The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 39: Proyek Reklamasi



Baru beberapa hari Joshua sampai ke Indonesia, jadwal hariannya langsung ia padati untuk menyelesaikan skripsinya. Mengerjakan skripsi memang melelahkan dan memakan waktu. Tapi, itu tidak ada apa-apanya dari pada berkerja.


Joshua pergi ke kampus hari ini untuk melakukan bimbingan skripsi. Joshua melewati danau tempat salah satu mahasiswa yang kemarin mati di dalamnya. Garis kuning masih terpasang padahal kasus sudah berakhir berhari-hari yang lalu.


Kasus yang seharusnya menarik perhatian media, malah terlihat tenang. Pihak rektorat juga nampak terlihat tenang-tenang saja seperti tak terjadi sesuatu. Padahal salah satu mahasiswanya mati dengan cara ganjil.


Sesekali Joshua mendengar beberapa mahasiswa saling berbisik karena merasa kasihan kepada mahasiswa yang kabarnya meninggal karena depresi akademik tersebut. Entah mengapa mendengar cerita Sandy pada saat itu Joshua merasa bahwa mahasiswa yang meninggal tersebut memang benar tidak mati karena bunuh diri.


Apalagi setelah Josua telusuri, aksi demonstrasi yang hendak dikepalai oleh mahasiswa tersebut merupakan aksi yang menolak reklamasi Pulau Benua Timur. Karena proyek tersebut diduga sebagai sumber korupsi pemerintah provinsi. Sedangkan, beberapa hari sebelum mahasiswa itu meninggal, Universitas Krisan baru saja merilis artikel tentang dukungannya terhadap proyek reklamasi Pulau Benua Timur.


Apa pihak kampus terlibat dalam kasusu kematian mahasiswanya? Joshua tidak tahu pasti dan tidak inin menduga-duga.


"Kamu dicari Pak Ilham kemarin gara-gara tidak hadir bimbingan," ucap Sany saat Joshua baru saja duduk di sebelahnya.


Hari saat Joshua pergi ke Makau merupakan hari di mana ia seharusnya pergi ke kampus untuk melakuka bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya.


"Aku ada urusan mendesak kemarin. Jadi, harus pulang kampung," kata Joshua sambil mengeluarkan sebundel kertas yang sudah tersusun rapi dan terjepit.


Josua dan Sandy sedang duduk di lorong depan ruang dosen untuk menunggu giliran bimbingan skripsi. Mereka hanya berdua di lorong tersebut. Karena nampaknya mahasiswa lain sudah selesai melakukan bimbingan. Harus Joshua akui, ia memang datang terlalu siang hari ini.


Joshua membuka-buka lembaran kertas di tangannya untuk mengecek kelengkapan isi dari skripsinya. "Sandy. Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


'Ya. Tanyakan saja. Aku akan menjawab jika memang bisa menjawabnya."


"Mengenai aksi demonstrasi yang akan kalian lakukan. Itu merupakan aksi penolakan pembangunan reklamasi Pulau Benua Timur bukan?"


Sandy menganggukkkan kepalanya. "Ya. Itu merupakan proyek yang menjadi sumber korupsi pemerintah provinsi. Proyek tersebut juga hanya menguntungkan para kaum kelas atas. Sedangkan kaum menengah ke bawah tidak akan meraasakan manfaatnya. Padahal pembangunannnya menggunakan uang rakyat yang tidak hanya berasal dari kalangan kelas atas."


"Mengenai artikel yang dirilis kampus, mengapa kampus mendukung proyek tersebut?"


Sandy mendekatkan wajahnya ke telinga Joshua dan berbisik dengan sangat hai-hati. "Itu karena kampus kita sudah terlibat politik."


"Bagaimana kau bisa tahu? Dan apa pengaruhnya dengan proyek reklamasi?" tanya Joshua penasaran.


Sandy menggedikan kedua bahunya. "Jelas sangat berpengaruh. Universitas sebagai lembaga pendidikan dan riset memiliki citra sebagai sumber informasi yang valid bagi sebagian masyarakat. Karena dipenuhi oleh banyaknya akademisi yang dianggap ahli dibidangnya. Pendapat para ahli lebih meyakinkan masyarakat daripada pendapat orang yang tak menempuh pendidikan formal sampai dengan bangku kuliah."


Joshua mencodongkan tubuh mendekat ke arah Sandy dan berbicara dengan suara lebih rendah, "Mungkin ini terdengar seperti mengada-ngada. Tapi, apa mungkin kematian temanmu kemarin ada hubungannya dengan pihak kampus?" tanyanya dengan sangat berhati-hati.


