The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 16: Membuat Tato



Mawar menyeret Joshua keluar dari ruangan Markus dengan langkah lebar-lebar. Ia benar-benar kesal dengan ayahnya karena keinginannya tidak dituruti.


Joshua hanya diam dan mengikuti Mawar tanpa membantah sedikit pun. Ia tahu gadis ini sedang dalam suasana hati yang kurang baik dan ia tidak ingin memperburuk keadaan.


Mereka berjalan melewati lorong yang sepi dan hening. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar menggema di sepanjang lorong.


Joshua dan Mawar hanya membisu sepanjang jalan. Joshua sibuk dengan pikirannya sendiri, begitu pula Mawar.


Hingga terdengar suara decitan pintu dibuka. Dan bayangan hitam muncul di lantai lorong. Diikuti suara langkah kaki membuat bayangan tersebut semakin memendek.


Seorang lelaki muncul di hadapan Joshua dan Mawar secara tiba-tiba, membuat keduanya terkejut.


"Arkan! Kau membuatku kaget," seru Mawar kesal.


Joshua memperhatikan Arkan dari atas ke bawah. Rambutnya tak tertata seperti baru bangun tidur. Celana panjangnya digulung hingga mencapai lutut. Tetapi hanya bagian sebelah kanannya saja. Sedangkan bagian celana sebelah kirinya dibiarkan jatuh hingga mencapai mata kakinya. Sebuah permen lollipop tersemat di bibirnya.


"Terima kasih, Mawar. Teriakanmu membuat rasa kantukku hilang seketika." Arkan memasukkan jari telunjuknya ke lubang telingannya sambil membuat gerakan memutar dan menggosok-gosok.


"Kau!" geram Mawar tertahan sambil mengangkat satu tangannya yang terkepal.


"Siapa dia?" mengabaikan geraman Mawar, Arkan malah bertanya hal lain tanpa suara sambil menunjuk ke arah Joshua.


"Ah... dia Joshua. Calon anggota baru kita. Dia akan dijadikan sebagai petarung," Mawar menolehkan kepalanya ke arah Joshua yang masih mengamati Arkan, "dan, Joshua," panggil Mawar. Membuat Joshua balas menatap ke arah Mawar. Mawar menolehkan kembali kepalanya ke arah Arkan, "dia Arkan. Ahli IT terbaik kami," Mawar memperkenalkan keduanya.


Arkan menunjuk bergantian Joshua dan Mawar dengan lollipop yang baru saja ia keluarkan dari mulutnya. "Kalian ada hubungan?"


"Kau gila?" bentak Mawar. Kemudian ia mengikuti arah pandang Arkan dan mendapati tangannya masih menggandeng tangan Joshua.


Mawar yang baru saja sadar bahwa sejak tadi masih menggandeng tangan Joshua, segera melepaskan cengkramannya dari pergelangan tangan Joshua.


"Padahal tidak apa-apa jika kau mau bergandengan dengannya hingga besok pagi juga," komentar Arkan. Arkan kemudian berjalan melewati keduanya. Ia menepuk pelan pundak Joshua saat sampai di samping Joshua. "Aku ingin mengobrol banyak denganmu, Man. Tapi, aku sedang sibuk sekarang. Jadi kurasa kita bisa mengobrol lain kali saja," katanya sebelum akhirnya benar-benar berlalu pergi.


Mereka tiba di tempat yang lebih terang dari pada lorong yang mereka lewati tadi. Di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup, ada dua orang yang berdiri di depan pintu. Dan saat seorang baru saja keluar dari pintu tersebut, keduanya segera masuk ke dalam.


"Tato baru?" sapa Mawar pada pria dengan rambut plontos yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Pria tersebut nampak terlihat seperti berusia akhir dua puluhan tahun.


Pria tersebut menganggukkan kepalanya. "Ya. Keren, 'kan?" tanyanya sambil menunjukkan tato di lengan sebelah kanannya. Tato berbentuk ular yang nampak masih baru. Terlihat dari sisi kulit sekitar tato yang masih memerah.


"Wow. Ini keren sekali! Aku harus membuat yang sama kapan-kapan," komentar Mawar yang nampak kagum.


Setelah berbincang-bincang sebentar, pria tersebut kemudian pergi. Tinggal Mawar dan Joshua yang masih berdiri di luar ruangan. Mawar membuka sedikit pintu ruangan, dan mengintip ke dalamnya.


