
Joshua menarik tangan Mawar yang belum sepenuhnya berdiri dan mengajaknya berlari. Joshua berlari ke arah besment area parkir bersama Mawar yang bertelanjang kaki. Mencari mobil yang dimaksud Arkan.
"Arkan! Di mana mobil yang kau maksud?" tanya Joshua melalui ear peace. Sambil mengedarkan pandangannya meniti ke arah seluruh mobil di basement ini.
DOR!
DOR!
Suara tembakkan terdengar. Joshua dan Mawar refleks merunduk dan bersembunyi di balik mobil yang entah siapa pemiliknya. Joshua dan Mawar merunduk sambil berjalan dari belakang mobil satu ke mobil lainnya.
"Kalian ada di mana?" Arkan balik bertanya.
"Parkiran mobil. Kami tidak dapat menemukan mobil yang kau maksud!" ucap Mawar.
"Hah?! Parkiran? Aku tidak pernah bilang kalau mobilnya kuletakkan di parkiran! Kubilang ada di luar hotel! Kalian keluarlah dari area hotel, aku memarkirkannya di sisi jalan!" omel Arkan.
"Berhentilah mengeluh! Kami sedang dikejar oleh orang-orang bersenjata. Tentu pikiran kami sedang tidak bisa fokus. Kau harusnya memberi intruksi lebih jelas," ujar Mawar yang tidak terima disalahkan.
Joshua membuang napasnya kasar. "Bisakah kalian berdua diam?"
DOR!
DOR!
PRANG!
Pecahan kaca mobil terdengar menyusul suara tembakkan yang sejak tadi ditujukan untuk Joshua dan Mawar. Mereka berdua merunduk dengan kedua tangan yang berusaha menutupi kepala agar tak terkena pecahan kaca.
Mata Mawar menangkap seorang pria paruh baya berwajah Asia Timur yang merunduk ketakutan di samping sebuah mobil. Sepertinya ia terkejut dengan keributan yang terjadi.
Mawar menarik tangan Joshua dan mengajaknya berjalan mendekat ke arah pria tersebut. "Serahkan mobilmu padaku, Pak. Aku akan menjamin kau akan baik-baik saja," kata Mawar dengan bahasa kanton.
Ya. Pria tersebut akan aman karena yang dua pria bule itu incar adalah Mawar dan Joshua berserta koper berlian.
Dengan gemetar pria tersebut menyerahka kunci mobilnya kepada Mawar. Mawar membuka kunci mobil pria itu dan segera masuk ke balik kemudi. Disusul oleh Joshua yang duduk di kursi penumpang tepat di samping Mawar.
Mawar lalu menginjak gas, dan mengeluarkan mobil tersebut dari jalur parkir. Dua pria yang sejak tadi mengejar mereka berlari di belakang mobil.
DOR!
DOR!
PRANG!
Joshua dan Mawar merundukkan kepala. Kaca bagian belakang mobil pecah berkeping-keping. Arkan tetapi, mereka beruntung karena berhasil keluar dari area parkir.
"Arkan, tolong lacak pemilik mobil ini nanti dan kirimkan sejumlah uang ke akun banknya sebagai konpensasi. Aku tidak tega, karena ia terlihat tua dan tak berdaya," ucap Mawar kepada Arkan sambil menatap lurus ke depan.
"Berikan aku nomor plat mobilnya," sahut Arkan. Mawar pun segera memberitahukan nomor plat mobil yang ia kendarai. Ia sempat menghapalnya tadi, karena memang berniat untuk memberi ganti rugi.
Mawar melajukan mobilnya keluar dari area hotel. Ia memarkir asal mobil yang ia kendarai. Dan segera berlari menuju mobil yang Arkan maksud. Disusul oleh Joshua di belakangnya.
DOR!
DOR!
Baru saja Joshua dan Mawar hendak masuk ke dalam mobil, suara tembakkan terdengar. Joshua dan Mawar menoleh. Nampak seorang pria berwajah Inggris yang sepertinya merupakan salah satu dari orang-orang yang mengejar mereka sejak tadi, mengarahkan pistolnya ke arah Joshua dan Mawar.
Pria tersebut berkacamata hitam. Terlihat asing. Karena Joshua yakin betul bahwa pria tersebut tidak ada di hotel tadi. Tapi, bisa saja para pria Inggris tadi menghubungi rekannya yang lain karena tidak berhasil mendapatkan Joshua, Mawar, maupun the cullinan.
Joshua dan Mawar buru-buru masuk ke dalam mobil. Mawar duduk di balik kemudi dan segera melajukan mobilnya. Berusaha menghindari tembakkan-tembakkan yang dilayangkan oleh oleh pria berkacamata di belakang mereka.
