The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 18: Gara-gara Mabuk



Joshua membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa pening. Cahaya di sekitarnya terlihat temaram. Jadi tidak menyakiti atau membuat terkejut netranya saat pertama kali membuka mata.


Joshua menolehkan kepalanya ke arah lampu meja yang berwarna kekuningan. Lalu, menatap selimut lembut yang membalut tubuhnya. Ini jelas bukan kamar miliknya.


Joshua beranjak duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Ia menahan kepalanya yang masih terasa berputar dengan satu tangannya sambil memejamkan matanya. Berusaha mengingat-ingat kejadian semalam.


Semalam terakhir kali yang ia ingat, setelah di perkenalkan dengan seluruh anggota dan diajak berbincang oleh beberapa orang, ia dipaksa menghabiskan minuman keras oleh sekelompok pria lainnya. Sepertinya ia mabuk berat setelah itu, karena ia belum pernah mencicipi minuman keras sebelumnya.


Tak banyak yang ia ingat lagi setelah itu. Hanya banyangan-bayangan samar. Sebelum akhirnya ia berakhir di ruangan ini dan jatuh tertidur.


Joshua merasakan udara dingin membalut tubuhnya saat selimut sudah tak lagi menutupinya. Joshua membuka matanya yang terpejam. Menegakkan punggungnya kemudian menunduk ke bawah.


Ternyata tubuh bagian atasnya tak berbalut busana. Siapa yang melepas kaosnya. Apa yang terjadi dengan dirinya? Joshua mengintip ke bawah selimut. Syukurlah ia masih mengenakan celananya.


Saat Joshua sedang sibuk dengan pikirannya, pintu ruangan perlahan terbuka. Menampilkan Mawar yang berkacak pinggang.


Joshua dengan refleks menutup tubuh bagian atasnya dengan kedua tangannya.


Mawar melambaikan tangannya di depan wajah kemudian berjalan masuk ke dalam. "Aku sudah lihat semuanya. Karena aku yang membuka bajumu," katanya santai sambil berjalan ke arah jendela.


"Kenapa kau membuka bajuku?" tanya Joshua sambil menoleh ke arah Mawar.


Mawar membuka gorden yang tergantung di depan jendela, sehingga cahaya segera menerobos masuk ke dalam ruangan yang semula gelap tersebut. Hal itu membuat Joshua secara spontan menyipitkan kedua matanya. Berusaha beradaptasi dengan cahaya terang yang tiba-tiba mengenai matanya.


"Kau lemah sekali baru minum satu gelas sudah mabuk dan muntah. Bajumu penuh dengan isi perutmu. Jadi aku terpaksa melepaskannya," jelas Mawar, "apa kau lebih suka tidur dengan baju yang dipenuhi dengan muntahan?"


Joshua menggelengkan kepalanya. "Tidak. Terima kasih."


Mawar membuka salah satu lemari yang berada di ruangan tersebut. Menarik salah satu kaos berwarna hitam dan melemparkannya ke arah Joshua. "Kau bisa mengenakannya. Setelah itu kau bisa keluar untuk sarapan."


"Terima kasih." Joshua segera mengenakan kaos tersebut. "Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang? Dan di mana ponselku?"


"Ponselmu di atas nakas." Mawar menunjuk ke arah nakas di samping tempat tidur.


"Dan kalau tidak salah sekarang sudah pukul sembilan," kata Mawar bersamaan dengan tangan Joshua yang sedang menyalakan ponselnya.


Hari dan jam di layar depan ponselnya membuatnya terkejut. Ini hari kamis. Dan ia ada ujian pukul 9:45 sedangkan sekarang sudah pukul 9:15.


Joshua buru-buru bangkit dari kasurnya. Ia tidak punya banyak waktu lagi. "Kau bisa mengantarku?" tanya Joshua pada Mawar yang masih berada di depan pintu.


"Kemana?" Kedua alis Mawar saling bertaut.


"Tidak. Aku tidak bisa. Aku bukan supirmu." Mawar menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya berlalu pergi.


Joshua segera berlari keluar kamar dan mencekal tangan Mawar. "Ayolah, aku benar-benar butuh bantuanmu sekarang."


Mawar menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan Joshua. "Tidak mau—"


"Aku akan menuruti satu permintaanmu apa saja itu, jika kau mau membantuku sekarang. Kumohon."


Mawar nampak berpikir sejenak. Penawaran daei Joshua cukup menarik baginya. "Apa kau benar-benar akan melakukan apa saja yang kuminta?" tanya Mawar memastikan.


Joshua menganggukkan kepalanya cepat. "Ya. Apa saja."


"Sungguh?" tanya Mawar memastikan sekali lagi.


"Ya. Segalanya. Aku akan melakukan segalanya yang kau minta. Kau bisa memegang perkataanku. Tapi, hanya sekali," Joshua benar-benar butuh bantuan sekarang. Karena ia tidak akan sampai tepat waktu jika tidak meminta bantuan Mawar.


Mawar mengangkat salah satu sudut bibirnya dan tersenyum puas. "Baiklah. Tunggu sebentar. Biar aku mengambil kunci mobilku."


Langkah Mawar terhenti sejenak. Ia kembali menoleh ke arah Joshua. "Ngomong-ngomong kau bisa memakai salah satu mobil di sini secara cuma-cuma. Kau tahu itu. Kenapa perlu aku mengantarmu?"


"Aku tidak bisa mengendarai mobil," aku Joshua.


Mawar tak bertanya lagi. Ia mengangguk mengerti kemudian beranjak pergi untuk mengambil kunci mobilnya.


Joshua menghentak-hentakkan kakinya. Mawar tidak juga muncul sementara waktu semakin berputar. Kalau begini terus ia bisa benar-benar terlambat masuk ke ruang ujian.


Joshua baru saja hendak mencari keberadaan Mawar. Namun, gadis itu sudah muncul terlebih dahulu.


Joshua mengernyitkan dahinya. "Kau berganti pakaian?" tanyanya kepada Mawar. Pertanyaan yang tidak perlu di jawab pun Joshua sudah tahu jawabannya. Pantas saja ia harus menunggu cukup lama untuk seorang yang hanya mengambil sebuah kunci.


"Aku bahkan berdandan. Aku harus nampak cantik jika ingin keluar rumah."


"Aku akan terlambat," protes Joshua.


Mawar menarik tangan Joshua. "Kalau begitu, berhenti mengomel dan ayo pergi. Mengomel hanya akan membuang waktumu."


"Aku tidak mengomel, Mawar!" pungkas Joshua kesal.