
"Ah... akhirnya ketemu juga." Chen tersenyum lega. "Tapi, sepertinya bahan bakar kita tidak akan cukup sampai ke sana. Jadi aku akan mematikan mesin helikopter ini dan menjatuhkannya ke laut. Kalian melompatlah lebih dulu."
"Melompat? Ke laut?" tanya Joshua tak percaya.
Chen, Mawar dan Sheila menganggukkan kepalanya. Orang-orang ini benar-benar gila! Setelah hampir mati karena mencuri berlian, masuk penjara, bergelantungan dengan tali di atas kota, dan sekarang melompat dari atas helikopter? Kejutan apa lagi yang akan Joshua dapatkan selanjutnya?
"Kau bisa berenang?" tanya Mawar kepada Joshua.
Joshua menganggukkan kepalanya. "Bisa sih—"
Belum sempat Joshua menyelesaikan kalimatnya, Mawar sudah mendorong tubuhnya keluar dari pintu helikopter yang sudah dibuka oleh Sheila. Joshua terjun bebas tanpa pengaman dari atas helikopter untuk bersatu dengan air laut yang dingin.
Joshua berusaha berenang naik ke permukaan saat seluruh tubuhnya sudah masuk sempurna ke dalam lautan biru. Saat ia baru saja berhasil mengeluarkan kepalanya dari air laut yang asin, gelombng air laut yang di sebabkan oleh Mawar dan Sheila yang baru saja terjun menghantam wajahnya.
Belum saja Joshua berhasil mengirup oksigen bebas lebih banyak, gelombang lebih besar kembali menghantamnya hingga menyebabkannya kembali tenggelaam ke dalam air. Gelombang tersebut berasal dari helikopter milik Chen yang baru saja dijatuhkan ke laut.
Saat Joshua berhasil naik ke permukaan kembali, sebuah kapal pesiar sudah berada di dekat mereka. Arkan muncul dari balik pagar kapal pesiar tersebut. Tersenyum lebar dan melambaikan tangannya . Kemudian ia segera membantu Joshua, Mawar, Sheila dan Chen untuk naik ke atas kapal tersebut.
Hari sudah sore. Matahari sudah hampir tenggelam di ujung lautan. Semburat berwarana oren memenuhi langit yang mengelilinginya. Joshua yang baru saja bergabung dengan air laut yang dingin, semakin mengigil kedinginan saat angin kencang di atas kapal menerpa dirinya.
"Kalian... masuklah. Mandi dan berganti pakaian," ujar Arkan sambil membagikan satu persatu handuk kepada Joshua, Mawar dan Sheila. Sedangkan Chen, sudah masuk ke dalam kapal lebih dulu sejak tadi.
Joshua baru saja selesai mandi. Mandi dengan air hangat benar-benar membuat tubuhnya menjadi lebih rileks. Saat ia menggosok rambutnya yang basah dengan handuk sambil keluar dari kamar mandi, matanya menangkap Mawar yang sedang duduk di atas kursi sambil berusaha mengobati kakinya sendiri. Gadis itu terlihat kesulitan. Joshua membuang napas pelan.
Joshua mendekat ke arah Mawar dan berjongkok di hadapan gadis itu. Ia merebut kotak obat di samping Mawar tanpa berbicara sedikit pun.
"Aku bisa sendiri." Mawar berusaha menarik kakinya yang pergelangannya sekarang sudah digenggam oleh Joshua.
Cengkraman tangan Joshua lebih kuat daripada usaha Mawar yang berusaha menarik kakinya. Joshua tidak berbicara. Tidak mendongakkan kepalanya menatap ke arah Mawar. Ia hanya fokus menunduk dengan jemari yang sibuk mengobati luka di kaki Mawar yang terluka karena berlari tanpa alas kaki semenjak keluar dari hotel.
Mawar meringis menahan rasa sakit, saat Joshua mengoleskan alkohol untuk menyeterilkan luka di kakinya.
"Teriak saja jika sakit.Tak perlu ditahan," komentar Joshua sambil masih terus menunduk.
