The Mafia Fighter: Joshua'S Journey

The Mafia Fighter: Joshua'S Journey
Chapter 22: Tugas Pertama [1]



Joshua masih memandangi foto pria di hadapannya. Apa ia tidak salah dengar? Membunuh calon walikota yang memiliki popularitas paling banyak di kota ini? Itu gila! Benar-benar gila!


"Apa aku tidak salah dengar? Membunuh calon wakil walikota?" tanya Joshua memastikan sekali lagi apa yang ia dengar.


"Kau tidak salah dengar Joshua!" cebik Mawar. Joshua menolehkan kepalanya ke arah Mawar yang sejak tadi wajahnya masih terlihat masam. Kedua tangannya terlipat di depan dada.


Mawar tak menoleh ke arah Joshua sedikit pun. Melirik saja tidak. Ia menatap lurus ke arah Markus. "Sudah kubilang, Yah! Aku bisa melakukan ini sendiri."


Markus mengabaikan Mawar. Ia berkata kepada Joshua, "Sebenarnya, kau tidak melakukannya sendiri. Kau akan melakukan ini dengan Mawar."


"Bolehkah aku bertanya alasan mengapa aku harus membunuhnya? Maksudku, biarkan aku tahu alasan mengapa nyawa seseorang harus dihilangkan."


Markus menatap ke arah Joshua, nampak menimbang-nimbang sesuatu. Jemarinya ia ketukkan di atas meja.


Tuk....


Tuk....


Tuk....


Jemari Markus berhenti mengetuk meja. "Dia merupakan calon kuat pada pemilihan ini. Rekannya yang merupakan calon walikota, tidak mempunyai pengaruh sebesar dia. Jika kita menghabisinya, maka simpatisan masyarakat untuk memilih walikota yang merupakan pasangan darinya akan berkurang."


"Memangnya kenapa kalau mereka sampai terpilih pada pemilihan kali ini? Kupikir kalian tidak terlibat politik pemerintahan."


"Ya. Kami memang tidak mengurusi politik negri ini," Markus menganggukkan kepalanya. "Kecuali, mereka mengancam dan menganggu kestabilan bisnis kita."


Markus menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menunjuk ke arah foto di hadapan Joshua. "Jika dia terpilih, maka ia dan pasangannya akan mengancam dan menganggu ke stabilan bisnis kita. Bisnis penyelundupan kita akan semakin sulit dilakukan. Karena dia sudah membuat rancangan peraturan daerah baru yang akan ia terapkan ketika terpilih nanti."


"Jadi, apa rencananya, Yah?" sela Mawar di tengah perbincangan antara Joshua dan Markus.


Joshua dan Markus seketika menoleh ke arah Mawar yang berwajah masam. Mawar tidak suka basa-basi. Itu membosankan baginya dan membuat moodnya buruk. Mawar menatap ke arah ayahnya menunggu jawaban, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Joshua.


Markus membuang napasnya pelan. "Kau tidak sabaran sekali," komentar Markus.


"Jadi begini rencananya...."



Mawar dan Joshua akan masuk ke balik pagar belakang rumah calon wakil walikota. Wilayah yang tidak memiliki penjagaan. Bedanya, Mawar masuk dari arah timur sedangkan Joshua masuk dari arah barat.


Dari arah barat, di belakang rumah calon wakil walikota, terdapat sebuah pintu yang langsung terhubung ke dapur rumah tersebut.


Sedangkan dari arah timur, tidak ada pintu apapun. Hanya tembok sepanjang mata memandang. Namun ada pusat dari panel listrik di sana. Jadi, Mawar bisa memadamkan listrik di rumah tersebut dengan menurunkan tombol MCB¹.


Calon wakil walikota memiliki rutinitas meminum kopi pada jam 9 malam. Hal itu tidak pernah terlewatkan sekali pun.


Arkan berhasil menyadap CCTV di rumah calon wakil walikota tersebut. Sehingga mereka punya akses terhadap CCTV tersebut untuk beberapa saat.


Jadi, rencananya, ketika pembantu rumah wakil walikota membuat kopi di dapur, nanti Mawar akan menurunkan semua tombol pada panel MCB setelah mendapat intruksi dari Arkan. Sehingga arus listrik di rumah wakil walikota padam seketika. Menurut data yang mereka dapatkan, lampu di dapur rumah tersebut memakai lampu LED biasa yang ketika listrik padam, ia akan tetap mati.


