
Setelah pembicaraan panjang Joshua dengan Paman Idhang, Joshua segera pulang kembali ke kostnya karena malam sudah semakin larut. Juga dia tidak mempunya tugas apapun lagi di markas.
Joshua medapatkan mobil dari majapahit untuk digunakannya secara pribadi. Akan tetapi, Joshua tak pernah membawa mobil tersebut ke kampus karena tidak ingin menarik perhatian seperti sebelumnya.
Joshua memarkirkan mobilnya di depan kost dan segera masuk ke dalamnya. Sudah pukul dua dini hari saat Joshua tiba di kostnya.
Sebelum menaiki tangga, Joshua mengedarkan padangannya ke sekitar. Ke arah pintu-pintu kamar kost yang tertutup rapat, namun dari luar dapat terlihat dari lubang-lubang ventilasi di atas pintu, bahwasannya lampu di dalamnya masihlah menyala semua.
Sangat berbeda dengan lantai atas yang kamar-kamarnya sangat jarang ada yang mau menyewa. Kalau pun ada, jam dua dini hari seperti ini biasanya lampu-lampu kamar mereka sudah padam.
Joshua tidak kenal satu pun tetangga kamar kostnya baik yang tinggal di lantai bawah mau pun lantai atas. Mereka juga sangat jarang keluar dari kamar mereka masing-masing. Joshua tidak peduli. Selagi ia tidak diganggu maka itu bukan masalah baginya.
Jika Joshua ingat-ingat kembali, ia baru sadar bahwa satu-satunya orang yang sering mengajaknya bertegur sapa di sini hanyalah Pak Bambang yang merupakan pemilik kost ini. Yang tidak tinggal di sini namun sangat sering kemari.
Joshua baru saja menginjakkan kakinya ke satu undakan tangga, saat sekitar lima orang pria masuk ke dalam gedung kostnya. Wajah yang belum pernah Joshua temui sebelumnya. Mereka masuk ke dalam kamar nomor tiga.
Joshua tidak terkejut maupun curiga sama sekali. Karena kamar nomer tiga memang sering mengundang teman-temannya ke kamar kostnya. Tapi, yang membuat Joshua sedikit penasaran adalah, tidak pernah ada suara keramaian orang-orang bercengkrama saat teman-teman kamar nomor tiga datang berkumpul di kamarnya.
Bukankah suatu hal yang wajar jika terjadi keributan saat berkumpul dengan teman? Entahlah, mungkin saja penghuni kamar nomor tiga tidak ingin membuat keributan yang dapat menganggu ketenangan penghuni lainnya.
Joshua tidak mau ambil pusing. Ia segera naik ke atas tangga dan pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Joshua segera mengeluarkan amplop coklat pemberian Paman Idhang tadi dari dalam tasnya. Ia kembali mengeluarkan foto-foto TKP, dan mengamatinya satu-persatu kembali. Namun tetap saja, tidak ada apapun yang berhasil ia temukan di dalam sana hingga ia jatuh tertidur.
Joshua mengecek berita tentang kematian calon wakil walikota melalui ponselnya sambil berjalan menuju kampus.
Dari berita-berita yang tersebar melalui internet, tidak ada yang curiga sedikit pun jika calon wakil walikota mati karena dibunuh. Komentar-komentar warganet di internet pun juga berisi komentar-komentar positif turut berbela sungkawa.
Seperti kematian calon wakil walikota adalah hal yang biasa-biasa saja. Padahal ia merupakan calon yang berpengaruh dan memiliki jumlah pendukung tertinggi dari pada pasangan-pasangan calon yang lain.
Buk!
Joshua menabrak seseorang karena terlalu fokus menunduk menatap ke arah ponselnya. Joshua menjauhkan padangan dari ponsel di tangannya dan segera menunduk meminta maaf kepada orang yang ia tabrak. Pria yang ia tabrak menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi. Acuh terhadap Joshua maupun kesalahan Joshua yang sudah menabraknya.
Karena ternyata, keributan di sekitar Joshua lebih menarik bagi pria tersebut. Joshua menyimpan ponselnya ke dalam saku dan segera berjalan mendekat ke arah kerumunan orang di depannya.
