
Kencangnya angin malam di pinggir pantai menerbangkan helaian rambut Joshua. Joshua melepaskan alas kakinya dan memilih bertarung dengan bertelanjang kaki. Mengikuti empat orang di hadapannya.
Lagi pula, bertarung di atas pasir pantai lebih mudah dilakukan dengan tanpa alas kaki dari pada dengan menggunakan alas kaki. Membuat kaki Joshua bersentuhan langsung dengan pasir pantai yang lembut. Joshua mengenakan kaos hitam tanpa lengan. Mengakibatkan lengannya yang berotot karena rajin berlatih tinju terekspos. Ia tadi mengenakan jaket. Namun jaketnya ia sampirkan di atas batang pohon kelapa yang tumbang.
Joshua mengamati keempat lawannya sebelum pertandingan dimulai. Satu pria berambut kribo. Kedua ada pria yang berbadan agak gempal dan kepala botak. Lalu pria dengan tubuh agak kurus, dengan potongan rambut slebor di kedua sisinya dan rambut bagian tengahnya yang panjang ia ikat. Dan yang terakhir ada pria dengan rokok di bibirnya, menatap Joshua dengan pandangan meremehkan. Tubuhnya paling pendek di antara semuanya. Satu lengannya penuh dengan tato yang Josua tidak dapat melihat jelas tato apa yang tergambar di sana.
Joshua juga memperhatikan sekitarnya. Grombolan pria yang tidak ikut bertarung menatap ke arahnya. Di antara grombolan pria malam ini, hanya ada satu perempuan yang duduk di atas batang pohon kelapa yang tumbang.
Mawar melipat tangannya di depan dada sambil menatap serius ke arah Joshua dan empat petarung yang merupakan anak buah ayahnya. Ia berharap empat orang tersebut dapat mengalahkan Joshua. Agar Joshua bergabung dengan majapahit dan ia akan segera mendapatkan keinginannya.
Pertandingan dimulai. Gerombolan pria yang menonton, bersorak sorai. Berteriak. Bersiul. Berseru.
Joshua belum menyerang. Ia masih menghindar sampai mendapatkan titik yang tepat untuk menyerang salah satu di antaranya. Ia tidak bisa menyerang lebih dari satu orang dalam waktu bersamaan.
"Berhentilah menghindar, dasar Pengecut," ujar pria bertato meremehkan.
Hingga akhirnya ia menemukan titik di mana empat orang yang melawan Joshua berdiri dengan sudut yang hampir sejajar. Joshua maju. Menyerang pria berambut slebor yang berdiri paling depan.
Pria berambut slebor melayangkan tinju. Joshua menangkisnya dan langsung melemparkan tendangan dengan cepat. Membuat pria tersebut teralihkan sepersekian detik demi menangkis serangan cepat Joshua.
BUGH!
BUGH!
Joshua lantas langsung menggunakan kesempatan itu untuk memukul wajah bagian samping pria berambut slebor dengan pukulan beruntun. Hingga wajah pria tersebut terlempar ke samping.
"Sialan!" geram pria berambut slebor.
Temannya tidak tinggal diam. Pria berambut kribo mendekat ke arah Joshua dan mengunci leher Joshua dari belakang. Sementara pria berbadan gempal menyerang Joshua dari depan. Memukul wajah bagian depannya.
BUGH!
Joshua meringis. Merasakan tulang hidungnya yang sepertinya bergeser atau bahkan patah. Ia juga merasakan sepertinya ada sedikit darah yang mengalir dari lubang hidungnya.
Namun, Joshua tidak tinggal diam. Ia agak merundukkan tubuhnya. Menggenggam tangan pria yang mengunci lehernya. Satu kakinya mundur ke belakang kaki pria berambut kribo dan dengan cepat dan kuat ia mengangkat tubuh pria yang berdiri di belakangnya tersebut dan membantingnya ke depan.
BRAK!
Pria tersebut mengaduh kesakitan di atas tanah setelah tubuhnya terbanting. Ia tak berdaya lagi untuk melanjutkan pertandingan.
Segerombolan orang yang menonton pertarungan tersebut berteriak. Dan berseru-seru senang. Menonton pertandingan di hadapan mereka. Membuat suasana hening pantai menjadi riuh seketika.
Namun tidak dengan Mawar. Wajahnya nampak masam melihat pertandingan di hadapannya. Ia tidak senang Joshua berhasil mengalahkan salah satu di antara empat lawan yang diberikan Mawar.
Sementara itu, pertandingan masih terus berlangsung. Masih tersisa tiga orang di hadapan Joshua. Perjalanan Joshua masihlah panjang untuk mencapai kemenangan.
Sekarang giliran pria bertato yang menyerang Joshua dengan cukup cepat. Tidak membiarkan Joshua bernapas sedikit pun. Hingga akhirnya pria tersebut berhasil menendang ulu hati Joshua.
BRAK!
Joshua terjatuh ke atas hamparan pasir pantai.
"Argh...." Joshua mendesis karena rasa sakit yang ia terima.
Joshua menyentuh perut bagian atasnya yang terasa sakit. Bagian ulu hati memanglah bagian paling sensitif bagi Joshua jika terkena tendangan. Apa lagi jika tendangan tersebut cukup kuat.
Segerombolan orang kembali berteriak. Bersorak sorai. Menggeram. Meneriaki orang-orang yang bertarung dengan semangat.