"Paman, apa masih lama?" tanya Mawar kepada orang yang berada di dalam ruangan.


Mawar kembali menganggukkan kepalanya dan menutup pelan daun pintu yang gagangnya berada di genggamannya.


"Mengapa kita tidak masuk saja? Aku capek berdiri," tanya Joshua yang sekarang sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya di samping tembok sebelah pintu. Ia lelah berdiri sejak tadi.


Mawar mengangkat kedua bahunya acuh. "Dia tidak suka ada banyak orang berada di ruangannya. Lagi pula, tidak ada yang menyuruhmu berdiri. Kau bisa berjongkok," balasnya.


"Ngomong-ngomong, tato seperti apa yang harus kubuat?" tanya Joshua tiba-tiba.


Mawar tidak merespon ucapan Joshua dan malah menurunkan resleting jaketnya hingga terbuka sempurna. Kemudian ia segera membuka jaket yang membalut tubuhnya tersebut.


Kini, tubuh bagian atas Mawar hanya tertutup dengan tank top tali spageti dengan model crop top sehingga perut mulusnya terekspos sempurna. Keringat yang menempel di tubuhnya membuat kulitnya terlihat lebih mengkilat. Bra push up yang ia gunakan membuat dadanya terangkat dan terlihat kencang.


Saat di pantai tadi, Joshua tidak begitu memperhatikan tubuh Mawar karena minimnya cahaya. Namun, di tempat seterang ini pemandangan di hadapannya benar-benar mengganggunya.


Apa-apaan gadis ini? Ia hanya bertanya tato berbentuk seperti apa yang harus ia buat. Mangapa ia malah membuka bajunya? Joshua meneguk salivanya dan membuang wajahnya yang sudah memerah ke samping.


"Wajahmu selalu memerah, ya. Jika merasa malu?" tanya Mawar sambil melangkah mendekat ke arah Joshua. Warna merah di wajah Joshua seketika menjalar hingga ke telinganya.


"Telingamu bahkan sudah memerah sekarang," ucap Mawar sambil menyentuh telinga Josua dan mengamatinya.


Mereka berdiri terlalu dekat. Dada Mawar bahkan hampir menyentuh lengan Joshua. Membuat Joshua menahan napasnya. Mawar tidak tahan lagi, ia berjalan mundur dan lantas memuntahkan tawanya sambil memegangi perutnya. Ekspresi Joshua sungguh menggemaskan. Padahal ia pandai bertarung, tapi bisa gugup saat didekati wanita.


"Aku hanya bertanya tato seperti apa yang harus kugunakan. Mengapa kau malah membuka bajumu!" Joshua akhirnya membuka suaranya. Walau dengan wajah yang masih berpaling dari Mawar.


"Aku membuka jaketku karena ingin memberi tahu bagaimana bentuk tato yang akan dibuat di tubuhmu."


"Kau dapat memberi tahuku saja tanpa perlu membuka baju!" protes Joshua.


"Padahal tadi di pantai, kau secara terang-terangan memandangi tubuhku," cebik Mawar.


Joshua menolehkan kepalanya cepat memandang ke arah Mawar. Ia tidak senang di tuduh memandangi tubuh gadis itu. "Aku tidak memandangi tubuhmu, aku hanya melihat tato di bawah tulang selangkamu itu. Tato tersebut nampak tak asing bagiku," elak Joshua.


"Memang tato ini yang ingin aku tunjukkan, Bodoh." Mawar menjitak kepala Joshua. Membuat Joshua melotot ke arahnya kesal.


"Semua anggota di sini memiliki tato ini. Wajar saja jika kau merasa pernah melihatnya. Mungkin kau tidak sengaja melihat tato ini dari orang-orang kami baru-baru ini." Mawar kembali memakai jaketnya dan menyandarkan punggungnya di tembok tepat di samping Joshua.


Joshua nampak berpikir sejenak. Pantas saja ia nampak tak asing dengan tato tersebut. Ia ingat pernah melihat tato serupa di punggung tangan ayahnya.


"Apa tato tersebut ada hubungannya dengan namamu?" tanya Joshua sambil sedikit menoleh ke arah Mawar.


Mawar menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tato ini sudah wajib digunakan bahkan sebelum aku lahir. Karena bunga mawar melambangkan kekeluargaan. Dan kita mau menjaga hal tersebut di organisasi ini."