
"Kenapa hidupmu merepotkan sekali? Padahal kau bisa membolos saja hari ini," komentar Mawar saat ia dan Joshua sudah dalam perjalanan.
"Aku harus mengikuti ujian ini. Persentase untuk nilai akhir adalah enam puluh persen," sahut Joshua.
"Kau takut tidak lulus sebuah mata kuliah?"
Joshua menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya saja aku harus lulus mata kuliah ini. Agar bisa lulus tepat waktu. Aku tidak pernah mengulang mata kuliah. Jika ibuku tahu aku mengulang, maka dia akan curiga dengan apa yang aku lakukan. Aku tidak ingin dia tahu aku bergabung dengan kalian."
Mereka sampai di depan gedung kost Joshua. "Sudah sampai. Aku akan pergi kalau begitu," ucap Mawar ketika Joshua baru saja turun dari mobil.
"Tunggu!" Joshua berbalik dan menghentikan tindakan Mawar yang baru saja hendak melajukan mobilnya kembali, meninggalkan Joshua.
Mawar menurunkan kaca mobilnya. "Apa lagi?"
"Kau harus mengantarkanku. Aku akan terlambat jika pergi dengan kendaraan umum. Tunggu sebentar. Aku hanya mengambil tas dan akan segera kembali." Joshua segera masuk ke dalam tanpa menunggu persetujuan dari Mawar.
Mawar terperangah. Sejak kapan ia menjadi pesuruh Joshua? Tapi, meski begitu ia tetap menunggu pria itu.
Dari dalam mobil terdengar samar-samar Joshua mengobrol dengan seorang laki-laki. Suaranya tidak asing di telinga Mawar. Saat Mawar sedang sibuk dalam pikirannya, Joshua tiba-tiba sudah masuk ke dalam mobilnya. Lamunan Mawar buyar seketika.
"Siapa yang mengobrol denganmu tadi?" tanya Mawar seketika.
"Bapak kost pemilik gedung dan perawatnya," jelas Joshua, "kenapa?"
"Tidak apa-apa." Mawar menggelengkan kepalanya dan segera melajukan mobilnya di jalanan yang sempit dan sepi ini.
Padahal sudah hampir siang hari. Tapi, jalanan yang mereka lewati ini sungguh sangat sepi. Hingga secara tiba-tiba Mawar membanting setir samping dan menginjak rem secara mendadak. Membuat Joshua terkejut dan tubuhnya terlempar ke depan. Untung saja sabuk pengaman menyelamatkannya. Baru saja ia hendak protes, Mawar sudah terlebih dahulu keluar dari mobilnya.
Joshua menolehkan kepalanya dan sudah mendapati Mawar sedang menjambak rambut seorang pria. Membuat kepala pria tersebut mendongak ke atas. Kemudian dengan kasar Mawar menghantamkan kepala pria tersebut ke tiang listrik.
Joshua turun dari mobil. Namun, terlambat. Pria tersebut sudah terkapar tak sadarkan diri di atas tanah.
"Apa yang kau lakukan!" bentak Joshua sambil menghampiri Mawar yang terlihat sangat Marah.
Mawar menatap pria di kakinya dengan tatapan penuh kebencian. "Tenang saja. Dia belum mati." Mawar berjalan melewati Joshua. Namun, Joshua mencekal tangannya.
"Kau gila? Apa ini pekerjaan kalian? Secara acak menghabisi orang-orang di jalanan tanpa sebab?" teriak Joshua karena kesal. Ia tidak habis pikir dengan cara pandang orang-orang seperti Mawar.
Mawar menghempaskan tangannya. Membuat cengkraman tangan Joshua terlepas. Mawar menghampiri mobilnya. Membuka pintu belakang dan kembali dengan sebuah kain yang nampak seperti jaket. Membuat Joshua mengernyitkan dahinya. Apa yang dilakukan gadis ini.
Mawar tak berbicara sedikit pun. Ia hanya berjalan melewati Joshua. Pandangan Joshua mengikuti Mawar. Dan ia terkejut saat mendapati seorang gadis sedang meringkuk di sudut jalan.
Penampilannya tampak kacau. Ia memeluk tubuhnya sendiri seolah-olah sedang melindungi dirinya. Ia terlihat sangat ketakutan hingga membuat sekujur tubuhnya bergetar.
