The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 37: Malam di Kapal Pesiar



Satu hari di Makau bagi Joshua rasanya seperti berhari-hari sudah lewat. Baru tadi pagi ia berangkat pergi ke Makau, malam ini ia sudah berada di atas kapal pesiar untuk kembali pulang ke Indonesia.


Joshua menikmati angin yang beraroma lautan menerpa wajahnya. Ia menatap bulan yang begitu bulat. Langit terlihat lebih jelas ketika kau memandangnya dari tengah lautan seperti ini.


"Banyak rahasia di lautan yang belum pernah berhasil dipecahkan oleh umat manusia," ucap Mawar yang tiba-tiba muncul di samping Joshua.


Joshua menundukkan pandangannya, menatap ke arah riak air laut yang dilewati kapal ini. Di atas keheningan kapal, suara deru ombak dapat terdengar sangat jelas. Semua orang sudah beristirahat kecuali Joshua dan Mawar.


"Jangankan lautan. Daratan pun masih memiliki banyak rahasia. Manusia itu rumit dan penuh dengan rahasia," Joshua menanggapi ucapan Mawar sambil termenung.


Karena benar itulah yang Joshua rasakan. Jika daratan tidak memiliki rahasia, maka ia seharusnya sudah mengetahui siapa yang membunuh ayahnya sekarang.


"Mau minum?" Mawar menyodorkan segelas anggur kepada Joshua.


Joshua mengambil anggur pemberian Mawar tersebut. Sepertinya, malam ini ia memang butuh minum.


Mawar menyesap anggur miliknya sendiri sambil menatap lurus ke arah lautan gelap yang tak terlihat ujungnya. "Meski begitu, tidak ada rahasia yang terkubur selamanya. Pasti akan ada satu dua orang yang tahu, walaupun terkadang mereka memilih diam."


Joshua tak berkomentar. Ia hanya menggangukkan kepalanya menyetujui apa yang Mawar katakan. Tapi, masalahnya adalah kapan ia dapat membongkar rahasia tentang kematian ayahnya?


"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan dari tadi. Tapi, satu hal yang dapat kutawarkan padamu," Mawar kembali membuka suara, "kau dapat bercerita padaku jika ada suatu hal yang menganggumu. Aku ini pendengar yang baik, loh."


Joshua menoleh ke arah Mawar. Ia berpikir sejenak. Haruskah ia bercerita tentang masalahnya dengan Mawar? Lagi pula, Mawar juga sudah tahu prihal kematian ayahnya. Jadi, tidak ada salahnya bukan kalau ia bercerita dengan orang lain selain dirinya sendiri?


Mawar mengedikkan kedua bahunya. "Kalau kau tidak mau cerita juga tidak masalah."


"Kau tahu tentang kasus kematian ayahku, 'kan?" pertanyaan Joshua mengejutkan Mawar.


Ia pikir Joshua tidak akan pernah mau berbagi dengannya. Mengingat sifat Joshua yang nampak tertutup tersebut. Dari yang Mawar lihat, Joshua merupakan orang yang suka memendam segalanya sendiri. Mungkin saja ia hanya tidak tahu bagaimana cara bercerita dengan orang lain. Untuk itu Mawar mencoba menawarkan telinga kepada Joshua.


Karena Mawar tahu, memendam segalanya sendiri tidaklah baik. Terkadang mungkin kita berpikir bahwa diri kita mampu menangani segalanya sendiri. Akan tetapi, ternyata segalanya tidak sesederhana apa yang kita pikirkan.


Manusia itu mahluk sosial. Biar bagaimana pun mereka tetap membutuhkan setidaknya satu orang yang dapat berada di sisi mereka untuk menjadi pendengar. Didengarkan ketika bercerita adalah hal sederhana yang dapat membuat orang lain lega.


Karena apa yang ada di kepala sama halnya seperti apa yang ada di perut. Mereka sama-sama harus di keluarkan pada waktunya.


Mawar menganggukkan kepalanya pelan sambil menyesap anggurnya. "Ya. Aku tahu tentang ayahmu," gumam Mawar, "dan jika aku tidak salah ingat, dialah alasanmu mau bergabung dengan kami."


