
“Tidak perlu buru-buru, Anak Muda. Mari kita bicarakan bisnis. Aku punya beberapa penawaran untukmu,” kata Markus dengan seringai yang belum juga hilang dari wajahnya.
“Langsung saja. Apa yang kau inginkan dariku?” tantang Joshua tanpa rasa takut sedikit pun.
Markus menaikkan salah satu sudut bibirnya. Senang rasanya melihat keberanian Joshua. “Ayo ikut denganku. Mari kita bicarakan hal ini secara kekeluargaan.”
Joshua awalnya hanya diam namun akhirnya ia mengikuti Markus yang ternyata membawanya ke sebuah ruang makan mewah dengan meja makan berbentuk oval yang luas. Markus duduk di atas kursi diikuti oleh lelaki yang baru Joshua tahu ternyata bernama Idhang.
Mawar yang sejak tadi mengikuti mereka juga ikut duduk di kursi di samping Joshua dan berhadapan langsung dengan ayahnya serta Paman Idhang.
Melihat Joshua yang enggan duduk membuat Markus menjulurkan tangan kanannya dan memberi isyarat mempersilahkan Joshua duduk di depannya. Joshua masih tak bergeming. Mawar kesal. Ia menghembuskan napasnya kasar. Ia pun menarik kursi di sampingnya, yang letaknya berada pas di depan Joshua.
“Duduk saja!” seru Mawar dengan tak sabar.
Hal itu membuat Joshua mundur beberapa langkah. Akan tetapi, ia masih tetap tidak berniat untuk duduk. Joshua tidak ingin basa-basi. Ia tidak butuh ramah tamah. Ia tidak berniat untuk berlama-lama di sini. Ia hanya ingin tahu alasan mengapa ia dibawa ke sini, dan apa mau mereka terhadapnya. Itu saja. Tidak kurang tidak lebih.
Melihat tingkah Joshua yang keras kepala membuat Mawar memutar bola matanya. “Ayolah! Bisakah kau berhenti keras kepala?” gerutu Mawar dalam hati.
Mawar menarik tangan Joshua sehingga tubuh Joshua sedikit merunduk ke arahnya. “Duduk saja! Ayahku tidak akan memulai apapun sebelum kau duduk,” desis Mawar kesal. Karena ia juga sedang diliputi rasa penasaran yang besar sekarang.
Joshua akhirnya menurut. Demi menyelesaikan semua ini dengan cepat. Ia segera duduk di atas kursi di sebelah Mawar.
Tak lama kemudian, pelayan menyajikan makanan untuk mereka berempat. Sepotong steik dari daging sapi kualitas teerbaik. Aroma lezat daging yang terpanggang dengan sempurna tersebut menyeruak ke indra penciuman mereka.
Semua orang mulai memotong daging mereka menggunakan pisau dan menusuk potongan kecil yang berhasil mereka hasilkan dengan garpu, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kecuali Joshua. Karena pria itu hanya terdiam. Ia tak sedikit pun tertarik untuk menyentuh makanan di depannya.
Sesungguhnya Joshua sangat lapar karena belum makan sejak semalam, dan sekarang hari sudah menjelang siang. Tapi, makan bukanlah prioritasnya sekarang. Ia bisa makan saat sekembalinya ia pulang ke kediamannya.
“Makan saja, Nak. Kita bicarakan segalanya setelah kau menyantap makananmu,” sekarang Idhang yang bersuara. Ia meletakkan garpu dan pisaunya di samping piringnya dan menatap lurus ke arah Joshua.
Joshua tak terpengaruh dan tetap diam. Hal itu membuat Mawar kembali mendengus kasar. Ia meletakkan garpu dan pisaunya asal di atas piring. “Ayolah! Makan saja! Kau belum makan sejak aku membawamu kemari. Dan sekarang hari sudah hampir siang. Makan saja, ini tidah beracun sama sekali.”
Joshua mengangkat kedua bahunya acuh. “Aku tidak tahu apa saja yang kalian masukkan ke dalam makananku. Mengingat kalian saja sudah membuatku pingsan dan menculikku.”
“Ini tidak beracun sama sekali!” tegas Mawar. Ia menarik piring Joshua dan memotong sebagian daging milik Joshua dengan potongan besar, dan memasukkannya dalam mulut secara bula-bulat. Kemudian hanya dengan beberapa kunyahan, ia menelannya.
Mawar mengangkat satu alisnya. “Lihat, tidak terjadi apapun terhadapku kan? Ini tidak beracun sama sekali, Bodoh!” imbuh Mawar kesal. Lelaki di hadapannya pasti memiliki penyakit paranoid akut.
Markus meletakkan garpu dan pisaunya di atas meja. Ia mengelap bibirnya dengan serbet yang sudah disediakan dengan perlahan dan elegan.
“Ayahmu bukan seorang petani,” ucap Markus.
Hal itu sontak membuat langkah kaki Joshua terhenti.Namun, tak lama kemudian ia kembali menderapkan langkahnya.
“Kau tentu ingin tahu alasan kematian ayahmu.” Kali ini Joshua benar-benar membatu. Markkus menyeringai. “Ayahmu tidak bunuh diri. Ia dibunuh.”
Joshua memutar tubuhnya cepat. Matanya membola. “Apa kau bilang?”
Masih dengan seringai di wajahnya Markus kembali memperjelas perkataannya, “Ayahmu dibunuh, Joshua... Pram Daniswara dibunuh. Ia tidak bunuh diri.”
Joshua mengerutkan dahinya, berusaha mencerna perkataan Markus lamat-lamat. “Jangan bercanda.”
Sementara Mawar sudah menghentikan makannya. Ia ikut mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. Begitu pula dengan Idhang.
“Apakah aku terihat seperti sedang bercanda?” Markus balik bertanya.
Joshua membuang napasnya pelan. Tidak. Markus tidak terlihat seperti sedang bercanda sama sekali. “Bagaimana kau tahu bahwa ayahku tidak bunuh diri? Pihak kepolisian saja sudh memutuskan bahwa kasus ayahku adalah kasus bunuh diri.”
“Sederhana. Karena orang seperti ayahmu tidak mungkin mati karena bunuh diri.”
Joshua setuju dengan pernyataan Markus tapi pernyataan tersebut hanya akan menjadi sebuah opini pribadi jika tidak adanya bukti. Tapi… tunggu! Markus mengenal ayahnya?
“Kau mengenal ayahku?” tanya Joshua dengan kerutan di dahinya yang semakin terlihat jelas.
“Tentu saja. Dia adalah anak buah terbaikku dulu.”
Apa? Jadi ayah Joshua pernah berkerja di dunia gelap? Joshua akhirnya mengerti mengapa ibunya awalnya menentang keputusannya untuk berkuliah di kota ini dan juga secara tiba-tiba meminta Joshua untuk tidak bergabung ke dunia gelap. Joshua tentu saja menuruti permintaan ibunya dan membuat janji untuk tidak bergabung dengan organisasi kriminal rahasia yang dahulu Joshua anggap hanyalah sebuah dongeng belaka.
“Siapa yang membunuh ayahku?” tanya Joshua lagsung. Sudah cukup basa-basinya.
Markus megangkat kedua bahunya acuh. “Itulah kesepakatan yang ingin aku buat deganmu,” kata Markus tenang, “jika kau mau bergabung dengan Majapahit maka aku bisa membantumu mencari alasan kematian ayahmu.”
Dahi Joshua semakin berkerut. ”Majapahit?”