The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 23: Tugas Pertama [2]



Joshua menarik pisau di paha pria yang berada di bawahnya sekarang. Pisau yang sudah dilumuri darah tersebut terangkat di udara di dalam genggaman tangan Joshua. Tetesan darah dari ujung pisau terjatuh bersatu dengan tanah.


Baru saja Joshua hendak melayangkan lagi pisau tersebut ke paha lain milik pria di bawah dirinya, dengan harapan dapat melumpuhkan kedua kaki pria tersebut. Akan tetapi, pria itu berhasil menahan tangan Joshua dengan satu tangannya.


Pria itu dengan segera berusaha merebut pisau di tangan Joshua. Di tengah gang yang memiliki pencahayaan remang yang bersumber dari lampu kuning yang terpasang di tiang di atas tong sampah, Joshua samar-samar melihat tato di punggung tangan pria yang sekarang sedang berusaha merebut pisau darinya. Tato bergambar daun maple dengan bayangan hitam di tengahnya yang tidak terlihat jelas. Karena sekarang fokusnya bukanlah untuk melihat tato apa yang dimiliki lawannya ini.



(Ilustrasi gambar tato yang dilihat Joshua.)


Aksi saling rebut pisau masih terus berlanjut. Sampai pada pisau tersebut akhirnya terlepar dan bersatu serta tenggelam di antara tumpukkan sampah.


Joshua masih sibuk bergumul dengan pria yang pahanya sekarang sudah terluka itu. Aksi saling tonjok, tendang, dorong, dan banting masih terus berlanjut.


Lawan Joshua cukup kuat walau satu kakinya sudah terluka. Meski begitu, Joshua tetap masih lebih unggul. Karena pria tersebut baru saja terlempar di atas tong sampah hingga limbah yang berada di dalamnya berhambur keluar dari dalamnya, ketika tong tersebut berguling bersamaan dengan tubuh pria itu.


"Jo!" teriak Mawar dari ujung lorong. Ia hendak membantu Joshua dan menghampirinya. Namun, suara sirine mobil menghentikan langkahnya.


Joshua yang lehernya sedang dikunci oleh lawannya, seketika berhenti memberontak dan menoleh ke arah Mawar. Begitu pula pria yang menjadi lawan Joshua. Pria tersebut juga terdiam sejenak. Kuncian tangannya di leher Joshua tak lagi ia pedulikan. Mereka bertiga terdiam untuk beberapa detik.


Sampai akhirnya lawan Joshua bergerak terlebih dahulu. Ia melepaskan tangannya dari leher Joshua dan mendorong punggung Joshua, hingga Joshua hampir terjungkal ke depan. Lalu, ia lari menjauhi Joshua.


Joshua mengejar pria tersebut, dan berhasil meraih ujung jaketnya hingga membuat sebuah benda jatuh dari dalam saku pria tersebut. Pria itu menangkis tangan Joshua yang menyebabkan cengkaraman tangan Joshua dari bajunya terlepas. Dan pria itu pun kembali berlari menjauh.


Joshua hendak mengejar pria itu lagi, namun Mawar yang sudah mencapainya segera mencekal pergelangan tangan Joshua. Ia menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat bahwa itu bukan tindakan yang tepat sekarang.


Joshua menundukkan kepalanya, menatap ke arah benda yang tadi dijatuhkan oleh pria yang bertarung dengan Joshua. Joshua merunduk dan mengambil benda tersebut. Sebuah suntikkan. Tabungnya kosong. Pun tak ada bekas cairan di dalamnya.


"Tidak ada waktu. Kita harus pergi dari sini sekarang," ucap Mawar tidak sabar kepada Joshua. Suara sirine yang semakin mendekat menjadi latar belakang suara di tengah kalimat yang Mawar lontarkan.


Mawar segera menarik Joshua untuk mengikutinya. Mereka berlari di sepanjang gang yang gelap dan sempit. Mereka mengikuti arahan yang diberikan oleh Arkan dari ear peace mereka masing-masing.


Sampai akhirnya mereka berhasil keluar dari gang tersebut dan bertemu dengan jalan utama yang lebar dan lebih terang. Sebuah mobil box berhenti tepat di depan mereka.


