
Joshua dan Mawar tiba di sebuah ruangan dengan nuansa putih yang mendominasi. Ketika pintu di buka dan mereka masuk ke dalamnya, bau dari obat-obatan menyeruak ke indra penciuman mereka.
Mawar mengantarkan Joshua untuk diobati terlebih dahulu oleh seorang dokter. Dokter Andi namanya. Andi sudah berkerja dengan keluarga Rahadyan cukup lama. Umurnya pun sudah tak muda lagi.
Rambut Andi sudah memutih keseluruhannya. Namun, tubuhnya masih terlihat bugar. Senyumnya ramah saat menyambut kedatangan Mawar dan Joshua.
"Obati dulu lukamu, setelah itu Paman Danang akan mengantarmu untuk bertemu dengan Ayah," ucap Mawar sebelum berlalu pergi.
Wajah Joshua memang babak belur. Dan terlihat tampak lebih mengerikan setelah mereka masuk ke markas dan terkena cahaya lampu yang terang.
Dokter Andi memersilahkan Joshua duduk di atas kasur perawatan. Sedangkan pria yang Mawar panggil dengan panggilan Paman Danang menunggu Joshua di samping pintu.
"Kau beruntung, beberapa orang yang kuobati setelah malam penentuan biasanya mengalami lebih banyak cidera dan bahkan ada yang mengalami patah tulang," kata Dokter Andi sambil mengobati luka dan memar di wajah Joshua setelah memeriksanya.
"Malam penentuan?" tanya Joshua penasaran.
"Seperti malam ini. Malam yang menentukan apakah kau layak atau tidak bergabung dengan majapahit. Di malam itu kau harus melawan empat sampai lima orang. Jika kau masih hidup, maka kau lolos."
Joshua mengernyitkan dahinya. "Ada yang mati?"
Dokter Andi mengangkat kedua bahunya. "Belum ada yang sampai meninggal. Hanya saja begitulah peraturannya."
Dokter Andi menyentuh hidung Joshua dan menggesernya.
"Aaawww!!" pekik Joshua.
"Kurasa tak ada masalah dengan hidungmu," gumam Dokter Andi sambil mengamati hidung Joshua.
Dokter Andi berdiri menjauh dari Joshua untuk mencari obat untuk wajah Joshua. Sementara Joshua masih duduk di atas kasur berwarna putih di bawahnya sambil mengamati pergerakkan Dokter Andi.
"Apa semua anggota di sini wajib melakukan hal tersebut?"
Dokter Andi menutup kotak yang berisi obat-obatan dan tergantung di sisi lain ruangan. Tangannya sudah memegang sebuah salep. Ia berjalan mendekat kembali ke arah Joshua dan kemudian kembali duduk di atas kursi tanpa lengan di hadapan Joshua.
Dokter Andi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya anggota yang menjadi petarung saja lah yang melakukan hal tersebut. Staff-staff lainnya tidak."
"Staff-staff lain?" tanya Joshua lagi karena penasaran. Sebenarnya sebesar apa organisasi ini?
"Ah... aku tidak dapat menjelaskannya karena bukan hakku untuk menceritakan ini padamu. Tapi, hal yang harus kau ketahui... organisasi ini sangat besar dan berkuasa serta kejam dan menakutkan."
"Jika organisasi ini sangat kejam dan menakutkan, mengapa Dokter mau bekerja dengan mereka?" Joshua yakin pasti setiap orang punya alasan tertentu mengapa mereka mau terlibat dengan suatu kelompok berbahaya dengan resiko pekerjaan yang tinggi.
"Buka pakaianmu," perintah Dokter Andi yang hendak melihat cedera di tubuh Joshua agar ia bisa mengobatinya, "awalnya karena gaji yang besar," mata Dokter Andi sejenak nampak menerawang, "saat aku masih muda tentu hal seperti itu sangat menggiurkan. Namun, setelah lama aku berkerja di sini, hal yang membuatku bertahan adalah karena aku menemukan keluarga di sini."