Ketika listrik padam, pembantu tersebut akan keluar dan meminta bantuan. Ketika lampu padam dan pembantu pergi, maka Joshua akan menyelinap ke dalam dapur tersebut.


Saat para pekerja di sana sudah menyalakan listrik kembali, Arkan akan mematikan CCTV yang berada di dapur tersebut untuk sesaat. Kemudian pada kesempatan itu, Joshua harus sudah memasukkan bubuk arsenik² yang ia bawa lalu keluar sebelum pembantu rumah tersebut kembali untuk mengambil kopi buatannya dan memberikannya untuk calon wakil walikota.


Rencana sudah tersusun rapi. Jadi mereka segera pergi ke tempat tujuan untuk menjalankan aksinya.



Mawar melompat dan masuk ke balik pagar. Lalu mengendap-ngendap ke arah panel listrik yang terletak di sisi timur belakang rumah calon wakil walikota tersebut. Ia sudah siap menjalankan tugasnya.


Pria tersebut terkejut dengan hadirnya Joshua. Dapat dilihat dari kedua matanya yang melebar sesaat sebelum ia merogoh sakunya dan mengambil pisau lipat untuk menyerang Joshua.


Joshua dengan refleks menghindar ke samping. Ia menangkis tangan pria tersebut cukup keras hingga pisau tersebut jatuh ke tanah. Pria itu merunduk cepat, hendak mengambil pisaunya. Namun kaki Joshua lebih cepat. Joshua menendang pisau tersebut menjauh hingga menabrak tong sampah di sudut gang sempit ini. Dan menimbulkan bunyi "tang" pelan.


Marah. Pria tersebut melayangkan tinjunya ke arah Joshua bersamaan dengan Joshua melayangkan tinju ke arahnya. Tinju Joshua berhasil mengenai rahang pria tersebut. Begitu pula dengan pria itu, pukulannya berhasil mengenai wajah bagian samping Joshua sehingga membuat Joshua meringis sejenak karena pukulannya yang cukup kuat.


"Jo, apa kau sudah siap? Aku mendengar keributan di sana," terdengar suara Arkan dari ear peace yang terpasang di telinga Joshua.


"Apa yang kau lakukan, Jo?" tanya Mawar.


"Aku mendapat masalah kecil di sini," sahut Joshua sambil bergumul dengan pria ini.


Karena lengah akibat diajak berbicara oleh Arkan dan Mawar, Joshua berhasil dibanting ke tanah oleh lawannya. Pria tersebut hendak melayangkan tinjunya ke wajah Joshua dari atas. Tapi, Joshua berhasil menggeser kepalanya untuk menghindar. Sehingga pria tersebut berakhir dengan memukul aspal yang keras.


Tangan Joshua meraih tutup tong sampah yang terbuat dari seng dan berada tak jauh dari jangkauan tangannya. Kemudian ia pukulkan ke kepala pria tersebut dengan cukup keras.


TANG!


Pukulan Joshua cukup untuk membuat perhatian pria itu teralihkan. Ia segera membalik keadaan dan membuat pria tersebut tersungkur ke tanah. Sebelum bangkit, ia sempat meraih pisau lipat yang tadinya sempat ia tendang.


"Jo, apa yang terjadi?" tanya Arkan lagi.


Joshua tidak punya waktu untuk menyahuti berbagai lontaran pertanyaan dari Arkan dan Mawar.


"Jo, jawab kami! Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kita tidak punya banyak waktu." Kali ini gantian terdengar suara Mawar.


Joshua menonjok wajah pria di bawahnya ini secara berulang dengan satu tangannya. Kemudian ia segera menusukkan pisau ke paha pria tersebut dengan tangannya yang bebas.


"Argghh!" raung pria tersebut cukup nyaring karena merasakan sakit di pahanya akibat tusukan yang diberikan Joshua. Karena Joshua menusuk paha pria itu hingga mata pisaunya tenggelam keseluruhan ke dalam paha pria tersebut, dan ia langsung mencabutnya lagi dengan perlahan.


"Siapa itu, Jo?" tanya Mawar dan Arkan bersamaan saat mendengar suara pria yang tak mereka kenal masuk ke dalam ear peace mereka.


.


.


.


.


.


.


Note: 1. MCB atau Miniature Circuit Breaker merupakan komponen kelistrikan yang bertugas untuk memutus aliran listrik.


Ilustrasi:




Arsenik merupakan senyawa kimia yang dapat dijadikan racun dan tidak terdeteksi karena tidak meninggalkan warna, bau dan rasa.