berdiri paling tengah dari rekan-rekannya, merenggangkan lehernya dan membunyikan jari jemarinya. Satu sudut bibirnya terangkat. "Kalian tidak bisa kabur lagi."