"Bisa saja. Aku tidak tahu pasti karena tidak adanya bukti. Tapi, yang jelas dan yang sangat kuyakini adalah, dalang dibalik kematian Arshad merupakan orang dengan pengaruh besar."



Joshua baru saja sampai ke markas saat Markus memanggilnya. Joshua baru saja hendak pergi menuju ruangan Markus saat ia berpapasan dengan Mawar.


Mawar menghadang jalannya dengan melebarkan kedua tangannya. "Ayah memanggilmu bukan?" tanyanya secara tiba-tiba.


"Iya. Aku baru saja hendak pergi ke ruangannya."


"Kalau kau mendapatkan misi baru, ajak aku bersamamu," pinta Mawar.


Namun Mawar lebih dulu berkata panjang lebar, "Ayah marah padaku karena misi berlian yang kita lakukan kemarin. Ia tak mengijinkanku untuk mengikuti misi dalam beberapa waktu sebagai hukuman. Aku bisa gila jika hanya berkerja di balik komputer setiap hari."


"Memangnya, kalau aku mengajakmu, ayahmu akan mengijinkanmu untuk mengikuti misi tersebut? Kurasa tidak."


"Ayah pasti mengijinkannya jika kau yang meminta. Aku yakin itu!"


"Tapi aku tidak yakin."


"Kau lakukan saja apa yang kuminta!" seru Mawar yang mulai terlihat kesal.


"Baiklah... baiklah. Akan kuusahakan. Tapi, jangan terlalu berharap." Joshua akhirnya mengalah.


Mawar menepuk pundak Joshua sambil tersenyum lebar. "Terima kasih. Kutunggu kabar baiknya. Awas saja jika kau ingkar janji," ancamnya di akhir kalimat.


Joshua mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak menjanjikan apapun. Kubilang, akan kuusahakan. Jangan terlalu berharap padaku. Bagaimana jika ayahmu tetap tidak mengijinkanmu mengikuti misi walaupun aku sudah memintanya agar kau juga ikut bergabung?"


"Ucapan seorang pria adalah sebuah janji. Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku harus mendapatkan misi juga jika kau mendapatkan misi." Setelah mengatakan hal tersebut Mawar segera beranjak pergi meninggalkan Joshua yang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ucapan seorang pria adalah janji? Hukum dari mana itu? Joshua tak mengerti dengan pola pikir Mawar.


Saat Mawar sudah benar-benar hilang dari pandangannya, Joshua segera melangkahkan kakinya untuk beranjak dari tempat ia berdiri sekarang. Tapi, tunggu dulu! Mau ke mana dia tadi? Ah... iya. Benar juga. Ia harus segera pergi ke ruangan Markus.


Saat Joshua memasuki ruangan Markus, di sana sudah ada Paman Idhang, Arkan dan Angga. Mereka semua duduk di atas sofa ruangan tersebut. Di atas meja di hadapan mereka terdapat foto gubernur. Apa ini misi baru?


"Apa ada misi baru untukku?" tanya Joshua sambil duduk di sebelah Angga.


Markus menganggukkan kepalanya. "Ya. Kita akan membunuh gubernur kali ini."


Paman Idhang menjentikkan rokoknya di atas asbak. "Dia melanggar perjanjian dengan kita mengenai proyek reklamasi Pulau Benua Timur. Menjadi serakah dan kita nyaris kehilangan seluruh keuntungan dari proyek tersebut."


Joshua baru tahu jika ternyata majapahit terlibat dengan proyek reklamasi Pulau Benua timur. "Aku baru tahu kalau ternyata majapahit terlibat dengan proyek tersebut."


Joshua jadi teringat perbincangannya dengan Sandy tadi di kampus. Benar-benar kebetulan yang tak terduga.


"Tentu saja kita terlibat. Proyek ini merupakan bisnis yang sangat menguntungkan untuk kita," sahut Markus.


"Apa kita perlu sampai membunuhnya?" tanya Joshua.


"Dia berhianat dan menyababkan kerugian pada bisnis kita. Jelas saja ia harus dimusnahkan," tanggap Angga.


"Maksudku. Jika kita bisa menyingkirkannya tanpa membunuhnya, apa kalian mau melakukannya?" jelas Joshua.


Semua orang mengernyit tak mengerti ke arah Joshua. "Apa rencanamu, Nak?" tanya Paman Idhang.