"Pelabuhan. Wong sudah menyiapkan kapal pesiar di sana. Rutenya sudah kupasang di GPS mobil itu," terang Arkan.
Mawar menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun Arkan tidak dapat melihat respon tersebut. Sementara itu, hujan peluru terus di layangkan ke arah mereka. Untung saja, kaca mobil yang mereka kendarai menggunakan teknologi anti peluru.
"Sial! Apa mereka tidak pernah kehabisa peluru?Aku heran, sejak tadi mereka tidak berhenti menembak," keluh Mawar.
Tidak tahan karena terus diserang, Joshua akhirnya berinisiatif untuk pindah ke jok mobil bagian belakang. Mengambil senapan api laras panjang, dan meminta Mawar membuka sedikit atap mobil. Sehingga ia dapat melayangkan tembakkan ke arah mobil di belakangnya.
DOR!
DOR!
DOR!
Joshua tidak berniat membidik orang-orang yang berada di balik mobil. Karena ia tahu, kaca mobil orang yang mengejarnya pasti juga menggunakan teknologi anti peluru. Dengan melihatnya saja Joshua sudah cukup tahu.
Joshua hanya perlu menembak ban mobil mereka hingga mobil tersebut oleng, dan mau tak mau pengemudinya harus menghentikan laju mobil jika masih ingin selamat.
Hujan peluru dari Joshua akhirnya mampu membuat para pengejar mereka berhenti. Namun, baru saja Joshua dan Mawar hendak bernapas lega, dua orang pria Inggris yang tadi mereka tinggalkan di area parkir nampak keluar dari gang di sisi jalan dengan mengendarai motor masing masing.
Mereka berdua memepetkan motor mereka masing -masing ke sisi kanan dan kiri mobil yang Mawar kendarai. Dan berusaha memecahkan kaca mobil tersebut. Hal itu membuat Mawar kesulitan melajukan mobilnya.
Joshua membuka kunci pintu mobil bagian belakang dan menendang pintu tersebut hingga terbuka lebar. Dan menyebabkan pria berambut botak yang ada di samping pintu tersebut terlempar ke samping bersamaan dengan motornya, hingga menabrak sebuah kafe dengan dinding kaca di sisi jalan.
Joshua hendak menyerang pria satunya lagi. Namun ketika ia mengalihkan pandangannya. Pria tersebut sudah tidak ada lagi.
Joshua menoleh ke belakang. Begitu pula Mawar, ia memperhatikan dari balik sepion yang pecah. Tiba-tiba saja sudah tidak ada lagi yang mengejarnya. Mawar pun menyeringai senang. Itu artinya mereka bisa berkendara dengan lebih santai ke arah pelabuhan.
Akan tetapi, senyum di bibir Mawar tidak bertahan lama. Karena....
DOR!
BOOM!
Ban mobil yang mereka kendarai meledak karena tembakkan. Membuat Mawar harus menginjak rem kuat-kuat agar selamat.
Ciittt....
Apa mereka masih dikejar?
Joshua dan Mawar mengambil persenjataan di jok bagian belakang mobil beserta koper berlian yang tak pernah ketinggalan. Mereka segera keluar dan berniat kabur.
Namun, tubuh mereka tiba-tiba dipenuhi oleh banyaknya laser berwarna merah. Laser dari senapan jarak jauh. Tak lama kemudian, terlihat sekelompok polisi muncul di sekitar mereka.
Mawar dan Joshua menegak ludahnya.
"Apa ini bagian dari rencanamu?" tanya Joshua di sela-sela giginya. Mereka tentu tidak bisa melawan lagi, jika masih ingin hidup.
Mawar menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Ditangkap oleh kepolisian Makau bukan bagian dari rencanaku."
"Apa kalian tertangkap? Aku akan mematikan komunikasi di antara kita kalau begitu. Agar lokasi kami tidak dapat dilacak," kata Arkan sebelum akhirnya sambungan komunikasi di antara mereka benar-benar terputus.
"Letakkan senjata kalian, dan angkat tangan!" bentak salah seorang polisi dengan menggunakan bahasa kanton. Pistol di tangannya masih terangkat dan terarah ke Joshua dan Mawar.
"Apa yang dia katakan?" bisik Joshua kepada Mawar. Karena Joshua memang tidak mengerti bahasa kanton sama sekali.
"Letakkan senjata di tanganmu, Joshua. Dan angkat tanganmu. Jika kau masih ingin hidup," jawab Mawar sambil meletakkan persenjataannya lalu mengangkat kedua tanganya.