Joshua dan Mawar segera membuka pintu bagian belakang dan masuk ke dalamnya. Di dalam mereka disambut oleh Arkan yang sedang ditemani oleh komputer-komputernya dan berbagai perlengkapan menyadapnya.


Joshua dan Mawar segera duduk di atas kursi di samping Arkan saat mobil melaju meninggalkan kawasan tersebut.


"Ada yang mendahului kita," gumam Arkan saat mereka sudah cukup lama berada di dalam perjalanan menuju kembali ke markas.


Arkan segera menunjukkan layar komputernya ke arah Joshua dan Mawar. Punggungnya ia sandarkan ke sandaran kursi. Sementara matanya fokus menonton berita terkini yang baru saja disiarkan tersebut.


Seorang presenter wanita dalam acara berita terkini memberitahukan pada penontonnya bahwa salah satu calon wakil walikota meninggal dunia karena serangan jantung. Foto target mereka terpampang di layar berita di samping presenter wanita yang berdiri sambil terus menatap lurus ke depan kamera sambil menyampaikan berita.


Waktu kematiannya belum lama semenjak mereka meninggalkan kediaman target mereka tersebut.


Joshua mengeluarkan suntikkan dari dalam saku celananya yang tadi dijatuhkan oleh orang yang menyerangnya. "Aku menemukan ini," ucap Joshua.


Membuat Mawar dan Arkan menoleh ke arahnya Mereka mengikuti sudut pandang Joshua yang menatap suntikkan di satu telapak tangannya.


"Serangan jantung disengaja!" ujar Mawar dan Arkan bersamaan.


Joshua menautkan kedua alisnya. "Disengaja?"


Arkan menganggukkan kepalanya. "Ya. Disengaja. Suntikan udara kosong ke pembuluh darah langsung, itu dapat menyebabkan serangan jantung."


"Kebetulan. Calon wakil walikota memiliki riwayat penyakit jantung. Jadi serangan jantung tiba-tiba yang dialaminya bisa dianggap wajar oleh orang sekitarnya," sahut Mawar sambil menatap lembaran-lembaran berkas di tangannya.


"Itu artinya... orang yang baru saja membunuhnya merupakan orang profesional. Dia jelas tau data riwayat penyakit yang dimiliki oleh calon wakil walikota. Data sesulit ini hanya bisa didapatkan oleh orang-orang tertentu," Arkan menyimpulkan.


"Pertanyaannya siapa orang tersebut?" tanya Mawar sambil meletakkan berkas di tangannya ke atas meja sambil menatap bergantian antara Joshua dan Arkan.


"Aku tidak tahu. Wajahnya tertutup sebagian. Hanya mata dan dahinya yang terlihat sepanjang kami bertarung," ucap Joshua sambil menunduk menatap kedua telapak tangannya. "Harusnya kutarik saja penutup wajahnya saat bertarung tadi. Agar setidak aku dapat mengetahui wajah orang yang bertarung denganku," imbuh Joshua sedikit menyesal.


Mereka kehilangan target. Dan Joshua malah bertarung dengan orang yang bukan merupakan target mereka. Itu juga karena Joshua diserang terlebih dahulu.


"Mungkin dia terkejut melihatmu, makanya dia menyerangmu." Arkan menepuk pelan pundak Joshua, "tidak apa-apa. Beruntung dia terlebih dahulu membunuh target kita. Jadi kita tidak perlu repot-repot mengotori tangan kita."


Tak berapa lama kemudian, mobil yang membawa mereka berhenti karena sudah tiba di markas. Mereka bertiga turun dari dalam mobil dan hendak langsung menemui Markus untuk memberikan laporan.


Beruntung mereka bertemu dengan Markus di jalan.


"Yah. Kami gagal. Ada orang yang terlebih dahulu membunuh target," Lapor Mawar langsung.


Markus menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku tahu. Aku sudah lihat beritanya." Markus mengusap janggutnya yang terpangkas rapi. "Aku juga sudah tahu siapa yang membunuhnya."


Markus menepuk bahu Joshua, Arkan dan Mawar bergantian. "Tidak apa-apa. Setidaknya kita tidak perlu mengotori tangan kita. Kerja bagus," puji Markus sebelum berlalu pergi.