The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 35: Kabur dari Penjara



Joshua, Mawar dan Sheila saling tatap dengan para polisi di hadapan mereka beberapa detik, hingga Sheila membanting pintu kembali dan menguncinya.


Mereka bertiga segera lari menuju ke pintu selatan. Yang merupakan pintu menuju ke tangga darurat. Saat mereka baru saja menginjakkan kaki ke tangga darurat, alarm peringatan berbunyi di sepanjang gedung.


"Naik terus hingga ke atap gedung. Chen akan menghampiri kalian dengan helikopternya. Aku akan menghubungkan kalian dengan Chen." Arkan menerangkan.


Joshua, Mawar dan Sheila mempercepat langkah mereka. Mereka harus tiba di atap gedung sebelum para polisi berhasil menemukan mereka.


"Hallo. Ini Chen. Kalian di mana? Aku sudah berada di atap gedung. Cepatlah kemari sebelum aku menarik perhatian orang-orang." Terdengar suara pria dari ear peace Joshua, Mawar dan Sheila.


"Kami segera ke sana Chen!" sahut Mawar.


Mereka semakin bergegas menuju ke atap. Akan tetapi, nasib baik tak berpihak kepada mereka. Saat sudah hampir sampai ke pintu, beberapa polisi muncul menghampiri mereka.


Sheila menrogoh tasnya dan melemparkan beberapa bom asap ke arah mereka. Membuat para polisi tak bisa melihat karena asap warna-warni memenuhi udara seketika.


"Serahkan padaku sisanya. Kalian perhilah terlebih dahulu menghampiri Chen," seru Joshua yang langsung menyerang para polisi yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan ruangan berasap warna-warni.


Sementara itu, Mawar dan Sheila segera hilang di balik pintu untuk pergi menghampiri Chen.


Joshua berhasil melucuti senjata para polisi dan membuat mereka bertarung dengan tangan kosong. Di tangga darurat yang sempit ini, Joshua bisa lebih unggul. Karena bertarung di tempat sempit jauh lebih mudah baginya dari pada bertarung di tempat yang luas.


Salah satu polisi terjatuh dari atas tangga. Hingga tubuhnya menabrak pagar pembatas dan terdengar suara "krak" cukup nyaring disusul dengan suara rintihan pria tersebut.


Joshua terus bertarung hingga satu persatu polisi gugur. Hingga akhirnya Joshua berhasil melumpuhkan semua lawannya.


"Jo, kau masih di sana? Kalau kau butuh bantuan aku akan kembali," ujar Mawar kepada Joshua.


Joshua memukul belakang kepala polisi terakhir yang menjadi lawannya, hingga polisi tersebut pingsan.


"Tidak. Aku akan segera ke sana. Aku sudah selesai," sahut Joshua sambil menaiki tangga 1menuju ke arah pintu.


Saat Joshua baru saja membuka pintu, seperti istilah gugur satu tumbuh seribu, gerombolan polisi mencul dari balik tangga. Jauh lebih banyak dari sebelumnya dan membawa persenjataan.


Joshua jelas akan kalah jika melawan mereka. Karena Joshua tak membawa senjata satu pun. Jadi, hal paling memmungkinkan yang ia lakukan adalah segera lari menuju helikopter dan kabur.


Helikopter yang awalnya sedang diam terparkir, akhirnya harus lepas landas, saat Mawar dan Sheila melihat Joshua berlari ke arah helikopter tidak sendiri.


Mawar dan Sheila menurunkan tangga tali, agar Joshua bisa naik ke atas helikopter yang sudah mulai terbang tersebut. Sementara itu, terjadi baku tembak antara Mawar dan Sheila dengan polisi-polisi yang mengejar Joshua.


Joshua bergelantungan di tangga helikopter yang terbuat dari tali tersebut. Tangannya menggengam tali di atasnya untuk menahan berat tubuhnya yang semakin berat karena angin kencang. Ternyata bergelantungan di tali saat helikopter mulai lepas landas, tidak semudah seperti yang ia lihat di fil. aksi.