Dokter Andi mengobati tubuh Joshua sambil mengenang masa lalu. "Aku berasal dari keluarga berada. Akan tetapi, kedua orang tuaku bercerai. Aku tercukupi secara finansial. Tapi, tidak secara kasih sayang. Dan di sinilah aku merasa bahwa aku merasakan bagaimana rasanya memiliki kekuarga walau tak sedarah. Jadi aku memutuskan untuk bekerja di sini hingga akhir karirku."
Joshua menganggukkan kepalanya mengerti. Di sisi lain, ia brsyukur karena masih mendapatkan kasih sayang penuh dari ibunya walau pun ayahnya sudah tiada.
"Sudah selesai. Aku akan memberikan obat untuk meredakan nyeri cederamu," kata Dokter Andi sambil berjalan kembali ke mejanya.
Dokter Andi menyerahkan sebuah botol kecil berisi tablet-tabket berbentuk lingkaran.
"Terima kasih," kata Joshua sebelum beranjak pergi.
"Jaga dirimu, Nak. Semoga betah bergabung dengan kami," pesan Dokter Andi sambil tersenyum.
Joshua dan Danang berjalan beriringan menuju ruangan Markus. Joshua lebih banyak diam, karena Danang juga tidak mengajaknya berbicara.
"Danang!" panggil sebuah suara bariton dari belakang mereka.
Danang menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria yang Joshua pikir hamlir seusia dengan Danang, nampak terlihat ngos-ngosan, kehabisan napas setelah berlari.
"Ada masalah di pelabuhan. Kurasa kau harus ikut ke sana," kata pria itu kepada Danang.
Danang menoleh ke arah Joshua. "Kau naik saja ke atas tangga ini lalu belok ke sebelah kanan. Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan dengan dua pintu besar. Di situlah ruangan Markus." Danang menepuk pundak Joshua. "Aku pergu dulu, Nak. Maaf tidak bisa mengantarkanmu sampai ke sana."
Danang segera beranjak pergi mengikuti pria yang memanggilnya tadi. Sementara Joshua tidak ambil pusing ia berjalan mengikuti petunjuk yang Danang berikan. Hingga akhirnya ia sampai di depan ruangan yang dimaksud oleh Danang.
"Ayah bilang, jika aku berhasil membawanya bergabung dengan kita, maka aku bisa menjadi petarung! Aku bosan berkerja di balik komputer! Itu sama sekali tidak seru!"
Tangan Joshua yang hendak mengetuk pintu, menggantung di udara saat ia mendengar teriakan seorang perempuan yang Joshua tebak adalah suara Mawar.
"Ini bukan masalah seru atau tidaknya Mawar! Ini pekerjaan bahaya! Pokoknya kau hanya boleh bekerja menjadi petarung hanya tetap dengan pengawasan Ayah. Dan juga, karena kau adalah penerus Ayah, maka kau tetap harus bekerja di bagian managemen—"
"Ayolah, Ayah aku sudah besar dan tidak butuh seseotang untuk mengawasiku."
Perdebatan antara ayah dan anak itu membuat Joshua ragu untuk mengetuk pintu. Ia rasa, ini bukanlah saat yang tepat untuk bertemu dan berbicara dengan Markus.
"Kau tidak masuk?" sebuah suara mengejutkan Joshua. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Paman Idhang sudah berdiri di belakangnya.
Paman Idhang berjalan melewati Joshua dan membuka pintu. "Masuk saja. Perdebatan mereka akan berlangsung lama jika itu yang kau tunggu."
Joshua mengekor di belakang Paman Idhang yang sudah masuk terlebih dahulu. Dan benar saja, perdebatan antara ayah dan anak tersebut seketika terhenti.
Joshua menatap ke arah Mawar yang wajahnya sudah tertekuk masam. Menatap kesal ke arah ayahnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu.
Prok....
Prok....
Prok....
Suara tepukan tangan membuat Joshua mengalikan pandangannya dari Mawar dan beralih menatap ke arah Markus.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap Markus sambil menyeringai puas. "Selamat datang Joshua."