Mawar mencengkram pundak Joshua dengan kuat, "Arrkhh! Sakit! Bisa pelan sedikit tidak, sih?" omel Mawar. Hal itu membuat sudut bibir Joshua terangkat. Ia tetap tak berbicara apapun dan terus mengobati luka di kaki Mawar dengan lebih pelan dan hati-hati.
"Mawar! Joshua! Ayo makan malam. Wong sudah memasak banyak makanan untuk kita." Sheila tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Di depan meja makan panjang berbentuk persegi tersebut, semua orang udah berkumpul. Joshua segera menyusul dan mengambil tempat duduk di samping Arkan, bersebrangan dengan Mawar.
"Oh... ya, Joshua. Kau pasti belum berkenalan resmi dengan Wong dan Chen," suara Mawar membuyarkan lamunan Joshua yang sibuk memandagi maknan lezat yang tersaji di hadapannya. Semuanya merupakan hidangan berbahan dasar hewan laut. Mulai dari ikan, kepiting, udang hingga cumi-cumi.
"Jadi kenalkan. Ini adalah Wong." Mawar menunjuk pria yang duduk di sampingnya. Wajahnya ramah, namun masih terlihat tatapan meneliti di sorot matanya. "Dan ini, kau sudah bertemu dengannya saat di helikopter. Namanya Chen." Mawar menunjuk ke arah Chen. "Mereka berdua adalah anak angkat pamanku. Mereka juga yang membantu operasi kita saat di Makau tadi."
"Dan Wong, Chen... kenalkan ini Joshua Daniswara. Petarung baru ayahku."
Joshua pun berkenalan singkat dengan Wong dan Chen. Tidak seperti Chen yang terlihat seperti pria bebas yang tidak suka diatur dan banyak bicara, Wong terlihat jauh lebih tegas dan penuh perhitungan serta sangat teratur. Wong juga lebih sedikit bicara namun tetap ramah.
Mawar menjelaskan pada Joshua bahwa kekacauan yang mereka timbulkan di Makau akan segera Wong selesaikan. Hal itu membuat Joshua semakin yakin bahwa Wong merupakan orang yang cukup memiliki kuasa di Makau. Dan dilihat dari ia yang memiliki kapal pesiar sebesar dan semewah ini, serta saudaranya yang baru saja membuang sebuah helikopter secara cuma-cuma, jelas mereka bukan orang biasa.
"Bisakah kita berhenti berbicara dan makan saja?" ucap Arkan yang sudah tak sabar ingin menyantap makan malam di hadapannya.
"Kau terlihat santai untuk seseorang yang tidak berhasil mendapatkan barang yang sangat kau inginkan," komentar Joshua sambil berjalan menghampiri Mawar yang sedang berdiri bersandar pada pagar kapal.
Mawar memutar tubuhnya ke arah Joshua. "Siapa bilang aku tidak berhasil mendapatkan apa yang kuinginkan?"
Joshua mengedikkan kedua bahunya. "Berlian yang susah payah kita bawa kabur, harus disita oleh kepolisian Makau. Bukankah itu artinya kau tidak berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan? Karena setahuku kau benar-benar menginginkan berlian tersebut."
"Aku mendapatkan berlian tersebut," sahut Mawar sambil tersenyum lebar. "Ikuti aku," ajaknya kepada Joshua.
Mereka pergi ke kamar Mawar. Mawar lalu membuka lemari dan mengeluarkan sebuah koper hitam di dalamnya. Ia kemudian membuka koper tersebut. Dan terpampanglah berlian yang Joshua lihat di pelelangan, ada di hadapannya sekarang.
"Bagaimana bisa? Ini asli?" Joshua masih ragu. Bukankah berlian itu disita saat ia dan Mawar ditangkap polisi?
"Tentu saja ini asli. Yang disita kepolisian Makau adalah berlian tiruan. Kau ingat saat aku menabrak seorang turis wanita di hotel?"
Joshua menganggukkan kepalanya.
"Itu adalah Sheila. Kami menukar koper berlian asli dengan berlian tiruan saat kami bertabrakkan. Tabrakan itu disengaja," terang Mawar bangga.
Mawar menepuk pundak Joshua. "Terima kasih banyak, Jo! Karena misi kita berhasil, aku akan membayarmu mahal untuk ini."