Joshua melirik ke bawah. Ke arah kota di bawah kakinya. Jika ia terjatuh, maka bisa di pastikan ia akan mati seketika.


Joshua berusaha naik dari satu tangga ke tangga lainnya dengan susah payah. Pegangan tangannya tidak boleh lepas. Pijakkan kakinya harus bisa bertahan walaupun tali di bawah kakinya terus bergoyang mengikuti angin.


Yang membuat Joshua semakin sulit untuk naik ke atas adalah, helikopter yang terus bergoyang karena menghindari peluru dari para polisi.


Hingga akhirnya, mereka berhasil menjauh dari para polisi. Dengan Joshua yang masih dengan susah payah naik ke atas.


Napas lega berhembus dari bibir Joshua saat ia akhirnya berhasil masuk ke dalam helikopter dengan nyawa yang masih utuh.


Setelah aksi tembak menembak tersebut, Mawar dan Sheila segera menyimpan kembali senjata mereka. Lalu, Sheila mengambil headphone dan segera duduk di kursi samping pilot helikopter yang tak lain adalah Chen.


Mawar menyodorkan sebotol air minum kepada Joshua yang duduk di kursi penumpang. Joshua mengambilnya dengan penuh rasa syukur dan segera menegak habis isinya.


Joshua benar-benar kehausan sejak tadi. Terakhir kali ia minum adalah saat di pesawat jet pribadi Mawar sebelum mereka tiba di Makau.


"Di mana Arkan?" tanya Joshua kepada Mawar.


"Dia sudah di kapal pesiar milik Wong sejak kita tersambung dengannya di penjara tadi," jawab Mawar.


"Masih mau minum lagi? Kau tampak masih kehausan?" tanya Mawar saat melihat Joshua yang dengan sangat cepat menghabiskan air minum di tangannya. Seolah-olah itu adalah air minum yang pertama kali ia temukan sejak ribuan tahun lamanya.


Joshua menganggukkan kepalanya, tidak menolak tawaran Mawar. Karena ia memang sedang merasa benar-benar haus.


"Terima kasih," ucap Joshua saat menerima botol keduanya dari Mawar.


"Jangan ucapkan terima kasih!" Mawar memperingatkan Joshua.


Bagi Mawar kata terima kasih dari Joshua justru malah membebaninya. Bukankah ia yang harusnya berterima kasih karena Joshua sudah mau membantunya sejauh ini? Dua botol air mineral bukan apa-apa dari pada perjuangan Joshua yang berusaha membantunya walaupun pria itu sempat memarahinya saat tahu bahwa misi ini adalah tugas dari Mawar pribadi. Hati Mawar menghangat dengan sikap Joshua kepadanya.


Joshua memandang ke arah luar jendela. Joshua perhatikan sejak tadi mereka berputar-putar di atas perairan tanpa tujuan yang jelas.


"Kita sebenarnya mau ke mana?" Joshua bertanya pada siapa pun yang ingin menjawab pertanyaannya.


"Pulang," sahut Mawar.


Joshua menautkan kedua alisnya. "Dengan helikopter? Tapi, kita sejak tadi hanya berputar-putar di atas sini tanpa tujuan yang jelas."


"Kalian tidak akan pulang dengan helikopter. Namun, dengan kapal pesiar milik Wong. Tapi, sejak tadi aku tidak berhasil menemukan keberadannya. Padahal terakhir kali ia bilang akan berlayar di sekitar sini," Chen menjelaskan.


Sebenarnya Joshua cukup terkejut saat melihat pria berwajah Tiongkok tersebut bisa berbahasa Indonesia dengan sangat lancar.


"Sebenarnya, siapa Wo—" Joshua baru saja hendak bertanya siapa sebenarnya Wong. Orang yang namanya selalu ia dengar saat tiba di Makau tapi tak pernah sekali pun ia bertemu dengannya.


Namun, kalimatnya terhenti saat ia mendengar seruan dari Chen. "Gawat!"


"Ada apa Chen?" tanya Mawar mendekat ke arah Chen dan Sheila.


"Bahan bakar kita habis!" seru Chen dan Sheila bersamaan.