"Ya. Kau benar. Kalau bukan karena itu, aku tidak akan pernah mau bergabung dengan kalian. Aku bahkan tidak tahu bahwa kalian ada, sebelum aku bertemu dengan kalian."


"Banyak hal dalam hidup yang tidak dapat diprediksi," komentar Mawar bijak, "malam ketika kau menolongku, saat itu aku sedang kabur dari ayahku untuk bertemu mantan pacarku. Tapi, anak buah ayahku berhasil menemukanku dan menangkapku. Kemudian kau datang menolongku. Jika pada saat itu kau tidak menolongku, aku mungkin sampai sekarang tidak akan tahu kalau dia berselingkuh dan kau tidak akan pernah bergabung dengan majapahit."


"Bagaimana nasib mantan pacarmu?" tanya Joshua penasaran.


Joshua terkekeh. "Karena kau bisa saja menghabisinya. Aku hanya merasa kasihan padanya, karena kau bisa saja melakukan banyak sekenario mengerikan padanya. Mungkin saja kau akan menenggelamkannya ke laut tanpa ada orang yang mengetahuinya."


Mawar menghembuskan napasnya pelan. "Meski begitu berengsek. Kami berdua pernah saling mencintai. Bagaimana mungkin aku melakukan hal buruk padanya padahal aku pernah begitu mencintainya?"


"Ternyata, kau cukup bijak juga," komentar Joshua.


"Wah. Aku merasa terhina kau berkata begitu. Padahal aku memang sangat bijak," ucap Mawar sambil berpura-pura tersinggung.


Joshua hanya terkekeh untuk menanggapi apa yang Mawar katakan. Kemudian, ia kembali menyesap anggur miliknya hingga gelasnya kosong.


"Ngomong-ngomong, kenapa malah membicarakan tentangku, 'sih?" tanya Mawar yang tiba-tiba sadar bahwa topik sudah berubah.


Mereka harusnya berbicara tentang Joshua dan apa yang menganggu pria tersebut. Bukan malah membicarakan mantan brengseknya.


"Mari kita bicarakan topik semula," kata Mawar memutuskan sambil menolehkan kepalanya ke arah Joshua.


Mata Mawar membola. Ia sangat terkejut karena Joshua sekarang sudah berdiri sangat dekat dengannya. Mawar menegak ludahnya saat matanya berhadapan langsung dengan bibir Joshua.


"Bisakah malam ini kita tidak perlu berbicara lagi?" rancu Joshua yang terlihat sudah mulai mabuk.


"M-maksudmu?" tanya Mawar tergagap.


Berdiri terlalu dekat dengan Joshua entah mengapa membuatnya menjadi segugup ini. Sepertinya semuanya karena anggur sialan yang sudah habis ia tegak tadi. Mawar membasahi bibirnya yang mendadak terasa mengering.


"Maksudku begini." Joshua menempelkan bibirnya dengan bibir Mawar sebelum Mawar dapat memikirkan apapun.


Mawar tak membalas. Tapi, juga tidak menolak. Otaknya yang tiba-tiba berjalan lambat dari biasanya.


Joshua menjauhkan wajahnya. Ia tampak kebingungan sejenak dan hendak mengucapkan permintaan maaf. Namun, baru saja bibir Joshua terbuka, Mawar sudah menutupnya kembali dengan bibirnya.


Giliran Joshua yang terdiam sejenak. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Joshua langsung membalas apa yang dilakukan Mawar padanya.


Pelukkan Joshua di pinggang Mawar membuat Mawar merangkulkan tangannya di leher Joshua. Membuat tubuh mereka semakin merapat. Hampir tak bercelah.


Udara dingin laut seketika menjadi hangat dan lama kelamaan menjadi panas. Mawar terengah Begitu pula Joshua. Jadi mereka terpaksa harus memutuskan tautan mereka sejenak untuk menarik napas. Dahi mereka masih saling menempel.


Mata Joshua menunduk menatap ke arah bibir Mawar yang sudah mulai membengkak. Ia mendekatkan bibirnya kembali ke arah milik Mawar. Namun Mawar malah memundurkan wajahnya menjauh. Hal itu membuat kedua alis Joshua bertaut. Karena Mawar masih memeluk erat lehernya sekarang.


"Ke kamar saja, bagaimana?" Mawar menawarkan.