Mawar menyampirkan jaket ke bahu gadis tersebut dan membawanya ke kursi belakang mobilnya. Kemudian, ia terlihat sibuk menghubungi seseorang di depan pintu mobil yang tertutup.
Joshua masih terdiam. Berusaha mencerna apa yang terjadi sebenarnya. Hingga lamunannya buyar saat sebuah mobil hitam berhenti di dekat mereka. Dan tiga orang pria yang Joshua duga berasal dari majapahit, turun dari mobil. Dan segera menghampiri pria yang sudah terkapar di tanah.
Joshua masuk ke dalam mobil. Hingga mobil berjalan, Joshua tak bertanya apapun kepada Mawar. Karena gadis itu nampak seperti tidak ingin berbicara sekarang.
Dari kaca sepion tengah mobil, Joshua sesekali melirik gadis yang duduk di jok belakang. Pandangan gadis tersebut tampak kosong. Ia hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mobil dipenuhi dengan keheningan, dan Joshua tidak akan mengeluh untuk itu.
"Kau mau aku antarkan pulang?" tanya Mawar hati-hati kepada gadis di jok belakang.
Joshua menoleh ke belakang. Gadis tersebut terlihat terkejut saat mendengar suara Mawar. Kemudian ia tersenyum tipis. Berusaha terlihat baik-baik saja.
"Ya. Terima kasih," ucapnya pelan.
"Beritahu aku alamatmu," pinta Mawar.
Gadis tersebut pun akhirnya memberi tahu alamatnya dan Mawar segera mengantarkannya. Mawar tampak sibuk kembali dengan ponselnya sepeninggalan gadis tersebut. Gadis itu sudah masuk ke dalam kostnya, namun Mawar belum juga melajukan mobilnya pergi meninggalkan daerah tersebut.
"Kau tidak ingin bertanya apapun?" tanya Mawar tanpa menoleh ke arah Joshua dan sibuk mengotak-atik layar ponselnya. Ia tampak sibuk berkirim pesan dengan seseorang.
"Kau tampak sedang ingin ditanya apapun," komentar Joshua.
Mawar menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Kau ternyata bisa membaca suasana hatiku. Tapi karena suasana hatiku sudah lebih baik sekarang, jadi kau bisa bertanya apapun yang kau mau." Mawar menoleh ke arah Joshua. "Wajahmu nampak dipenuhi dengan tanda tanya."
"Kenapa kau melakukan itu? Maksudku mengapa kau menghajar pria di jalanan tadi? Apa kaitannya pria tersebut dengan gadis tadi?" Joshua melontarkan seluruh rasa penasarannya sejak tadi.
"Aku bisa memaafkan semua bentuk kriminalitas karena kami juga melakukannya. Tapi, tidak untuk pelecehan se*sual," jelas Mawar. Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
"Apa pria tadi melakukan pelecahan terhadap gadis yang baru saja kita antar?" tanya Joshua memastikan.
Mawat menganggukkan kepalanya sambil kembali melajukan mobilnya. "Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi, aku melihatnya. Dan itu sangat menjijikan. Beruntung aku tidak membunuhnya," katanya tanpa menoleh ke arah Joshua. Mawar mengertakkan giginya menahan amarah saat melihat kejadian yang ia saksikan tadi.
"Kau harusnya membunuhnya saja tadi," komentar Joshua. Jika ia tahu apa yang terjadi tadi, mungkin ia akan melakukan hal yang sama dengan Mawar. Bahkan bisa lebih buruk.
Mawar kembali menyungingkan senyum miringnya. "Padahal kau tadi memarahiku saat aku menghabisi pria itu."
"Itu karena aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya karena tidak melihat kejadiannya. Kau juga tidak berbicara apapun dan bergerak sendiri."
"Ngomong-ngomong, mau ke mana kita tadi?" tanya Mawar yang langsung ia jawab sendiri, "ah iya... aku hendak mengantarmu ke kampus."
Joshua melihat jam di layar ponselnya. Ia sudah terlambat lebih dari satu jam.
"Apa kau sudah terlambat?" tanya Mawar.
"Mm..." Joshua menganggukkan kepalanya. "Sudah satu jam lebih."
"Mengapa kau tidak bilang sejak tadi!" Mawar segera menginjak gas mobilnya dan melaju di atas kecepatan rata-rata.