Sementara Mawar, tersenyum menyeringai melihat Joshua berhasil di jatuhkan ke tanah oleh pria bertato.
Akan tetapi, tanpa ia sadari, Joshua bangkit dan langsung menyerang rahang pria tersebut dari arah bawah ke atas.
BUGH!
Kemudian celah waktu di saat pria tersebut menyeringai kesakitan Joshua gunakan untuk menendang dadanya dengan telapak kakinya dengan cukup kuat. Hingga ia terhuyung ke belakang. Kemudian, Joshua kembali melemparkan tendangan yang sama.
BRAK!
Dan pria berbadan gempal itu pun jatuh tersungkur. Joshua menghampiriri pria tersebut dan langsung menginjak perut bagian atasnya dengan sangat keras hingga pria itu merintih kesakitan.
Para penonton kembali bersorak. Meneriaki pertandingan yang semakin memanas. Dengan masih besedekap, Mawar membuang napasnya kesal.
Joshua menatap kedua lawannya yang masih tersisa. Pria berambut slebor adalah lawan yang menurut Joshua paling mudah di kalahkan karena ia sudah babak belur.
Jadi, Joshua dengan cepat menghampiri pria tersebut terlebih dahulu dan menyerangnya langsung.
Pria berambut slebor belum menyerang balik dan hanya menangkis pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang dilemparkan oleh Joshua. Hingga akhirnya temannya yang bertato menghampiri Joshua dan menyerangnya dari belakang dengan menendang punggung Joshua dari belakang.
Joshua hampir saja tersungkur ke depan jika saja ia tidak berhasil menahan keseimbangan tubuhnya. Joshua sebenarnya kesal karena diserang dari belakang. Namun, ia harus menekan amarahnya. Karena pertarungan dengan mengedepankan emosi tidak akan berakhir dengan baik.
Merasa di tantang karena diserang dari belakang, membuat Joshua membalikkan badannya dan menyerang pria bertato terlebih dahulu. Mereka saling memukul dan menendang dengan sengit.
BUGH!
Di tengah pertarungan mereka, tiba-tiba Joshua mendapatkan pukulan di sisi sebelah kanan wajahnya. Hingga wajahnya terlempar ke samping.
Joshua tau, pria slebor yang memukulnya. Namun ia abaikan. Dia harus mengalahkan lawannya satu persatu terlebih dahulu. Jika dia terlalu gegabah dan berambisi mengalahkan dua orang sekaligus dalam waktu bersamaan, maka ia akan berakhir dengan tidak mengalahkan siapa pun.
Pukulan Joshua berhasil mengenai wajah bagian samping pria bertato. Ketika pria tersebut sudah sesikir lengah, Joshua sedikit melompat dan memberikan tendangan dengan punggung kakinya dengan sangat keras. Karena pria tersebut berbadan lebih pendek dari Joshua, jadi tendangan Joshua mampu mencapai kepala pria tersebut.
BRAK!
Pria bertato jatuh tersungkur ke tanah. Membuat kerumunan orang-orang kembali bersorak dengan sorakkan yang semakin terdengar nyaring. Sedangkan Mawar, wajahnya semakin tertekuk.
Lawan Joshua tinggal satu. Pria berambut slebor dengan wajah yang sudah cukup babak belur. Joshua sedikit menyeringai. Dia bisa menyelesaikan ini dengan cepat, ia pikir.
Mereka pun saling serang head to head. Joshua menggunakan keahliannya dalam melemparkan pukulan cepat bertubi. Lawannya membalas, namun Joshua mengenggam tangan pria tersebut. Memutarnya dan menguncinya di punggungnya sendiri.
"Arrgh," rintih pria itu.
Joshua lalu menendang punggung pria slebor. Hingga pria tersebut terhuyung ke depan. Pria tersebut mendesis kesal. Namun, belum sempat ia berbalik, Joshua sudah kembali memberikan tendangannya hingga ia tersungkur ke tanah dengan wajah yang menempel ke atas hamparan pasir.
Joshua memenangkan pertarungan. Walau pun dengan wajah yang berakhir babak belur. Akan tetapi, hal tersebut tak menghilangkan ketampanannya. Wajah Joshua masih enak dioandang walau pun rambutnya berantakkan dan wajahnya babak belur serta penampilannya kacau.
Semua orang yang menonton berteriak dengan seruan-seruan nyaring untuk menyambut kemenangan Joshua. Beberapa di anatara mereka yang menonton sambil berjongkok atau pun duduk segera bangkit berdiri. Sambil terus berteriak. Menggeram dan bersiul. Merasa senang dengan pertunjukkan yang disajikan oleh Joshua.
Tapi, tidak dengan Mawar. Dengan wajah masam, Mawar bangkit dari duduknya. Melepaskan jaketnya dan melemparkannya asal ke tanah. Sehingga ia hanya tinggal mengenakan tank top sebagai atasan.
Kemudian Mawar berjalan mendekat ke arah Joshua. Membuat kerumunan seketika membelah menjadi dua. Memberikan jalan untuk Mawar yang nampak siap untuk menghabisi Joshua.
Orang-orang kembali bersorak dengan teriakan-teriakan yang semakin bercampur hingga tidak terdengar jelas apa yang mereka serukan.
Mawar berdiri di hadapan Joshua yang sekarang menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Sebagai penutup, kau harus melawanku," tantang Mawar.