Terdapat garis polisi di mana-mana. Disekitar danau buatan yang ada di kampusnya ini. Melihat garis polisi seketika mengingatkan Joshua kepada foto-foto ayahnya.
"Aku yakin dia tidak bunuh diri," ucapan seorang gadis membuat Joshua tersadar dari lamunannya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Sandy sudah berdiri di sampingnya.
Sandy merupakan mahasiswi satu bimbingan skripsi dengannya. Sehingga Joshua cukup mengenalnya. Juga Sandy yang merupakan anggota pers kampus, memiliki sifat supel dan mudah bergaul dengan siapapun.
Joshua mengamati wajah Sandy yang sudah sembab. Matanya merah dan bengkak. Seperti habis menangis.
"Siapa?" tanya Joshua kepada Sandy. Maksud Joshua adalah siapa yang meninggal di danau itu?
Sandy menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Joshua. Joshua tidak pernah melihat Sandy semurung ini. Karena di kampus biasanya ia selalu terlihat ceria.
"Mengapa ia bunuh diri?" tanya Joshua penasaran. Kasus ini menarik perhatiannya karena tak jauh berbeda dengan kasus ayahnya. Hanya berbeda metode kematiannya.
"Polisi bilang, depresi akademik," kata Sandy, "tapi aku tidak percaya itu. Aku sering bersamanya. Tidak ada tanda-tanda dia mengalami depresi. Bahkan besok kita akan melaksanakan aksi di depan gedung gubernur. Dia merupakan kordum² dalam aksi tersebut dan juga merupakan pengagas terlaksananya aksi tersebut. Jadi, tidak mungkin ia bunuh diri. Karena kemarin siang dia masih berapi-api mengarahkan pembagian tugas untul aksi unjuk rasa yang akan kita laksanakan besok," imbuhnya panjang lebar.
"Dia bukan orang seperti itu. Aku sangat mengenalnya," gumam Sandy pelan. Nyaris tak terdengar. Saat tercipta keheningan antara Joshua dan dirinya.
"Aku turut berduka cita," ungkap Joshua akhirnya.
"Juga...." Sandy mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia menunjukkan sebuah foto pada Joshua. "Aku menemukan ini dari seorang wartawan yang berhasil mengambil gambar mayat Arshad sebelum lokasi benar-benar diamankan. Lihat ini."
Joshua menautkan dahinya dan mendekatkan wajahnya ke arah ponsel Sandy . "Aku tidak melihat apa pun," katanya jujur. Karena Joshua tidak melihat adanya suatu hal yang ganjil dari foto mayat dengan kulit sudah sangat pucat, di ponsel Sandy.
Sandy memperbesar gambar di layar ponselnya. "Lihat detail kecilnya. Ada luka tusukan di pahanya. Itu tandanya sempat ada perlawanan darinya. Dan kuduga pembunuhnya ingin melumpuhkannya dengan menusuk pahanya," terang Sandy yakin.
Sandy benar! Detail kecil! Joshua perlu memperhatikan detail kecil. Begitu pula dengan kasus ayahnya. Pasti ada detail kecil yang ia lewatkan. Ia harus mengeceknya lagi!
"Kau benar. Detail kecil! Aku seharusnya lebih memperhatikan detail kecilnya," gumam Joshua. Hal itu membuat Sandy mengangkat pandangannya dari ponsel dan mendongak menatap ke arah Joshua.
"Maksudmu?" tanya Sandy bingung.
Joshua menepuk pundak Sandy pelan. "Terima kasih Sandy atas pencerahannya."
"Hah?"
Joshua segera beranjak pergi meninggalkan Sandy yang kebingungan dengan kalimat yang ia lontarkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note: Presma\= Presiden Mahasiswa. Merupakan ketua dari badan eksekutif mahasiswa di kampus.
Kordum\= Kordinator umum. Orang yang merupakan otak dari jalannya suatu aksi demonstrasi. Biasanya identitasnya dirahasiakan. Jarang sekali ada orang yang bisa mengetahui siapa kordum dalam suatu aksi. Karena jika identitas kordum terungkap sebelum aksi dan ia ditangkap, maka aksi akan beresiko terhenti.